Self Healing

Self Healing
Episode 58 Mediasi Sidang Pertama



Ketika semua adalah tipuan, ketika semua adalah untuk mengejar harta, maka berakhirlah sudah ketika ia menemukan yang lain.


"Ceraikan aku ! Ceraikan aku sekarang juga !" tulis pesan singkatku kepada Tyo.


"Tunggu, saya mau istikharah dulu," jawab Tyo singkat yang sungguh membuatku tertawa geli.


Ingin aku membalas pesannya seperti ini, "Istikharah? Apa waktu kamu melakukan semua tipuanmu itu adalah buah dari istikharah?


Tetapi aku hanya diam karena tidak ada gunanya mendebat pengkhianat.


Aku pun mulai merunut semuanya dari awal, bagaimana proses kami berdua hingga akhirnya kami menikah dan aku pun dapat menarik kesimpulan, bahwa sesungguhnya ia tidak pernah mencintaiku dengan tulus, semuanya berawal dari celoteh sahabatku yang Tyo makan bulat-bulat.


"Yo, bapaknya Lina kan pingin punya rumah sakit, siapa tahu kamu nanti bisa diminta untuk yang mengelolanya, jadi direktur utama rumah sakitnya, kan keren tuh !"


Dengan iming-iming itulah, akhirnya Tyo mulai mendekatiku dan diawal pernikahan kami, fasilitas dari kedua orang tuaku memang cukup menyilaukan mata. Akan tetapi, hingga bertahun-tahun kemudian posisi dan harta yang ia bayangkan tidak juga datang.


Bantuan finansial dari ayahku tidak datang sesuai dengan keinginannya, seperti disaat aku menjual mobilku dan kemudian membeli yang lebih besar, sesuai dengan kebutuhan kami, ia harus mengeluarkan kocek dari kantongnya untuk menambah kekurangannya, yaitu sekitar 25 juta rupiah. Dimana kami berdua tidak memiliki simpanan sebesar itu, semua ini dikarenakan gaji yang Tyo terima, langsung masuk ke dalam rekeningnya dan tidak sekalipun ia menrasfernya ke rekeningku. Semenjak pindah ke Batam, semua urusan keuangan, Tyo lah yang mengaturnya, permintaanku untuk menyisihkan sebagian pendapatannya ke rekeningku tidak pernah kudapatkan.


Tyo akhirnya melayangkan gugatannya yang berisi semua kebohongan dan fitnah kepadaku, yang membuatku mau tak mau harus menghadiri sidang di Jakarta dengan ditemani Wawan.


Itu pun berlangsung hingga aku mengakhiri pernikahan ini, tidak ada rupiah yang ia kirimkan untukku, sehingga harta gono-gini itu adalah mimpi dalam persidangan kami.


Keterangan akan sebenarnya yang terjadi, aku sampaikan seluruhnya kepada mediator persidangan perceraian kami.


"Jadi Bu Lina pergi dari rumah ?" tanya mediator merujuk pada pernyataan Tyo pada surat gugatannya.


"Tidak, saya tidak pergi dari rumah, tetapi kepindahan itu sudah terencana selama hampir enam bulan. Lalu, setelah kami sepakat akan keputusan bersama, maka Tyo mengantarkan saya dan anak-anak ke rumah orang tua saya di Jogja dari Batam."


"Lho jadi pindahnya dari Batam ke Jogja, bukan dari Semper ke Kelapa Gading seperti gugatan Pak Tyo ini ?"


"Iya Pak, sebelumnya kami tinggal di Batam selama sepuluh tahun dan beberapa tahun yang lalu, orang tua saya pindah ke Jogja. Yang Tyo maksud Kelapa Gading, itu adalah rumah orang tua saya sebelumnya, yang sekarang telah dibeli oleh adik ayah saya, sedangkan Semper adalah rumah pamannya Tyo, sedangkan kami tidak pernah tinggal di Semper. Saya pindah karena keputusan bersama, saya tahu posisi saya sebagai istri, tidak mungkin pergi tanpa izin, sedangkan untuk belanja di tukang sayur yang biasa lewat di depan rumah saja, saya minta izin ke Tyo, apalagi untuk urusan yang jauh-jauh. Apalagi selama pernikahan kami, Tyo tidak pernah membiarkan saya pergi sendiri, dia selalu mengantarkan saya dan anak-anak untuk berlibur ke rumah orang tua saya atau dia. Nanti di saat liburan usai, dia akan datang untuk menjemput kami semuanya, itu berlangsung selama kami menikah," jawabku panjang lebar.


Aku pun memperhatikan ekspresi sang mediator yang terheran-heran akan keterangan yang kuberikan bertolak belakang dengan keterangan gugatan yang Tyo ajukan.


"Jadi tidak benar, bahwa Bu Lina pergi dari rumah, ya ?"


"Iya, Pak. Saya diantar untuk kembali ke rumah orang tua saya," jawabku tegas.


Aku pun melihat sang mediator mencoret kertas di depannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Untuk anak-anak, sekarang posisinya ada dimana, ya ?" tanya mediator kembali.


"Semuanya sudah sama saya di Jogja, Pak. Mereka semua sudah bersekolah disana," jawabku.


"Oo baiklah, berarti untuk anak-anak sudah tidak ada masalah," ucap mediator.


"Pak, boleh tidak jika saya meminta hak asuh salah satu anak. Ara, anak ke-dua kami, dia yang paling sayang dan peduli dengan saya. Kalau bisa, dia ikut saya saja," pinta Tyo yang membuatku menarik nafas panjang.


"Tidak bisa, Pak Tyo. Anda tidak boleh memisahkan salah satu anak dan hak asuh anak-anak itu hingga usia dibawah tujuh belas tahun, mutlak dipegang oleh ibunya, kecuali ibunya menyatakan tidak sanggup untuk merawatnya," jelas mediator.


"Tapi Pak, apakah tidak ada pengecualian?" desak Tyo yang membuatku harus mengutarakan semua perlakuannya kepada Ara.


"Paling sayang, ya? Ara yang paling sayang sama kamu? Tapi apa kamu lupa, Ara adalah anak yang paling banyak kamu hukum? Bahkan kamu tega untuk mengusir Ara di saat malam tiba?! Saya nggak bisa membayangkan kalau Ara kamu asuh, bisa-bisa Ara menggelandang di jalanan karena kamu usir!"


"Iya Pak, Tyo pernah mengusir Ara, yang saat itu masih berusia sekitar enam tahun, hanya karena alasan sepele, yah biasalah anak-anak terkadang mereka tidak mau nurut dan diatur. Tetapi Tyo tiba-tiba marah besar, lalu menyuruh saya memasukkan pakaian Ara ke dalam tas, lalu Tyo juga melemparkan uang, beberapa lembar lima puluh ribuan, tetapi saya tidak ingat berapa totalnya. Dia suruh Ara pergi dan cari tiket pesawat ke Jakarta sendiri," jelasku penuh emosi.


Aku melihat ekspresi sang mediator yang terheran-heran dengan penjelasanku, ia pun kembali menggelengkan kepalanya dan mencatat semua pernyataan yang aku berikan. Sedangkan Tyo tampak sangat gusar dengan pernyataan yang kuberikan, yang sangat bertolak belakang dari gugatannya.


"Bagaimana dengan pembagian harta? Harta gono-gini? Apakah ada yang perlu diselesaikan disini?" tanya mediator persidangan kami.


"Tidak ada," jawabku tegas.


"Semuanya sudah diselesaikan," lanjutku.


"Tapi, mobil gimana?" tanya Tyo kepadaku.


"Memangnya kenapa dengan mobil?" tanyaku balik.


"Yaa mobil itu kan saya yang beli," jawab Tyo.


Aku pun tersenyum kecut mendengar ucapannya.


"Tapi kamu beli mobil itu dengan modal dari bapak, lagian STNK-nya atas nama saya, ngapain kamu minta lagi, jelas itu hak saya," sanggahku pada pernyataannya.


"Hmm, jadi mobil atas nama Bu Lina?" tanya mediator.


"Iya, Pak."


"Tapi saya yang bayar angsurannya tiap bulan hingga lunas," sanggah Tyo.


Aku melihat bapak mediator tersenyum kecil, sedangkan aku merasa Tyo sedang mempermalukan dirinya sendiri.


"Pak Tyo, walaupun Anda yang membayarnya, tetapi jika diatasnamakan Bu Lina, maka itu adalah hak milik Bu Lina sepenuhnya. Semua tergantung diatasnamakan siapa, itulah pemiliknya," jelas mediator.


Aku pun tersenyum mendengar penjelasan yang diberikan, sementara itu kulihat raut wajah Tyo yang penuh kekecewaan.


Setelah kami menyelesaikan urusan mediasi, kami kembali harus menunggu jadwal sidang selanjutnya.


"Bu Lina, kami minta Anda untuk membuat sanggahan dari gugatan Pak Tyo, tolong diketik dan dibuat rekapannya sebanyak empat kali. Sidang kami tunda hingga pekan depan," ucap hakim ketua.


Selesai sidang, aku segera kembali ke rumah Kelapa Gading, tempat aku menginap. Tetapi sebelumnya, Tyo mencegatku.


"Kamu ngapain disini! Katanya nggak akan datang, kenapa tiba-tiba muncul!"


"Heh, kamu kira saya bisa kamu fitnah lagi! Maaf ya, saya harus mempertahankan diri saya dan anak-anak, tidak mungkin saya berdiam diri dengan segala fitnah yang memojokkan saya!"


Wawan yang menemaniku pun segera menghampiri.


"Wan, urusin tuh manusia!" ucapku sebelum meninggalkan Tyo.


Kulihat Tyo masih dalam emosi, entah apa yang ia ucapkan kepada Wawan, tetapi sepertinya Wawan terlihat bingung dan tak lama ia menghampiriku.


"Aneh tuh orang, ngomong apa sih nggak jelas?! Marah-marah terus, aku tinggalin aja, eh dia masih ngomel-ngomel sendiri, nggak waras tuh orang!" ucap Wawan kesal.


"Yowes tinggal pulang aja, kita balik pekan depan," ucapku sambil berjalan menuju parkiran.