
Dewa menggendong tubuh Jani yang sudah lemas ke tempat tidur dan menyelimuti tubuh polos gadis itu dengan selimut.
" Tidurlah istriku, sayang. Terima kasih karena sudah menjadikan aku orang pertama yang menjamahmu."
-
-
-
-
Setahun Kemudian.......
Seorang laki-laki dengan stelah kantor yang masih melekat di tubuhnya, tampak berlari dengan terburu-buru menyusuri koridor rumah sakit terkenal di kota itu menuju ke ruang bersalin.
Brukkk! Tubuhnya menabrak seseorang saat berada di pintu masuk ruangan bersalin.
" Dewa!? " Seseorang memanggil namanya. Dewa, lelaki itu menoleh kaget.
" Pak Rayden!? " seru Dewa. Ternyata orang yang telah dia tabrak adalah Rayden, mantan bosnya, suami dari Salma.
" Apa kabar, bro?" tanya Rayden. Lelaki itu menjabat tangan Dewa.
Dewa membalas jabatan tangan Rayden.
" Baik, pak! " Dewa menjawab dengan kikuk.
" Santai saja, Dewa. Tak usah sungkan. Kita bukan dalam versi atasan dan bawahan lagi." kata Rayden yang rupanya mengerti akan kegugupan Dewa.
Lelaki itu kemudian mengajak Dewa untuk duduk di bangku ruang tunggu di depan pintu masuk ruangan bersalin.
" Ngomong - ngomong, sedang apa kamu di sini? " tanya Rayden. Dewa tersentak kaget. Dia jadi ingat tujuannya semula. Istrinya akan melahirkan sebentar lagi.
" Nah, Pak Rayden sendiri, ngapain di sini?" Dewa balik bertanya pada Rayden.
" Eh... iya. Itu.... Salma akan melahirkan anak kami yang kedua" jawab Rayden grogi.
Sungguh dia tak menyangka jika hari ini dia akan bertemu kembali dengan Dewa, mantan rivalnya dulu.
" Wah, selamat ya, Pak Rayden! " Dewa tanpa sadar memberi ucapan selamat kepada Rayden.
" Terima kasih, Dewa. Tapi... kamu belum menjawab pertanyaan aku. Ngapain kamu di sini? " kata Rayden.
" Saya.. eh maksudnya, sama seperti Pak Rayden. Istri saya juga akan melahirkan." kata Dewa nyengir sambil garuk - garuk kepala yang tak gatal.
" APA? Istri kamu.. akan melahirkan? Tunggu dulu,...memangnya kamu sudah menikah?" Kini Rayden yang tampak terkejut karena tidak pernah tahu jika ternyata Dewa sudah menikah.
" loh.... emangnya Salma tidak pernah cerita sama Bapak, kalo saya sudah menikah. Padahal, Salma saja datang ke resepsi pernikahan saya." kata Dewa.
Dewa ingat, saat itu Salma memang datang sendiri ke pesta pernikahan dirinya dan Jani. Saat di tanya, mengapa Rayden tidak ikut mendampinginya, wanita cantik yang berhijab itu menjawab bahwa Rayden sedang ke Jepang untuk urusan bisnis.
Dewa tersenyum seraya berkata. " Kata Salma, Pak Rayden sedang pergi ke Jepang karena ada urusan bisnis."
Rayden mengangguk. " Iya, benar. Mungkin saat resepsi pernikahan kamu, saya sedang berada di Jepang. Maaf, karena saya tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan kamu." kata Rayden yang merasa tak enak hati.
" Tak apa - apa, Pak. Kan sudah ada Salma... "
" Maaf, suami bu Jani... Pak Dewa yang mana, ya? " seorang perawat keluar dari ruangan bersalin.
Dewa segera berdiri dan maju mendatangi perawat tersebut.
" Ikut saya, Bu Jani membutuhkan bapak! " kata perawat itu.
Wajah Dewa langsung berubah pucat. Dia tampak gugup karena baru kali ini dia harus menemani istri saat akan melahirkan.
Rayden yang melihat hal itu langsung berdiri menghampiri Dewa. Dia menepuk bahu lelaki itu. Memberi dukungan padanya.
"' Jangan gugup, bro. Kamu pasti bisa!" Dewa mengangguk lalu melangkah masuk ke ruangan bersalin.
" Saya suami bu Jani." kata Dewa pada perawat jaga di ruangan itu.
" Kesini, pak. Ikut saya! " Perawat itu kemudian membawa Dewa ke sebuah ruangan. Di dalamnya terlihat Jani yang sedang berjuang untuk mengeluarkan cabang bayi buah hati mereka. Dia di dampingi oleh dua orang bidan dan seorang dokter spesialis kandungan.
" Dok... ini suami bu Jani sudah datang!" kata perawat itu.
" Pak, cuci tangan dan pakai baju steril dulu, ya. Soalnya istri bapak, bu Jani, minta di dampingi oleh bapak saat melakukan persalinan." kata Dokter tersebut.
Dewa mengangguk dan segera mencuci tangan dan memakai baju steril yang diberikan oleh perawat jaga.
Dokter kandungan itu menjelaskan bahwa Jani menolak untuk di Cesar. Padahal kondisi wanita itu sudah lemas karena kehabisan tenaga.
Dewa lalu menghampiri Jani yang tampak terbaring lemas dan kesakitan. Dia menggenggam tangan wanita cantik yang kini resmi bergelar nyonya Dewa itu. Rasanya Dewa tak tega saat melihat keadaan Jani yang begitu tersiksa.
Lelaki itu mengecup kening dan pucuk kepala Sang istri.
" Cesar saja, ya sayang!" bujuknya. Jani menggeleng pelan.
" Nanti aku di bilang orang istri yang tak sempurna, karena melahirkan bukan melalui rahim." jawabnya. Dewa ingin tertawa mendengar jawaban polos dari Sang istri. Jadi itu alasan mengapa Jani menolak untuk melakukan operasi Cesar.
Dokter dan bidan yang ikut mendengar juga mengangguk membenarkan perkataan Dewa.
" Iya, bu. Mau Cesar atau normal. Ibu tetap seorang ibu yang telah melahirkan anaknya. Jadi... mau ya, bu di Cesar. Soalnya kondisi ibu sudah lemas sekali." kata dokter itu.
Jani mengangguk tanda setuju untuk melahirkan dengan cara Cesar. Dokter dan bidan segera mempersiapkan meja operasi untuk Jani.
Dewa menunggu dan mendampingi Jani dengan sabar di ruang operasi.
Tak berapa lama kemudian, bayi dalam perut Jani berhasil di keluarkan melalui operasi Cesar. Tangis bayi itu pecah saat selaput yang membungkus tubuhnya dibuka.
Bayi yang berjenis kelamin perempuan dan memiliki bobot kurang lebih dua setengah kilogram itu terlahir sehat dan cantik, tanpa kurang satupun juga.
" Selamat, ya pak. Bayinya perempuan. Sehat dan cantik seperti ibunya." kata dokter yang menangani persalinan Jani.
Hati Dewa berbunga-bunga. Dia kini resmi menjadi ayah sesungguhnya. Tuhan telah memberinya seorang putri. Lengkap sudah kebahagiaannya. Dia memiliki seorang putra dan seorang putri dalam hidupnya.
Dewa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah dan Rahmat yang telah diberikan kepadanya. Lelaki itu lalu menghadiahkan sebuah kecupan pada istrinya yang masih belum sadar akibat pengaruh obat bius.
Sementara itu di ruangan lain, seorang lelaki berparas tampan bak dewa Yunani tampak sedang memeluk seorang wanita cantik berhijab yang tampaknya sebentar lagi akan melahirkan.
Karena pada persalinan pertama dulu, Salma melakukannya melalui Cesar, maka kali ini dia ingin melahirkan secara normal. Kebetulan juga kondisi Salma sangat baik dan fit.
Rayden mengecup tangan Sang istri saat melihat wanita itu meringis menahan sakit saat melewati masa pembukaan bayi mereka.
" Bee, tarik nafas lalu keluarin!" kata Rayden. Salma menarik nafas dan mengeluarkannya lagi. Rasa sakit di perutnya sedikit berkurang.
" Tahu nggak, tadi aku ketemu siapa, bee?" tanya Rayden mengalihkan perhatian Salma pada rasa sakitnya.
Salma menoleh ke arah suaminya dengan rasa penasaran. " Siapa, hon?"
" Hmm, Dewa! " jawab Rayden. Mata Salma membulat dengan indah.
" Beneran. Ngapain dia di sini? " tanya Salma disela - sela rasa sakit yang kembali datang. Dia kembali meringis.
" Yah.. pake nanya. Of course His wife, juga mau melahirkan di sini, bee."
Jika tadi mata Salma yang membelalak kini mulut wanita itu yang terbuka lebar.
" Oh... Jani mau melahirkan."
" What.. kamu kenal sama istrinya Dewa?" tanya Rayden. Salma mengangguk...
" Aduhh.... Sakit, Hon..!" pekik Salma. Rayden panik dan segera memanggil dokter.
Dokter segera memeriksa keadaan Salma.
" Bu Salma sudah mengalami pembukaan akhir. Waktunya kita menyambut Sang bayi!" kata Sang dokter.
Beberapa bidan kemudian tampak sibuk menyiapkan perlengkapan untuk persalinan Salma. Dokter mulai memandu Salma agar wanita itu segera mengejan pada hitungan yang ketiga.
" Yah, bu.. jika saya bilang mengejan.. ibu mengejan, ya!" kata dokter memberi instruksi pada Salma.
Rayden memeluk Salma yang posisinya bersandar di bahu Rayden. Tangannya menggenggam tangan wanita itu. Memberinya kekuatan dan dukungan.
" Yah, siap bu, mengejan sekarang!" perintah dokter itu.
Salma mengejan dengan sekuat tenaga saat dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bagian vaginanya dan terasa melesak ingin keluar.
Satu... dua... tiga...
" Oe... Oe.... Oe... !" suara tangisan bayi yang melengking keras memenuhi ruangan bersalin tempat Salma melahirkan.
" Selamat, ya pak Rayden. Bayi bu Salma laki-laki. Sangat tampan. Persis seperti papanya." kata dokter yang menangani persalinan Salma sambil tersenyum. Dia memang mengenal baik keluarga Rayden karena lelaki itu adalah pemilik saham terbesar di Rumah sakit tersebut.
Rayden menarik nafas lega dan mengucap syukur alhamdulillah karena anak dan istrinya melahirkan dengan selamat.
Memang pada kehamilan yang kedua ini Rayden menjaga istrinya dengan ekstra ketat. Dia tak ingin peristiwa yang terjadi menjelang kelahiran anaknya yang pertama terulang kembali.
Cup.. cup. Rayden menghadiahi istrinya itu dengan kecupan pada wajah, kening, bibir dan yang terakhir pucuk kepala Sang istri.
Wanita itu terkekeh manja menerima perlakuan manis dari sang suami. Memang... semenjak kehamilan kedua ini, suaminya menjadi sangat posesif dan over protektif padanya.
Laki-laki yang bergelar 'Daddy Raisa' itu juga tak segan - segan menunjukkan kasih sayang dan cintanya pada Sang istri walaupun di depan umum.
Rayden minta izin keluar saat bidan sedang membersihkan bayi dan istrinya.
Dia kembali bertemu dengan Dewa yang tampak bahagia karena kelahiran anak pertamanya.
" Istrimu sudah melahirkan, bro? " tanya Rayden.
" Ya.. perempuan. Pak Rayden... eh maksudnya Salma... Gimana? "
" Wahh....selamat ya, bro. Kamu sekarang sudah jadi seorang ayah. Oh, iya...Istriku juga sudah melahirkan dengan selamat. Bayi kami laki-laki." jawab Rayden.
" Wahhh, hebat. Selamat ya, pak Rayden!" kembali Dewa mengucapkan selamat kepada Rayden untuk yang kedua kalinya pada hari ini.
" Terima kasih, bro. Kamu juga hebat!" katanya sambil memeluk Dewa. Kedua laki-laki itu berpelukan layaknya seperti sahabat karib.