Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 65 Jadilah Istriku selama -. lamanya



" Ok.... kalau begitu, besok kita bersama - sama Azka pulang ke rumah kamu. Kamu nggak keberatan kan, jika aku mengajak Azka? " tanya Dewa.


" Nggak, kak. Jani malah senang, kok! " jawab Jani.


Dewa tersenyum mendengar jawaban tulus dari gadis itu. Dia meraih gadis cantik itu kedalam pelukannya. Jani menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu. Hangat dan nyaman.


...------...


Pagi hari sekali, Jani sudah bangun dan mempersiapkan segala kebutuhan Dewa dan Azka juga dirinya untuk dibawa saat pergi ke rumahnya di kampung.


Walaupun Azka anaknya tidak cerewet tapi sedikit banyak dia harus antisipasi kalau saja sewaktu - waktu ada kejadian yang tidak terduga.


Jani mempersiapkan susu azka dan juga perlengkapan lain untuk Azka. Tak lupa dia juga menyiapkan beberapa pakaian ganti untuk Azka dan Dewa.


Setelah membersihkan bekas sarapan dan membereskan dapur, mereka bertiga pun berangkat meninggalkan rumah menuju tempat tinggal Jani. Mereka berangkat pukul 08.00 pagi.


Perjalanan dari rumah Dewa ke rumah Jani memakan waktu kurang lebih dua jam setengah.


Menjelang waktu makan siang, mereka sudah sampai di desa tempat tinggal Jani.


" Yang mana rumahmu, Jani? " tanya Dewa saat mobilnya memasuki jalan kecil menuju rumah Jani.


" Rumah Jani ada dalam gang itu, kak! Mobil kakak parkir disini saja, karena jalan ke rumah Jani tidak bisa di masukin mobil. "tunjuk Jani pada gang kecil di depan mereka.


Dewa memarkirkan mobilnya di depan rumah tetangga Jani setelah sebelumnya minta izin kepada sang pemilik rumah.


" Jani, ... akhirnya kamu pulang juga, nak! Kasian nasib Mak Pessa, setiap hari keadaannya semakin sulit saja." kata tetangga Jani yang depan rumahnya di tempati parkir mobil Dewa.


Mak Pessa adalah nama panggilan ibunya Jani. Karena ibunya Jani yang masih berdarah Sulawesi.


" Iya, bun. Jani datang ke sini karena Jani rindu sama Ibu. " jawab Jani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kedatangan Jani yang diantar dengan mobil bersama dengan seorang laki-laki dan seorang anak kecil menjadi perhatian warga desa. Mereka saling kasak kusuk berbisik - bisik tentang Jani.


" Assalamu'alaikum! " Jani mengetuk pintu rumahnya yang dicat dengan warna coklat dengan ragu. Rumah berdinding kayu dan beratap seng itu sudah terlihat sangat tua dan reot. Atapnya saja sudah banyak yang bocor dan berkarat. Cat rumah mereka saja sudah usang. Akan tetapi, hanya itulah harta satu - satunya peninggalan ayahnya.


" Waalaikum salam! " Sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah yang menandakan bahwa pemilik rumah tersebut sedang berada di rumah.


Pintu rumah terbuka dan menampakan sesosok wanita yang sudah mulai keriput termakan usia.


" Mak.... Mak. Ini Jani, mak! Jani sudah pulang."kata Jani pada Sang ibu.


Wanita itu menatap Jani seksama dengan benar, Dia tak mengenali putrinya sendiri yang sekarang sudah berganti penampilan seperti gadis kota pada umumnya.


" Jani?, benarkah itu kamu? " tanya ibu Jani seraya mendekati Jani.


Jani langsung memeluk erat sang ibu yang sudah lama dia rindukan. Tangis keduanya langsung pecah. Mereka saling berpelukan melepas rindu dan kesedihan. Dewa merasa terharu menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu.


Tetangga yang melihat kejadian itu juga tak kuasa untuk menahan air mata. Tak menyangka Jani yang dulu kabur sesaat sebelum pesta pernikahannya dengan juraga Sudin kini kembali lagi bersama - sama dengan seorang lelaki yang sudah memiliki anak.


" Hey Jani, sudah selesai menangisnya?" tanya seorang lelaki dengan suara serak karena batuk pilek yang diderimanya.


Janj menoleh dan tampaklah disana juragan Sudin dan beberapa orang anak buahnya sedang berdiri menatapnya。


”Maafkan anak saya Jani,Juragan?” kata ibunya Jani seraya berlutut di kaki juragan Sudin.


Jani yang melihat hal itu segera mendatangi Sang ibu dan menarik tubuh ibunya agar tidak melakukan hal itu lagi.


" Ibu.. berhenti melakukan hal itu. Jani akan bekerja keras untuk melunasi hutang - hutang kita pada juragan Sudin." kata Jani.


" Hahahah, bagus sekali Jani. Dengan apa kamu akan bekerja. Menjual diri?" ejek Juragan Sudin.


Jani menjadi geram mendengar ejekan Juragan Sudin yang merendahkan harga dirinya. Dengan marah dia mendatangi lelaki tua yang masih doyan daun muda itu dengan tangan terkepal.


" Itu adalah uang gajiku selama aku bekerja di kota yang sengaja kutabung untuk melunasi hutang - hutang ayahku. Sisanya akan kucicil tiap bulan." kata gadis itu dengan berapi-api.


" Hah, sungguh lucu. Apa kamu tidak tahu, berapa jumlah hutang ayahmu? aku ragu apa kamu mampu untuk melunasi semua hutang - hutang ayahmu? " kata Juragan Sudin dengan marah.


Dia merasa tersinggung saat Jani melemparkan uang ke arahnya tadi.


" Hutang ayahku padamu adalah tiga puluh juta. Dan uang yang ku berikan padamu adalah sebesar lima juta rupiah. Sisanya masih dua puluh lima juta lagi yang harus kucicil." kata Jani.


" Hahaha, kamu jangan mimpi hutang Ayahmu hanya sebesar itu. Itu baru pokoknya saja, belum terhitung bunga cicilan. Jadi kalau di total seluruhnya, hutang ayahmu kurang lebih seratus juta!" kata juragan Sudin sambil tersenyum mengejek.


" Dasar lintah darat. Aku tak terima jika harus membayar bunga cicilan yang besarnya saja hampir tiga kali lipat cicilan ayahku. Aku akan melaporkan kecurangan ini pada polisi. Biar kamu membusuk dipenjara! " kata Jani dengan marah.


Juragan Sudin merasa terpojok dengan kata - kata Jani. Dia memberi kode pada para anak buahnya untuk menangkap Jani.


" Tangkap dan seret gadis itu ke rumah. Dia harus membayar hutang - hutang ayahnya sekarang juga!" kata Juragan Sudin dengan gusar.


Beberapa anak buah Juragan Sudin segera mendekati Jani dan menyeret gadis itu secara paksa.


Ibu Jani menghiba - hiba kepada Juragan Sudin agar mau melepaskan Jani.


Azka yang melihat kejadian itu merasa takut. Bocah itu menangis melihat pengasuhnya diperlakukan secara kasar Oleh orang - orang itu.


Melihat hal itu, Dewa segera bertindak.


" Tunggu, Lepaskan gadis itu!" ucapnya dengan tegas.


Anak buah juragan Sudin berhenti menyeret tubuh Jani setelah Juragan Sudin memberi isyarat kepada mereka untuk berhenti.


" Siapa kamu yang mau ikut campur urusan ini? " tanya juragan Sudin dengan sinis ke arah Dewa.


Lelaki berpembawaan tenang itu tetap tenang dan dingin saat juragan Sudin dan anak buahnya mendatanginya. Jani menjadi khawatir melihat hal itu.


" Kak, sudah. Lebih baik kakak sekarang pulang saja. Biar Jani yang akan menghadapi lelaki tua bangka itu!" kata Jani dengan cemas.


" Hahaha, siapa dia Jani? Pacarmu atau peliharaanmu?" tanya lelaki tua itu.


" Saya adalah calon suami Jani." kata Dewa.


" Hahaha, ohh... rupanya ada yang mau menjadi pahlawan kesiangan. Baiklah... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Juragan Sudin dengan sikap menantang.


" Saya akan membayar semua hutang - hutang ayah Jani. Silahkan sebutkan berapa yang harus saya bayar!" kata Dewa dengan tenang seraya mengeluarkan handphone dari saku celananya.


Senyum di wajah juragan Sudin lenyap. Dipandanginya wajah anak muda didepannya dengan pandangan tidak percaya.


" Apa katamu? Apa kamu serius mau membayar semua hutang - hutang wanita itu?" tanya juragan Sudin seakan - akan meragukan Dewa


" Sebutkan saja berapa nomor rekening juragan, saya akan segera mentransper uangnya sekarang juga! " jawab Dewa dingin.


Juragan Sudin memberi kode pada anak buahnya yang segera mendekat dengan terburu-buru.


" Berikan nomor rekeningku pada anak muda ini! " katanya


Segera anak buah juragan Sudin memberikan nomor rekening majikannya kepada Dewa. Dewa lalu mentransper sejumlah uang seratus juta ke dalam rekening tersebut dan kemudian menunjukannya pada lelaki tua itu.


Mata lelaki tua itu terbelalak kaget. Hilang sudah harapannya untuk bisa kawin dengan Jani. Dia begitu berharap bisa mendapatkan Jani yang cantik dan molek.


Karena kesal juragan Sudin akhirnya pulang dari rumah Jani tanpa berucap sepatah kata lagi.


" Kak, Bagaimana caranya aku melunasi hutang - hutangku pada kakak. Aku berhutang budi begitu banyak pada kakak." kata Jani yang merasa tak enak hati pada lelaki itu yang telah rela membayar semua hutang - hutan yang pada juragan Sudin.


" Jadilah istriku dan ibu bagi anak - anakku. Dampingi hidupku selamanya! " kata Dewa.