Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 31 Please come back to me..



Alin melangkah ke dapur dengan kesal namun dia tetap membuatkan exspreso ukuran besar pesanan Kak Aldo dan mengantarnya kembali ke meja Kak Aldo.



Sebenarnya dia malas karena harus bertemu lagi dengan Riko. Sehingga dia pura-pura saja tidak mengenal Riko di hadapan Kak Aldo agar lelaki itu tak banyak tingkah.



Alin tidak menduga kalau dia harus bertemu lagi dengan Riko. Padahal tujuannya pergi ke kota ini karena dia bermaksud untuk menghindari Riko. Dia sengaja memilih untuk bekerja di cabang restoran di Samarinda agar dia bisa jauh dari Riko.



Alin menghela nafas lesu. Semenjak kejadian di kapal itu, dia sudah memutuskan untuk melupakan Riko dan berhenti berharap bahwa Riko akan jatuh cinta padanya. Karena dia tahu hanya ada Kak Salma di hati Riko.



" Kak Riko sepertinya biasa saja. Aku melihat tak ada rasa penyesalan sedikitpun di mata Kak Riko terhadap diriku. " bathin Alin sedih. Ada rasa sesak yang menusuk hatiku hingga tak sadar dia membuang muka ke arah lain ketika tatapannya beradu dengan tatapan Riko. Alin tak ingin terlihat menderita di hadapan Riko. Alin ingin Riko tahu bahwa dia baik- baik saja walau dia sudah di sakiti oleh lelaki itu.



'Biarlah, mungkin aku tak berjodoh dengan Kak Riko. Walaupun aku sangat mencintainya. Tapi aku tahu aku tak mungkin bersaing dengan kakakku.' pikir Alin sedih.



"Alin" sebuah panggilan menyadarkan Alin dari lamunan.Aldo memanggilnya. Lelaki itu berjalan mendekak ke arahnya. Kak Aldo adalah pemilik Restoran yang aku tempati bekerja saat ini.



Awal perkenalan kami memang terbilang unik. Dia orang yang mewawancarai aku ketika wawancara kerja dan memutuskan menerimaku karena dia sudah lebih dulu mengantongi identitas ku. Ya... Kak Aldo adalah orang yang tak sengaja menemukan dompetku yang terjatuh di Mall itu karena buru-buru pergi saat wawancara .



Terasa lucu kedengarannya, hanya karena rasa penasaran ingin mengenalku dia langsung memutuskan untuk menerimaku.



Kak Aldo bos yang baik. Alin merasa betah bekerja dengannya. Apalagi Aldo selalu memberi perhatian pada semua karyawannya sehingga para karyawannya merasa betah dan senang bekerja dengan Kak Aldo.



Kak Aldo bahkan rela bersusah payah mencari kos-kosan untuk Alin saat gadis itu memutuskan untuk bekerja di restoran cabang di Samarinda.



" Ya, Kak Aldo. Ada apa? " Alin bertanya heran karena tak biasanya Aldo nyamperin dia saat masih bekerja.



" Nggak ada yang penting, cuma mau nanya apa kamu ada waktu saat pulang nanti? ada yang ingin ku bicarakan! " jawab Aldo.



" oh.. iya Kak. Alin nggak ada kesibukan, kok! " Jawab Alin. Wajah Aldo menjadi sumringah.



" Oke, aku tunggu kamu selesai bekerja." Alin mengangguk mengiyakan. Aldo pun kemudian berlalu dengan wajah yang tersenyum bahagia.



Setelah keluar dari Restoran milik Aldo ,Riko memutuskan untuk menunggu Alin. Dia bertekad ingin bertemu dan berbicara dengan gadis itu. Gadis yang membuat dunianya jungkir balik tak karuan.



Kembali Riko teringat peristiwa di pantai itu. Membayangkan wajah sensual Alin membuat sesuatu dalam dirinya bangkit dan bergairah.



Riko menggeram kesal. Alin, gadis polosnya yang kemarin baru lulus dari SMA, mampu membuat dia seperti kehilangan jati diri. Dia menjadi tak bergairah pada wanita manapun tak terkecuali Salma. Sejak peristiwa itu, dia tak pernah lagi memikirkan atau mengingat Salma. Hanya Alin dan Alin saja yang ada dalam pikirannya.



Sekarang yang ada di hati dan pikirannya Riko seorang adalah Alin seorang. Membuat dia menjadi prustasi dan hampir gila karena gadis itu seolah-olah sengaja menghindar dari Riko. Gadis itu bukannya menuntut Riko atas apa yang telah dia lakukan terhadap dirinya, tetapi lebih memilih menghilang dari kehidupan Riko.



Berkali-kali dia mencoba menghubungi Alin namun selalu gagal karena gadis itu telah memblokir nomornya. Dia bahkan sudah mencari sampai ke rumah sahabat Alin yaitu rumah Fadel dan Nava, namun hasilnya nihil. Gadis itu seperti hilang bak di telan bumi.


...****...


Alin baru saja selesai mengecek pekerjaannya dan memastikan semua sudah bersih dan rapi sebelum menutup Restoran. Dia di percaya oleh Aldo untuk mengurus dan memegang kunci Restoran. Jadi dialah orang yang paling terakhir pulang dari Restoran.



Alin melepas seragam kerjanya dan mengganti dengan pakaian biasa. Dia kemudian menutup dan mengunci restoran lalu keluar menemui Aldo yang sudah menunggunya dari tadi.




Tanpa mereka sadari sepasang mata tajam Riko mengawasi mereka dengan tatapan kesal dan marah. Tangan Riko terkepal kuat menahan gejolak cemburu yang membakar dadanya.



"Ahhh...!! Sial! Sial!" maki Riko sambil menendang bangku panjang yang tadi sempat dia tempati duduk sambil menunggu Alin. ''Ada hubungan apa Alin dengan Aldo? 'Riko bertanya - tanya dalam hati. Niat dia yang tadinya ingin menjemput Alin dan berbicara empat mata dengan gadis itu gagal karena gadis itu ternyata pergi bersama Aldo. Riko pun bergegas menuju mobilnya dan bergerak mengikuti arah mobil Aldo.



Sementara itu Aldo yang mengemudi fokus menatap jalanan di depannya. Matanya sesekali melirik ke Alin yang sedang asyik mengutak-atik handphone. Dia sedang mencari - cari kata untuk memulai pembicaraan dengan gadis itu.



" Lin, kamu kenal Riko di mana? " akhirnya Aldo berhasil juga memulai pembicaraan dengan gadis itu. Kepala gadis itu mendongak, sedikit terkejut dengan pertanyaan Aldo.



" Oh.. Kak Riko! dia teman Kak Salma." Jawab Alin singkat.



" Salma?? " kening Aldo berkerut. Dia tak mengenal siapa Salma.



" Oh.. Salma itu kakak aku!" terang Alin saat menyadari Riko tak mengenal Salma.



" Oh..! " Aldo ber oh ria. kembali dia menatap jalanan. Pikirannya buntu. Dia kehabisan kata-kata saat berbicara berdua dengan gadis di sampingnya ini.



" Katanya Kak Aldo mau ngomong! Ada apa ya, kak?" Alin bertanya dengan mimik serius. Aldo yang ditanya balik oleh Alin jadi gelagapan salah tingkah.



Awalnya Aldo berniat ingin mengajak gadis itu ke suatu tempat. Dia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis cantik berwajah sensual dengan bibir seksi di sebelah itu yang akhir-akhir ini membuatnya resah dan galau tak jelas sebabnya.



Namun Aldo kembali kehilangan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya sehingga akhirnya dia memilih memendamnya kembali.



" Oh.. itu, aku tadi ingin ngajak kamu jalan, tapi kayaknya kamu cape banget. Nanti aja lain kali kita jalan, ya! lagian ini sudah malam. " Aldo menatap wajah cantik Alin.



Sungguh tak bosannya dia menatap wajah cantik gadis itu yang telah membuatnya tertarik sejak pertama kali melihat gadis itu saat wawancara.



Alin mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Aldo. Memang dia merasa sedikit lelah. Kepalanya mendadak terasa pusing karena bertemu Riko benar-benar membuat dia emosi dan sedih.



" Iya, kak. Kepala Alin juga sedikit pusing. Alin kayaknya mau langsung pulang saja. Biar bisa cepat istirahat di kosan. " Aldo mengangguk faham. Dia lalu melakukan mobil nya terus ke arah kos-kosan Alin.



Alin baru saja akan melangkah masuk ke kos-kosan tempat dia tinggal ketika sebuah tangan memeluk tubuhnya erat dari belakang, berdiri menyandarkan kepalanya di bahu Alin.



" Sayang, jangan pergi lagi. Maafkan aku! maafkan kebodohanku! Tahukah kamu, Aku hampir saja gila karena selalu memikirkan kamu. Aku tak sanggup jika harus kehilangan kamu. Aku tak bisa! Please ,Alin! Jangan pergi lagi. Kembalilah padaku. Aku sungguh Mencintaimu!" Riko menangis sesugukan di bahu Alin, sambil terus memeluk tubuh gadis itu.



Alin terpaku diam di tempatnya. Tubuhnya bergetar karena menahan emosi di dadanya. Rasa tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.



Apakah beneran Kak Riko memeluknya? Benarkah apa yang di dengarnya barusan? Kak Riko mengatakan jika dia mencintainya? Oh.. Tuhan! Alin rasa tak percaya. Tubuhnya mendadak lemas dan jatuh terkulai di pelukan Riko. Alin pingsan di pelukan Riko.



Sementara itu, sepasang mata menatap sendu ke arah Riko yang membopong tubuh Alin ke dalam kos-kosan. Aldo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Riko sahabatnya adalah kekasih Alin.