Self Healing

Self Healing
Bab 1 Bayangan



          Menangis tidak akan memberikan jalan. Menyalahkan hanya menumbuhkan luka. Berdiam juga, tidak akan memberikan jawaban. Berpasrahlah setelah berjuang melawan semua prasangka kemustahilan. 


     🌸🌸🌸 


    Bukannya kebahagiaan harus dibayar dengan perjuangan. Bukankah tawa harus dibayar dengan tangisan. Bukankah kejayaan harus dibayar dengan kelemahan." Jangan pernah mengaku beriman, jika kehidupanmu tidak pernah mendapat ujian." Layaknya tamparan dibanting dengan sekeras-kerasnya, hingga tembus menusuk rongga dada. Kembang-kempis, lalu tertahan menahan sentakan, berdiri sekuat mungkin. 


      Haruskah?" Nyatanya Naziya mulai lelah, hidupnya seperti rajutan benang yang terbelit dan sulit diuraikan kembali. 


      "Ziyaa... Lu muka datar mulu, kayak jalanan tol tau," seronoh Albi. 


    Albi siswa paling heboh di kelas, sosoknya yang humoris dan tampangnya membuat sebagian cewek mengidolakannya, tapi tidak bagi Naziya, dia tetaplah dia. Segudang misterius dan kejutekannya. 


     "Eemm... " Naziya membalas dengan tatapan yang sulit diartikan. Meski di lubuk hatinya yang jauh sedang berkompromi. Tentang hidup dia yang selalu saja membuatnya jengah. Dia pergi, meninggalkan kelas. 


   "Aahhh gak asik lu, eh mau ke mana?" sedikit teriakan Albi membuat Naziya menoleh ketika dia sudah berada di tepi pintu, tapi tetap tidak digubris olehnya, bagi teman- teman yang ada di dalam kelas, melihat tingkah Naziya yang kelewatan dan Albi yang sedikit ngaco sudah hal biasa. 


      "Berisik lu, Bi." seseorang menjitak kepala Albi. "Lu gak bosen terus-terusan dikacangin gitu, tuh anak emang udah jadi es kali ya. Makanya gak ada yang mau nemenin tuh kalau lagi kambuh mah." timpal Seli, sedikit membuat Albi mengernyitkan dahi. "Maksud lu, Sel?" jawab Albi. 


    "Pikir aja sendiri." Seli menjawab dengan tatapan sinisnya. 


***


          Koridor sekolah masih sepi, karena memang belum saatnya jam istirahat. Naziya mengedarkan seluruh pandangan, melihat kekosongan dan mengikuti arah kakinya melangkah. 


       Di sebrang sana, seseorang yang berpakaian syar'i sedikit menoleh ke arah Naziya dengan bingung. Pasalnya, ini masih jam pelajaran berlangsung. Tapi gadis itu bisa-bisanya berjalan dengan santai, di koridor sekolah. Saking serius memperhatikan Naziya, matanya tidak lepas dari pandangan, secara tidak langsung mengabaikan arah jalannya. Sehingga tanpa disadari, dia menubruk Naziya di tikuangan koridor yang menghubungkan arah ruangan kantor dengan kelas-kelas yang berjejeran.


         "Aww… Sakit," ucap Naziya memegang pelipisnya. 


"Ehhh ma--af gak sengaja," tuturnya gelagap. Naziya yang semula setengah menunduk karena memegang pelipis sedikit terangkat. Dia sesaat tertegun, sesuatu bayangan menari di dalam benaknya.


     "Kamu harus baik-baik ya, jangan pernah melawan ibumu. sesalah apapun dia, dia tetap ibu yang merawatmu. Meski bukan ibu yang mengandungmu." suara itu menggema di telinga Naziya, seakan memenuhi sudut di setiap permukaan ruangan. 


    "Maksud kamu apa? Haa? Kamu siapa?" Ucap Naziya frustasi. Gelap dan hitam, hanya sekilat cahaya yang menyilau menarik perhatian Naziya. Mengikuti, langkah demi derapnya Naziya berjalan dengan perlahan. Ketakutan sedang menyelimuti dirinya, dia tidak mengenali tempat ini. 


   "Aku mohon keluarlah, siapa kamu? Tunjukkan wajahmu." Suara Naziya melemah seiring tangisan yang pecah, Naziya menutupi wajahnya dengan tangan. "A--ku…"  


     "Jangan takut, kemarilah! Di sini sudah terang… Lihat danau dan langitnya begitu cerah" seseorang memegang dan menurunkan tangan Naziya. Pandangan mereka beradu, manik mata hitam miliknya membuat Naziya menatap.  "Kenapa bisa?" Naziya berucap pelan.  


         " Eeh, afwan. Tidak masalah."


Naziya menghela nafas, lalu tanpa melihat lagi ke arah orang itu dia kembali memandu kaki. Berjalan menyusuri dengan hati yang bermonolog. 


       Terpaku dan diam, seakan seperti ada magnet yang mengikat antara jiwa, meskipun hanya beberapa saat menatap tanpa disengaja, dia tidak memikirkan begitu dalam. ''Ahhh… Biar sajalah, astagfirulloh." 


    "Mata itu… Sama persis dengan mata yang kulihat dalam mimpi, entah apa rencanamu ya robb, meski suara itu sesuatu yang tidak aku tahu maksudnya." 


      "Ziyaa… Mau kemana kamu?" untuk kedua kalinya langkah Naziya terhenti. Panggilan itu sarkas, seperti bunyi peluit yang berbunyi tanpa menggunakan nada. Lantang dan keras.


    Naziya mematung, lututnya melemas. Meski sudah biasa, tapi tetap yang sekarang seakan ada pertanda yang lebih besar. 


     "Ayo ke ruangan BK." Pak Tino berucap dengan memegang lengan Naziya secara kasar dari belakang. 


   Naziya masih mematung, biasanya selalu kabur ketika Pak Tino datang. Kali ini tidak, hanya kepasrahan dan helaan nafas yang mampu dia hembuskan. 


       Sepanjang koridor Naziya ditarik seperti kambing yang sulit berjalan. Pak Tino nampak sudah lelah, tapi amarah terlihat dari merah padam wajahnya. Naziya tidak berkutik, tapi pikirannya sedang menebak, dan perasaannya sedang mengaku kesalahan yang baru saja dia perbuat kemarin. Tanpa sepengatahuan siapapun, dia merasa aman. Tapi dia sadar, Pa.k Tino lambat-laun akan mengetahuinya.


      Lagi, lagi orang itu. Seseorang yang sempat menabrak Naziya, dia adalah Nurasyifa Maulida. Berpapasan dengannya. Nura menyapa Pak Tino dengan bahasa tubuh, dia tersenyum dan sedikit membungkukkan kepala. Pak Tino membalas dengan senyuman kaku, dengan tangannya yang masih mencekal tangan Naziya. Tapi sedetik kemudian, ketika jarak Nura dan Naziya hanya setengah meter di belakang Naziya, Pak Tino menoleh. "Eehhh… Kamu, gak masuk juga. Mau ikutan kayak ini anak," bentak pak Tino. 


     Selama ini Naziya tidak pernah bermain kasar, dia selalu berhasil menutupi masalah dengan keacuhan. Tapi mengapa? Naziya memaki dirinya, menjerit dalam hati menahan sesuatu yang ingin dia keluarkan dengan meledak. Persetanan ******** dengan kebaikan. 


     Nura tersentak kaget. "Maksud bapak apa? Saya siswi baru di sini pak," jawabnya dengan menundukkan kepala. "Saya baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah, Pak," lanjutnya.


      Pak Tino menghela nafas, menahan malu dan meminta maaf. "Ya udah nak, maafkan bapak telah membentak," tuturnya.


      Nura menjawab dengan wajah berseri, tetapi matanya menatap Naziya. Setelahnya, segera berjalan.


       Naziya yang dari tadi memalingkan wajah, segera menatap Pak Tino yang masih menghadap ke arah Nura. 


      "Kamu kenapa? Ziya?... " masih dengan nada tidak bersahabat Pak Tino bertanya. 


    "Lepasin pak, sakit," keluh Naziya, suaranya sedikit bergetar. 


amarah Pak Tino sedikit mereda untuk Naziya, dia melepas cekalannya. 


    "Ayo makanya jalan, jangan susah. Masuk ruang BK." Pak Tino berbicara dengan segera melangkahkan kakinya berjalan. Naziya membuntuti dari belakang. 


    "Tapi apa kesalahan saya kali ini?" protesnya, getaran dari suara sebab menahan sesak terdengar jelas. Pak Tino yang sudah melangkah sedikit jauh, menoleh. Dia merasa heran, bukan Naziya yang seperti biasanya. 


    "Jangan banyak tanya, sudah ikut saja. Nanti kamu jelaskan setelah menghadap Buk Rina,'' jawab Pak Tino datar. 


     ***


      "Naziya sebelum ibu bertanya, apa kamu tahu apa kesalahan kamu kali ini? Tidak bosankah kamu?" Bu Rina berbicara lembut tapi tajam, perkataannya memang tidak menusuk namun nada kelembutannya terdengar seperti pecutan. 


     Pak Tino yang masih berada dalam ruangan BK tersebut, segera meminta ijin untuk keluar kepada Bu Rina. Tetapi sebelum itu, Pak Tino membisikkan sesuatu tepat di sebelah telinga kanan Naziya ketika melewatinya."Maafin saya neng untuk yang barusan, saya emosi terhadap orang lain eh malah kamu kebawa, Nanti kalau perlu, kamu boleh nemuin saya setelah urusan ini selesai. Biar tangannya saya pijit,"jelasnya dengan wajah khas seorang ayah kepada anaknya. Wajah yang terasa panas dari tadi Naziya tahan, kini leleh bersama satu titik embun yang keluar. Permintaan maaf Pak Tino memang terdengar tulus, dan sikapnya yang kembali membuat Naziya tidak takut. Pak Tino si ramah dan sopan penjaga sekolah, yang pantang menyerah untuk keluarganya. Membuat Naziya teringat lagi, pada kenyataan yang harus dia hadapi. 


        "Ayah… Lihat ini," teriak anak kecil setengah berlari dengan senyum merekah, ke arah sebrang jalan. Rambut yang dikepang dua menjadi ciri khasnya, pipi yang mengembang,warna kulit putih serta mata yang bulat, memiliki retina berwarna hijau kecoklatan ditambah bulu mata lentik membuat rupa anak kecil itu dikagumi siapapun. 


      "Brummm…" suara decitan motor yang sedang melaju kencang melawan arah anak kecil itu. Sehingga tidak lama terdengar. "Brakkk…"


   "Ziya sayang, awass." pria yang dipanggil ayah olehnya, dengan sigap melindungi, sehingga  menyebabkan dia tergeletak. 


       "Eheumm… " Bu Rina berdehem. 


"Permisi buk." Pak Tino segera pergi.


"Ziya kamu denger ibu kan?" tanya Bu Rina memastikan. 


     Naziya hanya menunduk, embun yang dia tahan, perlahan menyeruak menjadi hujan. Bahunya berguncang. Bu Rina mengernyitkan dahi, bingung dengan sikap Naziya yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Buk Rina pun mendekati, dia menepuk pundaknya dan mengangkat wajah Naziya. Setengah tersentak kaget, melihat mata Naziya sudah rimbun dan dataran pipinya yang basah. Bu Rina yang sering berhadapan dengan Naziya heran. "Naziya," panggilnya sekali lagi. 


  Dengan suara bergetar Naziya menjawab. "Saya tidak tahu sebelumnya untuk yang ini kenapa saya masuk BK lagi. Jika karena saya berkeliaran di luar jam istirahat, saya sudah kapok… Dan jika ka--,"


 "Iya karena apa sayang, lanjutkan saja. Tidak usah takut," potong Bu Rina melihat ada raut ketakutan. 


 "Karena saya memukuli anak orang memakai baju seragam waktu kemarin, itu murni bukan untuk jagoan tapi untuk menolong orang. Sejujurnya saya pun capek buk, bolak-balik BK dan selalu di cap gak bener." Naziya menghela, dia menjawab seiring tangisannya pun sedikit reda. Tapi ucapannya menggantung, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dan dia tahan agar tidak keluar. Bu Rina melihat gerak-garik itu. 


    Posisi mereka yang masih berdiri, membuat Bu Rina yang mengalah duduk di atas meja. 


 "Bagus Naziya, kamu ternyata tahu.  Ibu tidak akan memaksa kamu lebih untuk cerita, karena pada dasarnya setiap manusia hanya ingin waktunya. Waktu di mana dia merasa harus berbuat baik dan bertingkah sedikit jahat. BK bukan hal buruk sayang, justru karena begitu menyayangi. Iya permasalahan itu, memukuli anak orang. Kamu tahu Naziya orang yang kamu pukul itu siapa? Dia adalah anak ketua yayasan yang punya sekolah ini. Kalau begitu kamu mau kan menghadap untuk menjelaskan. Tidak usah takut sekali lagi, di sini ada ibu. Satu lagi kenapa Pak Tino sampai marah, sebab ibu nyuruh Pak Tino cari kamu ketika dia sedang tidur santai. Ibu julidin dia, makanya mungkin sedikit kesal dan sudah bosan kali ya, Pak Tino suka ibu suruh cari kamu." kalimat Bu Rina terakhir untuk mencairkan suasana. Dia pun merangkul Naziya dan memeluknya. 


    "Setelah pulang sekolah. Kamu temui ibu, jangan nangis Pak Tino gak bakalan berubah ko," timpalnya tertawa hambar.  


     Dia pun melepas pelukan Bu Rina. Memaksa menyunggingkan senyuman, dan menghapus jejak air mata.