Self Healing

Self Healing
Epilog



POV Naziya


"Aku tidak tahu semua akan terbayar dengan indah, meski rindu dan luka ini tidak sempurna menghilang. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku sudah sejauh ini melangkah. Aku telah menjadi seorang ibu. Ketakutan kepada anak kini aku rasakan seperti mamah dulu yang akhirnya jadi kesalahpahaman. Kelulusan itu banyak menyimpan cerita, aku sudah bosan membahas luka, tapi lagi lagi dan lagi. Kenyataan harus aku terima, dunia rumah tangga tidak semenangkan yang dikira tapi lebih membahagiakan jika kita enjoy menikmatinya. Sekecil apapun masalah, jangan sampai menjadi besar. Meira, jangan sampai mengalami apa yang aku alami. "


"Dorrrr…. " Nadila menepuk punggung Naziya yang tengah melamun. "Kakak kebiasaan deh ahh." Aku menatapnya malas. "Aku tidak menyangka kita telah menjadi… " Nadila mencolek dagu Naziya. "Apa? Kakak juga gak nyangka."


Zayyan merangkulku dari belakang bersama Ka Firman yang mengikuti merangkul Ka Nadila selanjutnya diikuti Rivaldi dan Nura yang menggendong bayi barjajar memandangi riangnya tawa anak-anak.


"Eittsss…. Semua pasangan serasi deh." Albi yang baru saja datang berteriak. "Bener kan manjur, puisinya." Albi mengingatkan Rivaldi tentang sesuatu yang membuat Rivaldi bersemu merah."Jangan jomblo mulu. Keburu tua lo." Ejek Rivaldi kali ini yang mendapat teguran dari Nura. "Abi… " Rivaldi cengengesan.


"Mami…" Meira menghampiriku dengan Zein. "Bi mending nikah sama Nazwa aja tuh," Celetuk Nura. "Anjayyy lebih pedes ketimbang suaminya. Nazwa berjalan santai ke arah kami, dia selalu tidak diambil pusing dengan perkataan siapapun. Cekk. Sifat dia dari kecil. Tanpa sapaan dia mengambil Zein, yang tidak lain anaknya Ka Nadila. "Mei, mau ikut aunty ke dalam nemui nenek sama kakek atau di sini aja?" Baru kali ini dia melontarkan penawaran, biasanya Meira menolak. Benar saja, dia malah mengejek dia. "Aku mau sama, mami. Sana aunty pergi aja," Usir dia.


Catatan akhir penulis


Ini soal kita, remaja yang selalu memendam luka. Kerap kali tentang cinta yang sulit diungkapkan selalu menjadi pembahasan yang menarik. Bagiku, tidak sama sekali. Sebab ada luka yang begitu memilu, oleh mereka yang merasakannya. Keterasingan dalam keluarga salah satunya. Telah menjadi prasangka yang sering kali bisa menjatuhkan lalu menjadi luka batin yang katanya sulit disembuhkan. Bagi Naziya tidak, dia memang terluka, dia terjatuh tapi tidak pernah sama sekali memendam dendam. Dia terus berusaha mencari jalan, mencari tahu kebenaran. Pertemuan beberapa orang menjadi titik terang, pikirnya mungkin itu mengapa kita dikatakan sebagai makhluk sosial, orang-orang datang untuk pergi dan kembali. Untuk melukai dan menyembuhkan, untuk menggoreskan bersama atau sekedar mampir saja. Hal-hal tidak pernah terduga sebelumya, diam salah satu cara meminimalisir duka. Setidaknya dengan begitu tidak perlu melukai orang dengan dukanya. Berkamuflase, membentengi diri dari ancaman-ancaman yang bisa mambuatnya jatuh dalam kegelapan. Ada hal banyak di dunia ini yang bisa menjatuhkan, tapi sejatinya diri kamu sendiri yang berperan. Tidak ada asap jika tidak ada api, tapi bagaimana jika itu bukan kesalahan yang dilakukan oleh tangan sendiri. Ingat saja, Tuhan tidak pernah tertukar kepada siapa dia harus memberi, menguji dan menghadiahi. Diat tahu segalanya sebelum kamu diciptakan, terus kenapa harus repot-repot merasa menjadi orang paling terluka toh diluaran sana lebih banyak lagi yang terluka dari pada kita tapi masih bisa hidup lurus-lurus saja.


So, badai pasti berlalu.


Tidak kusangka


Cianjur, 31 Desember 2019