
Berprofesi sebagai dokter perkebunan yang bertanggungjawab akan beberapa wilayah divisi, cukup membuat Tyo sering mendapatkan panggilan di luar jam kerja. Seperti di saat selesai makan malam, kami berdua sedang asyik menonton film di TV, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
"Assalamu'alaikum, Dok! Assalamu'alaikum!" panggil seorang pria yang membuatku segera berlari menuju kamar utama untuk memakai jilbabku.
Tyo pun bersegera membukakan pintunya setelah memastikan aku tidak terlihat.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Wak?"
"Gino operator boiler, kena semburan uap panasnya, Dok!"
Tanpa bertanya lebih lanjut, Tyo segera mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju klinik.
"Mas, ke klinik dulu yaa. Sayang nggak usah nunggu, tidur duluan aja. Mas bawa kuncinya. Sayang di kamar aja, ya. Assalamu'alaikum," pamit Tyo terburu-buru sambil mengecup dahiku.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Aku pun ditinggal sendirian di rumah. Aku sudah tidak ingin kembali melanjutkan menonton acara televisi, yang untuk mendapatkan acara siaran televisi nasional itu, kami harus menggunakan parabola, tanpa parabola kami hanya mendapatkan siaran sekumpulan semut hitam.
Sinyal handphone pun harus menggunakan antena tambahan yang dipasang di luar rumah, karena tanpa antena tambahan, tidak ada sinyal handphone yang aktif. Aku memang benar-benar berada di tengah hutan.
Tyo tahu akan kebiasaanku yang takut sendirian, terlebih lagi di saat malam tiba. Maka, ia selalu menyiapkan makanan ringan untukku yang diletakkannya di kamar sebelum ia pergi karena panggilan kedaruratan. Perhatiannya padaku membuat perlahan hatiku luluh dan membuatku sering manja padanya. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan, jika aku bisa manja kepada seseorang.
Aku pun tertidur saat menunggu Tyo pulang ke rumah. Lalu aku terbangun, karena mendengar suara kendaraan berhenti di samping rumah.
Tak lama, pintu kamarku dibuka, "Assalamu'alaikum," salam Tyo dengan senyuman.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Tyo selalu mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum ia menghampiriku sepulang bekerja. Lalu ia pun mencium keningku.
"Maaf yaa, lama," ucap Tyo.
"Nggak papa, kan tugas," jawabku.
"Eh gimana pasiennya?" tanyaku.
"Dikirim ke RSUD karena luka bakar, walaupun luka bakar ringan, tapi lebih baik dirawat di rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap dan lebih higienis," jawab Tyo.
Kulihat kantung matanya tampak lebih tebal, karena kelelahan.
"Eh Sayang tidur lagi aja, Mas mau mandi dulu," ucapnya sambil tersenyum.
"Hmm sekarang jam berapa sih? tanyaku.
" Tuh, jam 22.30," jawab Tyo sambil menunjuk ke arah jam dinding.
"Berarti hampir 2 jam, Mas perginya?"
"Iya, kan nungguin sampai kondisinya benar-benar stabil dan siap dibawa ke rumah sakit," jawab Tyo.
"Tadinya Mas mau ikut ke rumah sakit, tapi dilarang sama Bu Yeti, katanya biar Anwar yang berangkat, karena dia sudah biasa antar pasien ke rumah sakit dan Bu Yeti bilang kasian Bu Lina ditinggal sendirian di rumah," lanjutnya lagi.
"Yowes, Mas mandi dulu ya. Sayang nggak usah nyiapin apa-apa, stay in bed aja," ucapnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Panggilan kegawatdaruratan memang tidak mengenal waktu, karena pabrik beroperasi 24 jam dengan 3 pembagian jadwal kerja. Klinik induk tidak pernah tutup, karena mengikuti jadwal kerja yang sama dengan pabrik. Anwar adalah satu-satunya perawat pria yang sudah cukup berpengalaman. Ia berusia sekitar 2 tahun lebih tua dari Tyo, sedangkan Bu Yeti adalah Kepala Klinik Induk. Ia adalah seorang perawat yang sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun di klinik induk, sehingga ia sudah memahami benar seluk-beluk kasus kegawatdaruratan yang sering terjadi baik dari karyawan pabrik ataupun karyawan kebun.
Hari-hari berikutnya kembali normal seperti biasa, tetapi entah kenapa beberapa hari belakangan aku merasakan badanku pegal-pegal, nafsu makanku pun berkurang. Aku pun memeriksa kalender di meja rias.
Setelah Tyo pulang bekerja, aku pun mengeluhkan keadaanku.
"Mas, badanku kok pegel semuanya yaa?"
"Hari ini sudah makan belum? Tadi ngapain aja?" tanya Tyo.
"Aku sudah makan, tapi sedikit, eneg banget. Trus aku kan nggak ngapa-ngapain, tapi kok badanku pegel semua, sakit banget," jelasku.
Tyo pun terdiam, lalu ia menghitung denyut nadiku.
"Normal," ucapnya.
"Yang, coba test pack-nya," lanjut Tyo.
"Ah males, bulan lalu juga nyoba sampai 2 kali, tapi negatif. Sayang test packnya," jawabku.
"Yang, bulan lalu negatif, siapa tahu sekarang positif. Lagian sudah telat 5 hari kan? Mas perhatikan, belakangan ini memang nafsu makan Sayang berkurang. Coba deh di tes lagi. Bismillah," ucap Tyo sambil memberikan test pack kehamilan kepadaku.
Aku pun menurutinya dan segera ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan.
Setelah beberapa menit menunggu, dengan harap-harap cemas, aku mengambil alat tes kehamilan tersebut dan kami bersama-sama melihat hasilnya.
Samar-samar terlihat 2 garis merah, yang membuatku sedikit meragukan hasilnya, tetapi berbeda dengan Tyo.
"Alhamdulillah, Yang! ini positif!" ucapnya dengan wajah berseri-seri.
Tetapi aku masih belum yakin, karena 2 garis yang tampak sangatlah tipis.
"Ini tipis banget," ucapku.
"Iya ini masih tipis, tapi ini artinya tetap positif. Yang, Sayang positif Yang!" ucapnya penuh kegembiraan sambil memeluk dan menciumku tetapi aku hanya terdiam tidak bereaksi apa pun.
"Yang, Sabtu siang kita ke Rantauprapat, kita periksa ke obgyn ya, tapi maaf di sini nggak ada obgyn perempuan, di RS adanya laki-laki, kalau mau yang perempuan harus di kota besar," lanjut Tyo.
"Ya kalau memang adanya begitu, mau gimana lagi?" jawabku memaklumi situasi dan kondisi kami berdua yang tinggal jauh di perantauan.
Entah apa yang kurasakan saat mengetahui aku positif, bayangan akan haru bercampur bahagia tidak kurasakan saat ini. Padahal kehamilan ini telah kunantikan sejak bulan pertama aku menikah dengan Tyo.
Sesuai rencana, pada akhir pekan kami pergi menuju Rantauprapat untuk memeriksakan kehamilanku setelah Tyo pulang dari klinik. Perjalanan yang hampir memakan waktu 3 jam itu pun terbayar ketika aku melihat hasil USG ku di klinik dr. Erka Syahputra, SpOG.
"Alhamdulillah, selamat disini tercantum perkiraan usia kehamilannya sekitar 6-8 pekan dan perkiraan melahirkan di sekitar pekan pertama sampai pertengahan Mei tahun depan," ucap dr. Erka.
Lalu dr. Erka memberikan resep multivitamin yang wajib aku konsumsi selama mengandung.
"Semua vitamin yang saya tulis itu wajib dikonsumsi ya, karena seorang ibu yang sedang mengandung membutuhkan nutrisi lebih untuk kesehatan dan pertumbuhan janinnya. Jika ada mual, boleh minum obat penghilang rasa mual, jika memang dirasakan perlu. Saya rasa tidak perlu panjang lebar, suaminya pasti paham juga," ucap dr. Erka.
"In syaa Allah, Dok," jawab Tyo.
"Bulan depan boleh periksa disini atau periksa sendiri sama suaminya juga boleh kok," lanjut dr. Erka.
"Periksa sendiri aja, Dok," jawabku.
"Baik, kalau begitu nanti periksa lagi di pekan ke-15 ya," ucap dr. Erka sebelum mengakhiri pemeriksaaanku.