Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 61 Calon mama Azka



Tubuh Salma berpeluh akibat panasnya gelora cinta dari Sang suami. Pun demikian halnya dengan Rayden yang tidak ada puasnya mereguk air dari telaga cinta Salma yang membuatnya tenggelam dalam lautan asmara. Hingga pekikan Salma dan erangannya mengakhiri semuanya.


Tuntas sudah semua bayaran rindu atas penantiannya pada Sang Istri. Dia bahagia.... sangat bahagia. Hingga dalam tidurnya pun dia masih tetap tersenyum.


Pagi hari, Rayden bangun dari tidur. Dia mendapati kasur di sebelahnya sudah kosong.


" Kemana, Salma?" pikirnya. Dia takut jika istrinya itu akan pergi lagi. Bergegas dia bangun dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia menarik nafas lega saat mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.


Rupanya istri cantiknya itu sedang mandi di kamar mandi. Rayden senyum - senyum sendiri menyadari ketakutannya yang tak beralasan


Salma baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendapati suaminya sedang memandang dirinya dengan tatapan aneh. Kening Salma berkerut.


" Ada yang salah, hon?" tanya Salma.


Rayden menggengam tangan Salma dengan mesra.


" Tidak, otakku saja yang salah. Aku tadi mencarimu ketika aku bangun dari tidur. Karena aku tak mendapati kamu, bee. Aku jadi cemas. Aku pikir kamu pergi lagi meninggalkanmu aku." kata Rayden. Dia memeluk Salma yang masih mengenakan bathrobe dan handuk di kepala.


Rayden menyesapi aroma sabun yang melekat di tubuh Sang istri. Gairahnya kembali membuncah takkala tubuhnya bersentuhan dengan Sang istri.


Salma menggerutu karena dia harus kembali mandi wajib akibat ulah mesum Sang suami yang kembali minta jatah. Padahal rasa nyeri akibat semalam saja masih belum hilang.


Wajah Rayden tersenyum sumringah. Semangatnya untuk kembali bekerja kembali menyala-nyala. Bisma saja sampai terheran-heran. Bos besarnya itu terlihat begitu gembira.


" Pagi Bisma, apa jadwalku hari ini?" tanya Rayden.


" Hmm, hari ini bos ada pertemuan dengan direksi PT. Anindya Bakti Karya terkait Kerja sama proyek Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah di Kalimantan Timur! "


" Hm, baiklah. Jam berapa? " tanya Rayden.


Lelaki itu menengok jadwal pertemuan di agendanya. " jam 09.00, bos! " jawabnya.


" Ok, kau aturlah. Hubungi aku jika sudah siap. Aku mau menghubungi nyonya besar dulu! " kata Rayden sambil melempar senyum penuh arti pada Bisma. Bisma hanya bisa cengengesan melihat ulah Sang bos besar.


Begitulah sekarang, Rayden tak ingin lagi mengulang kesalahannya di masa lalu. Karena sibuk dengan pekerjaannya.Dia mengabaikan istri dan anaknya. Akibatnya dia harus membayarnya dengan kehilangan orang - orang yang sangat berarti sekali dalam hidupnya.


Salma sedang bersiap - siap akan pergi ke rumah Alin adiknya. Hari ini Alin akan mengadakan pesta syukuran ulang tahun Attar yang pertama. Keponakannya itu hari ini genap berusia setahun.


Beberapa saat kemudian wanita itu sudah sampai di depan rumah kediaman keluarga Riko. Alin menyambut kedatangan kakaknya itu bersama dengan baby Attar.


" Assalamu'alaikum!" Salma mengucap salam.


" waalaikum salam! mbak Salma, Raisa ayo masuk!" seru Alin dengan gembira. Salma menurunkan Raisa dari gendongannya. Baby Attar yang melihat Raisa sedang berdiri di depan ibunya berjalan mendekati balita itu. Dia menarik tangan Raisa bermaksud untuk mengajak adik sepupunya itu masuk. Namun sayangnya, karena belum bisa berjalan, Raisa malah terjerembab jatuh. Balita itu menangis karena kesal.


" Attar, pelan - pelan, sayang. Tuh, dedek Raisanya jatuh, kan! " kata Alin mengingatkan Sang Putra.


Baby Attar yang merasa bersalah berusaha membujuk agar adik. sepupunya itu berhenti menangis. Tingkah mereka berdua sangat lucu dan menggemaskan.


Ibu Ayuni, ibunya Salma juga hadir di sana. Salma terenyuh melihat kondisi Sang ibu yang tampak kurus. Maklum saja, wanita yang telah melahirkan Salma itu sekarang sering sakit - sakitan.


" Wah, Salma! Anakmu sudah besar. Berapa bulan umurnya, sayang? " tanya ibunya Riko.


" Iya, tante. Raisa sudah sembilan bulan!" jawab Salma ramah kepada wanita yang merupakan mertua dari adiknya itu.


" Eh, cucu nenek Yuni, sudah bisa jalan atau belum, nih? " tanya ibu Ayuni, ibunya Salma.


" beyum, nene uni, laisa beyum bica jalan. bayu bica beldili. " jawab Salma menirukan suara balita kepada ibunya.


" Aduh, ternyata cucu nenek Yuni belum bisa berjalan. Sini sama nenek, yuk! " ajak ibu Ayuni sambil merentangkan tangannya.


Raisa, balita itu mencoba melangkahkan kakinya ke arah Sang nenek. Namun baru dia langkah, dia sudah kembali duduk.


" Loh, kok duduk lagi, dek. Ayo belajar jalan lagi ke arah nenek.! " kata Salma.


Namun bukannya berdiri, balita itu malah memilih berbaring menggulingkan tubuhnya di atas karpet tebal berudu sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. Tingkahnya sangat menggemaskan sekali .


Pesta syukuran Ulang tahun Attar berlangsung sederhana namun cukup meriah. Alin mengundang beberapa anak yatim dan anak panti untuk berbagi rejeki kepada mereka.


Usai acara makan - makan bersama dan berbagi bingkisan, acara itu pun selesai. Salma pamit mohon diri kepada keluarga Riko karena sopir pribadi keluarga Chandler sudah datang.


" Mah, Salma pamit pulang dulu! " kata Salma pada ibu Ayuni, ibundanya.


Wanita itu tampak terharu ketika putri sulungnya itu memeluk dan menjabat tangannya. Walaupun Salma selalu mengirim uang untuk bekal hidup Sang ibu dan adiknya, namun dia jarang sekali datang ke rumah Sang ibu.


Terlebih lagi karena peristiwa Salma yang pergi dari rumah, selama hampir enam bulan, dia tak pernah bertemu dengan Sang ibu.


Salma rasa, ibunya pasti sudah mengetahui perihal perginya Salma dan anaknya dari rumah tanpa pamit. Namun, ibunya memang ibu yang bijak, dia bersabar menunggu Sang anak sendiri yang mau bercerita padanya. Namun sepertinya Salma memilih untuk tidak membahas hal itu.


Sementara itu, disebuah supermarket yang terletak di kawasan ibukota. Seorang lelaki dengan stelan kaos putih dan celana jeans biru, melangkah masuk ke dalam setelah memarkirkan mobilnya. Di sebelahnya berjalan seorang wanita cantik yang sedang menggandeng seorang bocah berusia tiga tahunan.


" Jani, kamu belanja kebutuhan dapur dan apa saja yang kamu butuhkan. Aku dan Azka mau ke bagian mainan. Kalau ada apa- apa, kamu hubungi aku saja, ya! " Kata Dewa sambil melangkah bersama Azka menuju ke stand mainan yang terletak di dekat kasir.


Jani mengangguk kemudian mengambil troli Lalu berjalan ke arah stand makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian, wanita cantik itu sudah asyik memilih dan berbelanja barang - barang kebutuhan mereka.


" Dewa! Kamu sedang apa di sini?" sebuah suara menyapa Dewa membuat lelaki itu menoleh ke arah suara sapaan itu.


"Salma, Raisa!! Kalian di sini juga? " Dewa balik bertanya.


" Iya, aku mau belanja kebutuhan Raisa." jawab Salma.


"Azka ada dedek Raisa!" Dewa memberitahu Sang Putra akan keberadaan Raisa. Bocah tampan itu menoleh dan wajahnya seketika berubah cerah.


" Dedek cantik! " serunya. Dia kemudian berjalan mendekati Raisa yang berada di dalam troli. Balita itu merasa senang karena Azka mengajaknya bermain.


" Azka, beli mainan apa? tanya Salma.


" Ini tante, Azka mau beli monopoli. Azka mau main sama tante Jani." jawab bocah itu seraya menunjukkan monopoli yang sudah dipilihnya.


" Tante Jani? siapa tante Jani? " tanya Salma yang penasaran dengan jawaban Azka.


" itu, calon mama Azka! " Dewa menutup mulut Sang Putra yang terlalu lancang.


Salma tersenyum lebar. " Wah, beneran Azka punya calon mama? Selamat ya, Dewa! " kata Salma.


" Eh, anu.. itu hanya bisa- bisanya Azka saja. Aku dan Jani nggak... "


" Oh.. jadi namanya Jani. Hmm nama yang bagus. Pasti orangnya cantik..! "


" Dewa..! Sebuah suara menghentikan percakapan mereka. Dewa menoleh dan buru - buru menghampiri wanita yang tadi memanggilnya.


" Jani.! sudah selesai belanjanya? tanya Dewa. Jani mengangguk dan menoleh ke arah Salma.


" Salma, ini Jani. Jani... ini Salma teman aku. Dan ini Raisa anaknya! " kata Dewa memperkenalkan Anjani pada Salma.


Jani menjabat tangan Salma.


" Jani! "


" Salma! "


" Tante, ini tante Jani, dia calon mama Azka! " kembali bocah lelaki itu memperkenalkan Jani sebagian calon mamanya kepada Salma.


Pipi Jani bersemu merah mendengar ucapan Azka. Sedangkan Dewa, garuk - garuk kepala tak tahu harus berkata apa.