
Perceraianku pun akhirnya di sahkan oleh negara, setelah melalui tiga kali persidangan. Selama proses tersebut, tanpa kusadari berat badanku berkurang hampir sepuluh kilogram. Berat badanku kembali seperti saat aku belum menikah.
Kantung mataku terlihat jelas dan pipiku pun terlihat tirus, yang membuatku terlihat jauh lebih tua dari usiaku. Aku pun tampak seperti zombie karena wajahku yang tanpa ekspresi dan suram. Aktivitas harianku seputar mengantar dan menjemput sekolah ketiga putriku, selain berbelanja ke pasar.
Di saat aku menjemput putriku di sekolah, ketika ibu-ibu yang lain saling bertukar cerita, aku hanya duduk sendiri di dalam mobilku, menunggu putriku keluar. Aku benar-benar tidak terkoneksi dengan dunia luar. Hingga aku tersadar, ketika putri pertamaku diwisuda Ummi.
Aku bahkan tidak tahu kapan Icha melangsungkan ujiannya. Icha tidak pernah memintaku untuk membantunya untuk mempersiapkan ujiannya. Aku pun merasa sangat bersalah kepadanya.
"Cha, maafin ibu ya."
"Maafin kenapa, Bu?"
"Maafin, karena ibu nggak mendampingi kamu. Ibu membiarkan kamu belajar sendiri, ibu nggak pernah nanyain keadaan kamu, kesulitan kamu __."
"Nggak Bu. Ibu kan capek, ibu juga sedih karena ayah. Jadi aku nggak papa, kok. Aku yang terima kasih ke ibu karena sudah nemenin aku."
"MasyaAllah, ibu bahagia sekali, mempunyai putri seperti kamu," ucapku sambil memeluknya.
"Sama, aku juga Bu."
Dua bulan kemudian, Icha kembali meraih prestasi, sebagai siswa dengan memperoleh nilai tertinggi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, saat ujian nasional. Ia juga menempatkan dirinya di lima besar dalam peringkat kelasnya.
Aku juga mulai mengikuti kajian rutin pekanan yang diadakan di masjid. Aku juga kembali menerima pesanan aneka cakes dan roti. Walaupun tidak seramai ketika di Bekasi, tetapi pesanan roti tidak pernah libur hingga sepekan.
Tetapi, belum genap setahun memulai bisnis bakery, badai Covid pun datang menyerang Indonesia. Aku pun kehilangan pesanan-pesananku. Di saat itulah, aku mulai menulis.
Novel pertamaku, merupakan kisah yang kuambil saat masa remajaku. Masa ketika aku berseragam putih biru dan abu-abu, yang tentu saja telah dipoles sana-sini untuk dapat menghasilkan halu yang luar biasa.
Akhirnya dalam kurun waktu dua tahun, aku telah berhasil menyelesaikan empat judul. Memang bukanlah sebuah prestasi, tetapi aku telah berhasil menyembuhkan hati dan pikiran dengan hobi yang telah lama kutinggalkan.
Hobi menulis yang kumulai di saat SMP ini, telah kutinggalkan semenjak aku menikah.
Tetapi kini, aku memulainya kembali tanpa berharap apapun, hanya ingin melepaskan halu yang memenuhi kepala.
Kursus kepenulisan pun kuikuti. Komunitas penulis amatir pun kumasuki. Disanalah aku menemukan kawan baru dengan berbagai latar belakang usia, asal dan pendidikan.
Di sanalah, aku dapat melihat perbedaan duniaku dengan yang lain, yang selama ini tak kuperhatikan.
Di saat aku menulis hanya untuk melepaskan beban pikiran dan tidak berharap akan penghasilan yang bisa kudapatkan, memang berbeda banyak dari penulis-penulis amatir ini yang memang menjadikan menulis sebagai profesi atau mata pencaharian mereka.