
Usia kehamilan Salma sudah memasuki trimester terakhir. Berbeda dengan Alin Sang adik yang juga sedang hami, kehamilan Salma memang sedikit di bumbui adegan drama mengidam yang parah.
Lain halnya dengan Alin. Selama menjalani kehamilan dari awal trimester, dia tak ada masalah dalam fase mengidam. Malahan kebalikannya, Rikolah yang mengalaminya.
Selama masa kehamilan Alin, Riko menjadi sangat manja pada Alin. Dia juga sering minta makanan yang aneh-aneh. Jika sudah begini, anak buahnya yang repot karena harus mencari apa yang bos mereka mau.
Sekarang, saat memasuki trimester terakhir, Riko berperan sebagai suami yang siaga. Dia kini tak lagi menjalankan aktivitasnya memimpin perusahaan di kantor, tetapi lebih memilih bekerja dari rumah.
" baby, kamu mau sarapan, apa?" Riko masuk ke kamar saat Alin baru saja keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai mandi.
Riko mengelus perut Alin yang sudah sangat besar.
" Pagi, jagoan daddy. apa kabar kamu di perut mommy?" Riko mengusap lembut perut Alin lalu menciumnya.
Alin. terharu seraya mengusap rambut hitam Riko yang tampak mulai panjang.
Sungguh dia tak menyangka, akan sebahagia ini pada akhirnya. Cinta yang semula hanya semu saja baginya, kini bagaikan madu yang sangat manis dan menenggelamkan dirinya dalam indahnya lautan cinta milik Riko. Benar kata Allah dalam firman yang. "Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan".
Sementara itu, Salma sedang berada di ruangan kerja Rayden. Hari ini suaminya itu sengaja mengajaknya ke kantor karena mendengar keluhan dari mulut Sang istri yang berkata bahwa dia merasa mau mati saja karena bosan
di rumah.
" Bee, kamu mau makan apa?" Salma yang sedang asyik membolak balik majalah menghentikan aktivitasnya.
" Aku pengen makan ayam goreng Kentucky saja!" jawabnya tanpa menoleh ke arah Rayden. Salma tidak menoleh karena dari tadi matanya fokus pada iklan ayam goreng berlogo wajah kolonel Sanders itu. Rayden geleng-geleng kepala ketika melihat ekspresi wajah Salma yang tampak terpesona dengan gambar ayam goreng yang di suguhkan dalam iklan tersebut.
" Hm, jadi nyonya Chandler mau makan ayam goreng Kentucky ? "tanya Rayden sambil mengelus kepala Salma yang tertutup jilbab berwarna coklat susu.
" Iya, sepertinya lezat sekali ! " kata Salma seraya menelan ludah.
Rayden terkekeh melihat tingkah lucu istrinya. Dia segera menelpon sekretarisnya untuk memesan ayam goreng Kentucky seperti yang Salma inginkan.
, " Seperti tidak pernah makan ayam Kentucky, saja! ' Ucapnya dengan mimik heran. Makanan itu begitu populer dan merakyat. Rayden tak tahu bagaimana kehidupan istrinya itu di masa lalu sehingga untuk membeli ayam Kentucky saja begitu sulit.
" Memang begitu kenyataannya, Hon! "
Asmi mengatakan dengan wajah
sendu.
" Kami sekeluarga dulu hidup dalam kemiskinan. Hingga jangankan untuk membeli ayam Kentucky, untuk makan saja susah. " jawab Salma.
Dia ingat dulu semenjak ayahnya pergi menghadap Illahi, ibunya yang mengambil alih peran ayah. Ibunya harus bekerja banting tulang demi untuk menghidupi dia dan kedua orang adiknya.
Cukup buat makan dan membayar biaya sekolah saja sudah membuat dia dan adiknya merasa sangat bersyukur.
Rayden menatap Salma dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan. Dia tak dapat melukiskan bagaimana perasaannya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk mengungkit kesedihan masa lalumu.. Aku berjanji, mulai sekarang, aku tak akan pernah lagi membiarkan kamu bersedih, bee. " kata Rayden.
Hatinya begitu sakit mendengar kisah Salma.. Dia berjanji, mulai sekarang dia akan selalu menjaga dan melindungi istri tersayangnya itu.
...-----...
Riko baru saja selesai membuatkan sarapan untuk Alin. Kini dia sedang menata sarapan buatannya di meja makan. Sebenarnya ada ibunya di rumah ini. Ibunya itu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia tak ingin menantu kesayangannya itu merasa lelah, terutama di saat - saat kehamilannya seperti saat ini. Namun, wanita yang telah melahirkannya itu sedang berada di Jogja dari kemarin. Om Andre, yang merupakan saudara satu-satunya dari ibunya Riko itu sedang sakit.
Dengan uang yang kakeknya berikan itu juga Riko membangun usahanya. Walaupun Sang ayah bersikeras ingin agar Riko mengambil alih perusahaannya, namun Riko bergeming, dia tetap membangun perusahaan bagi dirinya sendiri sambil menjalankan perusahaan milik Sang ayah.
Hubungan Riko dengan Sang ayah juga tidak mengalami kemajuan. Riko masih saja membenci Sang ayah dan istri baru ayahnya. Bagi Riko, sosok ayah telah mati dalam hatinya. Hingga saat dia menikah dengan Alin, dia tak juga mengundang baik ayah maupun ibu tirinya itu.
" Akh, Kak Riko, tolong Alin! " Jeritan Alin dari dalam kamar mereka sukses membuyarkan lamunan Riko.
Dasar Alin, sudah hampir sepuluh bulan mereka berumah, masih saja memanggilnya dengan sebutan kakak. Padahal Riko sudah sering kali melayangkan protes, namun tak pernah digubris oleh Alin.
Riko bergegas mendatangi Alin. Dilihatnya istrinya itu sedang meringis sembari memegangi perutnya.
"Honey, kamu kenapa? " tanya Riko cemas.
" Sepertinya, aku aku akan melahirkan deh, kak! " kata Alin seraya menahan
perutnya dengan kedua tangan.
Wajah Riko seketika pucat pasi. Secepatnya kilat Riko berlari ke bawah untuk memanggil Pak Dadang, supir pribadi keluarganya.
" Pak Dadang, tolong saya, pak. Alin mau melahirkan!", serunya dengan nafas yang terkenal - sengal.
" Apa, Non Alin mau melahirkan?!" serunya kaget. " Cepat, den. Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit! "
" Eh, iya.. iya, Pak. Saya ambil tas Alin dulu. Pak Dadang, siapkan mobil! "
Lelaki tua itu bergegas mengeluarkan mobil dari garasi. Setelah siap, dengan tergopoh - gopoh, lelaki tua itu berlari menyusul Riko yang sudah kembali lagi menemui Sang istri .
Dia mengambil dan menyerahkan tas besar yang berisi perlengkapan Alin yang akan dipakai untuk melahirkan kepada Pak Dadang. Setelah siap dia lalu membopong tubuh Alin ke mobil yang sudah di siapkan oleh Pak Dadang. Kedua laki-laki beda zaman itupun akhirnya mengantarkan Alin ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Alin langsung dibawa ke ruang bersalin. Bidan yang bertugas memeriksa Alin, mengatakan bahwa Alin sudah mengalami pembukaan tujuh. Sebentar lagi, calon bayi Riko dan Alin bakal nongol ke dunia.
Bidan yang bertugas di rumah sakit segera mempersiapkan persalinan Alin.
Riko di tanya apakah menginginkan persalinan normal atau Cesar bagi Sang istri.
Sebenarnya Riko meminta persalinan Cesar untuk Alin, karena dia tak tega demi melihat raut kesakitan di wajah,Alin.
Namun Alin, ngotot ingin persalinan normal. Setelah berunding akhirnya pasangan itu memutuskan untuk menjalani persalinan normal dengan catatan jika keadaan tidak mungkinkan maka Alin harus mau Cesar.
Pada kesempatan itu, Riko diperbolehkan masuk dan mendampingi Alin. Setelah beberapa lama berjuang di antara rasa sakit, cemas , dan kepasrahan diri menghadapi maut yang bisa saja menjemput, Alin dapat bernafas lega.
" ooweeeooowee..! sebuah tangisan keras menyambutk kelahiran bayi pasangan Riko dan Alin. Air mata bahagia tak terasa mengalir dari kelopak mata Riko. Dia kini benar-benar telah menjadi seorang ayah.
"Selamat, Pak Riko. Putra anda sehat dan sempurna! " kata bidan seraya mengerahkan bayi laki-laki yang sudah terbungkus rapi oleh selimut hangat ke dalam pelukan Riko.
Riko tak dapat menahan haru. Kembali air matanya menetes karena bahagia. Dia bersyukur karena diberi kesempatan untuk menyaksikan kelahiran Sang Putra.
Di bawanya Sang putra mendekati ibunya.
" Ayo jagoan daddy, kita datangin mommy kamu, dulu! " Riko mengecup dahi dan pucuk kepala Alin.
" Terima kasih, sayang. Karena sudah mau menjadi istri dan melahirkan anakku. Aku adalah lelaki yang paling beruntung dan bahagia saat ini. " kata Riko sambil menyodorkan putra mereka pada Sang istri.
Attalarik Hendrawan adalah nama yang diberikan Riko untuk Sang buah hati.. Sebuah nama yang di dalamnya sarat akan doa semoga kelak Sang buah hati tumbuh menjadi lelaki yang tangguh dan kuat dalam menghadapi kerasnya zaman tantangan kehidupan. Amin, doanya