
Salma membawa Raisa berkeliling di sekitar komplek perumahan. Bayi kecilnya itu seolah - oleh mengerti kalau dia dan mommy-nya sedang jalan-jalan, maka dia tak henti-hentinya tertawa senang.
Raisa, .. tuh ada balon, yuk kita beli! " Salma lalu membawa Raisa mendekati penjual balon yang ada berjualan dipinggir taman.
" Balonnya berapa, bang? "
" Yang mana, neng? "
" Yang bentuk Sponge Bob, mang! "
" Oh, yang itu Dua puluh lima ribu." kata si mamang penjual balon.
" Baik, saya ambil satu yang berbentuk Sponge Bob!" Mamang penjual balon itu memberikan balon berbentuk Sponge Bob kepada Salma.
" Sebentar , Mang saya ambilkan dulu uangnya, ya! "
Salma membawa balon itu ke kereta Raisa dan mengikatnya di depan kereta tersebut.
" Bagaimana Raisa, baguskan balonnya.!" tanya Salma. Mata Raisa membulat lebar ketika melihat balon berbentuk Sponge Bob yang berwarna kuning mencolok ada di depannya. Menyangka jika itu adalah makanan, mulutnya tak berhenti bergerak.
Salma mengeluarkan pecahan lima puluh ribuan dari dompetnya dan menyodorkan ke mamang penjual balon, namun ternyata seseorang sudah membayar harga balon itu terlebih dahulu.
" Sudah dibayar, neng." kata si mamang sambil senyum - senyum menatap Salma.
" Koq sudah dibayar, siapa yang bayar neng?
" Itu sama mas yang di sana!" tunjuk mamang penjual balon pada seorang lelaki yang duduk sambil memegang balon yang sama dengan milik Raisa. Dia duduk membelakangi jalan ke arah taman.
Salma mendekati lelaki itu.
" permisi, mas yang tadi membayarkan balon anak saya, ya? " tanya Salma. Lelaki itu menoleh.
"Dewa!! " Salma kaget. Ternyata lelaki itu adalah Dewa.
" Ya Allah, Dewa. Astaga, aku kirain siapa! kamu apa kabar?" Salma mengulurkan tangan ke arah Dewa.
Dewa menyambut uluran tangan Salma sambil cengar-cengir.
" Aku, baik. kamu? " Lelaki itu balik bertanya.
" Alhamdulillah, aku juga baik - baik saja. Lama nggak ketemu. Kamu masih kerja di tempat yang dulu.? "
" Tidak, begitu kamu resign, aku juga keluar dari tempat itu. " kata Dewa.
" Terus kamu sekarang kerja di mana?" tanya Salma lagi.
" Aku nggak kerja. Aku buka usaha kecil- kecilan. Jadi.. yah begini ini. Seperti yang kamu lihat."
" Ini anak kamu? " tanya Dewa saat pandangan matanya tertuju pada Raisa.
" Iya, ini Raisa, anak aku." Salma memperkenalkan Raisa pada Dewa.
" hmm, cantik seperti ibunya." pipi Salma bersemu merah mendengar pujian Dewa.
" Ah, kamu bisa aja, Dewa. Untung aku orangnya coba wanita lain. Sudah lumer hati adek, bang! " canda Salma.
" Kenapa? aku serius. Anak kamu sama cantiknya dengan kamu. hanya saja dia mewarisi mata ayahnya." Memang benar Raisa mewarisi mata Rayden. Mata hijau toska yang cantik.
" Omong-omong. Ini ganti uang kamu tadi. " Salma menyodorkan uang kertas pecahan lima puluh ribu ke Dewa.
" Sudah, nggak usah. Aku membelikannya untuk putrimu. Anggap saja hadiah untuk keponakan." kata Dewa.
" Ayahhh! " seorang bocah laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari menubruk kaki Dewa.
" Azka! Hati-hati! " kata Dewa pada bocah laki-laki itu dengan lembut.
Salma menatap bocah laki-laki itu dengan takjub.
" Kamu sudah nikah, WA? " tanyanya. Salma kaget dan shock ketika mengetahui kenyataan bahwa ternyata Dewa sudah lama menikah dan sekarang bahkan anaknya sudah sebesar ini.
" Eh.. itu. Ya, sudah! Ini Azka anak aku." jawab Dewa salah tingkah.
" Azka, kenalin ini tante Salma. Tante Salma ini teman papa. Ayo... salim dulu sama tante Salma!" Bocah itu mendekati Salma.
" Tante... tante pacar papa Dewa, ya? "
Muka Dewa sontak memerah mendengar pertanyaan anaknya Pada Salma..
" Azka, ..! " bentak Dewa.
" Salma, maafkan Azka. Mulut anak itu nggak ada remnya. Sembarang aja dia ucap. Apa yang dia pikirkan, langsung dia ucapkan. " Dewa benar-benar merasa tak enak dengan Salma.
" Nggak papa, santai aja kale" ujar Salma sambil tertawa pelan. Senyumnya lepas menebar Madu hingga Dewa lupa caranya bernafas.
" Masya Allah, cantik banget! " serunya dalam hati. Sadar Dewa, bini orang, katanya mengingatkan dalam hati.
Raisa menangis mungkin karena haus, sehingga Salma dengan cepat memberikan botol dot yang memang sudah dia siapkan.
Azka menoleh ke arah Raisa. Bocah kecil itu baru menyadari kehadiran Raisa.
" Iya Azka, ini Raisa. Dedek bayinya tante Salma.! jawab Dewa.
Azka menghampiri Raisa dan bermain - main dengannya.
" Ciluk baaa...! dede Raisa.. ciluk baa!! " serunya membuat Raisa tertawa - tawa senang. Rupanya Raisa senang bermain dengan Azka hingga tak hentinya putri Salma itu tertawa oleh candaan Azka.
Hari sudah siang, Salma berpamitan pada Dewa. Dia ingin pulang dan memasak makanan untuk suaminya.
" Aku pulang dulu, Wa. Aku belum masak buat suami aku. " kata Salma.
" Oh, iya. Aku juga ini mau balik lagi ke kantor." kata Dewa. Hmm, Salma. Andai saja aku suamimu, pasti aku akan memakan masakanmu setiap hari, bathin Dewa.
Salma berjalan lurus menuju ke arah rumahnya, sedangkan Dewa masih menatap kepergian Salma dengan pandangan yang sulit diartikan.
" Akh,... Salma, mengapa aku tak bisa menghilangkan perasaan cintaku padamu!" kesal hati Dewa karena dia masih ingin menatap wajah Salma, tapi tak bisa.
" papa, ayo kita pulang!" tarikan tangan Azka membuat Dewa mau tak mau mengikuti langkah bocah kecil itu menuju ke arah mobil mereka yang terparkir tak jauh dari sana.
Sementara itu, di kantor Rayden baru saja selesai meeting dengan mr. Jie. Pengusaha muda asal Korea itu merasa puas dengan kerja sama yang mereka lakukan.
Rayden meraih handphonenya. Benda tipis segi empat itu berdering. Sebuah panggilan video masuk bertuliskan " My Bee" terpampang di sana. Segera Rayden mengangkat panggilan itu.
" Hallo....! " seraut wajah cantik istrinya sedang tersenyum menatapnya di layar handphone.
" Hello juga, bee. Muaachh... miss you! " kata Rayden seraya memberikan ciuman kepada istrinya membuat wanita itu tersipu malu.
" Aku mau ke kantor. Aku sudah buatin kamu makan siang. Tapi aku telpon dulu soalnya aku takut kamu.. sedang sibuk!" kata Salma melalui handphone.
" Nggak, meetingnya sudah selesai. Aku suruh supir aku buat jemput kamu dan Raisa, ya bee!" kata Rayden. Salma mengangguk mengiyakan.
" Oke, kamu tunggu sebentar, ya bee! assalammualaikum." kata Rayden sebelum menutup handphonenya.
Tak lama kemudian, supir pribadi keluarga mereka datang menjemput Salma dan Raisa.
Salma dan Raisa sampai di depan kantor Rayden. Salma turun sambil menggendong Raisa, sedangkan rantang makanan untuk Rayden di bawa oleh supir.
Saat hendak memasuki lift perusahaan, Salma berpapasan dengan seorang lelaki berwajah Asia yang kebetulan juga hendak masuk di lift yang sama.
" Silahkan nyonya duluan!" lelaki berwajah asia itu mempersilahkan Salma untuk memasuki lift terlebih dahulu.
" Terima kasih, tuan! " kata Salma dengan lembut. Lelaki berwajah asia itu tampak tertegun sejenak.
" Cantik sekali wanita ini." katanya dalam hati sambil menatap wajah Salma yang sedang menggendong bayi Raisa.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan Salma berjalan menuju ruangan Rayden. Tampak Bisma membungkuk hormat ketika wanita itu tiba di sana.
" Bos kamu ada di dalam, ya Bisma? "
" Ada, Nyonya Salma. Silahkan masuk. Sudah di tunggu dari tadi." katanya.
Salma masuk ke ruangan Rayden.
" Assalamualaikum, Hon! " Salma memberi salam.
" Waalaikum salam, bee! " Rayden berdiri dan menyongsong sang istri.
Di peluknya tubuh mungil sang Istri dan mencium lembut bayi Raisa.
" Muach, daddy kangen sayang." katanya.
Tak lama supir pribadi mereka datang membawakan rantang makan dari Salma.
" Kamu makan dulu, hon. Aku sudah masak makanan kesukaan kamu." kata Salma.
" kamu nggak makan, bee? ayo.. sini. makan sama aku! " ajak Rayden. Dia menepuk sofa di sebelahnya.
Salma duduk di samping suaminya. Rayden lalu membuka rantang makanan dan mengambil makanan untuk dirinya dan juga Salma. Di menyuapkan makanan ke mulut Salma.
" Bee, buka mulutmu! " Salma membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rayden. Kemudian Rayden juga menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Begitu seterusnya hingga makanan itu habis. Hati Salma berbunga - bunga mendapatkan perlakuan manis dari Rayden.
"Makasih, ya sayang. Masakan kamu enak banget. Aku sampai kenyang sekali." kata Rayden.
" Sama-sama, sayang. Aku juga senang kamu suka makan masakan aku."
Rayden lalu bergerak menutup pintu kantor dan menguncinya dari dalam.
" Kok di kunci, sayang?" tanya Salma heran.
" Hmm, ini jam istirahat. Aku mau bobo siang sama istri aku." tatapan mata Rayden nakal menggoda. Salma faham akan maksud dari tatapan sang suami. Kalau sudah begini, dia hanya bisa pasrah saat sang suami membimbingnya memasuki kamar pribadinya di kantor itu.
Gairah Rayden sudah di ambang batas.
Rayden sudah tak bisa menahan diri lagi. Jadilah siang hari yang panas itu menjadi semakin panas dengan aktivitas mereka berdua di kantor Rayden. Rayden menerkam habis istri mungilnya itu dengan permainan panasnya. Hingga berkali-kali istrinya itu mencapai pelepasannya. Aktivitas itu baru berakhir setelah Rayden memacu cepat di atas tubuh istrinya dan kemudian mengerang penuh kenikmatan ketika cairan putih surgawinya menyembur kencang di dalam bagian inti Salma.
" Nyonya Chandler.. I love you so much! " bisiknya lembut di telinga Salma.