Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 35 Persiapan Pernikahan Alin dan Riko



Persiapan pesta untuk pernikahan Alin dan Riko sudah hampir rampung. Alin saat ini sedang menjalani pingitan di rumahnya sehingga tak boleh kemana-mana. Dia juga harus menjalani serangkaian perawatan wajah dan tubuh dari MUA yang sudah di sewa oleh pihak keluarga Riko. Agar nanti pada saat pesta wajah dan tubuh Alin segar dan berseri.


Karena sedang di pingit, maka segala aktivitas Alin menjadi terbatas. Dia tak boleh kemana-mana. Harus tinggal di dalam kamar saja. Makan dan minum serta segala keperluan Alin semua sudah di persiapankan. Kalau pun ada yang dia inginkan, hanya tinggal bilang saja.


Saat ini , semua orang rumah dan keluarga Alin yang lain semua sedang sibuk. Tinggallah Alin yang uring-uringan sendiri di dalam kamar.


" Huh, bunda.!! ini nggak adil!?" protes Alin pada Ibunya. " masak mau keluar main di teras aja, nggak boleh, sih..?!" ketika Alin tengah duduk di teras rumah, tetapi Sang Ibu malah melarangnya dan menyuruh Alin agar segera masuk ke kamar.


" namanya juga di pingit, ya nggak boleh keluar, Alin. " kata bunda sambil mengelus rambut Alin dengan sayang. Dia faham dengan sifat Alin yang suka semaunya sendiri dan rada manja.


Alin mendengus kesal. Dia hanya ingin jalan - jalan saja di sekitar rumah. Hormon kehamilan membuat moodnya kadang-kadang berubah - ubah.


Seperti kemarin, dia sangat ingin bertemu Kak Riko, padahal sedang dalam masa pingitan, membuat dia menangis sendiri di kamar.


Untunglah rupanya Kak Riko adalah lelaki yang peka atau mungkin juga karena dia mengalami hal yang sama dengan Alin. Riko menelpon Alin dengan video call.


" Assalamu'alaikum, sayang. " Riko memberi salam setelah melihat wajah cantik Alin muncul di layar handphonenya. Wajah Alin terlihat sembab, terlihat seperti habis menangis.


" Wa alaikum salam, " sahut Alin dengan wajah sembab habis nangis.


" loh, kok wajahnya sembab, babe. kenapa? .. kamu nangis, ya sayang? kamu nggak bahagia nikah sama aku? " tanya Riko yang panik melihat calon ibu dari anaknya menangis.


" nggak, hanya kesal nggak boleh jalan - jalan sama bunda. "Alin memberengut kesal.


" hehehe, jangan marah dong sayang, kan demi kebaikan kamu juga. Cup cup ya, sayang! " Riko memberi kecupan sayang lewat kamera handphone yang di dekatkan ke bibirnya, seolah dia seperti sedang mencium Alin. Alin tersenyum senang. Rasa kesalnya mendadak hilang setelah mendapat perhatian dan perlakuan manis dari Riko.


" Kak, Alin kangen sama kakak! pengen di peluk! " rengek Alin manja di telepon. Riko tersenyum senang karena Ibu dari bayinya bersikap manja. Entahlah..Riko menyukai semua kemanjaan Alin pada dirinya. Bagi Riko kemanjaan Alin membuat dia bersemangat dan bergairah untuk beraktivitas.


" Sabar ya, sayang. sebentar lagi kita akan menikah. Dan setelah aku mengucapkan ijab qobul, kita akan resmi menjadi suami istri. Kamu bebas boleh minta apa saja, aku akan berusaha untuk memenuhinya, baby. " kata Riko membujuk wanitanya itu agar mau bersabar sedikit lagi. Dia tahu wanitanya itu sedang hamil. Dan biasanya wanita yang sedang hamil kadang suka ngambek dan uring uringan sendiri..mungkin karena hormon kehamilan.


Sementara itu, Ibunya Alin sedang sibuk mengawasi wedding organizer yang sedang mendekorasi rumah mereka. Walaupun acara pesta akan di adakan di rumah besar kediaman keluarga Riko, namun di rumah Alin juga mengadakan pesta, walaupun tak sebesar pesta di rumah keluarga Riko.


Tujuannya adalah supaya tetangga mereka bisa juga hadir dan turut merasakan kemeriahan pesta itu. Dan untuk itu Riko setuju saja dengan rencana ibunya Alin. Soal dana, dia tak ada masalah. Dia sudah memberikan dana untuk keperluan pesta itu kepada mertuanya. Harta Riko tak akan habis di makan walau pun sampai tujuh turunan. Karena Riko adalah salah satu pengusaha yang sukses di Australia.


^^^-----^^^


Sementara itu, Salma sudah sadar dari koma. Kesehatannya juga sudah berangsur-angsur membaik. Dia sudah bisa melakukan beberapa aktivitas, meski harus menjalani serangkaian tes kesehatan dan juga terapi pemulihan.


" Bee, apa kamu perlu sesuatu? " Rayden bertanya pada Salma yang saat ini sedang duduk bersandar di ranjang. Dia baru saja selesai menelpon ibunya Salma, mengabarkan bahwa Salma sudah sadar dari koma dan sekarang keadaannya mereka baik baik saja.


" Aku ingin makan soto babat, bolehkan honey? " tanya Salma dengan tatapan memohon. Rayden tersenyum manis ke arah Salma.


" apapun itu untuk wanita yang ku sayang. " kata Rayden seraya mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menelpon orang suruhannya agar segera pergi membelikan pesanan Salma. Salma mencebikkan bibir.


" huh, kakak gombal.. Kemarin kemarin aku di cuekin! "


" Siapa yang cuekin.?? Bukannya kamu yang pergi ke Tarakan dan ninggalin aku? "


" Habisnya kakak lebih milih kak Ana dari pada aku. " jawab Salma getir.


Rayden memeluk Salma. Dia mengecup kepala, pipi, dagu, dan terakhir bibir Salma dengan ciuman yang agak lama.


" Kau salah, tak pernah sedetikpun di hatiku untuk berpaling darimu. Mengapa kau pergi dan tidak bertanya dulu padaku, bee..? " kata Rayden setelah melepas ciumannya.


Salma menangis dalam pelukan Rayden. Dia teringat kembali peristiwa beberapa waktu silam. Hampir saja dia terjebak dan percaya dengan semua kebohongan yang Anastasia ciptakan agar bisa memisahkan dia dan Rayden. Dia bersyukur semua sudah berlalu dan kini lelaki itu telah kembali lagi padanya.


" Menangislah, tapi ini yang terakhir kalinya buat kamu. Karena mulai saat ini aku tak akan membiarkan air matamu jatuh lagi. kamu tak boleh menangis lagi, Bee. " kata Rayden sambil memeluk Salma dengan erat.


Salma menganggukkan kepalanya dan mendongakkan wajah menatap Rayden. Rayden yang gemas mengangkat dagu Salma. Balas menatap wajah Salma.


Dan lagi, kembali dia melabuhkan ciuman ke bibir Salma. Sungguh dia tak bosan bosannya untuk mencium bibir Salma yang merupakan candu baginya.


" Salma, maukah kamu menikah denganku? " tanya Rayden kemudian setelah melepas ciumannya.


Salma menggeleng pelan. Dia bahagia karena Rayden melamarnya. Tapi ini bukan lamaran yang indah seperti dalam impiannya.


" Kamu tak mau menerima lamaranku, Bee? tapi mengapa, sayang? " Rayden bingung mengapa Salma menolaknya.


" Hon, di mana-mana orang melamar itu pake persiapan. Bukan di rumah sakit. " sahut Salma kesal. Dia jengkel karena Rayden melamarnya di rumah sakit.


Rayden terkekeh. Dia kini mengerti mengapa Salma tak mau menerima lamarannya. Wanita itu mau di lamar pake acara yang romantis dan resmi.


" Baiklah, setelah keluar dari sini, kamu siap siap karena aku akan segera datang ke rumahmu untuk melamar kamu." kata Rayden. Salma tersenyum bahagia sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leher Rayden.