
Setelah badai reda jangan pernah berharap, segera akan terbit pelangi setelah hujan gelap, jangan menunggu pelangi ada. Sebab keduanya belum tentu terjadi meski teori alam sering memberikan penjelasan.
***
Hafidz menatap layar HP-nya gusar, cerah malam ini terlihat mengejek hatinya. Hafidz menjambak rambut kesal, lantas dia berdiri berjalan ke arah balkon memandangi langit yang saat ini bergemintang. "Indah, tapi keindahan seakan tidak berarti saat kehidupan hanya sebatas tawa. Saat-saat masih berkeliaran di jalan, mabuk sesekali diteguk, dan pertemuan itu. Tamparan ini." Hafidz mengira tidak ada yang mendengar, dia santai saja terus bercerita meluapkan kesalahannya selama ini. "Lalu kabur dari rumah, gadis itu. Lagi lagi dia, rambut dia digerai pipinya gembul tapi saat pertemuan pertama. Dia… Ibu mana yang harus kupercaya. Tapi yasudahlah." Hartono menepuk bahunya. "My Boy… Sudah saatnya kamu tahu." Firman muncul dari dalam kamar menuju balkon membawa sesuatu. Hafidz diam. "Tidak usah takut, atau canggung. Yang berlalu biarlah, anggap angin yang kencang lalu tiba-tiba hilang." Hartono mengajaknya duduk santai. Satu persatu dia tunjukkan foto Faisal bersama wanita, ada tiga kiranya dan foto yang digenggam Firman masih Firman pegang. Hartono menatap mata Firman meyakinkan. Firman dia menghela nafas berat. "Ini fotomu sewaktu bayi. Kau bukan anak, tapi kau cucuku, yang engkau katakan memang benar ada yang telah menyiksa ibumu sampai meninggal. Ayah kelepasan menampar kamu, kata Faisal dibanggakan itu kebohongan yang menyakitkan. kamu anaknya, Faisalah yang telah menyiksa, ayah tidak tahu dia membawa ibumu kemana, kau lahir di luar ikatan yang sah. Maaf jika selama ini selalu diasingkan, wajahmu mirip Faisal yang setiap kali jika ayah melihat ingin menamparnya sampai dia bersumpah dia tidak melakukan itu dan kamu bukan anaknya. Sayang, dia malah kabur entah ke mana. Artinya secara tidak langsung dia mengakui iya bukan tidak." Hafidz terhenyak, perasaannya terkoyak dia menangis akhirnya di hadapan Hartono. "Ka Faisal ayah kandungku yang sebanarnya, dan ayah. "Firman bangkit dari tempat duduknya dia memeluk Hafidz. "Tapi kau akan tetap jadi adikku, bukan keponakanku. Aku tidak pernah mempunyai kakak yang bernama Faisal," Tukas Firman. Hartono tahu maksud dia mengatakan itu, hatinya terlanjur kecewa dan yang lebih menyakitkan ibu Hafidz adalah wanita yang sebelumnya Hartono jodohkan dengan dia. Firman sudah mencinta dia, sayang dihancurkan oleh Faisal karena kesirikan.
Seusai itu senja adi sendu
Awan pun mengabu
…
Hafidz tergugu, tangisnya pecah dengan tangisan Firman yang mengikutinya. Hartono mengajak dua lelakinya untuk bangkit kembali, dia menggandeng bahu keduanya. "Dengarkan ayah, lihat itu. Gemintang yang bercahaya tapi terlihat sangat kecil dan purnama yang redup. Halnya kalian, gelapnya langit adalah kenyataan hidup sedangkan bintang dan bulan itu kalian. Di langit yang sama tapi berbeda, tapi tetap ayah cintai." Firman menyeka air mata. Hafidz memeluk Hartono. "Maafin Hafidz."
Firman tersenyum, dia bilang. "Gadis yang kau sebut tadi?" Hafidz tidak peduli dia setelah mendapat pernyataan itu. "Naziya yang kakak bilang menyebalkan. Emang," Hafidz masih menyimpan kata-kata Firman saat dia mengantarkannya ke sekolah tadi siang. "Dia berani ka, galaknya minta ampun. " Hafidz bercanda. "Terus pipi gembul?" Firman penasaran. "Sebelumnya Hafidz bertemu dia ketika usai Hafidz masih kecil, Hafid nangis teriak-teriak ke Bibi. Dia datang… " Hartono tidak habis pikir lelaki mudah sekali melupakan kejadian barusan."Ayah jadi nyamuk nih ceritanya. "Firman dan Hafidz tertawa.
***
***
Brankar didorong cepat oleh beberapa orang. Naziya yang bersikeras ingin ikut akhirnya ikut, tapi Nura pulang kerumah dengan Meira ikut bersamanya. Kakinya sedikit terkilir. Naziya menghubungi Bu Rina berkali-kali tidak nyambung. Hartono datang beserta Firman dia bertanya keadaan Hafidz. "Bagaimana keadaan Hafidz, nak?" Naziya keadaan yang masih syok tidak menanggepi. Firman memijat alisnya sakit. Satu jam lebih dokter belum keluar juga, Zayyan terus berada di dekat Naziya. "Tidak akan terjadi apa, Insyaalloh jika berkehendak itu yang terbaik." Hartono berucap lirih. "Baru tadi malam ayah merasa begitu dekat dengannya, tapi sekarang… " Dokter keluar setelah satu jam empat puluh lima. "Maaf saya harus sampaikan kabar duka ini, dia tidak terselamatkan. Saya sudah memaksimalkan semuanya, tapi sepertinya tuhan lebih sayang sama dia." Hartono menangis memukuli tembok, Naziya pingsan. Firman masuk menerobos. Dia mengguncangkan tubuhnya yang telah dingin."Hafidz bangun, bangunn… " Seperti kerasukan.
Beberapa suster mencekal tangan Firman supaya tidak berbuat aneh-aneh.
Kepergianmu menyisakan duka yang mendalam
….
Pukul 10.00 pagi, diumumkan di sekolah oleh kepalanya selaku pimpinan. Bu Rina menyuruh seluruh anak-anak bersiap-siap untuk acara takziah. Terutama anak laki-laki yang harus ikuti mensholatkannya. Jenazah Hafidz diurus cepat atas permintaan Haris, Hartono masih belum sadar dengan kenyataan Hafidz telah pergi dia terus menangis dan Firman merasa kelelahan selama 30 menitan, Naziya siuman ketika Jenazah akan dibawa langsung ke rumah duka. Hartono mengaji bersama Firman, mereka sadar bersama dengan Naziya siuman. Pukul 12.00 WIB pemakaman selesai, Hartono memegang baru nisannya. "Ayah tahu ini mungkin yang terbaik, kamu benar pergi setelah mengetahui kebenarannya. " Naziya menatap nanar.
Kesekiankalinya aku telah menghantarkan nyawa seseorang kepada-Mu. Aku tidak tahu mengapa bisa! Jelasnya hanya ada desahan takut yang kurasa setelah ini. Aku menatap langit sekedar mendongkak, kau sedang tersenyum di sana. Katanya tidak perlu menyesal, aku bahagia di sini bisa bertemu ibu kembali. Pembicangan yang selama ini aku hindari. Aku hanya menatap sayu, hatiku bersua jika bertemu dengan ibuku dan ayahku sampaikan rindu dari anaknya. Menghilang, bayangannya tidak ada. Hanya awan dan rintik yang mulai turun.
"Kita pulang, keburu hujan." Haris memapah Hartono. Firman berkata. "Aku masih mau di sini, untuk terakhir kalinya. " Hartono memegang tangannya. "Pulanglah, Hafidz pasti tidak ingin melihat kita bersedih."