Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 23 Be my girl friend, Alin



Alin menarik tangan Riko ketika laki-laki itu baru saja membayar pesanan mereka di kasir.


" Ayo kak, katanya mau jalan - jalan-! Kemana lagi sekarang-? Alin sudah tidak sabaran menunggu Riko yang masih mikir mau kemana lagi tujuan mereka.


" Aih... sudah. Di sini aja. Kamu belanja aja lagi. Biar aku yang traktir. -! " Riko yang gemas pada gadis di depannya, jadi kehabisan akal untuk berpikir.


Alin menganga tak percaya. Mimpi apa dia semalam. Dapat hukuman manis begini. Sering - sering aja ya, babang Riko.


Alin berjingkrak kesenangan. Dia lalu menarik tangan Riko untuk mengajak lelaki itu ke lantai tiga. Dia mau membeli sesuatu yang sudah lama dia inginkan.


" Beneran, loh ya..! kak Riko janji mau traktir Alin belanja-! "


" Iya..!!! Bawel amat sih. Buruan pilih sebelum aku berubah pikiran-! " Alin tersenyum. Dia segera berjalan cepat mengambil baju yang memang sudah lama jadi incarannya. Sebuah gaun putih sebatas lutut yang lebar pada bagian bawah dengan lengan pendek juga klok bermotif bunga - bunga kecil-kecil lolos dari tubuh manekin yang di pajang di sana.


" Ini kak! Alin mau yang ini. Beliin ya-! " Alin merengek manja persis kayak bocah minta di beliin mainan.


Riko tersenyum gemas sembari mengangkat sebelah alisnya.


" Seriusan ini doang. Nggak mau yang lain. Sepatu nya nggak mau.-?" Alin terdiam manyun. Riko makin gemas melihatnya


Riko lalu menyeret Alin ke stand sepatu, matanya sibuk memilih sesaat kemudian menjatuhkan pilihan pada sepatu putih dengan hak 5 cm.


" Duduk-! " perintahnya pada Alin.


Gadis itu mengangguk patuh dan duduk di bangku yang memang sudah disediakan di sana.


Riko berjongkok dan membuka sepatu gadis itu lalu memasangkan sepatu putih itu ke kaki Alin.


" Kayaknya sepatu ini pas di kakimu. Lagian warnanya serasi dengan gaunmu-! "


Alin hanya terdiam. Jantungnya berdebar tak menentu. Baru kali ini ada orang yang memperlakukan dia bak putri raja. Dia malu sekaligus senang.


" Makasih, ya Kak Riko-! Alin senang banget-! " Alin tanpa terduga memeluk Riko. Riko reflek membalas pelukan gadis itu.


Cup-!


Sebuah ciuman tiba-tiba dari gadis itu membuat Riko jadi gelagapan.


' What the ****-?? ' Riko mengumpat dalam hati.


Dia sungguh kaget dan tak menyangka gadis cantik dan lugu yang baru beberapa saat yang lalu akrab dengannya kini sudah berani memeluk dan bahkan menciumnya. Tubuh Riko mendadak tegang.


' Sial, aku kok tegang! santai Riko, dia masih bocah-! Bisik hati Riko.


Riko perlahan melepas pelukan gadis itu setelah beberapa saat dia menyadari bahwa mereka ada di tempat umum. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


" Sudahlah ,Alin-! Ayo kita ke kasir..! Kasian tuh, banyak yang iri liat kita-! " Alin tersipu malu sambil mencubit lengan Riko.


Riko terkekeh gemas seraya menggamit pinggang ramping gadis itu dan berjalan ke kasir, membayar semua barang belanjaan Alin.


Gadis itu tak henti - hentinya berceloteh. Ada saja hal - hal baru yang menjadi topik pembicaraan gadis itu .


Tingkah Alin sungguh lucu menurut Riko sehingga sedikit banyak dapat melupakan kesedihannya karena di tolak Salma.


Mereka menghabiskan waktu berdua bersama di Mall itu. Mencoba semua berbagai jenis permainan yang ada dalam wahana bermain di Mall itu.


Riko juga membelikan Alin banyak barang - barang yang lain. Setelah puas berbelanja dan bermain , mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Hari sudah beranjak malam.


Riko menawarkan diri untuk mengantarkan Alin pulang. Alin mengangguk menyetujui. Lumayan dapat tumpangan gratis. Habis di belanjain di anter pulang lagi...


Riko memasangkan sabuk pengaman di tubuh Alin sesaat setelah gadis itu duduk di sebelahnya. Harum aroma Lily menguar menggelitik penciumannya .


Riko suka sekali dengan bau ini. Mendadak 'junior' Riko menegang.


" Aduh, kenapa sih aku mendadak 'on' begini-? " Riko tak habis pikir, Gadis yang dia pikir masih ingusan di sebelahnya ini mampu membangkitkan gairahnya. Sesuatu di bawah sana mengeras dan membuatnya sulit untuk bergerak.


" Tenang Riko, tarik nafas--! kontrol emosimu. dia masih bocah-!! "


Riko menjalankan mobilnya membelah keramaian sore itu menuju ke rumah Salma.


" Kamu masih sekolah, Lin -? tanya Riko memecah kesunyian yang mendadak timbul semenjak mobil ini melaju.


" Baru aja lulus, kak-! " Alin memandang ke luar jendela mobil. Lalu lalang pejalan kaki yang melintas di sepanjang jalan dan semarak lampu - lampu di pusat pertokoan seakan terlalu menarik baginya di bandingkan pertanyaan Riko.


" Sudah punya pacar-? " Pertanyaan Riko sukses membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


" Nggak ada, kak-! Aku belum pernah pacaran." Jawab gadis itu melongos membuang pandangan.


Hah-!!!


Riko melongo. Rasa penasaran menjalar di hatinya. Gadis remaja ini yang barusan memeluk dan menciumnya tanpa malu di depan umum, ternyata belum pernah pacaran.


Riko memarkirkan mobilnya di depan sebuah mini market. Dia masuk ke dalam sesaat, tak lama kemudian dia keluar dengan menenteng sebuah tas plastik hitam.


" Ini oleh- oleh buat ibumu-! " Alin melongok ke dalam tas plastik hitam itu, mencoba mengintip isi di dalamnya.


Ada Roti tawar, selai strawberry dan juga sekaleng susu coklat. Dan ada juga beberapa silverqueen di dalamnya.


" Hmm..Seriusan? benaran kamu nggak pernah pacaran, Lin-? Riko yang penasaran kembali mengulang pertanyaannya.


Gadis itu hanya menggeleng saja, tanpa berniat berucap.


" Ciuman-?? " tanya Riko iseng.


Alin cemberut, memantulkan bibir seksinya ke depan.


" Di bilangin pacaran aja belum pernah, apalagi ciuman-! " ketus Alin gemas.


" Lah, tadi yang cium kakak barusan, siapa?? " tanya Riko dengan entengnya. Yang ditanya membuang muka, wajahnya merona merah.


'Iya, yah-! tadi kayaknya dia cium kak Riko-! ' Alin sontak menutup mulutnya.


" Ah.. itu tadi spontanitas saja. Karena Alin merasa senang, gitu-! " jawab Alin asal.


" Jadi yang tadi juga yang pertama-! " cecar Riko lagi. Dia makin gemas melihat gadis itu yang salah tingkah.


" Nggak lah, aku sudah sering kok ciuman-! " Alin berkata sambil pandangannya ke arah lain


( Iyalah.. aku sering cium ibuku, kakakku, dan juga keponakan aku. heheeh) kata Alin dalam hati.


aghhh-! Alin gelagapan. Riko menautkan bibirnya diatas bibir seksi gadis itu yang merona basah.


********** dengan lembut. Mengulum dan menyesap bibir gadis itu lama- lama, menikmati betapa manisnya bibir ranum dan sensual itu.


Jujur Alin belum pernah ciuman dengan model begini. Hingga dia tidak bisa membalas ciuman Riko dan hanya diam saja karena canggung dan malu. Hanya jantungnya saja yang sibuk berdisko ria.


Riko lalu melepaskan tautan bibirnya dari bibir Alin. Mengusap perlahan bibir itu. Matanya menatap gadis itu lembut.


" Apakah itu juga yang pertama-? " Wajah Alin bersemu merah dan membuat Riko yakin seribu persen bahwa itu adalah ciuman yang pertama kalinya bagi gadis itu.


Hati Riko bersorak riang. Jujur hatinya berbunga-bunga mengetahui bahwa dia adalah orang yang pertama mencium gadis itu.


" Alin mau nggak jadi pacar kak Riko-? " Bukannya menjawab gadis itu malah memalingkan wajahnya. Kembali wajahnya menjadi merah.


" Mau nggak?? " Riko mengulangi pertanyaannya sambil menarik dagu gadis itu agar menghadap ke wajahnya.


" Tau, ahh-! Alin mendorong tubuh Riko agar menjauh darinya. Senyum jahil terukir di sudut bibirnya. Hatinya berbunga-bunga. Namun dia juga malu.


Riko menjadi gemas dan sekaligus juga frustasi dengan gadis yang ada di hadapannya.


'Nasib, lo Riko-! kenapa juga lo suka dengan bocah ingusan. '


Riko menjalankan kembali mobilnya ke arah rumah Salma.


Alin terdiam membisu. Ada rasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


' Alamakk! Oh my Gosh-! My Wow-! Kak Riko nembak gue-! Hati Alin melonjak senang.


Tak lama kemudian, mobil Riko sudah sampai di depan rumah Salma. Riko keluar lebih dahulu untuk membukakan Alin pintu mobil. Gadis itu keluar sambil menenteng tas belanjaannya. Riko membawa tas belanjaan Alin ke teras rumahnya, lalu kemudian berjalan kembali ke arah Alin.


Alin berdiri di depan mobil Riko. Riko mengukung tubuh Alin.


" Kamu belum jawab pertanyaan aku-! " Riko mendekatkan wajahnya ke arah Alin.


" Entar aja, Ya kak Riko yang ganteng-! Alin masih mau mikir-! "


" Loh, kok gitu-? kapan dong-? " tanya Riko gemas.


" Besok aja deh-! Alin cape. Alin mau bobo-! Gadis itu mendorong tubuh Riko pelan agar bisa lepas dari Riko.


Namun Riko membawa tubuh gadis itu ke pelukannya. Alin diam dan mencoba membalas memeluk Riko.


Riko melepas pelukannya dan menatap gadis itu lekat. Dia menyatukan dahi mereka sehingga hidungnya menempel pada hidung bangir Alin.


" Berikan aku nomormu, sayang-!" bisiknya di telinga Alin.


Alin mengangguk.


" Sumpah, bakalan nggak bisa tidur aku malam ini karena mengingat dan menunggu jawabanmu-! " bisik Riko lagi.


Alin tertawa kecil. Dia lalu melepaskan diri dari pelukan Riko dan mengeluarkan hape dari dalam tasnya.


" Berapa nomor kak Riko-? " tanya Alin. Riko segera menyebutkan nomornya.


Tak lama kemudian hapenya bergetar tanda ada panggilan masuk. Riko yakin itu dari Alin.


" Masuklah-! aku mau pulang. Sampai jumpa besok-! " Riko mengecup sekilas pipi Alin dan berjalan memasuki mobil.


Alin memandang kepergian Riko sampai mobil Riko menghilang dari pandangannya.


Lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil menenteng banyak bawaan. Hatinya berbunga-bunga. Ia telah jatuh cinta sama Kak Riko. Lelaki yang merupakan masa lalu kakaknya.