Self Healing

Self Healing
Episode 31 First Pregnancy



Rasa mual dan pusing akibat kehamilanku yang sudah memasuki pekan ke-15 atau sekitar 3 bulan, akhirnya perlahan menghilang. Pemeriksaan lanjutan ke dr. Erka juga tidak mengalami kendala, kondisi janinku berkembang dengan normal membuatku bersemangat. Nafsu makanku pun mulai kembali normal. Ibuku yang ikut berbahagia dengan berita ini, mengirimkan segala macam suplemen kesehatan untuk kehamilan perdanaku ini.


Suplemen produksi negara paman Sam, yang harganya jelas tidak murah itu, menjadi pilihan kedua orang tuaku selama hampir 5 tahun. Walaupun harganya mahal, tetapi bagi orang tuaku itu tidak pernah menjadi masalah karena diperuntukkan bagi kesehatan kami sekeluarga, terlebih saat ini ketika aku sedang mengandung bakal cucu ke-2 orang tuaku.


Kedua orang tuaku benar-benar berbahagia, karena di saat aku menikah, istri Mas Verdi juga telah dinyatakan positif mengandung bakal anak pertamanya.


"Lin, jangan lupa suplemennya diminum setiap hari. Baca juga dosisnya untuk sekali minum. Untuk kalsium, boleh sehari sampai 6 tablet, kalau memang diperlukan," ucap ibuku ditelepon.


"Diperlukan gimana maksudnya?" tanyaku.


"Ya kan semakin besar kandungan akan semakin berat membebani tulangmu. Tulangmu butuh asupan kalsium lebih, untuk menopang berat badanmu yang akan terus bertambah sampai nanti melahirkan. Jadi nanti biasanya, akan terasa pegal di punggung atau bahkan sampai nyeri. Nyeri punggung dan pinggang itu langganan wanita hamil," jelas ibu.


Belum selesai dengan suplemen yang entah jumlahnya berapa banyak, Tyo datang dengan membawa susu khusus untuk wanita hamil.


"Mas, aku kan nggak suka susu, eneg rasanya, malah tambah mual, nyium baunya aja sudah pingin melarikan diri," protesku kepada Tyo.


"Ini buat ibu dan bayinya. Sayang, sekarang makan dan minum untuk 2 orang lho. Ayolah, biar dedenya sehat, ibunya juga sehat. Please?" pinta Tyo dengan puppy eyes-nya yang membuatku menerima pemberiannya.


"Boleh diminum dingin, kan?" tanyaku.


"Boleh, dingin bisa, hangat juga bisa," jawab Tyo.


"Aku bikin es aja," lanjutku.


Tyo pun tersenyum memandangku setelah aku mengikuti kata-katanya untuk mengkonsumsi susu kehamilan yang baru ia beli.


Tetapi di saat aku memeriksakan kandunganku, dokter menyatakan sesuatu.


"Berat ibunya sih naiknya normal, tapi berat janinnya masih kurang. Ini perkiraan lahirnya hanya sekitar 2,5-2,8 kg. Susunya rajin dikonsumsi nggak?"


"Sehari sekali aja, Dok. Eneg banget, Dok," jawabku yang membuat dr. Erman tertawa.


"Kalau nggak suka susu, bisa diganti dari makanan atau minuman yang lain, yang kandungan susunya cukup tinggi. Hmmm suka es krim, kan? Nah, bisa diganti dengan es krim, yaa selang-seling sama susunya. Es krim yang kandungan susunya cukup tinggi itu es krim Ball's," jelas dr. Erman yang membuat tersenyum.


"Bisa diganti es krim, Dok? beneran bisa?" tanyaku.


"Iya, bisa."


Setelah itu, tukang es krim keliling yang hanya datang sepekan 2 kali itu pun, menjadi langgananku.


Kehamilan perdanaku ini, sebenarnya tidak terlalu merepotkan, karena aku tidak mengalami ngidam atau menginginkan sesuatu yang teramat sangat yang harus segera dituruti, melainkan tetap seperti sebelumnya. Hanya saja, belakangan badanku rasanya sakit semuanya, terutama pada tulang di bagian punggung. Aku pun mengikuti saran ibu dengan menambahkan konsumsi kalsium. Alhamdulillah setelah merutinkannya setiap hari, nyeri pada bagian punggungku pun berangsur menghilang.


Tetapi karena kekhawatiran Tyo terhadap kondisi kehamilanku ini, maka ia mencarikan untukku seorang ART untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian.


"Namanya Bu Sulis, istri karyawan kebun. Nanti sore dia kesini, sebelum mulai kerja besok pagi, yaa kenalan dulu, sekalian ngelihat tugasnya apa saja," ucap Tyo saat istirahat siang.


"Biar dia yang bersih-bersih sama nyuci, dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang atau seselesainya kerjaan di rumah," lanjut Tyo.


Aku pun merasa lega, karena akhirnya aku dapat beristirahat sesaat selama kehamilan ini.


Aku pun menurut saja, lagi pula membersihkan rumah dan mencuci pakaian bukanlah pekerjaan rumah yang kusukai, tetapi merupakan sebuah kewajiban yang harus kulakukan. Sehingga dengan adanya ART, aku bisa banyak bersantai dan mengerjakan hobiku, yaitu baking.


Setelah memiliki oven, hampir setiap hari aku memanggang sesuatu, entah roti, cake atau bahkan ayam. Hal ini pun berimbas pada penaikan berat badan Tyo.


"Perasaan aku yang hamil, tapi kenapa yang berat badannya naik drastis gitu Mas?" candaku sambil menyuguhkan roti pisang yang baru selesai kupanggang.


"Makanya jangan pakai perasaan, lagian kalau tiap hari disuguhin roti, bolu, belum cemilan yang lain, emangnya bisa nggak ikutan membulat?" jawab Tyo sambil asyik menyantap roti yang kuhidangkan untuknya.


"Yang, Mas kan ngasih ART biar Sayang bisa istirahat, kok malah jadi bikin ini bikin itu? Jangan kecapean lah, Yang."


"Laaa aku kan bosen kalau nggak ngapa-ngapain. Masak aku cuma disuruh diam doang. Lagian aku bikin roti, kan Bu Sulis bisa bawa pulang buat keluarganya," jawabku.


Tyo pun akhirnya membiarkanku melakukan aktivitas yang kusukai, karena selain membantu menghilangkan kejenuhanku juga menambah kreativitasku di dapur.


Bulan demi bulan pun berlalu, hingga akhirnya telah memasuki trisemester ketiga. Rencana persalinan pun mulai diperbincangkan oleh kami berdua.


"Sayang, mau melahirkan di sini atau di Jakarta?" tanya Tyo.


"Menurut Mas, mendingan di sini atau di Jakarta?" tanyaku balik.


"Kalau menurut Mas yaa, di Jakarta."


"Yowes, fix di Jakarta aja. Lagian ini kan anak pertama, aku buta ngurusin bayi baru lahir, harus ditemenin ibu dulu, biar aman," ucapku.


"Nanti coba Mas tanyakan untuk cutinya gimana," ucap Tyo.


"Eh ntar Mas, cutinya pas aku mau melahirkan aja, biar lebih lama nemenin di Jakarta. Ntar aku telpon ibu, deh," ucapku sambil menghubungi ibuku melalui telepon genggam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Gimana Lin kondisi kamu sekarang?" tanya ibu.


"Alhamdulillah baik, Bu."


"Oiya, perkiraan persalinan kamu itu tanggal berapa?"


"Hmmm sekitar tanggal 10-15 Mei," jawabku.


"Sekarang sudah berapa minggu?" tanya ibu.


"Sudah 30 minggu," jawabku.


"Coba kamu tanyakan kalau periksa, kapan amannya kamu ke Jakarta, biar melahirkan disini aja, nanti Bapak dan Ibu jemput kamu di Medan. Jadi nanti biar Tyo antar kamu sampai Medan saja, jadi nanti punya waktu cuti yang cukup setelah kamu melahirkan," ucap ibu yang membuatku senang.


"Baru aja mau nanya, kalau aku melahirkan di Jakarta, gimana?"


"Nggak usah nanya. Yaa jelas kamu harus melahirkan disini sampai nanti bayimu bisa dibawa ke kebun," jawab ibu.


"Makasiii ibuuu," ucapku.