Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 57 Bertemu Bu Emi



Rayden tahu jika Salma saat ini sedang marah padanya. Namun dia tak menyangka jika istrinya akan berpikiran nekat dan pergi bersama Raisa anaknya meninggalkan dirinya, tanpa mau mendengarkan lebih dahulu penjelasan darinya.


" Salma, sayang. Di mana kamu, bee. Mengapa kamu pergi, sayang. Mengapa kamu tak mau mendengarkan aku. Aku hanya minta kamu untuk pulang karena aku akan menjelaskan semuanya di rumah." sesal Rayden dengan perasaan tak menentu.


Salma turun dari bis yang membawa mereka sampai ke Surabaya. Perjalanan panjang yang mereka tempuh membuat Salma merasa sangat lelah.


Dia beristirahat di salah satu warung nasi yang berada di dekat terminal sambil menyusui Raisa.


" Bu, pesan nasi campur dan teh manis hangat!" kata Salma pada pemilik warung.


Salma melepas gendongan Raisa karena semenjak turun dari bis, anaknya itu mulai rewel. Mungkin karena merasa gerah bayi kecil itu menangis.


Salma berusaha menghentikan tangisan rewel bayinya. Namun, bukannya berhenti, tangis Raisa malah makin kencang.


" Mungkin anakmu sakit perut karena masuk angin, nak! " kata ibu pemilik warung itu dengan ramah. Dia merasa iba melihat kondisi Salma. Dia mengambil minyak kayu putih dari dalam kamarnya dan mengoleskan ke perut, kepala, dan kaki Raisa.


Benar saja, tangis Raisa perlahan reda sampai akhirnya bayi mungkin itu kemudian tertidur.


" Terima kasih, bu. Anak saya sekarang sudah tidur kembali." Salma berterima kasih pada ibu pemilik warung nasi yang sudah berbaik hati menolongnya mengobati Raisa yang sakit perut karena masuk angin. Dia memang tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang cara merawat anak.


" Sudah, sekarang makanlah dulu. Mumpung anakmu tertidur. Biar ada isi perut. Ibu menyusui memang membutuhkan banyak asupan makanan biar asinya banyak dan lancar. " katanya pada Salma sambil menyodorkan sepiring nasi dan teh manis hangat ke meja Salma.


" Sini, aku gendong anakmu sementara kamu makan.! " Salma mengangguk dan melepaskan gendongan Raisa.


Bayi itu menggeliat karena merasa ada pergerakan yang menggangu kenyamanannya saat tidur.


Ibu pemilik warung nasi itu menggendong Raisa sementara Salma makan dengan buru - buru agar cepat selesai. Ibu itu tersenyum melihat Salma yang makan dengan tergesa-gesa.


" Makan pelan - pelan saja, nak. Ndak usah buru - buru. Nanti keselek! "


" Saya nggak enak sama ibu. Ibu pasti banyak kerjaan. Saya makan buru - buru biar cepat selesai. " kata Salma.


Ibu pemilik warung nasi menatap wanita berhijab yang cantik itu dengan tatapan teduh.


" tidak, saya tidak sedang sibuk. Teruskan saja makanmu dengan perlahan. Jika kamu merasa belum cukup kenyang, kamu boleh minta tambah. Akan aku ambilkan lagi nanti."


Salma terharu mendengar ucapan dari Ibu pemilik warung nasi yang tulus. Sungguh dia merasa sangat beruntung karena bertemu dengan ibu ini. Tak terasa ibunya Raisa itu menangis karena terharu.


Ibu pemilik warung nasi tentu saja terkejut mendapati Salma yang menangis.


" Kenapa kamu menangis? maafkan ibu karena sudah lancang, tapi apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu? " tanya ibu pemilik warung nasi lalu duduk di hadapan Salma.


Salma menundukkan kepalanya. Air matanya makin deras mengalir.


" Katakan pada Ibu, apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu? "


Salma mengangguk. " Saya kabur dari rumah, bu! " jawabnya.


Ibu itu menghela nafas dalam. Lalu kembali bertanya pada Salma.


" Terus sekarang kamu mau kemana? tak baik membiarkan anakmu luntang lantung di jalan. Nanti dia sakit.! "


Setelah selesai makan Salma lalu mengambil alih Raisa dalam gendongan ibu pemilik warung nasi.


" Bu, maaf, saya mau nanya, apakah ibu tahu di mana saya bisa mendapatkan rumah sewa yang murah di sekitar sini? tanya Salma kemudian.


Ibu itu terkejut mendengar pertanyaan Salma. Dia tampak berpikir sejenak, lalu kemudian berkata.


" Di sini ibu ada satu lapak yang kosong, tapi kondisinya kurang layak karena sudah lama tidak di tempati. Nanti aku suruh Iqbal anakku untuk membersihkan dan memperbaiki yang rusak."


" Terima kasih, bu. Saya merasa berhutang budi sekali terhadap ibu." kata Salma sungguh-sungguh. Di peluknya ibu pemilik warung nasi itu dengan perasaan syukur yang besar.


" Sudahlah, jangan di pikirkan. Tinggallah di sana. Kamu bisa ke warungku jika ingin makan. Oh iya, panggil saja ibu, bu Emi. " kata ibu itu lagi.


Salma mengangguk " Saya Salma, bu. Dan ini anak saya, namanya Raisa."


" Nah, Salma. Kamu beristirahat saja dulu di dalam. di kamar ibu, sementara ibu mau menyuruh anak ibu untuk membersihkan lapak yang akan kamu tinggali itu, biar bisa segera kamu tempati. "


" Oh, ya Bu. Sekali lagi Terima kasih atas semua kebaikan ibu. Semoga Allah membalas semua kebaikan hati ibu." kata Salma tulus.


Salma merasa terharu sekali atas kebaikan hati dari ibu pemilik warung nasi yang baru saja dia kenal.


Salma masuk ke dalam dengan di antar bu Emi. Wanita pemilik warung nasi itu menyuruh Salma beristirahat dan menidurkan Raisa yang terlihat lelah.


Salma menidurkan Raisa di atas tempat tidur di kamar Bu Emi. Dia lalu meminjam pakaian mukena bu Emi untuk melaksanakan sholat Zhuhur.


Sementara itu, Bu Emi memanggil putranya yang bernama Iqbal. Putra Bu Emi itu terlihat mengangguk - angguk saat mendengar sang ibu mengatakan sesuatu. Tak lama kemudian lelaki bertubuh tinggi tegap itu sudah pergi dengan membawa sapu dan peralatan pertukangan.


" Mau kemana, mas?"


" Eh, johan.. Itu ibu aku memintaku untuk membersihkan lapak yang di ujung itu karena ada yang mau menempatinya."


" Oh, lapak yang di sana itu. Kalau begitu, sini aku bantu! " tawar Johan.


" Wah, aku nggak enak, han. Jadi ngerepotin kamu!"


" Ah, ya nggak lah. Ayo..! " jawab Johan seraya mengambil sapu di tangan Iqbal.


Beberapa jam kemudian, pembersihan lapak itu pun selesai juga.


Iqbal dan Johan memperbaiki dinding dan atap lapak yang bocor. Sekarang lapak itu sudah layak huni karena bersih dan rapi.


Bu Emi datang bersama Salma yang sedang menggendong Raisa.


" Ini Salma. Dia yang akan menempati lapak ini. Dia akan tinggal di sini bersama anaknya " kata bu Emi.


Iqbal dan Johan saling berpandangan. Mereka menatap wanita cantik yang berhijab itu dengan pandangan iba.


" Mbak ini akan tinggal di sini? loh, suaminya mana, bu. Masa istrinya dibiarkan tinggal di tempat ini." kata Iqbal. Semula dia berpikiran, bahwa yang mau menempati tempat ini adalah seorang laki-laki . Eh.. Ternyata malah di tempati perempuan. Cantik pula, tapi sayangnya sudah bersuami, pikir mereka.


.