
Hari semakin gelap dan kami masih dalam perjalanan menuju perkebunan sawit PT. Golden Light.
"Sekarang kita dimana?" tanyaku.
"Kita baru lewat Kotapinang, ibu-ibu kebun biasanya belanja di pasar sini," jawab Tyo.
"Jadwal belanja itu setiap hari selasa di pekan genap," tambah Wak Gepeng.
"Nanti kita ngelewatin Kebun Padang Halaban, di kanan jalan," lanjut Tyo.
Semua informasi itu tidak berpengaruh sama sekali untukku karena hari sudah mulai gelap, tak banyak yang terlihat tanpa lampu penerangan jalan, hanya beberapa rumah penduduk dan pepohonan yang tampak.
"Nah, itu kebun Padang Halaban," tunjuk Tyo pada sebuah tikungan yang mengarah ke kawasan perkebunan kelapa sawit PT. Light Golden.
Kami masih terus berjalan lagi, hingga hampir 1 jam. Lalu mobil pun berbelok ke arah kanan, dimana dipenuhi dengan pohon kelapa sawit yang tinggi di kanan dan kirinya. Jalan tak beraspal ini membuat kendaraan yang kami tumpangi bergoyang-goyang.
"Ini kita ke tengah hutan?" tanyaku.
"Iya, perumahan dan kantornya ada di tengah-tengah kebun. Nanti kita juga ngelewatin pabrik CPOnya," jawab Tyo.
Kukira dari tikungan masuk ke perkebunan tidak jauh lagi untuk sampai ke perumahan, ternyata masih dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di kompleks perumahan staf PT. Light Golden.
Setelah hampir 1 jam berada di atas jalan yang tak rata, akhirnya kami sampai di sebuah kawasan pabrik dengan cerobong asap yang masih mengeluarkan asapnya. Paling tidak, aku dapat melihat pemandangan sekitar, karena setelah memasuki kawasan pabrik, jalan terlihat jelas dengan adanya lampu penerangan jalan.
"Nah itu rumahnya," tunjuk Tyo pada sebuah rumah bergaya tahun '80-an yang cukup besar, dibandingkan rumah-rumah staff lainnya.
Wak Gepeng pun memarkirkan mobil samping rumah, setelah itu kami mulai menurunkan barang-barang bawaan kami.
"Assalamu'alaikum," ucap kami berdua ketika memasuki rumah dinas yang menurutku cukup luas.
Rumah yang sudah berisi dengan perabotan standar ini, terlihat lebih baik dari yang aku bayangkan sebelumnya. Bahkan aku tidak mengira akan menempati rumah yang cukup luas ini.
Aku pun mengikuti Tyo yang berjalan lebih dulu menuju kamar utama, dimana kamar tersebut terletak di samping dinding ruang tamu.
"Home sweet home," ucap Tyo sambil memeluk dan mencium keningku.
"Rumah gede juga, ya," ucapku sambil tersenyum.
"Iya, ini rumah standar manajer, jadi memang besar," ucap Tyo.
Aku memperhatikan sekeliling kamar, dimana terdapat 1 lemari pakaian, 1 meja rias dan 1 tempat tidur queen size, ditambah kipas angin yang menghembuskan angin sepoi-sepoi, yang menurutku cukup nyaman.
"Sayang, mandi duluan aja. Biar Mas, beresin kamar," lanjut Tyo sambil membuka koper pakaianku.
Aku pun segera membersihkan badanku dan bersiap untuk istirahat malam.
Malam itu, kami berdua tidur tanpa banyak bercakap-cakap sebelumnya, karena kami berdua cukup lelah dengan perjalanan yang panjang hari itu.
Keesokan paginya, aku membuka tirai kamarku. Aku melihat sebuah rumah yang dikelilingi pemandangan hijau dari pohon-pohon sawit yang tinggi dan berjajar rapi.
"Itu mess tamu, jadi kalau ada tamu mereka akan diinapkan disitu," ucap Tyo yang seolah membaca pikiranku.
"Baru mau nanya itu rumah siapa, eh sudah dijawab," sahutku.
"Hari ini, beres-beres rumah atau mau belanja? Semalam tidur pakai kipas angin, kepanasan nggak?" tanya Tyo.
"Alhamdulillah nggak kepanasan, tapi badan lumayan pegel. Today kita beberes dulu, belanja di weekend berikutnya aja. Eh tapi, buat masak gimana?" tanyaku.
"Ada warung di pondok, kalau mau nanti kita ke sana, trus ada tukang sayur yang suka lewat juga, tapi nggak tahu jam berapa," jawab Tyo.
"Pondok? Pondok apa?" tanyaku yang tidak mengerti, karena setahuku pondok adalah tempat tinggal atau gubuk.
"Oiya, pondok itu sebutan untuk perumahan karyawan. Kalau kita disini di perumahan staf," jelas Tyo.
"Oo gitu, tho. Yowes kita beresin kamar dulu. But anyway, kasurnya nggak ada yang lebih tipis yak," sindirku mengingat semalam ketika merebahkan badanku di kasur berharap empuk dan nyaman, tetapi yang kudapatkan adalah seperti tidur di atas papan kayu yang dilapisi bedcover.
"Maaf ya, Mas kemarin sudah minta kasur baru, tapi belum ada. Katanya, kasur barunya pekan depan datang, semoga saja benar," jawab Tyo sambil tertawa kecil.
"Sayang beresin kamar aja, Mas masak nasi dulu, nanti Mas bantuin disini," lanjut Tyo.
Aku pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku. Lalu aku melihat ke sekeliling kamar, "Hmmm mulai dari mana yaa?" gumamku.
Akhirnya aku memutuskan untuk merapikan koper terlebih dahulu. Aku mengeluarkan satu-persatu isi koper dan menyusunnya kembali di dalam lemari pakaian. Tak lama kemudian, Tyo kembali dan membantuku merapikan semua barang bawaan kami.
"Sepi banget," ucapku yang sedari tadi tidak mendengar suara.
"Seumuran, berarti seangkatan dong?" tanyaku.
"Iya, seangkatan kita. Eh dia lulusan UnDip, teman sekelasnya Arga di kampus. Tahukan Arga?" tanya Tyo.
"Tahu, yang item keriting, kan?" jawabku. Arga adalah teman satu SMA kami berdua, walaupun aku tidak pernah sekelas dengannya.
"Iya, nanti kapan-kapan kita ajak dia makan-makan, sekalian kita ajak dia kalau mau belanja ke Kota Pinang atau Rantau Prapat," lanjut Tyo.
Kami membutuhkan sekitar 2 jam untuk mengosongkan isi koper dan barang bawaan lainnya.
"Akhirnya rapi semua pada tempatnya!" ucapku lega.
"Nih, makan dulu," ucap Tyo sambil memberikan potongan bika ambon.
"Mas, ada apa yang bisa dimasak?" tanyaku.
"Ada telur di kulkas, sama mie instan aja," jawab Tyo.
"Yowes aku goreng telur dulu, oiya kan kemarin dibawain abon, telur plus abon aja, ya," ucapku sambil berjalan ke dapur.
Aku membuka tirai yang terpasang di jendela dapur dan membiarkan cahaya matahari masuk untuk menerangi dapur nan mungil ini.
Menyiapkan sarapan minimalis seperti ini, hanya membutuhkan waktu sesaat dan siap dihidangkan di meja makan.
"Mas, sarapan dulu yuk," ajakku.
"Yang, nanti kita ke pondok untuk belanja bahan makanan atau kalau mau kita jalan agak jauh, beli makan di rumah makan langganan Mas di sini," ucap Tyo.
"Hmmm, beli aja, aku mau lihat penampakan kebun di siang hari," jawabku.
Menjelang siang, kami berdua pergi untuk mencari makan siang dan berbelanja beberapa kebutuhan dapur.
"Siap, kita mulai off-roadnya," ucap Tyo sambil melajukan kendaraannya perlahan.
Aku melihat ke arah jendela, tampak pepohonan kelapa sawit yang menjulang tinggi mengitari komplek perumahan yang kami tempati.
Komplek perumahan tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang tampak di luar.
Tyo melajukan kendaraannya perlahan, karena jalanan tanah yang tak rata.
"Mas, jalanannya ini dikasih apa sih, kok kayak ada item-itemnya keras gitu," tanyaku.
"Ooo itu cangkang sawit yang disebarkan dijalan, pengganti kerikil," jawabnya.
"Ooo menghemat cost ya, hebat juga," ucapku.
Lalu kami melewati komplek kantor utama, sebelum kembali memasuki jalan yang penuh pepohonan sawit di kanan dan kirinya. Setelah 1 jam berkendara, kami sampai di jalan utama antar provinsi. Bus-bus penumpang antar provinsi dan truk pengangkut sawit adalah pemandangan selama perjalanan kami.
"Nggak banyak kendaraan lainnya ya?" tanyaku.
"Iya, cuma sedikit, banyakan yaa truk sawit atau bis. Tapi kalau motor lumayan banyak juga. Nah, kita harus hati-hati karena mereka seringnya jalan dengan kecepatan tinggi, nggak jarang terjadi kecelakaan juga," jawab Tyo.
Tak jauh berkendara, Tyo menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan khas Melayu untuk membeli aneka lauk.
"Siang Dok," sapa salah satu pelayan rumah makan tersebut.
"Siang. Bungkus ya, Bang. Lauknya saja, seperti biasa," ucap Tyo.
"Eh datang berdua, adik dokter kah?" tanya pelayan itu lagi.
Kami berdua pun tertawa, lalu Tyo menjawabnya, "Adek ketemu gede, alias istri," jawab Tyo.
"Eeeeh Abang Dokter sudah berkahwin nampaknya. Selamat Dok! Kapan Dok, kok nggak undang aku?"
"Baru pekan lalu, di Jakarta. Ini tadi malam baru sampai," jawab Tyo.
"Ooo, kalau begitu, selamat datang Bu Dokter, semoga betah," ucap pelayan itu.
"Terimakasih, tapi jangan panggil saya Bu Dokter, saya bukan dokter, yang dokter suami saya," jawabku.
"Eh lucu kali Bu Dokter ini, tak mau pulak dipanggil Bu Dokter," ucapnya lagi sambil tertawa.