Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 29 Leave.....



Salma memandangi handphone pemberian Rayden yang kini tergeletak di hadapannya dengan lesu. Perlahan tangannya mencabut SIM card yang baru beberapa hari lalu terpasang. Pandangannya lurus menyapu hiruk pikuk suasana di bandara yang kini mulai di padati penumpang yang lalu lalang.


Dia sengaja tidak mengaktifkan nomornya yang lama dan memilih untuk mengganti dengan nomor baru agar Rayden tidak bisa menghubungi atau melacak keberadaannya.


"Assalamu'alaikum, ibu, " Salma mulai menelpon Ibunya.


"...... "


" Iya, Bu! Salma sudah sampai di Tarakan. Ini lagi di bandara. Masih nunggu jemputan," kata Salma sambil matanya celingukan mencari- cari mobil jemputan dari perusahaan


" ....... "


Tak lama kemudian, sebuah mobil bertuliskan logo perusahaan tempatnya bekerja yang baru sudah tiba.


" Iya, Bu. Oh.. itu Bu, mobil jemputan Salma sudah datang. Udah dulu ya bu, Assalamu'alaikum. " Salma mengakhiri panggilannya dan berjalan mendekati mobil jemputannya. Sang sopir yang melihat kedatangan Salma buru-buru turun dan mengambil barang bawaan Salma dan memasukkannya ke bagasi.


Salma sudah memutuskan untuk menerima pekerjaan baru yang di tawarkan kepadanya beberapa waktu yang lalu. Dia mengajukan lamaran kerja melalui online dan kebetulan sekali dia lolos seleksi dan langsung di terima bekerja lantaran dia mengatakan bersedia ditempatkan di luar daerah.


Di sini lah dia sekarang, di kota Tarakan. Jauh dari keluarga dan juga orang - orang yang dia kenal. Dia memutuskan menerima pekerjaan itu tanpa sepengetahuan Rayden. Dia ingin belajar untuk melupakan Rayden karena dia tahu dia tak mungkin bersaing dengan Anastasia. Gadis yang memiliki segala-galanya. Ditambah dengan peristiwa kemarin, semakin memantapkan hatinya agar pergi menjauh dari Rayden.


Hanya ibu dan adik-adiknya saja yang tahu serta beberapa sahabat. Ibunya hanya bisa pasrah saja dan menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan Salma.


Mobil yang ditumpangi Salma sudah sampai di depan mess karyawan. Salma turun dan berjalan membawa kopernya memasuki teras. Dia bingung harus bertanya pada siapa karena dia tak tahu apapun juga.


Tak lama kemudian, dari dalam muncul seorang laki-laki yang kira-kira sebaya dengan dia.


" Assalamu'alaikum, permisi Mas, numpang tanya," Salma memberanikan diri bertanya kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu mengangkat alisnya melihat kehadiran Salma.


" Kiriman, ya? "


Salma tersenyum ke arah laki-laki itu " Iya , Mas. Nama saya Salma. Saya kiriman dari Balikpapan." Salma mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan diri kepada laki-laki itu.


" Hmm, Salma. Nama yang indah, aku Dimas." Dimas menerima uluran tangan Salma.


" Oh Iya, tadi Pak Hendro sudah bilang sih, kalau ada karyawan kiriman yang akan datang dari Balikpapan. Tapi aku tak tahu kalau ternyata karyawan barunya cewek, cantik lagi " Salma hanya tersenyum saja mendengar pujian Dimas. " Eh, ngomong-ngomong kamar aku dimana, ya? " tanya Salma kemudian.


"Oh itu, iya! kamar kamu paling ujung, bekas kamar yang ditempati oleh Dinda kemarin!" Dimas menunjukkan kamar Salma yang letaknya paling ujung mess itu.


"Oke, kalau gitu aku ke sana dulu," Salma lalu berjongkok hendak mengambil tas dan kopernya.


" Ehh.. biar aku saja yang bawa tas dan koper kamu " Dimas menolong Salma membawa tas dan kopernya ke dalam. " Makasih, Mas!" kata Salma sambil mengikuti Dimas menuju ke kamar yang akan dia tempati.


Sementara itu, di tempat lain. Seorang lelaki terlihat gusar karena sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi nomor yang sama namun sama sekali tak ada jawaban.


" Kemana kamu, Salma? " Rayden mengacak rambutnya gusar.


Tadi pagi dia menerima surat pengunduran diri Salma di meja kerjanya. Dia bertanya kepada karyawan lainnya akan tetapi mereka mengatakan bahwa Salma sudah pulang tak lama setelah mengantarkan surat pengunduran dirinya.


Rayden yang kesal mencoba menghubungi Salma, namun dia semakin kesal karena nomor Salma sudah tak dapat di hubungi.


Dia bertanya dalam hati, apakah pengunduran diri Salma ada hubungannya dengan peristiwa beberapa hari yang lalu.


Rayden pikir Salma pasti ngambek dan salah faham dengan peristiwa beberapa hari yang lalu. Nyatanya memang Salma salah faham dan mengira Rayden dan Anastasia sedang berpelukan sebagai sepasang kekasih.


Sebenarnya Rayden ingin menjelaskannya langsung ke Salma, namun gadis itu selalu menghindar. Selain itu, ada beberapa hal yang harus Rayden lakukan sehingga dia tidak bisa langsung menemui Salma untuk menjelaskan kesalahan pahaman tersebut.


Rayden merasa bingung dan pusing. Tak tahu harus bagaimana lagi. Dia sudah mendatangi ibunya Salma dan dari beliau Rayden tahu bahwa Salma memutuskan menerima pekerjaan baru di luar daerah, yaitu di Tarakan. Namun ibunya Salma tak faham mengapa nomor Salma tak dapat dihubungi.


'Mengapa kamu melakukan semua ini, Bee? ' Rayden terus bertanya dalam hati. Mengapa Salma pergi tanpa memberitahu?


Jika hanya karena peristiwa beberapa hari yang lalu, mengapa Salma sampai berpikir sejauh itu dan memilih meninggalkan dia. Dia seharusnya bertanya kepada Rayden.


Pasti ada yang tidak beres dengan semua itu. Dia harus secepatnya mencari akar permasalahan yang mengancam hubungan dia dan Salma serta segera menemukan keberadaan gadis itu.


...-----...


Alin melangkah lebar menyusuri koridor pertokoan di Mall Balikpapan Plaza. Tujuannya adalah salah satu restoran cepat saji di sana yang membuka lowongan pekerjaan untuk pramusaji.


Ups! Hampir saja dia menabrak seseorang.


" Maaf!! " Alin minta maaf pada orang yang di tabraknya, sambil kembali melangkah dengan terburu-buru. Dia sudah hampir terlambat untuk wawancara kerja.


"Hei, mbak.! Dompetnya terjatuh! " teriak pemuda yang tadi di tabrak Alin. Namun sepertinya Alin tidak mendengar. Dia terus saja melangkah.


Suasana di restoran itu cukup ramai, baik oleh pengunjung dan juga orang yang ingin melamar pekerjaan.


Baru saja Alin tiba di restoran itu, dia mendengar namanya di panggil. Alin segera melangkah masuk ke ruang yang di tunjukkan oleh karyawan restoran di sana.


Di dalam sana, duduk seorang lelaki memakai kemeja putih dengan lengan yang di gulung ke atas. Tampaknya dia yang akan mewawancarai Alin dan juga pelamar yang lain.


Lelaki itu mempersilahkan Alin duduk di hadapannya. Dia mulai menanyakan pertanyaan ringan seperti nama dan juga data pribadi Alin yang lain.


Setelah beberapa saat, akhirnya wawancara itu selesai. Alin menunggu dengan hati deg- degan hasil wawancara itu.


Dia sangat berharap agar dia bisa diterima bekerja di tempat itu. Alin ingin membantu kakaknya bekerja dan mendapatkan penghasilan yang bisa dia gunakan kelak untuk melanjutkan kuliahnya. Alin ingin mengikuti jejak Salma yang bisa kuliah dengan biaya sendiri.


Ternyata Alin di terima bekerja di restoran itu dan bisa langsung bekerja hari itu juga. Alin merasa senang sekali. Dia bekerja dengan giat dan penuh semangat hingga tanpa terasa sudah waktunya pulang.


Alin membersihkan diri dan mengganti seragam restoran dengan baju biasa. Lalu bersiap untuk pulang.


Dia merogoh tasnya bermaksud ingin mencari dompetnya. Hah! Kemana dompetnya? Alin panik. Dompetnya tak ada. Dia sudah membongkar semua isi tasnya, tetapi tetap tak menemukan dompetnya. Perasaan dia tadi membawa dompetnya, tapi sekarang dompetnya sudah tak ada.


" Kamu mencari ini..? "


Alin menoleh ke belakang. Lelaki yang tadi mewawancarai dia berdiri di belakangnya dengan memegang dompetnya.


...kok bisa???...


***Jangan lupa like dan dukungannya kepada pembaca setia


Agar novel aku bisa up date terus. Mina mohon maaf jika masih banyak kekurangan, karena baru belajar. Sekali lagi terimakasih atas dukungan nya. 🙏🙏🙏