Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 48 Komplikasi



Salma baru saja tiba di rumah sakit. Dia datang untuk menjenguk Alin, adiknya itu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Seluruh keluarga sudah berkumpul di sana. Salma yang diantar oleh Rayden tak dapat menutup rasa irinya melihat bayi Attar.


Tak berkedip matanya memandang bayi mungil milik Alin dan Riko itu.


" Aih, matanya mirip sekali dengan Riko. Sekali pandang, orang akan langsung tahu siapa ayah dari anak ini. Nggak ada minat dia, buat ngambil wajah cantik mommynya.."


" Hahahaha, kamu lucu sekali, Bee. Lihat, wajah Alin jadi cemberut mendengar ucapanmu. "kata Rayden sambil tertawa geli mendengar ucapan istrinya yang terlalu jujur. Sedangkan Alin, langsung melotot ke arah Sang kakak.


" Iya, nih mbak Salma. Jahat banget sama adiknya. masa bayi aku di bilang nggak mirip sama aku. Aku mommynya loh, mbak! " protes Alin dengan wajah yang sengaja di pasang galak.


" Ihhh, marah. tuh, lihat sendiri. Bayi kamu lebih mirip Riko, dia cuma ambil rambut kamu yang lurus kayaknya. Soalnya rambut Riko, kan rada berombak. "


Riko dan Rayden tertawa melihat pertengkaran dua kakak beradik ini. Senyum bahagia terpancar jelas dimata Riko yang kini sudah menyandang gelar daddy.


" Sudah, Bee. Gantian gendong bayi Attar. Itu eyang putri sama ibu juga ingin merasakan rasanya menggendong cucu." kata Rayden pada Salma yang masih betah terus menggendong bayi Attar.


Setengah hati dan cemberut, akhirnya Salma menyerahkan bayi mungil itu ke dalam dekapan sangat eyang putri, ibu kandung dari Riko.


" Duh, cucu eyang ganteng banget!" kata ibu Riko saat melihat wajah Sang cucu. Mata bulat bening milik bayi mungil itu memang sukses membuat semua orang jatuh cinta saat memandangnya.


" Duh, Attar, kecil aja sudah ganteng, gimana besar nanti, ya?" Ifa menimpali ucapan ibunya Riko. Dia memang gemas sekali dari tadi saat pertama kali masuk dan melihat wajah keponakannya.


Gadis remaja SMA itu merasa senang sekali karena keponakannya sekarang bertambah satu lagi. Setelah baby Adel, kini ada baby Attar. Sebentar lagi mbak Salma akan melahirkan. Jadi dalam waktu dekat, dia akan memperoleh dua keponakan.


Alin senyum - senyum sendiri saat membayangkan betapa ramainya kini hidupnya. Tidak seperti dulu, dia selalu kesepian karena dia anak bungsu dan sering kali harus ditinggal sendirian karena Sang ibu yang harus bekerja.


"Dengar, ya Attar. Onty Salma sebentar lagi akan punya dedek juga.. Entar kalau sudah besar, kamu harus jagain saudara kamu, ya! jangan biarin siapapun juga yang mengganggunya" kata Rayden pada bayi mungil itu.


Muka Asmi masih cemberut karena merasa masih belum puas menggendong bayi Attar. Ibu Ayuni mendekati Sang anak yang duduk di sebelah suaminya.


" Salma,.... Kamu harus rutin ya nak, untuk memeriksakan bayi dalam kandungan kamu itu biar tetap sehat! jangan lupa selalu jaga kesehatan dan jangan males makan." nasehat ibu Ayuni pada Sang anak. Dia mengelus kepala putri pertamanya itu dengan sayang.


" Iya, bun. Salma rajin makan koq sekarang. Ya kan, Hon," kata Salma sambil bergayut manja di lengan Rayden.


" Iya, bun. Dia sekarang memang rajin makannya, tapi makan cemilan saja. Sama sekali nggak bergizi. Kalau disuruh makan nasi atau makanan berat lainnya,


masih sedikit susah." kata Rayden sambil menoel hidung bangir Salma.


" Ihh, honey. Tapi kan sudah mau makan!" rajuknya manja kepada Sang suami. Mukanya cemberut karena di katakan makan makanan yang tidak bergizi.


" Iya, iya.. Istri aku sudah mau makan, kok." kata Rayden sambil memeluk Salma yang jadi ngambek.


Semua yang hadir di ruangan itu tertawa melihat tingkah lucu Salma yang masih saja suka ngambek walaupun sudah menjadi calon ibu.


Begitulah kebahagiaan keluarga Hendrawan karena kelahiran Sang pewaris tahta dari Riko Hendrawan. Riko menaruh harapan yang besar pada buah hatinya. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tak akan mengikuti jejak Sang Papa yang selalu menyakiti ibu dan dirinya. Baginya semua kenangan masa lalu yang pahit dapat menjadi pelajaran yang berguna bagi dirinya dan Alin istrinya, dalam membina rumah tangga yang sakinah dan mawadah. Baginya cukup Alin seorang pendamping hidupnya. Tak akan ada Alin kesatu, kedua atau ketiga. Dia akan selalu menjaga, mencintai dan menyayangi istrinya dan juga anak-anaknya kelak. Sampai akhir menutup mata.


Waktu berlalu dengan cepat. Kini kehamilan Salma sudah memasuki tahap trimester akhir. Kandungan Salma sudah menginjak usia sembilan bulan. Perutnya sudah semakin besar saja. Hingga kadang - kadang dia sedikit kesulitan saat berjalan. Dan akan semakin sulit jika harus jongkok.


Salma sudah tidak ngidam lagi, walaupun kadang rasa mual masih sering dia rasakan.


" Bee, ayo bangun, dong. Kita jalan- jalan pagi. Inikan hari Minggu, kata dokter Nisa jalan pagi bisa membantu ibu hamil yang akan melahirkan lebih mudah untuk menjalani proses persalinan nanti." Ajak Rayden pada istrinya yang masih saja bergelung selimut di tempat tidur.


" Aih,...aih.. aku masih ngantuk, hon. jalan paginya di tunda aja, ya.! rengeknya manja.


" nggak bisa, bee. Kamu jangan malas, gih. Sebentar lagi kamu akan lahiran. Please, bee. just listen to me." kata Rayden dengan raut tegas. Nyali Salma langsung ciut. Rayden kalau sudah pasang mode gini, maka keinginan dia sudah pasti tak bisa dibantah.


Rayden menghela nafas panjang. Saat


melihat raut tegang bercampur takut dimata Sang istri.Maafkan aku sayang, kata Rayden dalam hati. Tapi dia harus tegas pada istri manjanya ini. Semua juga demi kebaikan Sang istri.


Semua itu dia lakukan karena pada saat pemeriksaan rutin kemarin, kandungan Salma mengalami masalah. Buah hati mereka itu berada dalam posisi melintang, dan air ketubannya merembes keluar. Hal ini jika di biarkan akan mendatangkan masalah pada saat proses persalinan.


Dokter Nisa menyarankan agar ibu hamil yang mengalami hal itu mesti banyak jalan. Terutama jalan pagi. Agar posisi bayi nanti bisa berubah sesuai posisi yang seharusnya. Karena itulah, Rayden ngotot maksa Salma agar rajin berolahraga jalan pagi, semua agar Sang istri tidak mengalami masalah dalam proses persalinan.


Dia sangat takut jika Salma mengalami kendala saat melahirkan. Dia takut jika terjadi apa - apa dengan Salma sehingga nanti bakal dia sesali seumur hidup. Dia tak sanggup jika harus kehilangan Salma. Bahkan terlintas dipikiran Rayden saja tidak.


Salma sedang duduk berselonjor kaki di atas rumput taman yang terdapat disekitar rumahnya.


" Bee, kamu nggak papa?" tanya Rayden dengan wajah cemas. Bukan tanpa sebab dia demikian. Wajah istrinya itu terlihat sangat pucat dan lemah.


" aku tak tahu, tapi rasanya tubuh aku lemas banget dan perut aku sakit, hon! " jawab Salma sambil meringis memegangi perutnya yang sakit. Dia mencoba untuk berdiri dengan bertumpu pada tubuh Rayden sebagai pegangan.


Tenggorokan Rayden tercekat. Ada rasa menyesal karena tadi sudah memaksa istrinya itu untuk bangun dan jalan - jalan pagi. Jika dia tahu bakal menyebabkan Sang istri jadi menderita karena kesakitan, dia tak bakal memaksanya.


" Aduhhh, hon Kenapa lutut aku gemetar dan ini kenapa celana aku ada darahnya?" tanya Salma dengan wajah ketakutan menatap ke arah Rayden. Wajahnya semakin pucat.


Jantung Rayden berdegup kencang saat melihat ada noda darah di bagian belakang celana training yang dipakai Salma. Dengan panik dan tanpa bicara lagi dia segera menggendong tubuh Salma yang sudah gemetar, masuk ke dalam rumah.


" Mommy, daddy..Tolongin Salma! Dia berdarah, Mommy!! " teriakan Rayden menggema mengejutkan mommy dan daddy-nya yang sedang sarapan di teras belakang rumah mereka. Juga supir keluarga dan para pembantu di rumah mereka.


Serentak mereka Semua berhamburan mendatangi Rayden yang sedang menggendong Salma.


" Oh, Tuhan. Salma kenapa, Ray?" tanya mommy panik saat melihat keadaan Salma.


" Rayden juga tidak tahu, mom. Tadi habis jalan pagi... tau - tau Salma sudah begini, mom. Salma berdarah...! " wajah Rayden hampir menangis mirip anak kecil yang dirusakkan maimannya oleh temannya.


" Ayo, kita bawa ke rumah sakit sekarang juga! " kata Daddy.


Tak menunggu lama, Salma segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.