Self Healing

Self Healing
Episode 39 Welcome to Batam



Pulau Batam adalah sebuah pulau yang berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, yang berdekatan dengan Singapura, yang menjadikannya salah satu pulau terluar di Indonesia. Saking dekatnya Pulau Batam dengan Singapura, kami dapat melihat gedung-gedung pencakar langit Singapura dari jendela tempat tinggal kami yang terletak pada lantai 7 RS Awassuka Bersaudara.


Kami menempati kamar berukuran 4x7,5 m, seukuran dan berfasilitas sama dengan kamar perawatan VIP, kecuali kulkas yang tidak tersedia. Sedangkan tempat tidur king size, televisi dan lemari pakaian, semua itu ktelah tersedia. Inilah tempat tinggal kami dalam beberapa tahun ke depan.


"Mas, gimana kalau kita pura-puranya ngekost? Jadi tiap bulan, kita alihkan dana 500-750 ribu, pura-pura ngekost, tapi uangnya masukin ke rekening aku, nah yang di rekening Mas, buat operasional bulanan," usulku kepada Tyo pada suatu waktu.


"In syaa Allah," jawab Tyo.


Tetapi pada bulan-bulan pertama aku di Batam, kebutuhan kami cukup besar untuk memenuhi isi dapur. Kami harus membeli kompor listrik, karena kami dilarang menggunakan gas di dalam kamar untuk alasan keamanan. Kami juga membeli kulkas, sebuah benda yang wajib dimiliki agar dapat menyimpan bahan makanan. Serta kontainer untuk menyimpan pakaian anak-anak. Kemudian kulkas dan magic com, menjadi perlengkapan terpenting yang wajib dimiliki selain kompor.


2 bulan setelah kedatanganku di Batam, orang tuaku datang berkunjung karena bapak dan anggota direksi kantornya berlibur dengan bermain golf di lapangan yang ada di pulau ini. Selain itu juga karena aku telah mendekati waktu persalinan anak ke-duaku.


"Berapa hari golf-nya, Pak ?" tanyaku.


"Dua hari, besok golf di Southlink terus lusa di Sekupang. Oiya, mumpung bapak-ibu disini, kalau kamu butuh belanja, mending sekalian. Di bawah ada mobil dan supir yang bisa kamu pakai," jawab ayah.


"Ibu temenin, kan ibu nganggur, disini kan nggak ada ibu-ibunya," tambah ibu.


"Kok nggak ada ibu-ibunya ?" tanyaku.


"Disini cuma kantor cabang pembantu, isinya orang proyek semua, kantor cabang utamanya di Pekanbaru," jawab ayah.


"Ooo, pantesan kantornya kecil banget!" sahutku.


"Memangnya kamu tahu, dimana kantornya," tanya ayah.


"Depannya Magoya Hill, kan ?" jawabku.


"Tahu juga kamu!"


"Ya tahu, kan kalau ke Magoya pasti dilewatin," jawabku.


Jadilah hari itu, aku dan ibu berbelanja kebutuhanku, sementara ayah berlatih memukul di driving range dan Tyo bekerja seperti biasanya.


Ibu mengajakku untuk membeli lemari dapur di sebuah ruko yang menjual aneka perlengkapan rumah tangga yaitu sebuah kitchen set portable, yang nantinya dapat aku gunakan untuk meletakkan kompor dan menyimpan bahan makanan kering serta perlengkapan dapur lainnya. Lalu, aku juga membeli jemuran dan sebuah kontainer untuk menyimpan pakaian calon bayi ke-duaku.


Sore harinya, kitchen set tersebut telah terpasang dengan sempurna di kamar kami. Aku pun meletakkannya sebagai penghalang antara pintu masuk dengan tempat tidur, sehingga kami memiliki area privat, yang tidak terlihat ketika pintu terbuka.


Setelah seharian berbelanja kebutuhan perlengkapan rumah tangga, aku pun merasakan kontraksi yang hebat di saat istirahat malam. Sambil memegangi tanganku dan menghitung denyut nadiku, Tyo membantuku dengan memberikan instruksi agar aku mengatur nafasku.


"Yang, atur nafasnya, tarik... tahan... lepaskan."


"Tolong kirim kursi roda ke kamar 758, istri saya mau melahirkan!" pinta Tyo yang segera menghubungi UGD.


Tak lama kemudian, aku segera dilarikan ke ruang bersalin yang terletak di lantai 2.


"Tolong segera hubungi dr. Nesya!" seru Tyo kepada perawat yang bertugas.


Sementara itu, bidan dan perawat melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi janin yang akan segera kulahirkan ini. Tak lama, terdengar adzan Shubuh dari musholla rumah sakit.


"Sudah berapa cm?" tanya Tyo kepada bidan yang memeriksaku.


"5 cm, Dok."


Tyo pun melihat ke arah jam tangannya, sambil memikirkan sesuatu yang terlihat dari ekspresi wajahnya yang serius.


"Yang, Mas shalat jama'ah dulu di mushola, yaa. Setelah shalat, Mas langsung ke sini lagi," pamit Tyo.


Rasa sakit kontraksi membuatku hanya dapat menjawab dengan anggukan kepalaku. Beberapa saat kemudian, seorang perawat datang membawa paket sarapan untukku.


"Bu, sarapan dulu, biar nanti kuat mengejannya," ucap bidan sambil membantuku untuk duduk.


"Terima kasih, mbak," ucapku.


Rasa sakit kontraksi yang semakin kuat dan dekat, membuatku sulit menikmati sarapan ini, tetapi dengan perlahan aku mencoba untuk menghabiskan semangkuk bubur ayam dan sebutir telur rebus.


Waktu terus berjalan, Tyo telah kembali dari musholla dan dr. Nesya pun telah tiba untuk membantu persalinanku, sementara itu kontraksi yang kurasakan pun semakin kuat dan hebat.


"Yuk kita mulai, ya," ucap dr. Nesya.


Tyo pun membisikkan sebuah do'a di telingaku sambil menggenggam erat tanganku.


Beberapa saat kemudian, tepat pada pukul 07.06 WIB, seorang bayi mungil pun menangis dengan kerasnya.


"Alhamdulillah, perempuan," ucap dr. Nesya.


Berbeda dengan proses kelahiran yang pertama, maka kali ini aku dapat segera melihat bayiku dan menciumnya.


Aku dan putri ke-duaku pun ditempatkan di sebuah kamar VIP, yang merupakan fasilitas bagi dokter beserta keluarganya.