Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 54 Bertemu Anjani



Dewa menghela nafas panjang, kesal karena dari tadi dia kehilangan fokus dan konsentrasinya terhadap semua pekerjaan. Apa yang dia lakukan hari ini banyak sekali salahnya, bahkan Rendy sekertarisnya saja menegurnya karena hampir saja dia salah membubuhkan tanda tangan pada perjanjian kontrak kerja sama dengan klien.


Karena kesal, Dewa akhirnya memacu kendaraannya menyusuri jalanan tak ada arah tujuan dan tak tahu entah harus kemana.


Cittttt....... bunyi roda kendaraannya beradu dengan aspal jalanan saat dengan secara tiba-tiba dia mengerem laju kendaraannya.


Ups! nyaris saja, keluhanya dalam hati. Matanya menatap nanar pada seorang gadis yang berdiri di depan mobilnya sambil menungkup wajahnya dengan kedua tangan.


Bergegas Dewa membuka pintu mobil dan bergerak turun mendekati gadis yang sedang berdiri dengan tubuh gemetar karena kaget dan ketakutan.


" Kamu tidak apa- apa? " Dewa bertanya khawatir gadis itu terluka karena terbentur mobilnya.


Gadis itu tak menjawab pertanyaan Dewa, tubuhnya terguncang- guncang karena shock, hingga dia kesulitan untuk bernafas.


Bergegas Dewa berlari ke mobilnya mengambil air mineral dan memberikannya pada gadis itu.


" Minumlah, ini akan sedikit membantu untuk menenangkanmu! " Gadis itu menerima air mineral yang Dewa sodorkan dan meminum isinya hingga tandas tak bersisa.


" Pelan - pelan! nanti tersedak! Kata Dewa pada gadis itu. Setelah minum air mineral pemberian Dewa, gadis itu tampak mulai agak tenang.


" Kamu nggak papa, kan. Katakan padaku apa ada yang terluka atau ada yang sakit, aku akan mengantarmu ke rumah sakit !" Namun gadis itu tetap diam. Tak menjawab pertanyaan Dewa


" Kenapa diam saja... jawab! Atau apa kamu bisu atau gagu? " Dewa mulai kesal karena gadis itu hanya diam memandangi Dewa dengan tatapan aneh.


Kemudian pandangannya berpendar melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba..


" Tolong... cepat bawa aku pergi dari tempat ini! " kata gadis itu dengan paniknya. Dari kejauhan dia melihat beberapa orang pengejarnya. Bergegas dia masuk dan bersembunyi di jok belakang mobil Dewa.


Dewa, walaupun lelaki itu masih belum faham dengan apa yang baru saja terjadi tetapi dia tetap melangkah kembali masuk ke dalam mobil.


" Cepat mas. Aku mohon bawa aku pergi segera dari tempat ini! " mohon gadis itu dengan muka pucat ketakutan.


" I.. iya.. ta.. tapi.. kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Dewa tak mengerti.


' Maaf, aku tak ada waktu untuk bercerita saat ini. Aku harus pergi sekarang juga, jika mas tidak mau menolongku tak apa apa. ..! " baru saja gadis itu akan beranjak keluar dari mobil Dewa, Orang-orang yang tadi sudah mengejarnya sudah berada di dekat mobil Dewa.


Urung untuk beranjak keluar, alih-alih gadis itu kembali bersembunyi di belakang Dewa.


" Mas, lihat gadis pake baju putih garis - garis yang barusan lewat di sini, nggak?" tanya seorang dari mereka yang berperawakan kekar dan berwajah sangar. Tampaknya mereka adalah preman - preman yang sering berbuat kasar kepada orang lain.


" Liat sih tadi, tapi saya nggak lihat perginya kemana. Soalnya saya lagi nelpon, mas." kata Dewa.


"Gimana, to ? sudah ketemu, belum!?" tanya temannya yang lain kepada lelaki yang rupanya bernama Gito itu.


" Nggak ketemu, San. Kemana ya, kok cepet bener ngilangnya!"


Dewa kemudian mengemudikan mobilnya dengan perlahan meninggalkan tempat itu, sementara gadis yang berada di belakang tempat duduk Dewa sudah ketar ketir ketakutan. Dia berdoa semoga saja orang- orang yang mengejarnya segera pergi dari tempat itu.


Dewa lalu membawa mobilnya ke arah pantai. Setelah tiba di pantai, Dewa lalu menepikan mobilnya.


" Turun! " perintahnya pada gadis itu.


Gadis itu turun perlahan mengikuti perintah Dewa.


" Kita sudah berada jauh dari mereka. Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi? mengapa orang - orang itu mengejarmu? " tatapan Dewa tajam menatap ke arah gadis itu.


Gadis itu hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Dewa. Dia hanya menangis kemudian berlalu pergi dari hadapan Dewa.


" Oh, ****! " rutuk Dewa.


" Hey, tunggu! berhenti! berhenti kataku! " Namun gadis itu tak menggubris perkataan Dewa, tetap saja berjalan menelusuri jalanan di sepanjang bibir pantai.


Kesal Dewa berlari mengejar langkah gadis itu dan setelah dekat di tariknya lengan gadis itu kuat hingga tak ayal tubuh gadis itu jatuh dalam pelukannya.


Jantung Dewa berdebar - debar lebih cepat. Masalahnya jarak mereka yang begitu dekat hingga Dewa dapat merasakan hembusan nafas gadis itu wajahnya.


" Tolong, lepaskan aku.! biarkan aku pergi." lirih gadis itu berkata pada Dewa.


Dewa yang tersadar buru-buru melepaskan pegangan tangannya pada gadis itu.


" Tak apa - apa. Aku mengerti. Terima kasih sudah menolongku dari kejaran orang - orang itu." Gadis itu kembali hendak beranjak pergi, tapi tangan Dewa mencegahnya.


" Jangan pergi! ikutlah bersamaku. Aku akan melindungimu dari kejaran orang-orang tadi." kata Dewa.


Gadis itu menggeleng lemah.


" Tidak, Terima kasih. Tapi aku tak ingin merepotkan dan menjadi bebanmu.!"


" Tidak, aku tidak merasa repot atau terbebani. Percayalah... aku hanya ingin menolongmu."


Sejenak gadis itu terdiam. Ada kebimbangan di wajahnya, apakah dia memilih mempercayai lelaki di hadapannya ini dan mengikutinya, atau dia kembali pergi mengikuti langkah kakinya.


" Mengapa, apakah kamu tidak mempercayaiku? jika aku ingin mencelakaimu, sudah kulakukan dari tadi sewaktu mereka bertanya padaku tentang dirimu."


" hm, baiklah. Tapi aku tak ingin tinggal dengan gratis di rumahmu. Beri saja aku pekerjaan, sehingga aku tak merasa berhutang budi padamu." kata gadis itu. Dewa menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung, mau kerja apa gadis itu di rumahnya. Lalu dia dapat ide.


" Baiklah, aku punya seorang anak laki-laki berumur kurang lebih tiga tahun. Selama ini aku menitipkannya ke tempat penitipan anak jika aku sedang bekerja. Jika kamu mau, kamu bisa bekerja padaku sebagai pengasuh anakku. Bagaimana, apakah kamu mau? " tanya Dewa. Wajah gadis itu berbinar, dia mengangguk menyetujui tawaran Dewa.


" Oke, kalau begitu kita sudah deal. Dan sekarang Ayo kita pulang!" ajak Dewa seraya menarik tangan gadis itu.


" Anjani, namaku Anjani. Kamu boleh memanggilku Jani." kata gadis itu.


Sejenak Dewa tertegun mendengar gadis itu memperkenalkan dirinya.


" Hm, nama yang indah. Namaku Sadewa. Kamu bisa memanggilku Dewa."


Mereka lalu berjalan beriringan menuju mobil Dewa. Senja berlalu dengan cepat menyapa malam yang datang merayapi waktu. Meninggalkan jejak - jejak cerita kehidupan pada garis tangan anak Manusia.


Sesampainya di rumahnya, Dewa lalu menyuruh gadis itu untuk membersihkan diri.


" Ini rumahku, kamu boleh menempati kamar tamu yang letaknya di sana! " tunjuk Dewa pada salah satu kamar yang letaknya paling depan.


" Ini ada baju ganti, sekarang kamu bisa membersihkan dirimu. " Dengan langkah ragu, Anjani berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh Dewa.


Selang beberapa saat gadis itu sudah selesai membersihkan dirinya. Wajahnya tampak segar, cantik alami dan berseri. Dewa sampai tertegun melihatnya.


" Cantik juga dia, walaupun nggak dandan wajahnya tetap terlihat cantik. Malah sangat cantik." puji Dewa dalam hati.


" Maaf, katanya kamu punya anak. Di mana anakmu? " tanya Anjani.


" Oh, iya. Aku hampir lupa. Anakku bersama dengan ibuku. Tadi aku menelpon ibuku untuk menjemput Azka di sekolah, karena aku banyak kerjaan di kantor." kata Dewa.


Anjani manggut-manggut mendengar jawaban Dewa.


" Terus, istri kamu mana? dari tadi aku tak melihatnya.? " Dewa tertawa mendengar pertanyaan Anjani.


" Hahahaha, Aku tak punya istri, jani. Aku masih single. Kamu boleh tidak percaya, tapi aku belum pernah menikah." Anjani menatap Dewa dengan heran dan rasa tak percaya.


" Jadi, jika kamu belum pernah menikah, terus Azka anak siapa?" Anjani makin penasaran dengan Dewa.


" Azka itu anak adopsi aku. Aku mengadopsi Azka dari panti asuhan karena aku kasihan dengan keadaan anak itu saat masih bayi. Ibunya meninggalkan Azka di panti saat baru saja dilahirkan. Aku yang pertama kali menemukannya. Aku langsung jatuh cinta melihat bayi mungil merah itu sehingga aku memutuskan untuk mengadopsinya. Kebetulan ibuku menyetujuinya. Hingga sekarang, akulah yang mengurus Azka seorang diri seperti anakku sendiri." kata Dewa mengakhiri ceritanya.


Anjani terharu mendengar cerita Dewa. Tak percaya bahwa hari gini masih ada orang yang mau peduli pada nasib orang lain.


Tiba-tiba, dia teringat ibunya yang dia tinggalkan di kampung. Anjani menghela nafas panjang. Entah mengapa hatinya kembali sakit. Bayangan demi bayangan kepahitan hidupnya kembali tergambar nyata dalam lukisan memorinya, membuat bahu Anjani berguncang hebat oleh tangis.


" Hey, mengapa kamu menangis Anjani. Ayolah, .... katakan apakah perkataan aku telah menyaktimu? " kata Dewa.


" Tidak, aku hanya merindukan ibuku ! " kata Azmi.


" apakah ibumu masih ada? tanya Dewa.


" iya , ibuku masih hidup, tapi aku tak bisa menemuinya saat ini." kata Anjani sedih.


Dewa menggenggam tangan Anjani erat mencoba memberi kekuatan pada gadis itu.