Self Healing

Self Healing
Episode 40 Second Daughter



Azzahra Shikufah adalah nama yang kuberikan kepada putri ke-duaku, yang memiliki arti bunga yang mekar. Aku berharap ia akan menjadi sosok yang selalu dirindukan dan dinantikan layaknya bunga yang mekar.


Proses kelahiran putri ke-duaku sangatlah berbeda dari yang pertama. Dokter dan bidan di rumah sakit Awassuka ini sangatlah ramah dan akrab bahkan seperti layaknya keluarga, padahal aku hanya memeriksa kandunganku di 2 bulan terakhir kehamilanku.


Putri ke-duaku ini juga sangat berbeda dari putri pertamaku, Icha. Jika saat lahir kulit Icha sangat merah dan tidak ada pujian akan betapa lucu dan menggemaskan dirinya, tetapi kali ini banyak pujian yang kudengar akan bayi ke-duaku ini.


"Wah, ini mirip sama ibunya!" ucap dr. Nesya ketika memeriksa kondisiku pasca persalinan.


"Alhamdulillah ya, Dok, mirip juga akhirnya," candaku.


"Oiya Dok, kapan saya bisa pulang?"


"Ah kamu kan cuma tinggal naik doang, gampang lah. Biasalah kalau persalinan normal kan 3 hari, sekarang hari Jum'at berarti Ahad sudah bisa pulang."


"Oiya, ASInya sudah keluar belum?"


"Sudah Dok."


"Alhamdulillah, kalau begitu nanti langsung ASI ya. Hmm kayaknya sudah, kontraksi rahimnya normal, kalau nanti ada keluhan pencet belnya aja, ya," ucap dr. Nesya ketika mengakhiri pemeriksaannya.


Sementara itu, Tyo yang mengambil cuti istri melahirkan tetap berada di dekatku dari awal persalinan hingga aku dipindahkan ke ruangan perawatan biasa dan saat ini ia sedang asyik memandangi Ara bersama Icha yang duduk di pangkuannya.


Sebuah pemandangan yang sangat indah, melihatnya tersenyum bahagia bersama kedua putri kami. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arahku dan kembali tersenyum seolah-olah saat ini adalah momen terindahnya yang pernah ia miliki.


Lalu Tyo menghampiri dan mengecup keningku, "Makasih ya, Sayang," ucapnya.


Aku pun menjawabnya dengan senyuman.


Kala itu aku sangat bahagia dan berkeyakinan bahwa kepindahan kami ke Batam adalah awal mula titik keberhasilan dan kebahagiaan kami di masa yang akan datang.


Sore harinya, aku mendapatkan kunjungan dari keluarga mbak Retno, kakak perempuan Tyo satu-satunya. Mereka pun berebut untuk mengabadikan momen bersama Ara dan Icha.


"Bayinya kayak Cina, putih, bulet!" seru mbak Retno.


"Iya Mbak, alhamdulillah, ntah Cina dari mana?"


"Dari ibunya lah, sama yangtinya dan mbah oko, tuh yang ber-Cina-ria mukanya," canda mbak Retno.


"Hmm, tapi per-Cina-annya bapak nggak diturunkan ke anak-anaknya ya, tapi Indianya ibu nempel di empat anaknya," sahutku.


"Kok empat, kita kan berlima?"


"Mas Mukti kan beda sendiri, Mbak."


"Oiya, bener. Dia memang beda sendiri. Trus nama panggilannya siapa nih?" tanya mbak Retno.


"Ara, memang artinya jadi beda sama nama aslinya, tapi Ara punya arti yang bagus, yaitu tempat perlindungan, kalau dalam bahasa Jepang, Ara bermakna suasana yang tenang."


"Semoga kelak, Ara akan menjadi pelindung untuk ibunya dan saudara-saudaranya," ucap mbak Retno yang mendo'akan putri kecil kami.


"Bu, silahkan duduk di sini," ucap perawat yang datang dengan mendorong kursi roda.


"Eh ngapain, Mbak? Kan saya cuma naik ke lantai tujuh?" tanyaku bingung.


"Ini sudah prosedur, Bu. Setiap pasien yang check-in dan check-out akan diantar menggunakan kursi roda."


Aku pun melihat ke arah Tyo yang tersenyum ke arahku dan kemudian ia pun menjelaskannya, "Memang begitu peraturannya. Naik aja, kan enak tinggal duduk aja."


"Hmm baiklah, tapi ini aneh."


Perawat pun mendorongku menuju ke kamarku di lantai tujuh. Sesampainya di kamar, Icha sudah sangat tidak sabar untuk melihat adiknya.


"Bu, taruh di sini, aku mau lihat!" pinta Icha sambil menepuk-nepuk kasur tempat ia duduk.


Aku pun meletakkan Ara di samping Icha dengan perlahan.


"Hati-hati ya, boleh dipegang atau dielus, tapi jangan dicubit, nanti Ara bisa nangis," ucapku.


Menjadi ibu baru untuk ke-dua kalinya, membuatku lebih santai dengan berbekal pengalaman sebelumnya. Terlebih, kali ini aku tidak mempunyai masalah dengan ASI-ku, sehingga aku jauh lebih tenang dibanding saat melahirkan Icha


Lalu, saat aqiqah pun aku mengambil cara termudah, yaitu dengan mengikuti usul ibuku.


Orangtuaku telah kembali ke Jakarta, sesuai dengan jadwal yang tertera pada tiket, yaitu di hari ke-dua setelah aku melahirkan. Maka dari itu, ibu mengusulkan agar acara aqiqah Ara dilakukan di Jakarta.


"Kekahannya Ara nanti di Jakarta aja, tadi ibunya Tyo juga sudah nelpon, kalau mau datang ke rumah untuk bantuin acara kekahannya Ara.


Tetapi, Tyo juga telah berencana untuk membagikan nasi kotak untuk dibagikan kepada para dokter, perawat dan juga petugas keamanan di rumah sakit ini.


Hari-hari pun berlalu, kedua putriku tumbuh dengan normal dan sehat, bahkan pertumbuhan Ara berada pada garis di atas normal. Ada hal yang lucu terjadi pada proses perkembangan Ara, dimana ia malas untuk berjalan selama di lantai 7, hingga suatu kali kami akan melakukan perjalanan untuk berlibur di Jakarta, di saat ia berusia 11 bulan.


Seperti biasa aku menggendongnya dengan menggunakan gendongan depan, sementara Tyo menggandeng Icha ketika kami berada di bandar udara. Setelah kami selesai melakukan check-in, kami pun bersegera menuju ruang tunggu.


"Ra, turun yaa, kamu berat. Jalan sendiri sambil ibu gandeng, ya," ucapku sambil menurunkannya.


Sesaat setelah aku menurunkannya tanpa melepaskan gendongan dari tubuhnya, tiba-tiba ia berjalan sendiri tanpa aku pegangi.


"Mas, Ara...."


"Yang, Ara...."


Kami berdua sama-sama terkejut dengan perkembangan Ara dan tetap membiarkannya berjalan sendiri, begitu juga saat kami memasuki pesawat.


Pemandangan Ara yang berjalan sendiri dengan masih memakai gendongan yang menempel di badannya mengundang banyak perhatian penumpang lain. Terlebih Ara merupakan batita yang sangat menggemaskan dengan badan bulat dan berpipi tembem.


Selain itu, Icha dan Ara kerap kali kupakaikan jilbab, sehingga keduanya sempat mencuri perhatian para penumpang lain dan awak kabin.