Self Healing

Self Healing
Episode 45 Disneyland dan Macau



Mengunjungi Disneyland merupakan hal yang paling kunantikan dari liburan ini. Aku seperti kembali ke masa kanak-kanak dimana setiap hari Selasa sore, aku selalu bersemangat menunggu ayahku pulang dari kantor, karena beliau selalu membawa komik Donal Bebek, komik kegemaranku beserta kakak dan adik-adikku.


"Yang, mau kemana dulu?" tanya Tyo.


"Mau ikut rombongan aja, nggak mau mencar sendiri, takut hilang," jawabku.


Kami pun berjalan mengikuti rombongan menuju wahana pertama, yaitu menyusuri sungai dengan menggunakan perahu yang dikendalikan secara otomatis yang dipandu oleh seorang guide.


Sungai yang kanan dan kirinya didesain dengan pemandangan Jurassic Park dan The Lion King, membuatku benar-benar merasa di negeri khayalan.


Pengalaman yang unik adalah ketika memasuki bioskop 3 dimensi, dimana kami disuguhi film Donal Bebek dan Mickey Mouse. Terdapat sebuah adegan yang memperlihatkan Donal menyipratkan air ke arah penonton dan kami semua yang menonton terkena cipratan airnya. Lalu, ketika adegan berkabut, tiba-tiba keluar asap dari samping dan depan studio. Kemudian terdengar suara kereta kuda dari belakang studio yang semakin lama semakin kencang terdengar, hingga kami melihat ke atas dan muncullah kereta kuda 3 dimensi dari arah belakang menuju layar. Hal ini membuat decak kagum dari para penonton.


"Kalau Icha sama Ara ikut pasti senang banget!" seruku kepada Tyo setelah keluar dari studio.


"Do'akan saja Mas dapat rezeki lebih, jadi bisa ngajak anak-anak berlibur ke sini atau minimal Singapura lah," sahut Tyo.


"Aaamiin."


Lalu kami melewati beberapa tempat untuk berfoto bersama dengan tokoh-tokoh Disney, seperti Donal Bebek, Miki Tikus, Gufi, Aladin dan Putri Jasmine, Cinderella, Aurora, Snow White dan masih banyak lagi.


"Princess Disney's cakep-cakep semua, mirip sama yang di filmnya," ucapku.


"Mau ikutan foto?" tanya Tyo.


"Nggak lah, ngapain. Kita jalan ke mana lagi?"


"Kita ke toko-toko suvenir aja, yuk!" ajak Tyo.


"Let's go!"


Kami pun menuju ke sebuah toko yang menjual aneka ragam pernak-pernik yang bertemakan tokoh-tokoh kartun Disney. Aneka boneka, alat tulis, perlengkapan makan, hingga pakaian, selimut, handuk dan masih banyak lagi, membuatku ingin mengambil semuanya dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaku. Tetapi seperti biasa, setelah melihat harganya, aku kembali meletakkannya.


"Beli aja, mumpung di sini," ucap Tyo.


"Nggak lah, mending buat yang lain. Coba ke toko yang lain aja, Mas!" ajakku.


Aku pun menggandeng tangan Tyo menuju ke toko cinderamata yang lain. Lalu disanalah, aku menemukan sebuah tas berbahan plastik transparan, yang berisi 5 tokoh Disney, yaitu Mickey, Minni, Donald, Daisy, Goofi dan Pluto.


"Mas, gimana kalau kita beli ini buat anak-anak?" tanyaku.


"Boleh, sekalian beliin gantungan kunci sama stiker, mereka kan suka ngumpulin stiker," jawab Tyo.


"Oke, sip!"


Selesai berbelanja, kami menuju ke foodcourt, karena sudah memasuki waktu makan siang dan kami dihadapkan dengan permasalahan halal. Tidak adanya label halal pada makanan di negeri Mutiara dari Timur ini membuat kami kesulitan.


"Pilih gorengan aja, ayam krispi sama kentang goreng, makanan yang paling aman untuk saat ini," ucap Tyo.


"Mas, ambilin yang paket 1 ya, dapat nasi, ayam, kentang dan telur, mau ditambah burger nggak?" tanya Tyo.


Di sore harinya, para pengunjung sudah mulai berdiri berjajar untuk menantikan pawai Disney, begitu juga denganku dan Tyo. Aku bertugas dengan handycam di tangan, sementara Tyo dengan kamera sakunya dan kami berdua tengah menantikan dimulainya pawai.


Tak lama kemudian terdengar alunan jingle Disney dari marching band yang menandakan dimulainya pawai. Satu-persatu tokoh berjalan atau menaiki kendaraan yang didesain khas film Disney. Aku pun membayangkan jika membawa kedua putriku ke sini, pasti mereka akan sangat bergembira.


Hari pun mulai gelap, cahaya matahari pun berganti dengan cahaya lampu. Istana Disney pun terlihat berbeda dengan permainan warna lampu pada dinding eksteriornya. Kami berdua hanya duduk memandangi keindahan buatan ini, keindahan dunia kartun yang diwujudkan dalam dunia nyata.


Beberapa saat menjelang penutupan, semua pengunjung kembali berkumpul. Kali ini, kami berkumpul di depan istana untuk menyaksikan permainan kembang api, yang digelar sebagai tanda berakhirnya semua permainan dan aktivitas di Disneyland.


Bukan Disney jika hanya menyajikan permainan kembang api biasa. Atraksi kembang api pun dibentuk menyerupai tokoh-tokoh Disney. Tak cukup disitu, permainan laser dan hologram pun disajikan yang memukau seluruh pengunjung. Kami pun sangat puas telah menikmati keseruan bermain di Disneyland.


Tepat pukul 9 malam, satu-persatu pengunjung mulai meninggalkan taman bermain impian semua anak-anak di dunia. Begitu juga dengan rombongan kami yang sudah lelah dan ingin segera beristirahat di hotel.


Keesokan harinya adalah jadwal kami untuk mengunjungi Pulau Macau, untuk itu kami menuju ke pelabuhan kapal feri yang akan membawa rombongan kami ke Pulau Macau. Kami menempuh perjalanan sekitar satu jam, sebelum akhirnya kami tiba di pelabuhan Maccau. Kami berkeliling kota Maccau dan pemberhentian pertama kami adalah sebuah dinding gereja sisa peninggalan Portugis.


"Heran, dinding begini doang, bisa, jadi atraksi pariwisata?" ucapku dalam hati.


"Yang, dulu waktu kuliah dibahas juga nggak?" tanya Tyo yang kurasa ia hanya mencandaiku.


"Nggak, kan lebih banyak ngebahas daerah Eropa."


"Wait, ini bentuk penjajahan macam apa lagi?" lirihku heran tetapi masih tetap terdengar.


"Maksudnya?"


"Di mata kuliah sejarah desain dunia, harusnya kan semuanya dibahas, kan? Tapi, kenapa hanya Eropa doang yang ada di buku literatur?" tanyaku.


"Mungkin karena Eropa pada saat itu sudah lebih maju dan mereka memiliki catatan-catatan yang dapat dijadikan bukti akan pencapaian mereka kala itu, sedangkan kawasan Asia, mungkin belum semaju Eropa," ucap Tyo yang memberikan pendapatnya.


"I don't think so. Cina lah yang pertama kali menemukan kertas, tanpa temuan itu, nggak ada ilmu yang dapat diwariskan hingga saat ini. Arab yang pertama kali memproduksi sabun mandi, bahkan Arab lah yang mengajarkan kepada negara-negara di Eropa tentang higenitas. Coba aja perhatikan film-film tentang kehidupan di Eropa di era Robin Hood, gigi kuning, hitam, kulit berdaki, baju kumal, penampilan ala gelandangan menjamur dimana-mana, sampai akhirnya negara Arab datang untuk berdagang dan mereka membawa sabun mandi. Orang Eropa nggak pernah mencium aroma sabun mandi, makanya langsung laris manis sabun yang dibawa oleh pedagang Arab," sanggahku panjang lebar.


Belum cukup dengan sanggahanku, aku kembali menambahkan argumenku, "Belum lagi temuan di dunia kedokteran, pasti Mas sudah tahu kan? Jangan underestimate benua yang kita tinggali, karena ini artinya tujuan penjajahan itu berhasil, yaitu membuat kita lebih berpihak dan berfikir bahwa bangsa Eropa itu lebih superior. Padahal tanpa temuan dan bahan baku dari Asia, mereka tidak akan bisa semegah seperti sekarang."


Tyo hanya memandangiku lalu ia pun bertepuk tangan sambil berujar, "Amazing! Sayang bisa hafal semua itu?"


"Kekuatan film Hollywood, that's why I can memorised it," jawabku santai yang membuat Tyo menepuk dahinya lalu menggelengkan kepalanya.


"I told you, aku tuh aneh," lanjutku.


"Mas nggak kebayang kalau kita liburan keliling Eropa, bisa-bisa pulang dari sana langsung jadi ahli sejarah."


"Waaah kalau sejarah dunia, Eropa dengan segala istana dan jaman peradabannya, nilaiku waktu kuliah A, dong! So, kapan mau kuliah privat tentang sejarah dunia plus jalan ke Eropanya, Mas?" tantangku penuh semangat.


"Nanti, kapan-kapan," jawab Tyo dengan ekspresi heran dan berpura-pura kesal.


Lalu Tyo merangkulku dan mengajakku berjalan.


"Dah yuk kita poto-poto ajah!" seru Tyo kemudian.