
Setiap detik kehidupan itu dihantui ketakutan. Siapa yang berhasil menaklukannya, sama saja dia telah menguasai dunia.
Anonim
***
"Hafidz… " suara tegas itu menghentikan langkah anak muda yang terlihat dengan tampilan sangat kacau. Rambut lepek, gerah menahan amarah dan baju yang compang-camping dibuka kancing atasnya.
"Ay--." gelagapnya seperti seseorang yang ketauan berselingkuh. Irama jantungnya sudah sangat berpacu, rasa serba rasa telah hinggap. Kesal dengan hidup yang selalu tidak pernah mendapat hak istimewa seperti kakak yang lainnya, lelah dengan drama kepatuhan, tanda tanya mengenai arti ketuhanan, dan masalah baru yang menyebabkan dia kacau sampai berani pulang sekolah bukan jamnya, setelah keributan kecil yang terjadi kemarin dengan seorang perempuan yang tak dikenal.
Tertunduk lesu, dan berpasrah dengan segala hal yang akan terjadi. Hatinya berandai pedih. Andai ibu masih hidup. Akankah aku ini terjadi, berkelana seperti orang gila.
"Duduk kamu!" titahnya kasar
Hafidz menurut dengan ogah\-ogahan. Bokongnya dia daratkan di atas kursi, kepala yang sebelumnya tertunduk, kini terangkat. Setelah menetralkan hati yang dirasanya sakit seperti tertusuk ribuan jarum. Dia mencoba melawan arus, mempertanggungjawabkan atas kebingungannya meski awal dari realisasi dia salah. Mata elangnya yang masih terlihat merah sebab menahan tangis kini nyala menatap sang ayah. Senyumnya dia perlihatkan, menandakan dia baik\-baik saja. "Iya ayah, ada apa?" tanyanya.
"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih nanya ayah kenapa? Haa..." sentaknya
"Plakk.... " tamparan itu, mengenai pipi kirinya, sorotan kecewa begitu tampak. Ledakan marah telah muncul ke permukaan. Hafidz masih tersenyum. Hanya saja, mata elang yang menatap tajam kepada pemilik sorotan mata kecewa itu sedikit berair. Bahkan, mengalir ke ujung pangkal di mana rintik itu jatuh dan mengenai pipi berbekas tamparan. Perih tentu, tapi Hafidz sekarang menguatkan hati. Dia tidak akan tunduk kepada siapapun, dia telah percaya yang berhak dan tunduk kepada siapa dirinya hanyalah dia sendiri. Perangai itu ia dapatkan dari keberanian seorang wanita yang telah menamparnya kemarin. Dia begitu anggun, tapi dia penolak keanggunan atas dasar pusat perhatian. Dia tomboy, tapi dia mencegah ketomboyan untuk gaya yang tidak diperbolehkan.
"Kamu itu anak tidak tahu untung, apa bisamu membuat ulah saja kah?" katanya menyala\-nyala, seperti ada kobaran api yang siap menghantam siapa saja. Hafidz yang terus memasang senyum, padahal sedang menguatkan hati dan menahan nada suara agar tidak parau. Kini mengucapkan beberapa kalimat
"Iyah, Hafidz hanya bisa berbuat ulah saja tidak seperti Kak Firman atau Kak Faisal. Mereka kan yang selalu ayah banggakan? Jika ayah sudah muak dengan keberadaanku, aku siap dibuang dari pada jadi orang tapi seperti mati. Ada tapi tak dianggap, terlihat tapi tak pernah dihargai. Selalu dianggap remeh dan kecil. Aku dulu patuh karena takut memang ini salahku, tapi nyatanya tidakkan? Anda yang telah merenggut kebahagiaan seorang wanita yang begitu suci dan membuatnya dia melahirkan anak lalu kau acuhkan, selanjutnya anda siksa dia karena nafsumu sampai dia meninggal. Tetapi dunia terlalu buta, anda tutupi semuanya dengan merawat baik anak itu ANAK KANDUNG ANDA SENDIRI di depan umum saja. Untuk kelurga anda pun sama, bersandiwara hanya untuk pribadi. Apa salah saya?" Hafidz menekankan kata anak kandung dan mengubah kata ayah menjadi anda. Dia pun berlalu, berlari menaiki anak tangga tanpa menunggu jawaban sang ayah selanjutnya. Ayah Hafidz mematung terperangah.
Tiga puluh menit kurang, Hafidz sudah keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan menenteng tas berukuran sedang. "Satu lagi, anda tidak perlu mengatur waktu dengan sekolah yayasan itu untuk menuntut wanita hanya karena famous anda sayang keluarga, masalah sekolah saya kabur bukan karena apapun ini murni saya muak, untuk pembuktian kau lelaki sejati carikan keluarga ibu saya dan di mana jasadnya."
Ayah Hafizd mematung, rahangnya mengeras dan semburat wajah merahnya padam. Tangannya dikepal, nafasnya memburu dan pada akhirnya kakinya kaku untuk mengejar Hafidz yang telah hilang dari pandangannya.
Haruskah... ?"
***
"Ibuuu… " lirih Hafidz pilu, jalannya tidak tentu arah melintasi trotoar yang kini dipenuhi pejalan kaki, membelah kebisingan pusat kota, tapi baginya, semua nampak kosong tidak ada siapapun. Seperti ruang yang tengah hampa diselimuti kegelapan.
Sinar mentari yang masih berkilau, menyorot lekukan tubuhnya dengan perawakan tubuh tinggi tegap, kulit yang kuning langsat, hidung yang mancung mirip pemain bola Christian Ronaldo, dan wajahnya yang simetris seperti daun sirih ditambah ukiran mulut tipis mata bulat itu terlihat cucuran keringat dari wajah yang tampak kelelahan.
Tidak lama, seseorang tidak sengaja menabraknya, ketika haluan langkah Hafidz mengarah ke ujung trotoar. Dia menabrak Hafidz setengah membanting dan menyikunya secara kasar. Larinya terbirit seperti dikejar maut yang mana saat itu dia tidak terima. Tidak sampai satu menit, terlihat dibelakangnya kerumunan orang yang berlari mengejar, dengan teriakan "Copett...Copett" Hafidz terdiam sesaat, kesadaran jiwanya masih tertinggal dalam sebuah lembah bernama ujian. Usianya yang sudah menginjak fase kedewasaan, sedang berusaha mengerti dan mencari makna baru.
"Buuggghh…" Hafidz tersenggol, kali ini sampai raga nya terpental dan jatuh ke samping trotoar.
Naziya terus bermonolog "Benar gak yah, orang itu. Orang yang sama! Tapi tunggu deh, ko dia wajahnya tampak lesu dan suram bangett sihh. Eh bodoamat." Bisikan hatinya hampir saja membelokkan langkah itu. Tapi sanubarinya menimpali"Tapi tunggu deh, masa aku tinggalin. Kasian dia, tolongin aja deh"
"Kayaknya hidupnya lebih hancur dari pada bubur."
"Hai, ayo bangun… Kamu kenapa?" Naziya menyapa setelah tepat berada di hadapan dia. Hafidz yang masih menunduk kini kepalanya pun menengadah, ujung mata miliknya mengikuti arah suara itu. Sedetik Hafidz merasa kaget, namun setelahnya kembali seperti biasa.
Dia bangun dan menepis-nepis baju yang kotor terkena debu. "Lu cewek yang kemarin kan? Gua minta maaf. Sorry... " Hafidz tersenyum memaksakan diri, menyunggingkan sedikit bibirnya dan suara dia hampir tidak terdengar karena begitu parau.
Naziya tidak kaget, dia hanya berdehem."Eemmm… Lalu?" Naziya menggantungkan ucapannya.
Hafidz terdiam sesaat, mematung memikirkan kata-kata apa yang akan dia keluarkan selanjutnya. "Oke kita bicara di taman saja ya, gua lagi butuh sandaran, dan soal kemarin gua akan jelasin." Tiba-tiba kata itu dikeluarkan dari mulu Hafidz begitu saja, layaknya roket yang akan terbang menunggu aba-aba tapi setelahnya terbang dengan kecepatan tinggi yang tidak kalah keren. Hati Naziya sedikit terguga, meski aura sikap kedinginannya masih mendominasi.
"Haaa sandaran. Maksudnya?" Naziya membalas perkataannya dengan sedikit menautkan alis sebab sedikit bingung.
"Ehhh-- Enggak, maksudku... " Hafidz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudahlah kalau begitu, ayo." ajak Naziya to the poin.
"Ke mana?" Hafidz bertanya seakan benar dia tidak sadar dengan ucapannya. Naziya sedikit menghela nafas, lalu bebicara ulang dengan sedikit penekanan. "Bukannya lu ngajak ke taman, dan lu lagi butuh sandaran, dan gua lihat, lu kayaknya habis prustasi takut kena adzab… Hahaha" Naziya tertawa puas melihat ekspresi Hafidz yang sudah tidak terbaca.
"Lu.. " gertakan gigi Hafidz seakan bahagia bagi Naziya.
"Elo… Buruan," Naziya mengajak dengan sedikit jalan yang sudah menjauh. Jalanan sore hari ini Naziya tersadar, ada hal lain di antara sepi yang mendominasi keduanya. Naziya sadar sikap barusan bukanlah Naziya seperti biasanya, perihal dendam memang Naziya tidak mempunyai semua itu. Hanya saja, sakit hati selalu dia bungkam oleh sebuah hayalan mimpi. Keduanya beriringan setelah Hafidz berhasil mensejajarkan langkahnya.
"Nama lo siapa, untuk hari kemarin gue minta maaf. Gue tahu, di sekolah sekarang lo pasti kena masalah dan dipanggil guru BK untuk diatur jadwal pertemuan dengan keluarga gue, dan gua saat ini nyuruh elo, jangan dianggep dan jangan pernah ke temu sama bokap gue." Hafidz berucap dengan tatapan yang lurus tidak sedikit pun dia palingkan wajahnya, melihat bagaimana reaksi Naziya.
"Kirain gue lo udah dungu, dan gak sok kenal gitu. Lah emang bisa? Kenapa lo terlihat mengacaukan sekali sih?" Naziya menjawab setelah ke duanya sampai di taman kota.
"Eemm… Hahahahaa, hidup gue emang hancur dan hancur hahaha. Rancu dan kalau boleh minta, gue mau gak pernah ada di dunia." Hafidz berteriak dengan tawa sumbang sebab kini tangisannya pecah, dan tubuhnya ambruk di atas tanah. Naziya yang baru saja mendaratkan bokongnya di salah satu kursi, mendengar jawaban Hafidz membuatnya terperangah lalu dengan sigap berbalik menyatarakan tubuhnya bersama Hafidz yang telah berdiri dengan alas lutut di bawah tanah rerumputan. Keadaan taman memang ramai, sempat beberapa orang memandang ke arah keduanya namun semuanya kembali ke dalam urusannya masing-masing. Hafidz melihat keadaan itu, dan ketika akan bangun matanya lurus berpandangan, Naziya yang sadar segera membuang tatapan, membantu Hafidz terbangun.
Naziya merasa bingung harus berkomentar apa. Tapi lagi-lagi satu bayangan melintas tanpa diduga, membuat kepala Naziya terasa nyeri. Dia memegangi kepalanya, lantas bergumam "Awww…Sakit," keluhnya.
"hidupku udah hancur dan udah rancu, aku ingin mati kali ini. Tapi tolong jangan menghalangiku, aku ingin pergi menyusul ibu di sana. Ayah sudah tidak sayang aku lagi. Dia selalu membentakku" racau seorang anak kecil terhadap orang dewasa yang sejajar dengan tubuhnya. Orang dewasa itu terlihat menangis, dia berusaha meraih memeluknya. Namun berkali-kali dia menepis, sampai anak gadis menghampiri mereka.
"Ba--yangan… " ucap Naziya terbata. Hafidz melirik Naziya setengah mengernyitkan mata. Dia bingung, tapi satu tatapan mata itu bertemu lagi dan ukiran wajahnya membuat Hafidz tertegun.
"Kau, kenapa? Apakah kau gadis yang sama." tanya Hafidz, matanya seperti memancarkan harapan. Wajahnya yang semula tampak pucat kini seperti teraliri darah kembali."Aw... aww… Arrggghhh." Naziya semakin mengeluh, suaranya tertahan ingin menangis. "Menjauh kau, menjauh… " Naziya berucap lirih setengah kekuatannya hampir hilang menahan luapan emosi dalam diri.
"Ibuu…" Pekikinya sambil berlari meninggalkan anak lelaki tadi. Di saat yang bersamaan, kerumunan orang menghalangi dirinya. Dia pun menangis terjatuh sembari memeluk lutut.
Hafidz yang melihat Naziya memegangi kepala yang ditutupi kerudung kesakitan langsung memeluk erat tanpa perkataan, dirinya berbicara dalam hati. "Aku tau ini salah, maafkan aku ya, Tapi aku merasa inilah awal dari masalah baru yang akan aku jalani, membuktikan kehidupan yang sejati. Aku tidak lagi takut padamu, dunia. Lihat saja aksiku."