
Hari masih pagi ketika Salma bangun terbangun oleh tangisan Raisa. Di lihatnya Rayden sedang sibuk mengganti popok Raisa yang basah, lalu memandikannya dan mendandani Raisa.
Setelah selesai, lelaki itu kemudian menggendong baby yang masih merah itu dan menyerahkannya pada Sang Mommy.
" hmm, Raisa sayang. Tuh, mommy kamu sudah bangun ! sama mommy dulu, yah. Daddy mau mandi."
Salma mengambil bayinya ke dalam dekapannya.
" Kenapa nggak bangunin aku, hon? " protes Salma.
" Aku nggak tega bangunin kamu, bee. kamu nyenyak banget tidurnya. Pasti semalam begadang lagi." Salma menganggukkan kepalanya.
Memang semalam dia baru tidur pukul 04.00 dini hari, karena baby Raisa demam dan rewel selepas imunisasi.
" Maafkan aku, aku ketiduran, bee." Kata Rayden yang merasa bersalah karena membiarkan Salma begadang mengurus putri mereka, sedang dia tertidur pulas.
" Nggak apa - apa, hon. Aku tahu kerjaan kamu di kantor banyak. Aku yang seharusnya minta maaf. Karena kamu juga harus repot bantuin aku semalam."
Rayden memang semalam juga membantu Salma menenangkan putri mereka yang menangis karena demam. Namun, Salma menyuruhnya untuk kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda dan mengambil alih menjaga Raisa.
Rayden kemudian kembali mengerjakan pekerjaan dan tenggelam dalam kesibukannya hingga dia melupakan Salma dan putrinya. Malah ujung - ujungnya dia tertidur di ruang kerjanya karena kelelahan.
" Kenapa harus minta maaf. Tugas kita berdua yang mengurus Raisa. jadi sudah sewajarnya, Kamu sedang sibuk, maka aku yang harus turun tangan membantu."
" Kamu jadi rapat pagi ini, hon! " tanya Salma. Diletakkannya Raisa ke dalam box. Lalu menyanggul sembarangan rambut panjangnya ke atas. Dia memang tak berhijab saat ini karena sedang berada di kamar bersama suaminya.
Rayden menatap tak berkedip ke arah istrinya. Hatinya berbunga-bunga.
" Salma, cantik banget." kata Rayden dalam hati.
" Kamu kenapa, hon.?" Salma bertanya karena heran dengan tatapan suaminya.
" Nggak papa. Cuma terpesona saja liat istri aku, cantik banget.! " Pipi Salma bersemu merah mendengar pujian dari Rayden.
" Kamu tuh, pagi - pagi sudah ngegombal aja. Istri bangun tidur di bilang cantik. Sudah.. buruan mandi.. Entar telat meetingnya!" kata Salma jutek.
Rayden tidak langsung beranjak ke kamar mandi tapi mendekati istri dan bayi mereka.
" Raisa, putri daddy yang cantik. Nanti kalau sudah besar jangan seperti mommy kamu, galak dan jutek... Nanti nggak ada yang mau." mata Salma membola lebar karena mendengar ucapan suaminya.
" Bilang apa, hon.? "
" enggak, .. cuma bilang sama Raisa kalo mommy nya cantik tapi galak...!" setelah berucap demikian, Rayden langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi menghindari amukan Salma.
' Honeyyy! oke, fine. Tapi sekedar catatan. Wanita galak ini sudah laku. Dan asal kamu tau aja, bukan aku loh yang ngejar-ngejar!" kata Salma dengan berapi-api.. Dia gemas sekali di bilang galak dan jutek sama suaminya sendiri.
Rayden tertawa terbahak-bahak di kamar mandi mendengar omelan Salma. Hatinya berbunga-bunga karena sudah berhasil mengoda Sang istri.
Pagi ini, Rayden sudah ada janji untuk bertemu dengan Mr. Jie Won. Mr. Jie Won merupakan salah satu investor dari Korea.Mr. Jie, demikian panggilannya, adalah seorang pekerjaan keras. Di usianya yang masih terbilang muda yaitu 29 tahun, dia sudah masuk dalam jajaran pengusaha muda yang sukses di Asia.
Untuk itulah, Rayden merasa senang sekali menjalin kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh Mr. Jie.
Rencananya, mereka akan mengadakan pertemuan untuk membahas masalah kerja sama dan juga penempatan beberapa tenaga profesional untuk beberapa proyek di Indonesia.
" Bisma, apa lo sudah cek posisi Mr. jie sekarang!"
" Beres, bos. Sebentar lagi kayaknya Mr. Jie sudah sampai di bandara Soetta."
" Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang. Mumpung pagi, jalanan belum terlalu ramai. Jadi, jika bisa sampai dengan cepat ke Bandara." kata Rayden.
" Baik, bos. Saya mau ambil berkas - berkas dulu."
" Oke, cepatlah. Saya tunggu di mobil." kata Rayden seraya berjalan ke luar ruangan.
Dia akan menunggu Bisma, sekretarisnya itu di mobil sambil menelpon Salma. Dia rindu dengan istrinya itu. Padahal baru saja beberapa jam dia pergi.
Telepon genggam Salma berdering. sebuah panggilan bertuliskan " Honey" memanggil.
Salma mengangkat benda pipih berbentuk persegi panjang yang baru beberapa waktu lalu di belikan oleh suaminya.
Rayden membeli sebuah handphone keluaran terbaru untuk Salma pada saat usia kehamilan wanita itu memasuki trimester terakhir.
Hingga semuanya berakhir dengan Rayden yang shock mendapati Sang istri yang hanya punya hape jadul.
" Halo, hon. Ada apa. Kangen, ya? " tebak wanita cantik itu.
" Hm, iya. Koq, tau? Rayden senyum - senyum sendiri menanggapi tebakan istrinya.
" Soalnya apa lagi yang membuat kamu menelpon kalau tak ada hal yang penting selain kangen." jawabnya.
Rayden terkekeh mendengar jawaban Salma.
" Lagi ngapain, hon? " Salma balik bertanya.
" Lagi nunggu si Bisma. Kami mau pergi bersama untuk menjemput Mr. Jie di bandara. Kalo kamu lagi ngapain? "
" Lagi nyusuin Raisa."
" Vc, bee!"
Salma lalu mengubah panggil telepon menjadi panggilan video. Tak berapa lama tampaklah wajah tampan suaminya di layar handphone miliknya.
" Halo Raisa, sayang. Ini daddy.!" Rayden melambaikan tangannya.
Salma mendekatkan wajah Raisa ke Handphone. Bayi mungil itu hanya menatap wajah tampan Sang daddy di layar handphone. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya menyusu pada mommy nya.
Bisma sudah berada di depan mobil Rayden. Lelaki bergaya flamboyan itu tampaknya telah siap berangkat bersama Rayden.
"Bee, Bisma sudah datang. aku pergi dulu, ya. Muaachh !" pamit Rayden. Dia lalu menempelkan bibirnya ke handphone seolah - oleh sedang mencium Salma.
" Iya, Sayang. Hati - hati. Muach.! " balas Salma.
Rayden lalu menutup handphone dan kemudian bersama Bisma mereka pergi ke bandara untuk menjemput Mr. Jie.
Kedatangan Mr. Jie bertepatan dengan kedatangan Rayden dan Bisma di Bandara.
Mereka saling bersalaman dan berbagi kabar. Setelah itu, mereka bersama - sama mengantarkan Mr. Jie ke hotel yang sudah dipesankan untuknya.
Pertemuan itu kemudian di lanjutkan dengan jamuan makan di restoran yang bertempat di hotel yang sama dengan tempat Mr. Jie menginap.
Suasana terjalin akrab dan menyenangkan. Hingga akhirnya kemudian Rayden dan Bisma berpamitan untuk kembali ke kantor.
Sebelum pergi, mereka menjadwal ulang pertemuan mereka berikutnya untuk membahas kerja sama lebih lanjut.
Rayden kembali menelpon Salma ketika sudah berada di Kantor.
" Halo, aku sudah di kantor, bee!"
" Sayang, gimana pertemuannya dengan investor dari Korea itu?"
" Alhamdulillah, pertemuan dengan Mr. Jie berjalan lancar. Kami juga sudah menjadwal ulang pertemuan berikutnya." kata Rayden.
" Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya. " kata Salma.
" Bee, ke kantor, dong. Sekalian bawa Raisa. Aku kangen.! " rengek Rayden kemudian.
Salma tertawa mendengar rengekan Sang suami.
" Aku nggak bisa, hon. Nggak ada yang nganter. Mommy dan daddy ke luar tadi. Katanya ke rumah kak Prily."
" Ok. Kalau gitu aku akan pulang saja. Kamu mau di belikan apa? " tanya Rayden.
" Aku mau nasi padang saja."
" Oke, entar aku beliin nasi padang sekalian pulang, ya Bee. Assalamu'alaikum." Kata Rayden kemudian menutup telepon.
" Bisma. Gue pulang, dulu. Entar kalo ada apa - apa , lo bel gue aja.! " kata Rayden. Dia memang sudah biasa ber ' gue dan lo' pada Bisma. Karena Bisma sudah seperti saudara baginya. Sama seperti Revan, orang kepercayaannya.
" Oke, bos. Siap! "