Self Healing

Self Healing
Episode 46 The Venetian



Setelah mengunjungi sisa dinding katedral, rombongan bergerak menuju The Venetian, yaitu sebuah hotel resort bintang lima yang juga merupakan surganya para penjudi, karena memiliki kasino terbesar di Macau. Tentu saja, kami tidak mampir ke tempat haram tersebut, melainkan hanya berkeliling menikmati keindahan interior hotel yang sekaligus tempat pusat perbelanjaan bintang lima.


Kami berdua cukup menikmati keindahan interior yang membawa eksterior ke dalam, bagaimana tidak, kami benar-benar seperti berada di kota Venesia, Italia. Plafonnya dilukis sedemikian rupa, bagaikan langit di siang hari yang cerah. Lalu seperti kota Venesia yang dikelilingi sungai, maka The Venetian juga menghadirkan sungai-sungai di dalamnya lengkap dengan perahu Gondola dan operatornya yang didatangkan langsung dari Venesia, Italia.


"Yang, nggak perlu ke Italia lagi, disini juga sudah cukup," bisik Tyo di telingaku.


"Mode hemat ya, Mas," jawabku.


"Eh tapi, ini kok kayak yang di drakornya Gu Jun Pyo sama Geum Jan Di," lanjutku.


"Siapa itu?" tanya Tyo yang kurasa ia tidak mengerti maksudku.


"Drama Korea, kek Meteor Garden jaman Sanchai itu. Nah, keknya syutingnya ada yang disini deh. Iya bener, keknya disini deh!" seruku.


"Trus memangnya kenapa kalau disini?" tanya Tyo.


"Ya nggak papa, di TV kan keliatannya bagus banget dan ternyata memang bagus banget. Yaa kalau dulu bapak sama ibu bisa ke Venesia aslinya, paling nggak, ada anaknya yang mengikuti jejaknya tapi versi KW-nya," jawabku.


"Versi KW juga sudah bagus banget," sahut Tyo.


Lalu salah satu rekan dokter yang biasa kami memanggilnya mbak Risa, menghampiri kami berdua


"Nggak ikutan naik gondola?" tanyanya.


"Nggak Mbak, eman-eman duite. Mending buat beli oleh-oleh untuk anak-anak," jawabku.


"Biasa Mbak, Lina lagi mode hemat, hmm atau pelit nih? Soalnya beda tipis antara hemat dan pelit," sindir Tyo.


Mendengar sindiran Tyo, aku pun menjawabnya dengan cukup santai, "Biarlah mau diomongin apa, buatku foto-foto juga sudah cukup."


"Nah Yo, dengerin istrimu, manut ae, nanti pasti aman," canda mbak Risa.


"Tenang Mbak, aman itu," jawab Tyo.


"Yowes, aku gabung sama tim gondola dulu."


"Met bergondola-ria, Mbak," ucapku sambil melambaikan tangan.


Kemudian mbak Risa dan dokter-dokter lain mulai mengantri untuk menaiki gondola, tetapi tidak dengan Bang Radit yang sedang dalam mode fotografer.


"Yo, lanjut foto post-wedding episode dua, versi Venesia KW super!"


Kami berdua pun tergelak karena ucapannya.


Lalu, sesi foto-foto dengan aneka pose layaknya foto pre-wedding pun kami lakukan. Selain menjadi fotografer dadakan, bang Radit juga menjadi pengarah gaya kami .


"Yang mesra dikit dong! Ini pengantin lama, kok gayanya harus diarahin lagi?"


"Udahlah Bang, foto seadanya aja, begini juga sudah bagus, mumpung nyonya lagi kooperatif diajak foto, ntar lagi bisa kabur nih!" canda Tyo.


"Oke, foto seadanya yaa? Jangan protes!"


Bang Radit pun memulai aksinya sebagai fotografer pribadi kami. Aneka pose layaknya model majalah fashion pun kami tunjukkan. Dari berdiri berdampingan di atas jembatan, lalu memandang jauh lepas ke arah langit. Lalu kami berdua berdiri di samping kanal dengan pemandangan perahu yang sedang menyusuri kanal.


"Lihat hasilnya, Bang," pinta Tyo.


"Cakep semuanya!"


"Makasih Bang, tahu aja aku cakep!"


Mendengar candaanku, bang Radit segera mengembalikan kamera kepada Tyo.


"Sudah selesai tugasku. Aku duluan!" pamit bang Radit yang berjalan meninggalkan kami berdua.


Lalu, kami berdua kembali berjalan menyusuri kanal dan melewati jembatan khas kota Venesia sebelum mengelilingi pusat pertokoan pada lantai dasar.


"Waa ada MU store!" seruku.


"Fotolah!" ucap Tyo sambil mengambil kameranya.


Kami pun bergantian berfoto di depan etalase MU Store, sebelum memasukinya hanya untuk melihat aneka merchandise yang dijual.


"Mug-nya aja seharga 200 ribu! Mug doang?"


"Ya begitulah kalaupunya nama," sahut Tyo.


Aku pun menimpalinya, "Kalau nggak punya nama, akan menjadi repot manggilnya pakai sebutan apa?"


"Fix, lanjut jalan! Semakin aneh kalau diladenin," sahut Tyo seraya menarik tanganku ke arah pintu keluar toko yang membuatku tertawa kecil.


Kami pun kembali berjalan menyusuri lorong-lorong mall yang dipenuhi dengan outlet-outlet kelas dunia bintang lima. Berjalan berdua melihat semua kemewahan dunia di depan mata ini sudah membuatku bahagia. Tidak ada sebersit keinginanku untuk mengeluarkan isi dompetku di tempat ini.


Tetapi tidak dengan Tyo, kulihat ia sedikit tergoda untuk mengeluarkan dollarnya pada beberapa produk fashion. Matanya tak lepas dari manekin-manekin yang dipajang pada etalase, tetapi seperti biasa, ia selalu menawarkan padaku dan berharap aku mau membelinya.


"Yang, mau beli apa, mumpung di sini, ayo di pilih aja."


"Jangan mode kebanyakan duit lah, Mas. Aku nggak butuh barang-barang yang ada disini, kok. Udahlah, window shopping juga sudah happy. Nggak usah usaha ngebujukin aku untuk beli," tolakku.


"Yang, perempuan normal itu kalau disuruh belanja, pasti senang bukannya nolak."


"Yowes, anggap aku upnormal. Dah yuk, lanjut eyes washing!"


"Apalagi ini eyes washing?" tanya Tyo.


"Cuci mata!"


"Haishh! Dah, yuk ah!" ajak Tyo sambil menggandeng tanganku.


Kami pun kembali berjalan-jalan melewati booth-booth penjaja makanan kecil dan aku pun berkesimpulan, bahwa desain booth ini, semuanya sama dan bahkan mirip dengan yang berada di Indonesia.