
Menurut psikologi ketika kamu berfokus pada masalah maka kamu akan mendapatkan banyak masalah, ketika kamu berfokus pada kemungkinan maka kamu akan mendapatkan banyak kesempatan. Ini hanya masalah waktu, sabar dan syukuran.
***
"Ziya… " Teriak seseorang dari belakang yang tengah berjalan sama Bu Rina. Nura yang menoleh duluan, bukan Rivaldi hatinya bersua. Naziya pura\-pura tidak mendengar dia terus berjalan. "Kakak budeg apa conge sih, dipanggil malah jalan aja," Ucap Nura memperingati. "Wah, kamu bisa ngomong kayak gitu juga ya," Goda Naziya masih berjalan ke depan. "Ihh kakak… " Nura meninggalkannya kesal. "Sono tinggalin aja," Teriak Naziya dengan tawa lebar. "Ziya lu, gue panggil\-panggil ih." Hafidz ngos\-ngosan, Naziya mencium tangan Bu Rina. "Kamu di mana tidur semalam, ko bisa akrab sama anak baru itu. Terus tumbem rapi, dan wajahmu berseri." Bu Rina bertanya curiga. "Hehee… Nanti ibu akan tahu kalau waktunya, oh iya Hafidz. Bukan gue lupa tidak jemput lu, ada sesuatu yang harus gue cari, yang penting lu udah masuk kan? Perjanjian sesuai mana uangnya?" Canda Naziya. Hafidz menggetok kepala Naziya. "Apaan uang, kalau gak dijemput Bu Rina gue gak bakalan bisa ada di sini hari ini kali," Hafidz terlihat sudah membai, dia terus menjaili Naziya dan mendebatnya. "Masuk kelas mana bu, dia?" Naziya tidak bertanya langsung pada Hafidz melainkan pada Bu Rina. "Kelas kamu." Naziya hendak protes tapi Hafid keburu masuk kelas. Sebelum masuk Bu Rina menahan Naziya, dia terbalik. "Maafin Ziya bu, kemarin ziya langsung bawa surat tes DNA di rumah sakit, diam\-diam Naziya udah melakukannya. Dan hasilnya iya bukan anak mamah, tapi di taman Naziya bertemu seseorang. Someone, heee… Awalnya ada anak kecil yang tiba\-tiba nanya Naziya, mirip banget Ayesha tau bu. Naziya tidak ingin pulang ke rumah itu lagi, akhirnya dia membawa Naziya ke suatu rumah di mana di sana Naziya bertemu ayah, nenek dan Nura termasuk orang itu," Jelas Naziya cengir. Jiwa Naziya seperti pelangi yang ada selepas badai menerpa, Bu Rina melihat itu darinya, Bu Rina menampilkan tatapan bingung. "Kalau bunda, ahhh… Ibu nanti ikut aku bareng ayah ya, setelah pulang sekolah. Kan ibu tahu kalau Naziya suka bikin masalah." Bu Rina mengangguk, mereka pun masuk. Hafidz sudah akrab saja, terlihat dia dan Albi yang sedang mengobrol santai. "Hafidz… " Tegur Bu Rina. "Ya Sudahlah bu, tidak usah diperkenalkan orang kayak gitu mah." Naziya berjalan ke arah bangkunya sambil mendelikan mata ke arah Hafidz. "Lo, kenal Fidz!" Albi melemparkan pandangan kepada Rivaldi. "Dia kan penyelamat gue… Bacot ahh dengan kata berani tapi bodo amat ahh." Naziya melemparkan tasnya menimpug kepala Hafidz. "Asal lu ngomong, untung aja gue gak laporin polisi. Etdah, udah ketemu yaa cerita asli sama meminimalisir tuhhh prasangka." Naziya sedikit membuka aib dia. Bu Rina pergi setelah melihat interaksi mereka yang disusul tawa orang\-orang. Rivaldi yang dari tadi curi pandang menghampiri Hafidz. Menjulurkan tangan. "Kenalin Rivaldi." Hafidz menerima uluran tangan itu. "Hafidz." Albi mengajukan protes. "Gue gak paham sama yang terjadi ahh, dulu yang suka godain Naziya tuh cuman gue. Bentuk peduli gue, hampir setiap hari melamun dan mukanya datar. Tapi hari ini, sama si Hafidz akrab banget terus ini nihh Rival, yang dulu cuek bebek malahan kayak jijik." Naziya baru tersadar, selama sekolah dua tahun satu bulan cuman Albi yang selalu mengaknya bercanda sekali nanya tugas tapi dia acuhkan. Pernah Naziya panik.
"Buku aku gak ada ko." Naziya mengacak isi tasnya tapi gak ada. Nomor absen dirinya hampir dekat.
"Naziya, Tugasnya." Nama dia terpanggil Mrs. Rani, guru yang terkenal paling killer. Naziya sudah akan keluar, konsekuensi akibat tidak mengerjakan tugas tidak bisa ikutan pelajaran hari itu. Padahal dia sudah mengerjakan, Naziya berjanji akan memberi penghargaan jika ada yang menemukan bukunya. Albi dari depan melemparkan buku itu ketika Mrs lengah. Dilihatnya nama Naziya ada, mengucapkan syukur dan menahan gondok dia cabut janjinya.
"Woyyy bengong lagi," Albi memberikan tas yang dilemparkan tadi. "Ehh bi… Iya makasih." Albi menepuk pipinya pelan."Mimpi apa gue semalem, Naziya bilang makasih." Seli yang baru datang dengan gerombolannya menimpali perkataan Albi."Mimpi roro jonggrang pergi ke eropa." Seli belum melirik Hafidz dia belum sadar. "Sirik aja lu." Albi balik menuju bangkunya. "Itu siapa? Ganteng banget." Gerombolan si centil Seli.
***
Semua siswa berhamburan keluar sekolah. Siang menjelang sore hari, termasuk Naziya yang terus dipepet Hafidz, Rivaldi dan Hafidz. "Pulang sama aku ya," Kata Rivaldi. "Mending sama gue, si manis. Bareng Rivaldi lu bisa beku lagi nanti," Timpal Albi."Eits gak bisa, dia bareng gue." Kata Hafidz. Tapi seketika semua kecewa, termasuk Rivaldi yang mematung melihat Nura, ajakannya ditolak. "Kakak mau bareng sama mereka bukan?" Naziya tiba-tiba gelagap bukan pertanyaan Nura tapi Zayyan yang berada di belakangnya."Eh nggak, ko." Naziya berjalan mendekati Nura. "Ka besok malam, aku akan datang bersama ayah." Albi dan Hafidz saling pandang, siapa yang dimaksud. Albi ingat setelah satu menit. "Rival…" Rivaldi cepat memotong. "Dia calon istriku," Albi teriak. "Busyet Dah lu, eh tapi ko bisa sama Naziya ya." Entahlah. Naziya sudah duduk di belakang bersama Nura. "Mereka siapa?"Tanya Zayyan. "Yang mana?" Nura meledek. "Terus aja pura-pura, udah berapa tahun main drama hidup ka." Naziya manyun.
"Temen." Haris yang melihat dibalik kaca mobil, mulai lega. Rupanya pandangan pertama mereka telah masuk dalam sanubari.
Naziya menunjukkan rumah yang bercat hitam putih. Setelah masuk komplek. "Itu ayah." Mereka turun dari mobil yang disambut Nadila. "Masuk ayo… " Mamahnya yang belum dikasih tahu sempat kaget duduk bersantai di ruang TV dan tiba-tiba Nadila memanggilnya, dia mengenali wajah Haris. "Haris, Sha--" Panggilnya. "Iya, dia anakku Nura dan ini abangnya Zayyan dan ini Naziya kakaknya." Mayassah mematung, tubuhnya akan ambruk untung Nadila menahan."Maafin Nadila mah, ini diluar cara Nadila. Dia maha baik, Nadila ingin kejelasan." Nadila menundukkan kepala, Mayassah belum masih mematung hanya matanya yang sekarang berlinang air mata. Majunya matahari ke arah barat menjadi saksi bagaimana Nadila menelan kenyataan. Haris begitu detail menceritakan semuanya. Naziya sudah ikutan menangis tanpa sadar dia bersadar di dada Zayyan. "Aku bertemu Shakila ketika keadaannya setengah mengenaskan. Aku tanya, dia kenapa? Baru menjawab satu hari setelah dia benar-benar sadar, katanya dia dibekap ketika akan menghampiri Naziya. Matanya gelap dan saat itu kehilangan Naziya. Aku mengetahui Shakila istri ketika Ka Rudi satu tahun dia terus bersedih memandangi foto Ka Rudi dan Naziya kecil setelah menikah denganku. Saat itupun aku tidak marah atau kecewa, aku merengkuh dia. Sampai tahun ketiga lahirlah Nura." Mayassah mendekati Naziya dia membelainya. "Sayang, mau maafin mamah kan? Terlalu takut mamah melukaimu setelah mamah tahu kebenaran ibumu merelakan ayah untuk mamah, hati ikhlas mamah belum sepenuhnya menerima. Masalah perusahaan, menyebabkan mamah pernah menyesali kecelakaan itu. Rasanya tidak sanggup,kenapa mamah selalu bersikap dingin. Dan mamah, minta maaf kejadian sewaktu menjauhkan kamu dari Nadila. Semuanya tentang ketakutan." Nura menyela."Semua ini hanya tentang waktu, luka hal biasa. Bagaimana kita bersikap yang sejatinya harus diolah dengan baik, ketakutan dan perasaan semacamnya hanya bentuk ujian yang tidak seberapa dari Dia setelah bahagia yang dilupakan." Haris melotot, Nadila mendengar itu tersenyum. "Makasih sayang." Mayassah memeluk Naziya dan Nura. "Mah, " Zayyan memanggilnya. "Dan Zayyan ijinkan mengikat Naziya," Haris menoleh. Nazwa yang baru saja bangun tidur mendengar suara obrolan dia langsung bertanya. "Siapa yang mau tunangan, ehh mereka? Ibu ini ibu yang waktu itu ya." Bu Rina tersenyum mengangguk. Dia pun mengajak Nazwa duduk dekat dengannya. Bu Rina berpamitan ketika siang mulai tenggelam. Dia tuntas melaporkan semua kelakuan Naziya ditambah presatasinya.