Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 22 Sweety' teen girl



Alin baru saja menapakkan kakinya di Ramayana Plaza. Remaja yang baru saja merayakan kelulusan itu tersenyum sumringah. Pertanda hatinya sedang gembira saat ini.


Celana jeans putih yang di padu kemeja putih tulang dengan penutup blazer berwarna biru navy membalut penampilannya kali ini. Menampilkan kesan kedewasaan. Jauh dari jumlah umurnya yang baru menginjak delapan belas tahun.


Leher jenjangnya celingukkan ke sana kemari mencari teman - temannya. Mereka memang sudah janjian mau ketemuan di Mall ini.


Kakaknya memberinya uang jajan, karena kakaknya yang cantik itu baru gajian. Bulan ini dia mendapat bonus lebih dari kakaknya.


Dia berencana untuk membeli baju baru dan juga skincare. Karena persediaan Skincare nya di rumah udah pada menipis.


" Nava-! Fadel. Woiii....di sini guys-! " panggil Alin begitu melihat dua sosok yang di carinya ada di excavator. Mereka sepertinya baru turun dari lantai dua.


' Rupanya dua kuntil itu di sini-! ' kata Alin dalam hati.


" Woi, bebek - bebek-! dari mana aja, sih-! di cariin pada ngelayap-! " kata Alin pada dua orang sahabatnya itu.


" Eyalahh.... Nenek gayung-! Enak aja nyalahin kita-! sudah dateng telat, pake nyumpahin lagi-! Dasar teman nggak ada akhlak-! sembur Nava.


" Iya, nih, nyet-!! Main nyerocos aja udah kayak pecahan renteng saat kawinan-! " sambung Fadel nggak mau kalah.


Ketiganya lantas tertawa bersamaan.


" Ayo buruan, mumpung rame-! Banyak diskon, cuy-! " Nava bergegas menyeret lengan kedua sahabatnya.


" Yoi, Gaskeuuun!!! " kata Alin dan Fadel kompak.


Selanjutnya ketiganya sudah berada di excavator menuju lantai ke dua, berburu baju diskon.


" Shopping time-!! " ketiganya kompak tertawa riuh, tanpa menghiraukan sekelilingnya.


Beberapa pengunjung mall menoleh ke arah mereka. Mungkin pikir mereka heran aja melihat anak cewek zaman now yang cantik - cantik tapi masih kurang etika. Tertawa bebas di tempat umum tanpa rasa malu.


Sampai di lantai atas, ketiganya lalu berpencar. Masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.


Alin sedang membolak - balik celana jeans model ketat berwarna biru tua cerah. Niatnya tadi cari baju dan skincare. Skincare sudah dibeli emang, tapi kini matanya tak bisa kompromi ketika melihat celana Jeans di depannya.


" Anjirr, keren abis nih jeans.-!!


Alin mendesah.


Hatinya bimbang antara pilih baju atau celana jeans. Dia lalu mundur bermaksud untuk mencari alternatif pilihan lain. Namun tanpa sadar tubuhnya menabrak seseorang di belakangnya.


Brukk!


" Aduh-! " jerit seseorang di belakang Alin.


Tubuh Alin rupanya menabrak seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya sehingga terjatuh dan menyebabkan beberapa pakaian dan juga manekin di sana jadi ikutan roboh.


Alin segera menolong lelaki yang di tabraknya tadi agar bisa berdiri. Beberapa pramuniaga di stand itu terlihat memperbaiki dan menata kembali pakaian yang tadi sempat terjatuh. Untunglah tidak ada yang rusak. Alin juga bergegas minta maaf kepada Pramuniaga stand di sana.


'Uff! Syukur deh, nggak apa apa-! 'Alin menghirup napas lega.


Laki - laki itu sudah kembali berdiri dengan tegak.


Bola mata Alin yang besar makin membesar dan mulutnya menganga lebar. Hampir aja air liurnya menetes. Lebaayyy


' GANTENG BANGET-! ' jerit Alin dalam hati.


' Anjirr mirip banget dengan Te Yong, artis idola gue. ' Alin memang sangat mengidolakan artis Korea. Khususnya yang cowok. ( Ya iya...! masa suka sama cewek-! dia kan bukan lesbong)


" Eh..ma... maaf, Kak-! kata Ali pada lelaki itu. Dia salah tingkah sendiri karena gugup dan rasa takut.


" Nggak papa-! " Lelaki itu memperbaiki kemejanya yang rupanya sedikit sobek dan berantakan mungkin tersangkut sesuatu saat jatuh tadi.


Alin jadi nggak enak hati melihat kondisi baju laki-laki itu. Walaupun sudah sobek, tapi Alin tahu pasti baju lelaki itu tidaklah murah.


Kemudian lelaki itu menatap gadis di hadapannya. Wajah cantik itu terlihat masih syok dan takut.


'Untung cantik, kalo tidak udah aku marahin-! baju aku jadi rusak, huh! kata Riko mendumel kesal. Tapi hanya dalam hati ( hehehe).


"Ehh.. tapi tunggu dulu, kayaknya aku kenal nih cewek-??? "


Alin jadi salah tingkah ketika cowok itu menatap nya dengan intens.


" Kamu Alin, kan-?Alin Adiknya Salma! "


Alin terdiam. Hatinya ciut.


" Nah, loh. Apa lagi ini? bagaimana bisa dia kenal kak Salma? entar dia ngadu ,sama kak Salma. Aku nanti kena marah lagi. "


" Eh, iya, maaf. Tapi benaran kan ini Kak Riko! Soalnya sudah lama banget nggak liat kakak-! "


Salma bernafas lega, saat dia mulai ingat siapa laki-laki di hadapannya ini.


Riko menganggukkan kepalanya.


" Iya, aku memang baru pulang dari Australia. -! "


" oh.. pantesan kaga pernah nongol-!! " kata Alin manyun.


Dia ingat lelaki ini dulu pacar kakaknya saat di SMA.


" Maafkan saya ya, kak-! Please, jangan bilang kak Salma. Nanti saya kena marah-! Alin mengatupkan kedua tangannya dengan sikap memohon.


" Saya janji, saya akan ganti kerugian kakak-! Saya akan ganti baju kakak. Tapi jangan sekarang. Alin nggak ada duit. hehehe-! "


Riko mengernyitkan keningnya. Di pandanginya cewek berbibir seksi di hadapannya ini, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya-!


" Oke! aku tak akan bilang sama kakakmu, tapi ada syaratnya-! "


" Please, deh kak Riko-! kenapa pake syarat segala sih-!


" Terserah, kau mau aku laporin sama kakakmu, atau kamu mau gantiin baju aku sekarang. Atau kamu bisa ikutin syarat aku. pilih mana -?" tanya Riko sambil tersenyum nakal.


" Eh.. iya! iya! syarat apa sih, kak? "


" Mau nolong orang aja pake syarat.-!" kata Alin dalam hati.


Alin memonyongkan bibirnya yang tebal. Riko jadi mendadak gemas pada gadis di hadapannya.


" Temenin aku jalan - jalan sehari ini-! Aku lagi bete. Mood aku mau belanja jadi ilang gara-gara insiden tadi.-!" Kata Riko dengan entengnya.


" Ceile... itu aja, toh syaratnya? kirain apa-! Hayo... deal!! " kata Alin bersemangat. Dia memang paling hobi kalau di ajak jalan - jalan.


" Eh.. tapi ntar dulu-!. Temanin aku milih baju. Masa iya aku jalan- jalan dengan baju sobek begini-? "


" Oke, kak! Sini aku temanin-!" Riang Alin menarik tangan Riko tanpa sungkan. Riko jadi tertegun. Ada getar aneh ketika kulit halus gadis itu menyentuh kulitnya.


Alin melihat dengan teliti baju mana yang pantas untuk Riko.


" Nah... ini nih, kemeja ini cocok untuk kak Riko-! "


Alin menyerahkan kemeja itu pada Riko. Kemeja abu - abu muda dengan strip biru tua pada garis kancing dan lengan bawah menjadi pilihannya.


" Oke, selera kamu boleh juga-! Ayo kita ke kasir-! sekalian ambil juga celana jeans yang kamu taksir tadi, biar sekalian aku bayarin-! " kata Riko yang langsung menyeret tangan gadis itu ke kasir.


" Eh.. nggak usah, kak. Biar aku aja yang bayar celana jeans nya. " Alin yang nggak hati, menolak dengan halus.


" Nggak ada penolakan atau aku laporin ke kak Salma-! "


Alin menghela napas.' Kok maksa banget sih, nih orang! '


Alin pun akhirnya mengalah dan membiarkan Riko membayar semuanya termasuk baju yang memang belum sempat Alin bayar.


Nava dan Fadel terheran - heran dengan semuanya. Mimpi apa ya semalam lihat Alin di traktir sama Opa ganteng dari Korea.


" Woi..nyantai aja kalee liatnya-! kayak nggak pernah liat orang aja-! " kata Alin kepada kedua sahabatnya yang bengong.


" Eh.. nyet-! lo punya gebetan ganteng, Diam-diam aja. nggak kenalin kita, mana rasa setia kawan, lo? " Fadel mencubit Alin yang sontak menjerit.


" Sakit, setan-!!" Alin mengusap lengannya yang tadi di cubit Fadel.


" Kenalin, ini Kak Riko. Kak Riko ini temannya Kak Salma-! " Alin memperkenalkan kedua teman kepada kak Riko.


" Nava-! " Nava menyebutkan namanya dengan malu-malu. Demikian juga halnya dengan Fadel.


"Fadel, kak-! "


" Kalian temannya Alin, ya. Oh.. ya.. Alin dan kakak mau jalan lagi. Ada urusan sedikit. Nggak papa, kan?? "


"Tapi sebelumnya kita makan dulu, ya-!" Riko mengajak Alin dan kedua temannya ke restoran yang ada di mall itu.


Alin dan temannya senang sekali. Kapan lagi mereka makan gratis di restoran ditraktir oleh opa ganteng.


Selesai makan, mereka lalu berpisah. Nava dan Fadel langsung pulang, sedangkan Alin masih harus menemani Riko yang lagi bete.