Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 16 Riko PoV



𝓙𝓪𝓭𝓲𝓵𝓪𝓱 𝓶𝓲𝓵𝓲𝓴𝓴𝓾, 𝓶𝓪𝓴𝓪...


𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓾 𝓻𝓪𝓼𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓪𝓴𝓲𝓽𝓷𝔂𝓪 𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾


𝓹𝓪𝓷𝓪𝓼𝓷𝔂𝓪 𝓬𝓮𝓶𝓫𝓾𝓻𝓾....


𝓭𝓪𝓷 𝓱𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽𝓷𝔂𝓪 𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱....


𝓽𝓪𝓹𝓲 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓻𝓪𝓼𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪.


𝓴𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓴𝓾 𝓲𝓽𝓾 𝓭𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷


.....


Namaku Riko Hendrawan..Aku dan Rayden adalah sahabat baik sewaktu kami di SMA dulu. Sedangkan Salma adalah adik kelas kami. Dia satu tingkat di bawah kami. Pada waktu itu kami duduk di kelas XII dan Salma di kelas XI.


Aku dan Salma 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 sepasang kekasih. Kami pernah mengalami saat - saat indah berdua. Aku menyukai Salma dengan kecantikan dan kepolosannya. Tiada hari yang kami lalui tanpa momen - momen indah berdua. Aku, sangat mencintai Salma.


Sikap Salma yang polos dan lugu membuatku selalu ingin berusaha untuk melindunginya.


Dan Rayden, dengan Rayden aku selalu terbuka untuk berbagi cerita. Tak ada yang ku sembunyikan darinya. Rayden mengetahui semua tentang Salma itu juga dari cerita- cerita ku.


Semuanya terasa indah dan berjalan dengan lancar sampai pada suatu ketika di hari kelulusanku..


" Riko , Papa mau bicara-! " Kata Edwin.


Nada tegas dari lelaki itu membuatku tak bisa membantah. Aku yang baru saja pulang dari perayaan kelulusanku di sekolah harus dibuat kesal karena 'harus' bertemu lagi dengan lelaki itu.


Lelaki yang paling kubenci di muka bumi ini walaupun dia berstatus sebagai Papa Kandungku.


Dia yang sudah menyebabkan penderitaan pada ibuku. Ibuku menangis siang dan malam kerena perlakuan nya yang sungguh tidak pantas di sebut manusia.


Laki - laki itu dengan seenak perutnya menikah lagi dan membawa istri mudanya tinggal serumah dengan kami.


Sering kali aku memergoki ibuku yang menangis sendiri dengan tubuh memar dan babak belur karena habis di pukuli oleh ayahku, jika ibuku sedikit saja berbuat salah atau bila ibu tidak mau menuruti keinginan ayahku.


Aku membenci ayahku dan juga wanita sialan itu. Hingga aku dewasa sifat ayahku masih saja tak berubah. Masih otoriter dan tak suka di bantah.


Setelah aku dewasa, dengan berbekal warisan dari kakekku, aku memutuskan membawa ibuku keluar dari rumah itu dan hidup terpisah dari ayahku dan juga ibu tiri sialan itu.


" Ada apa? " jawabku dengan malas dan acuh tak acuh. Masih dengan seragam sekolah yang penuh coretan yang melekat di tubuhku.


" Riko, sopan sedikit jika berbicara sama orang tua. Apa ibumu tidak mengajarimu sopan santun-? " suara ayah meninggi melihat sikapku yang acuh tak acuh saat bicara dengannya.


" Ibuku hanya mengajariku untuk sopan pada manusia, bukan pada hewan! "


Plak!!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku. Rasanya perih. Namun aku tak bergeming. Hatiku sungguh panas. Kebencianku padanya makin meluap. Aku benci jika dia menjelek-jelekkan ibuku, wanita yang paling aku sayang di dunia ini.


Ibu yang mendengar keributan dari ruang tamu bergegas menghampiriku. Wanita itu menangis sambil memelukku. Anak laki-lakinya yang cuma satu- satunya itu.


" Anak kurang ajar-! Masih numpang makan sama orang tua sudah sok-sokan kamu-! "


" Kalau anda datang kemari hanya untuk menamparku, sebaiknya laksanakan saja. Setelah itu silahkan pergi dari sini-! " Kata Riko dingin.


" Kau sudah berani mengusir ayahmu sendiri-! "


" Ini rumah ku, aku bebas melakukan apa saja, termasuk mengusir anda tuan Edwin Hendrawan yang terhormat-! kata Riko berapi- api.


Ayahnya menghela nafas. dia kehabisan akal menghadapi anak laki-laki nya ini. Sikap Riko sangat dingin dan acuh padanya.


Riko seolah - olah membangun benteng yang tinggi bagi dia dan dirinya . Anak itu seolah - olah tidak menganggap dirinya sebagai ayahnya.


"'Ada yang ingin ayah bicarakan-! " Edwin akhirnya melunak. Percuma! pikirnya. Dia akhirnya memutuskan untuk mulai bicara.


" Ayah ingin kamu kuliah di Australia dan memegang salah satu perusahaan ayah di sana. Kamu harus belajar memimpin perusahaan. Karena walau bagaimanapun juga, kamu harus memikirkan masa depanmu nanti, karena kamu adalah pewaris bisnis ayah" Kata Edwin lagi


" Tentu saja aku berhak.. Aku ayahmu, ingat itu. Dan kamu harus mau-! ! " kata Edwin keras.


" Saya tidak MAU-! " jawab Riko murka.


" Dimana anda ketika aku membutuhkan anda sebagai ayah, tuan Edwin? " kata Riko tak kalah kerasnya.


" Saya tidak punya ayah-! ayahku sudah mati-! "


" RIKO!!! "


Plak!!!


Kembali sebuah tamparan mendarat di pipiku.


Ibuku menangis sambil berusaha menghentikan pertengkaran kami berdua.


" Sudah, sudah! Riko sabar, nak! jangan marah. Sebaiknya kamu pikirkan lagi tawaran ayahmu. " kata ibuku sambil membujukku.


" Sebaiknya kamu bujuk anakmu yang keras kepala itu, Mira-! kata ayah pada ibuku.


Tangan Riko terkepal keras. Kemarahannya sudah mencapai ubun ubun.


" Keputusan saya sudah bulat, Tuan Edwin Hendrawan. Saya tidak mau menerima tawaran anda. Silahkan anda keluar dari rumah saya sekarang juga-! " usirku dengan marah.


Edwin bangkit dari duduknya. Dia tersenyum licik.


" Ok, jika kamu tidak mau menuruti kata - kata ayah, maka jangan salahkan ayah jika gadis kecilmu itu bisa saja celaka-! "


" Apa maksud anda, tuan Edwin? " tanyaku dengan berapi-api.


" Aku tahu semuanya tentang gadis kecil berhijabmu yang cantik dan manis itu. Tentu amat di sayangkan jika wajah cantiknya itu rusak karena sebuah kecelakaan kecil-!"


" Jangan ganggu Salma. Sekali anda menyentuhnya maka aku tak akan memaafkan anda-! " kataku dengan keras.


" Jika kamu sayang padanya, maka kamu harus mempersiapkan masa depanmu!. Cinta saja tidak akan cukup untuk membahagiakan seorang wanita. Camkan itu-! " kata ayah sambil berlalu pergi.


Akhirnya dengan terpaksa Riko menuruti kemauan ayahnya untuk kuliah di Australia sambil memegang salah satu perusahaan nya di negeri kangguru itu. Hari itu juga ayahku mengirimku ke Australia dengan pesawat pribadinya. Rupanya diam - diam ayah sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya. Licik sekali dia.Aku makin membencinya. " Lihatlah, kelak aku akan membalas semua ini, ayah-! " dendam Riko membara.


Tapi Dia terlalu pengecut untuk mengucapkan kata - kata perpisahan pada Salma.


Ada banyak alasan mengapa dia melakukan hal itu. Salah satunya adalah dia tak ingin ayahnya sampai menyakiti Salma. Gadis itu begitu berarti bagi Riko.


...******...


Riko menghempaskan tubuhnya di kasur sesaat setelah tiba di hotel tempat dia menginap.


Hatinya sedang tidak dalam mood yang baik setelah pertemuan tak terduga antara dia dengan Salma dan juga Rayden.


Jujur saja rasa cinta yang dia kubur dalam - dalam pada gadis itu mendadak kembali hadir. Membongkar habis rasa rindu yang di buangnya jauh ke dasar samudera terdalam.


Kini rasa cinta dan rindu itu menyiksa jiwanya, ingin segera di tuntaskan dengan pergi menemui Salma. Karena hanya Salma yang bisa mengobati rasa rindu di hatinya.


Perasaan rindu di hatinya membuat dia ingin berlama - lama berbincang dengan Salma. Namun sayangnya kehadiran Rayden membuyarkan semuanya.


Ada hubungan apa antara Rayden dengan Salma. Riko tidak buta. Dia bisa melihat bias kecemburuan di mata Rayden ketika melihatnya berdua dengan Salma tadi.


Ataukah memang mereka ada hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan.


Riko memandang langit - langit di kamar hotel itu. Andai saja dulu dia tidak sepengecut itu dan berterus terang mengatakan dengan jujur tentang keadaannya pada gadis itu. Mungkin saja gadis itu mau menunggunya. Dan mungkin saja sekarang dia sudah bahagia bersama Salma.


Yah.. apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Semua tak mungkin dapat terulang kembali.


..._______________________...