Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 63 Rumah Mungil Untuk Istriku



"Jani, bagaimana kalau kita menikah saja? " tanya Dewa sambil menggenggam tangan Jani.


" Menikah??!! " tanya wanita itu dengan heran. Apa dia tak salah dengar? tanya Jani dalam hati.


Dewa mengangguk membenarkan pertanyaan Jani.


" Tapi, kak. Sebaiknya kakak pikir- pikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Menikah dengan seseorang berarti kita mengikatkan diri pada sebuah komitmen untuk mau setia pada seseorang dan saling berbagi baik suka maupun duka. Juga mau menerima segala kekurangan dari pasangannya." kata Jani.


" Aku akan menerima segala kekuranganmu, Jani. Aku tak akan menuntut apa pun darimu. Aku hanya mau kamu bersedia menjadi istriku saja!" kata Dewa menjawab kata - kata Jani.


" Tapi aku mau menikah hanya sekali seumur hidupku, kak. Apakah jadinya pernikahan kita jika tidak di dasari oleh rasa cinta dan kasih. Paling nanti ujung-ujungnya bercerai juga." kata Jani lirih.


Dewa menggenggam tangan Jani. Mata lelaki tampan itu menatap tepat ke pupil mata Jani yang berwarna hitam.


" Aku juga ingin pernikahan ini sekali seumur hidupku. Walaupun diantara kita belum ada rasa cinta. Namun, aku yakin suatu saat kamu akan mampu menerima diriku seutuhnya. Dan demikian juga sebaiknya. Karena aku yakin, seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya diantara kita." kata Dewa yang berusaha menyakinkan Jani untuk mau menerima lamarannya.


Jani menunduk memandangi lantai dapur tempat dia berpijak. Ada kebimbangan yang merasuk di sana. Di satu sisi, dia ingin menerima tawaran itu namun di sisi lain dia ragu.


Dia ragu apakah lelaki itu mau menerima kisah latar belakang kehidupan keluarganya. Selama ini Jani tak pernah sekalipun mengungkit tentang asal usul keluarganya di depan lelaki itu karena dia tak ingin orang lain tahu apa yang telah menimpa dirinya dan ibunya yang kini seorang diri dia tinggalkan di kampung.


" Baiklah, aku tak akan memaksamu. Aku memberi kamu kesempatan untuk berpikir jernih dan menimbang kembali tawaranku untuk mengajakmu menikah. Aku tidak main - main dengan tawaranku. Karena aku sudah mempertimbangkannya sebelum aku mengucapkannya." kata Dewa.


Dia meraih bahu Anjani dan membawa wanita cantik itu kedalam dekapannya. Memeluknya dan memberikan rasa perlindungan dan kehangatan yang di butuhkan olehnya.


Anjani mendongakkan wajahnya untuk menahan tangis yang sebentar lagi akan meledak. Dia sangat terharu akan kasih tulus seorang Dewa pada dirinya.


" Menangislah Jani, menangislah. Tapi setelah ini jangan pernah lagi menangis saat berada di sisiku. Karena aku tak rela jika kamu menangis saat aku bahagia mendapatkan cintamu! Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu tersenyum dan akan selalu di sisimu untuk menjagamu dan Azka. " kata lelaki itu.


Jani mengangguk mendengar ucapan Dewa. Hatinya terasa hangat oleh ucapan tulus dari Dewa yang berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya.


...----...


Salma baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Hari ini Rayden akan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Dia sedang asyik menata meja makan hingga tak menyadari seseorang dengan langkah kaki perlahan-lahan berjalan mengendap di belakangnya.


Tangan kekar dan berotot milik suaminya sudah memeluk pinggang yang masih saja terlihat ramping walaupun sudah pernah melahirkan dengan posesif.


" Aku mencium bau yang lezat, hhm. Tapi ternyata ini lebih lezat dari bau yang tadi!" rayu Sang suami. Sebelah tangan Rayden bergerak menyusup ke balik baju kaos berlengan panjang milik Salma.


Satu remasan berhasil membuat tubuh Salma menggelinjang nikmat dan luruh bersandar di tubuh Sang Suami.


Rayden mendaratkan ciuman ke bibir mungil Sang istri yang menjadi candu terlezat baginya. ********** cukup lama baru kemudian melepasnya.


Saat akan mengulang kembali aktivitas mesumnya sebuah deheman keras membuatnya urung untuk melanjutkan aksinya.


Dia menoleh dengan wajah masam ke arah Sang daddy dan mommy yang berdiri di depan meja makan. Salma menunduk dengan wajah memerah menahan malu.


" Kalau mau minta jatah jangan disini, Ray. Sana noh.. di kamar! " kata Daddy Dave.


" Huh, Daddy dan mommy kayak nggak pernah muda aja! " sungutnya kesal.


" Sudah.. sudah! ayo sarapan. Entar keburu dingin, loh! " kata mommy menengahi Daddy dan anak tersebut.


Siang ini, Rayden menjemput Salma di rumah. Dengan mengendarai mobil pribadinya, dia mengajak Sang istri pergi ke suatu tempat.


" Kita mau kemana, Hon?" tanya Salma. Dia penasaran kemana suaminya akan membawanya pergi.


" Hmm, ada deh! Kamu tenang aja, bee. Sebentar lagi juga kita sampai."


Rayden lalu mengarahkan mobilnya memasuki sebuah kawasan perumahan elit di kawasan itu. Mobil Rayden berjalan pelan menyusuri jalan - jalan di blok perumahan elit tersebut. Sampai suatu ketika, mobil Rayden berhenti di depan sebuah rumah mungil bergaya minimalis yang tampaknya baru saja selesai di bangun.


Rumah itu sangat indah dan cocok sekali dengan selera Salma. Salma sampai berdecak kagum dengan keindahan rumah itu.


" Ayo, bee. Kita turun. Aku ingin menemui seseorang. " kata Rayden. Dia membukakan pintu mobil buat Salma.


Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan busana yang anggun keluar dari dalam rumah dan menyambut kedatangan Rayden dengan ramah.


Dia memeluk Salma dan menjabat tangan Rayden dengan hangat. Sungguh seorang wanita yang sangat menarik pikir Salma.


" Selamat datang, nyonya Chandler! " sapanya ramah.


" Bee, kenalkan dia Sarah. Dia manager pemasaran untuk PT. Griya Tawang tbk." Salma mengangguk memberi salam kepada wanita cantik yang bernama Sarah itu.


" Aku mengundang Sarah kemari untuk menyerahkan kunci rumah ini secara langsung untukmu. Aku membeli rumah ini atas nama kamu sebagai hadiah satu tahun pernikahan kita." kata Rayden.


Bibir Salma bergetar menahan haru. Rayden membelikan sebuah rumah untuk dirinya. Rayden memeluk Sang istri dengan senyum penuh kebahagiaan.


" Jangan menangis, bee. Aku tahu, kamu memiliki impian untuk memiliki sebuah rumah dengan halaman yang luas yang bisa ditanami dengan bunga - bunga yang indah. Maaf, bunganya belum ada. Hanya rumahnya saja." bisik Sang suami.


Salma menggeleng pelan. " Tak apa, hon. Itu sudah lebih dari cukup! Terima kasih atas segalanya! " jawab Salma dengan haru.


Sarah yang menyaksikan kemesraan pasangan suami istri yang masih muda itu tak dapat menahan haru. Dia sampai meneteskan air mata.


Setelah menyerahkan kunci rumah kepada Salma, Sarah pun mohon pamit untuk kembali lagi ke kantor. Dia meninggalkan Rayden dan Salma di rumah baru mereka.


Rayden membimbing Salma memasuki rumah baru mereka. Rumah itu memiliki pintu yang terbuat dari kaca tebal dan jendela - jendela yang lebar dan tinggi yang semuanya terbuat dari kaca Rayben hitam.


" Rumah ini indah sekali, hon. Aku suka sekali dengan desainnya.! " katanya sambil tersenyum memandangi ruang tamu yang luas karena belum ada furnitur disana.


" Ayo kita ke dapur. Tempat ratuku memasak makanan untukku dan anak-anak! " kata Rayden.


Salma memandang takjub pada desain dapur yang semuanya berwarna putih. Nampak bersih dan luas hingga menimbulkan kesan nyaman dan bersih.


" Aih.. kamu pintar banget, sayang


Tahu saja warna favorit aku." kata Salma. Dia sangat menyukai warna putih pada cat dinding di dapur mereka.


" Bee, ayo kita tengok kamar kita! " ajak Rayden. Keduanya lalu melangkah menuju sebuah kamar tidur yang paling besar.


Desain kamar ini juga tak kalah menariknya dengan ruangan - ruangan lainnya. Kamar tidur di desain dengan komposisi warna coklat yang di kombinasikan dengan warna putih susu hingga menimbulkan perpaduan warna yang unik.


" Bee, apa kamu tidak berniat untuk mencoba kasurnya? " tanya Rayden dengan ekspresi yang bergairah.