Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 8. Rayden's Purpose ...



𝓢𝓾𝓪𝓼𝓪𝓷𝓪 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓹𝓲 𝓭𝓾𝓱𝓪𝓲


𝓴𝓮𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱 .....


𝓪𝓴𝓾 𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓷𝓽𝓾𝓱𝓪𝓷𝓶𝓾


𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾 𝓫𝓮𝓵𝓪𝓲𝓪𝓷 𝓶𝓾


𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾 𝓻𝓪𝔂𝓾𝓪𝓷𝓶𝓾


𝓽𝓮𝓽𝓪𝓹𝓲 𝓴𝓪𝓾 𝓶𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓼𝓪𝓳𝓪 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓲𝓼𝓾


𝓴𝓪𝓾 𝓶𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓭𝓲𝓪𝓶...


𝓪𝓹𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓪𝓾 𝓽𝓾𝓷𝓰𝓰𝓾....


Tiga bulan kemudian ...


Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah lebih dari tiga bulan keberadaan Rayden di kantor cabang ini.


Selama hampir tiga bulan belakang ini, Salma jarang sekali bertemu Rayden. Hal itu karena Rayden lebih banyak di lokasi proyek sedangkan dia lebih banyak di kantor bersama Pak Indra.


Hanya sesekali dia dan Pak Indra pergi ke lokasi proyek untuk menemui Pak Rayden. Tetapi walaupun bertemu mereka jarang berkomunikasi.


Salma tak menampik bahwa dia merindukan Rayden. Pipi Salma bersemu merah saat dia mengingat kembali betapa panasnya ciuman Rayden beberapa waktu yang lalu.


Walaupun kangen tapi dia tidak berani menghubungi bosnya yang tampan itu, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar lewat Whatsapp.


Dia bahkan tak berani berharap lebih atas perlakuan dan perhatian yang diberikan Rayden pada dirinya waktu itu.


Sementara itu, suasana kerja di proyek sudah kembali normal. Para pekerja yang beberapa waktu lalu mogok kerja sebagian sudah kembali lagi bekerja, namun ada beberapa yang di berhentikan oleh perusahaan karena di nilai telah menjadi provokator dan banyak merugikan pihak perusahaan.


Salma tak tahu bagaimana cara Rayden menyelesaikan masalah itu sebagai manajer operasional, namun harus diakuinya, semenjak kedatangan Rayden. Perusahaan yang dia tempati bekerja sekarang banyak sekali mengalami kemajuan.


Bahkan baru - baru ini, ada perusahaan asing dari Australia yang berminat menjalin kerjasama dan menanamkan modalnya pada perusahaan.


Siang ini, sehabis makan siang semua karyawan di divisinya di panggil ke ruang rapat. Ada hal yang ingin di sampaikan oleh Pak Rayden dan Pak Indra selaku pimpinan cabang disini.


"Sstt...,Salma-! kamu tahu nggak-! Ada apa ya, kita semua di panggil ke ruang rapat? " tanya Mbak Mita.


Salma hanya mengangkat bahunya tanda diapun sama tak tahunya dengan Mbak Mita.


Mbak Mita, Mbak Yuni, Aries dan Dewa melangkah beriringan menuju ruang rapat.


Suasana di ruang rapat itu sedikit berisik. Mereka sibuk bertanya - tanya alasan mengapa mereka semua di panggil ke ruang rapat.


Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka semua tak terkecuali juga Salma.


Namun suasana menjadi hening seketika ketika dari balik pintu muncul Pak Rayden dan Pak Indra bersamaan.


Semua berdiri dan mengangguk hormat dan memberi salam kepada keduanya. Lalu kembali duduk dengan tertib setelah keduanya mempersilahkan mereka semua untuk kembali duduk.


Pak Rayden dan Pak Indra juga telah duduk di kursi mereka masing-masing.


Salma melirik diam-diam ke arah Rayden yang nampak serius menatap notebook di depannya. Ada rindu di hatinya pada lelaki tampan itu yang di simpannya rapat di hatinya.


"Selamat Siang semuanya !" kata Pak Indra mulai membuka pembicaraan.


"Selamat siang, Pak! " Jawab mereka serentak.


Lalu suasana kembali hening. Mereka menunggu Pak Indra melanjutkan ucapannya.


"Terima kasih atas kehadiran saudara saudara semua di ruang rapat ini. Sengaja saya Memanggil kalian semua karena ada beberapa hal yang ingin di sampaikan oleh Pak Rayden selaku Direktur Operasional kita. Untuk itu saya persilahkan Pak Rayden untuk mulai berbicara." kata Pak Indra.


Rayden bangkit dari duduknya dan menatap semua yang hadir di ruangan itu.


"Terima kasih atas kesediaan kalian hadir di tempat ini. Saya hanya sekedar ingin menyampaikan sedikit kabar gembira! " Rayden menjeda ucapannya.


Hening semua menunggu kelanjutan ucapan Rayden.


" Saya atas nama perusahaan ingin mengucapkan selamat atas kinerja kalian yang baik sehingga pihak perusahaan memperoleh laba maksimal tahun ini! " ucap Rayden yang di iringi tepukan meriah oleh semua yang hadir di ruang rapat itu.


Rayden kembali melanjutkan ucapannya setelah tepuk tangan mereda.


"Karena kinerja kalian yang semakin baik, maka pihak perusahaan berencana akan memberikan bonus tahunan kepada seluruh staff di devisi ini berupa Family gathering dan liburan ke Bali dengan tiket dan akomodasi di jamin oleh perusahaan."


"Hore!!! Kita liburan ke Bali-!! " kata beberapa karyawan yang ada di ruangan itu.


Mereka sudah membayangkan betapa mengasyikkan liburan di Pulau Dewata, apalagi transportasi dan akomodasi ditanggung perusahaan.


Semua bertepuk tangan dengan penuh antusias menyambut kabar gembira tersebut.


"Itu saja yang ingin saya sampaikan. Bagi yang ingin ikut silahkan menghubungi bagian administrasi kantor. Namun bagi yang berhalangan ikut bonus dapat di uangkan. Terima kasih. Dan kalian boleh kembali melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." Kata Rayden mengakhiri pembicaraan.


Setelah Rayden mengakhiri pembicaraan tadi, Pak Indra menutup dan membubarkan rapat singkat tadi.


Semua staf perusahaan kembali ke ruang kerja masing-masing dengan perasaan gembira.


semuanya merasa senang dan menyambut gembira atas pemberian bonus yang telah diberikan oleh pihak perusahaan.


" Salma, kamu jangan keluar dulu. Aku mau bicara sebentar-!" kata Rayden pada Salma yang sudah mau beranjak pergi menyusul teman - temannya yang sedang menunggu di luar.


Mereka pun akhirnya pergi duluan. Dewa menatap tajam ke arah Rayden. Yang di tatap balas menatap dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Rayden, om mau kembali dulu ke ruangan om. Masih ada hal yang ingin om selesaikan. Salma, Saya pergi dulu, ya--!! Pak Indra pamit pada Rayden dan juga Salma. Salma hanya mengangguk pasrah.


" Oh, iya om-! Silahkan-! Saya masih mau bicara dengan Salma. " jawab Rayden.


"Bapak ada perlu sama saya??" tanya Salma serius. Matanya menatap lurus ke arah Rayden yang duduk di hadapannya.


" Nggak, aku cuma mau berdua saja sama kamu-! " jawab Rayden santai membuat Salma mendelik kesal.


" Saya masih ada banyak tugas, Pak" Kata Salma pelan.


" Salma, kamu tenang saja.Tak ada yang berani memarahimu jika ada aku. "Kata Rayden dengan santainya.


Salma mengangkat bahunya. Dia merasa tidak enak sama temannya yang lain.


'Uh! sikap Rayden membuat aku bingung! Kadang bersikap dingin, nanti dilain waktu bersikap hangat. Apa sih maunya?' kata Salma dalam hati. Rayden menatap lekat wajah Salma.


"Kenapa dengan wajahmu, Salma? kok cemberut lalu senyum sendiri" tanya Rayden geli.


" nggak, kok! Saya cuma heran aja sama Pak Rayden, kadang sikapnya keras dan dingin. kadang bapak bersikap manis dan penuh perhatian. Apa bapak punya kepribadian ganda-??" curhatan Salma.


Rayden tersenyum gemas. Dia bangun dari duduknya berjalan mengitari meja rapat dan kemudian berdiri tepat di belakang Salma duduk.


Tubuhnya mengukung tubuh Salma dan kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya yang membuat tubuh Salma merinding.


" Itu semua karena tingkah laku kamu yang gemasin sekaligus ngeselin , sayang !" bisik Rayden, lalu mengecup pucuk kepala Salma yang terlindung hijab.


Salma berbalik mencoba untuk menoleh ke belakang. Akan tetapi saat kepalanya di gerakkan ke samping kanan sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya.


Cup-!


Salma kaget. lalu...


cup-!


Belum hilang kagetnya, sebuah kecupan lagi mendarat di pipi sebelah kirinya.


" Pak Rayden-!! "pekik Salma.


Rayden terkekeh menang karena berhasil mencium kedua pipi Salma.


"Rasanya manis dan lembut


sekali" bisik Rayden lagi. Kembali dia memeluk tubuh mungil Salma.


Tubuh Salma gemetar, saat Rayden ******* bibirnya dengan ciuman yang penuh nafsu. Dia ingin berontak karena malu namun tubuhnya ternyata merespon lain. Salma membalas ciuman Rayden dengan canggung dan malu - malu.


'Terkutuklah setan yang telah menggoda dirinya! '


Salma mengutuk habis dirinya yang begitu murah.


Cukup lama mereka saling berciuman. Salma hampir kehabisan napas. Di dorongnya tubuh Rayden ke depan.


Dia berdiri memandang Rayden. Jarak keduanya sangat dekat. hanya beberapa centimeter saja hingga Salma dapat merasakan hembusan napas Rayden di wajahnya.


"Saya mau kembali ke ruangan saya, Pak-! " kata Salma dengan kikuk. Dia merasa malu.


"Tunggu sebentar lagi, Salma! Aku suka momen seperti ini. Aku merindukan menyesap wangi tubuhmu yang membuatku gila ." Rayden memeluk Salma dari belakang. Menempelkan hidungnya di bahu Salma.


" Aku sangat mencintaimu, Salma. Will you marry me-! "


Salma terkejut dan tak percaya dengan pendengarannya. Apa tadi dia sedang bermimpi. Pak Rayden barusan melamarnya. Salma jadi gelagapan dan salah tingkah.


"Saya belum bisa menjawabnya sekarang, Pak-! Beri saya waktu-! " Jawab Salma sambil menundukkan wajahnya.


Dia tak kuasa menatap wajah tampan Rayden yang membuat jantungnya menari-nari. Ada rasa aneh yang menelisik hatinya. Rasa yang indah dan berbunga bunga.


"Saya akan beri kamu waktu. Tapi jangan lama-lama. Aku sudah tak tahan. Kau tahu aku sudah terlalu lama menunggu. " Kata Rayden. Matanya menatap Salma penuh cinta.


Salma mengangguk sambil tersenyum manis.


"Saya permisi, Pak-! " pamit Salma.


Rayden melepaskan kungkungan tubuhnya dengan tidak rela.


Dia mengangguk sambil sebelah tangannya menarik tubuh Salma hingga jatuh ke. pelukannya dan mengecup lembut pucuk kepala gadis itu.


" Pergilah, sayang! aku juga ada sedikit pekerjaan! " Dada Salma berdebar kencang. Mukanya merona merah. Salma secara perlahan menarik tubuhnya menjauh dari Rayden, berjalan terburu - buru ke toilet yang terletak di luar ruang rapat.


Ditutupnya pintu toilet itu dengan rapat. Napasnya tersengal. Lalu dia berjalan menuju arah cermin. Di pandangnya wajah polos yangl tampak di cermin. Wajah yang merah bak buah tomat. Hatinya kembali berdebar debar.


" Oh Tuhan-! Bagaimana ini Salma? Pak Rayden tadi melamarku !" Salma bertanya pada dirinya sendiri di depan cermin.


Salma membuka hijabnya dan mengambil wudhu melalui kran air yang ada di wastafel. Rasanya sungguh segar dan menyejukkan. Hatinya sedikit tenang.


Kemudian Salma pergi ke mushala untuk sholat Dzuhur. Tadi dia memang tak sempat menunaikan sholat Dhuhur karena harus buru buru ke ruang rapat.


...*****...