
Ketika keadaan selalu berjalan mulus tanpa adanya kasar permukaan ataupun tikungan, mungkin kata jika hanya pelengkap sintaksis kata lain bukan ucapan penyeselan seseorang.
***
Malam berlalu perlahan menyibakkan cahaya yang kini terlihat agung dipandang. Fajar menyosong hari yang kini masih menjadi misteri. Naziya masih bergelut di bawah selimut, tapi sorotan kilau cahaya mengusiknya, dia pun menggeliat dan segera bangun. Baru saja dia akan duduk, pening serasa menyerang kepalanya. Dia mengerang kesakitan. "Awww… Sakit, Mamah di mana?" rabanya.
Suara khas bangun tidur tidak dapat dihilangkan dan air matanya sudah tidak bisa ditahan, mengalir mengeringi kesakitan. Tangannya bergerak mencari-cari benda yang sejak tadi berbunyi.
6 Panggilan tidak terjawab (0823***)
10 pesan masuk
Alarm terlewat.
"Aarrggghhh… Ini jam berapa?" gumamnya.
Dia membulatkan mata, setelahnya membanting keras benda itu ke arah lain.
"Maafin Naziya Ya, Robb…" dengan cekatan dia bangun, meski jalannya gontai sebab mata berkunang-kunang dan kepala terasa berat dia tetap memaksakan berwudhu.
Melihat diri dari pantulan cermin, membuat dia berkaca.
''Apa yang salah dari kehidupanku ini," tanyanya dalam hati kepada diri sendiri, sakit yang dirasa mulai berangsur membaik, jam dinding menunjukkan pukul 7.00 WIB. Dia menghela nafas pelan, menutup mata dengan gemetar.
"Aku akan sekolah, meski telah telat. Aku kuat!" Naziya menyemangati diri sendiri, segera dia menyambar tas yang tergelatak di atas ranjang masih sama seperti kemarin malam, tidak tahu apa isinya dia berpikir asalkan membawa tas saja, sebab sesudah sampai di sekolah, dia belajar tergantung mood. Tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya.
Naziya menuruni anak tangga dengan sedikit berlari hampir saja membuat dia terpeleset. Saat telah sampai di bawah anak tangga, Naziya mengedarkan seluruh pandangan. Sepi dan hening, pertama kali yang dirasa. Lalu dia berbelok ke arah selatan menuju ruang makan, tidak ada masakan apapun hanya ada segelas air putih dan notes yang bertuliskan.
*Mamah gak masak, uang harian kamu pakai dulu buat sarapan ada di atas kulkas. Mamah ada meeting, maaf.
Kakak berangkat duluan ya dek, ada ujian susulan.
Dedek bareng sama kakak, tadi mau bareng sama teteh tuh. Dilarang mamah, katanya biarin bangun sendiri*.
Tiga notes tersebut berhasil menciptakan garis senyuman, tapi hatinya berkata pilu dan gemuruh di dada yang membuat sesak saat itu juga.
"Miriss… " racaunya
Naziya terduduk dan meneguk air putih. Sama sekali tidak berniat membawa uangnya ataupun sekedar melihat isi frezeer, apapun yang bisa dimasak untuk mengganjal perutnya, sebab dari kemarin sore belum terisi.
Uang jajan jatah seminggu hari kemarin pun belum tersentuh olehnya jadi dia membiarkannya, dan akan makan sesuai perintah keinginannya. Dia hanya membawa tiga notes tersebut yang dimasukkan ke dalam saku baju sekolah.
Segera melangkah dan berjalan meninggalkan rumah
****
"Kerjakan hal 158! Siapa yang tidak hadir?" ucap Pak Rudi, guru terkenal paling baik yang memegang mata pelajaran sosiologi.
Semua orang di kelas itu saling pandang, tidak ada yang bersuara.
"Ceklek…"
"Assalammu'alaikum… Maa--"
Pak Rudi menoleh, dia berdehem, sebelum Naziya melanjutkan perkataannya, semula orang di kelas saling pandang kini yang tertuju pada Naziya dengan pandangan berbeda yang pastinya sulit diartikan oleh orang lain.
"Wa'alaikumsalam, sini... Nak," serunya
Dengan perasaan takut dan gelisah Naziya tetap berjalan menghadapnya.
"Kamu habis dari mana?" tanyanya
"Saya sakit Pak, tadi ke UKS dulu." jujur Naziya, yang memang sebelum masuk ke kelas, Naziya pergi dulu ke UKS dengan diantar Pak Tino karena melihat kondisi Naziya yang menurutnya tidak baik-baik saja setelah beberapa rayuan Naziya yang diucapkan.
Pak Rudi sedikit tidak percaya, tapi melihat wajah Naziya yang pucat akhirnya dia hanya menghela nafas.
"Bapak kira kamu akan bikin ulah seperti biasanya, ya sudah. Silahkan duduk di tempatmu! tanyakan tugasnya pada teman-teman."
Naziya tersenyum dia berucap pelan sampai mungkin hanya hatinya yang mendengar.
"Saya akan berubah, berproses Pak. Terimakasih."
Pak Rudi mendengar itu ikut tersenyum, tiba-tiba ketika Naziya baru saja melangkahkan kakinya satu langkah dia dirangkul dengan dibisikkan.
"Bapak percaya kamu bisa, jadilah yang terbaik menurut versimu. Mungkin kamu merasa bapak tidak akan mendengar tapi batin bapak jauh lebih tajam. Goodluck, my princess."
Naziya terharu sampai kakinya terasa lemas. Untung semua temannya sedang sibuk mengerjakan tugas. Hanya ada satu orang yang memperhatikan di pojok di sebelah kanan meja ke dua jajaran cowok. Rivaldi namanya, Ketua Murid (KM) kelas tersebut.
"Makasih Pak," balas Naziya
"Berarti semua hadir, Pak." Rivaldi berucap
Naziya sudah kembali ke tempat duduknya, dia merasa sangat perlu berterimakasih pada semua orang dan dirinya hari itu. Pak Rudi sudah meninggalkan kelas sejak 2 menit yang lalu.
"Naziya hal 158, sosiologi kerjakan. Besok dikumpulkannya!" teriak Rivaldi yang hampir membuat gehger satu kelas.
Pertamakalinya semenjak kelas 10 dan sekarang kelas 11 semester awal, orang yang bernama Rivaldi terlihat peduli dengan seseorang yang selalu membuat ulah seperti apa yang dia katakan. Dia tidak menyukai orang yang selalu punya masalah. Tapi kali ini. What!!
Naziya memang mendengar tapi dia memilih melipatkan tangan di atas meja, mencari kenyamanan untuk tidur. Peningnya menyerang kepalanya lagi. Albi yang dari tadi diam pun bercoleteh ria. "Hei, Pak Ketua beku. Sejak kapan itu es leleh ya." ejeknya
"Bi, udahlah. Kerjain juga!"
"Baru sadar ya, ternyata muka dia bening," umpatnya
"Albi!" ujar Rivaldi tegas
"Huuu…" Sorak anak cewek menyurakin keduanya.
"Gue bukan nyadar akan hal itu, tapi gua baru sadar ketika lihat jejak air matanya. Dia salah mengekspresikan lukanya. Dan gue salah tidak membantunya, sebab gue sama. Tumbuh di sekitar duri yang penuh derita." monolog Rivaldi dalam hati.
Albi nyengir kuda, ketawa cekikan. "Oke-oke, para netizen harap tenang."
"Ngomong mulu, bisa gak sehari gak usah bikin berisik. Bi" Seli menimpal sambil berjalan menuju arah di mana Albi berada.
"Apaan sih Sel, lu ikut-ikutan mulu. Gitu da kalau jadi pens teh. Awas lu jauh-jauh huss, jangan alesan mau buang sampah lagi. Gak guna!" Albi menjulurkan lidahnya sambil tangannya yang mengibas seperti orang mengusir
"Albi jijik! Geer amat Lu, orang gue mau minjem hapus." belanya dia sambil membawa hapus temannya yang terlihat di atas meja di bangku depan sebelum bangku miliknya.
"Nah itu tau, sama kayak gue ke lu. Alesan lu emang jago," jelasnya
Seli tidak menjawab lagi. Dia pun memutar haluan untuk duduk kembali dengan membawa penghapusnya, sambil mendengus, mengumpat dengan kesal. "Salah terooss… Sampai firaun hidup lagi."
"Apa sih salah gue?"
"Salah lo, capernya gak beretika. Kalau mau ngumpat pake toa sana!" tawar Albi jahil
Penghapus yang dia pegang dia lempar ke arah Albi.
"Aww--"
"Rasain tuh."
"Seli, itu penghapus aku. Udah minjem main bawa, sekarang dilempar ke orang lagi. Bawa ahh gak mau tahu!" temannya bersuara
"Iya ihh, lo. Segitu aja rugi. Entar gue ganti." Seli menjawab lagi
"Jangan lo mentang anak orang kaya, bisa seenaknya." cerca temannya
"Ap--"
"Ekheumm… Kalian kalau mau berisik, silahkan keluar. Jangan di kelas! Paham!" lerai Rivaldi
"Nih, Ra." Albi mengembalikan penghapus itu.
"Iya Pak Ketua beku." Albi menjawab dengan senyuman.
Naziya mendengarkan keributan kecil teman-temannya dalam diam, matanya tertutup namun sakit di kepalanya membuat dia tidak bisa tidur seutuhnya, seperti ada serangan yang terus membaku-hantam kepalanya. Dia menahan sakit itu, dengan tangisan yang dibekap oleh tangan. "Aku gak kuat, ya Robb… Aww," lirihnya.
"Bel tanda istirahat telah berbunyi,
Rivaldi yang terlihat gusar, kini menghembuskan nafas pelan. Ekor matanya tertuju pada Naziya, melihat bahunya tampak mengguncang. Dia yakin, Naziya sedang nangis dan tidak tidur. Tanpa ba bi bu, Rivaldi berjalan menghampiri, dari posisinya yang berada di depan dekat dengan meja guru ke arah bangku ke-4 di pinggir kiri dekat dengan jendela. Sontak mengundang rayuan Albi lagi.
"Cieeee, Pak Ketua mau ke mana nihh?" godanya
Rivaldi tidak menggubris, sampai dia berhenti tepat di samping Naziya. Dia mengusap bahu Naziya, dan aura panas dari tubuhnya dapat dirasakan Rivaldi saat itu juga. Keadaan kelas sudah hening sebab sebagian orang telah berhamburan keluar, tidak tahu perginya ke mana, untuk sekedar cari udara setelah jam pelajaran yang suntuk hanya ada Rivaldi dan Albi. "Ziya, Bangun... " tidak ada jawaban. "Naziya." lebih lembut
"Bi!" panggilnya
"Ahelah lu molor lagi," cerocos Rivaldi
"Gue ngantuk bro, semalem gue."
"Ahh bacot lu," Rivaldi langsung menggendong Naziya. Naziya tidak bereaksi, pertanda dia sekarang pingsan. "Ehhh-- Na…" seronoh Albi
"Buruan bantuin gue," tukas Rivaldi.
Albi membuntuti Rival dari belakang, di sepanjang koridor munuju UKS tidak ada mata yang tidak tertuju pada mereka. Termasuk Nura, baru saja keluar dari kelasnya yang langsung melihat Rivaldi menggendong cewek lain bukan muhrim mau tidak mau, sorot mata itu menatap Rivaldi yang sempat berpapasan menatap dengan tatapan kecewa. "Bi, buruan!" ucapnya
"Ini gua udah duluan, Pak Ketua. Eh yang cewek tadi ko," tuduhnya
"Lu jangan ngajak ngerumpi sekarang! Bukain pintunya dodol," titah Rivaldi sebelum masuk Bu Rina yang kebetulan lewat, bertanya. "Eh Nak, Rival. Ini Naziya kenapa?" tanyanya terlihat gurat khawatir dari wajah Bu Rina
"Gak tahu Bu, saya juga," jawab Rivaldi dengan Naziya yang masih dalam gendongannya
"Ya sudah, tidurkan dia, Nak." Bu Rina berlalu setelah Naziya ditangani oleh dokter sekolah. "Ibu titip dulu Naziya ya, ada urusan sebentar. Nanti Ibu ke sini lagi ko," ucapnya
"Gue laper, Pak Ketua." Albi mengelus perutnya dengan datar sebagai tanda kode.
"Ya udah sana, jangan kelamaan," jawabnya
"Aahh makasih my bro." Albi berlari seperti anak kecil mendapatkan hadiah.
Rivaldi menggelengkan kepala, melihat kelakuan temannya tidak pernah berubah. "Nanti saya ceritakan kepada Bu Rina saja keluhannya yaa. Kalau dia sadar, jangan lupa kasih makan dan ini obatnya." Dokter yang menangani Naziya mewanti\-wanti setelahnya dia pamit keluar
"Saya duluan yaa, permisi." Dokter itu keluar dan Naziya mulai bereaksi. Tangannya bergerak dan matanya perlahan terbuka. "Aku di mana?" tanyanya pertama kali. Rivaldi yang tengah melihat ke arah lain, sempat kaget dan setelah dipastikan itu Naziya, mulut dia berucap syukur
"Syukurlah kamu udah bangun, Ziya. Kamu ada di UKS, tadi pingsan. Sekarang makan ya!" Rivaldi mengulum senyum dengan makanan yang sudah siap berada di tangannya
"Ayo buka mulutnya," ujarnya.
Naziya menerima suapan baru 3 kali, sudah berkata." Udah kenyang, makasih."
Rivaldi menyela "Ini baru sedikit Zy, ayolah, buka lagi." Naziya kukuh tidak mau dengan menutup mulut oleh ke dua tangannya
"Pait, sudah." Rivaldi sama kukuhnya, alhasil seperti sepasang suami istri ketika istri merajuk dan suami yang terus sabar memahaminya. "Ayolau sedikit lagi," suruh Rivaldi sekali lagi, sampai Naziya menangis kali ini. Kata-kata yang mengunek di dalam hatinya dia keluarkan.
" Loe bukannya benci sama gue Val, jadi stop! Pergi, gue bilang udah kenyang. Lo dungu ya, kenapa lo sekarang perhatian. Kenapa lu gak biarin gue mati di kelas aja. Haaa." suaranya yang lemah dan parau masih terdengar dia lampiaskan. "Gue bukan siapa-siapa lo, gak ada yang peduli sama gue di dunia ini. Hikss…" tangis semakin menguras tenaga dia sampai dia memegang kepalanya lagi. "Aww sakit… "
"*Kamu gak boleh jahat sama orang, gak boleh marah-marah sama orang. Kamu gadis kecil Ibu."
"Tapi bu, kalau mereka jahat terus marah-marahin Ziya gimana*?"
Tiba-tiba terlintas bayangan, di mana dia mengingat sewaktu kecilnya.
Awalnya Rivaldi tidak melawan dia membiarkan Naziya mengeluarkan amarahnya sementara, melihat dia mengerang kesakitan dan memegangi kepalanya Rivaldi memeluknya erat. "Lo gak sendirian, ada gue sekarang. Lo inget perkataan lo tadi pagi ke Pak Rudi." di samping telinga Naziya. "Sorry, barusan gue gak niat bentak lo, Val."
"Ekheum… " Bu Rina berdehem pelan
"Rival!" ucapnya tegas
"Eh maaf bu, tadi." Rivaldi menggaruk kepala yang tidak gatal
"Lo sih, baru nggeh satu tahun setengah sekelas kalau lo bisa ke gitu juga," kata Albi
"Berisik Lo," pelototan Rivaldi kepada Albi
"Rival kamu setelah pulang temuin ibu di ruang BK."
"Apa? Hahahah." Albi tertawa
Rivaldi pasrah, kali ini Naziya membela
"Maaf bu, Rival gak salah. Jadi jangan suruh--" Ucapan Naziya ke gantung dengan ucapan Buk Rina dan Rivaldi yang serentak
"Tidak ada pembelaan, Naziya," suara Buk Rina melembut
"Gue gpp ko, Zya."
"Kalian masih mematung di sana! Jam ke tiga sudah dimulai mau Ibu masukin catatan harian ibu. Haa?" ancamnya
"Ehh gak bu." Albi menarik tangan Rivaldi menjauhi UKS hampir bertubrukan dengan Pak Toni yang membawa handphone tidak tahu milik siapa. "Bu Rina lagi, Naziya lagi. Bosen saya neng. Nih hpnya tadi jatuh. Banyak panggilan tidak terjawabnya, " canda Pak Toni
"Atuh Pak, saya juga bosen siapa yang gak bosen," balas Naziya rancu
"Makasih ya Pak, Jika kehidupan saya tidak seperti ini mungkin--" Keburu telunjuk Bu Rina menutup bibirnya.
"Huss, Jika itu kata berarti kamu belum bisa bersyukur, sayang."
"Tapi emang faktanya kan, Bu?"
"Udahlah neng, tadi saya cuman bercanda. Nanti akan ada saatnya saya merindukan. Itu pasti, Neng.'" Pak Toni mengakhiri percakapan dengan pamitan masih banyak pekerjaannya. Naziya menyunggingkan senyuman meski terpaksa. "Apa yang akan terjadi hari esok, setelah ini." Racaunya dalam diam.