Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 46 Ngidam...



Hari masih pagi ketika Salma terbangun dan buru - buru berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Inilah rutinitas yang hampir setiap hari dia jalani hingga kadang-kadang harus


membuat seorang Salma mesti berbaring sepanjang hari di tempat tidur dengan tubuh lemas.


Kehamilan Salma sudah memasuki Trimester ke dua. Namun fase ngidam yang dia alami masih belum berhenti. Nafsu makan Salma sedikit meningkat walaupun ujung-ujungnya harus kembali dia muntahkan lagi. Satu lagi yang membuat Rayden senang adalah istrinya itu semakin hot di ranjang. Setiap malam selalu saja istrinya itu merengek untuk meminta di manja dan hasilnya selalu berakhir dengan aktivitas panas di ranjang mereka.


Rayden terbangun ketika mendapati tak ada Salma di sisinya dan mendengar suara orang yang sedang muntah di kamar mandi. Bergegas dia bangun dan memasuki kamar mandi.


Di lihatnya istri mungilnya itu sedang membersihkan sisa - sisa muntah di bibirnya dengan bilasan air.


" Sayang, kamu nggak papa?"tanya Rayden dengan cemas.


" Aku nggak papa, aku hanya sedikit lemas."jawab Salma sambil berbalik ke arah suaminya. Wajahnya terlihat pucat dan lemah. Rayden menjadi tak tega melihat itu. Di raihnya tubuh Sang istri untuk kemudian menggendongnya kembali ke kamar.


" Bee, kamu istirahat dulu. Aku akan panggil dokter Nisa kemari." kata lelaki itu dengan ekspresi wajah cemas.


Tak lama kemudian, dokter Nisa sudah berada di kediaman keluarga Chandler.


Dengan teliti dokter cantik berwajah lembut itu memeriksa nyonya muda keluarga Chandler itu.


" istri saya nggak papa, kan dok?" tanya Rayden tidak sabaran. Dokter Nisa tersenyum kalem. Dia kadang merasa iri dengan Salma. Wanita itu sangat beruntung memiliki seorang suami tampan yang sangat mencintainya.


Terlihat betapa khawatirnya lelaki itu melihat kondisi Sang istri.


" Kondisi Salma baik - baik saja, Mas Rayden! Dia hanya perlu istirahat dan kurangi aktivitas yang dapat menguras tenaga. Karena kondisi Salma yang pernah mengalami trauma phisik dan luka dalam, membuat kondisinya menjadi lemah terutama pada saat fase ngidam." dokter Nisa menjelaskan pada Rayden mengenai kondisi Salma serta memberitahu lelaki itu apa saja yang boleh dan tidak boleh Salma lakukan selama fase kehamilan anak mereka.


Setelah dokter Nisa berpamitan, Rayden mengeluarkan handphone dari sakunya.


" Hello, Bisma. Hari ini batalkan semua janji pertemuanku dengan para klien. Suruh Aries untuk mengawasi kantor cabang. Jika ada yang urgent, hubungi aku lewat telekonferensi saja!" kata Rayden pada Bisma sekertarisnya yang baru. Bisma adalah sekertaris Rayden yang baru menggantikan Anita yang sudah dia pecat beberapa waktu yang lalu karena berani menggodanya dan berlaku tidak sopan.


Setelah memberi instruksi dan arahan pada Bisma, Rayden menutup teleponnya dan berjalan menghampiri Sang istri.


Tampak wajah Salma yang lembut sedang menatap ke arahnya.


" Kenapa nggak pergi ke kantor, hon? " tanya Salma. Dia heran ketika mendengar Rayden yang meminta sekretarisnya untuk membatalkan semua janji dengan klien.


" Nggak ada apa-apa, Bee. Aku hanya ingin di rumah bersamamu. Aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan si kecil yang di dalam sana." kata Rayden sambil mengelus perut Sang istri yang kini sudah tampak semakin besar.


"Honey, makasih ya, atas perhatian kamu. Sebenarnya aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu terlalu mencemaskan aku. Kan di rumah ada mommy dan daddy kamu." kata wanita itu sambi memegang tangan Rayden .


" tidak, Bee. Aku mau nemenin kamu. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kamu. Agar aku bisa menikmati momen kebersamaan kita." kata Rayden. Tangan sudah bergerak kembali mengelus perut Sang istri. Dia suka sekali mengelus perut Salma dan merasakan pergerakan Sang bayi di dalam sana.


" Bee, dia bergerak. Dia suka jika kuelus." Wajah Rayden berbinar bahagia. Setetes cairan bening keluar dari sudut matanya. Dia tak menyangka jika sebahagia ini menjadi calon ayah.


Pernah Rayden dibuat pusing tujuh keliling lantaran istri kesayangannya itu minta foto Jie Hun, artis K-pop kesayangannya yang Asli dari sana plus tanda tangan dan kata - kata yang tertulis ' for Salma with love by Jie Hun'.


Rayden sampai terpaksa harus minta tolong relasinya yang tinggal di


Korea untuk memintakan foto, tanda tangan plus kata-kata yang Salma inginkan. Rayden meremas tangannya dengan gemas. Untung istrinya sedang hamil, jika tidak sudah dia bejek-bejek karena jengkel dan tentu saja cemburu.


"Nih, foto yang kamu pinta." Senyum lebar Salma terbit ketika menerima foto yang Rayden sodorkan padanya. Foto artis Korea kesayangannya lengkap dengan tanda tangan dan ucapan 'for Salma with love' tertulis di dalamnya.


"makasih, Hon!" serunya dengan wajah gembira.


" Huh, apa bagusnya wajah lelaki dengan make up dan gaya yang mirip sok keren. gitu. Kalau di bandingkan aku, ya.. masih tampan aku!" gerutunya dengan wajah kesal.


Salma tersenyum melihat wajah ngambek Rayden.


"Ya, iyalah gantengan kamu, Sayang! kamu kan suami aku. Nggak usah marah, hon. Dia cuma idola aku, saja. Aku itu cintanya sama kamu, bukan sama dia."


kata Salma seraya mencium pipi Sang suami. Rayden langsung tersenyum lebar. Wajahnya seketika berbinar cerah.


. " Hmm, aku tau, aku hanya kesal karena kamu tuh, keliatan gembira sekali saat mandangin foto artis Korea itu. Sedangkan foto aku tidak pernah kamu pajang di wallpaper hape kamu." kata Rayden.


"Ya, ampun. Jadi karena itu kamu ngambek !"Salma menepuk jidatnya. Memang selama ini dia tak pernah memasang foto Rayden ataupun Foto yang lainnya yang berhubungan dengan Rayden. Karena alasan yang sepele. Dia tak memiliki handphone Android.


" Maaf, ya hon. Hape aku tidak ada aplikasinya. Jadi aku tidak pernah punya foto kamu." kata Salma dengan memelas.


Rayden memandang wajah istrinya,


" Memang kamu pake hape yang mana, Bee?"


Salma mengambil handphone dari balik saku celananya dan menyodorkan ke arah Rayden.


Rayden melongo takjub. Istrinya itu memakai handphone jadul miliknya. Betapa bodohnya dirimu, Rayden. Kamu tidak tahu bahwa selama ini istrimu memakai handphone jadul.


" Bee, hape yang aku kasih ke kamu mana?" tanya Rayden.


" Hape itu sudah rusak sewaktu aku di culik sama mbak Ana. Dan waktu aku sadar kemarin, aku tidak punya handphone lagi. Aku mau beli tapi belum punya uang. Jadi ya, aku pakai saja hape lama aku. Lumayan, masih bagus kok. Hanya aplikasi fotonya saja yang jelek, karena kameranya sudah buram."kata Salma dengan mimik tanpa dosa.


Rayden tak bisa berkata-kata lagi. Di peluknya wanita hamil yang sedang mengandung anaknya ini dengan perasaan mengharu biru.


Rayden baru sadar, jika istrinya ini bukanlah wanita yang terbiasa meminta sesuatu, walaupun terhadap orang yang dia kenal. Dulu saja semasa berpacaran, dia selalu menolak mati- matian barang barang yang Rayden berikan.


"aku adalah suamimu, Bee. Kamu minta seluruh hartaku pun, akan kuberikan. Jangankan harta, jiwa raga ku akan aku berikan. Jangan lagi ada perasaan seperti itu. Seluruh milikku adalah milikmu, Bee." Kata Rayden lembut. Tubuhnya memeluk tubuh Salma semakin erat ke dalam dekapannya.