
"Wahhh, hebat. Selamat ya, pak Rayden!" kembali Dewa mengucapkan selamat kepada Rayden untuk yang kedua kalinya pada hari ini.
" Terima kasih, bro. Kamu juga hebat!" katanya sambil memeluk Dewa. Kedua laki-laki itu berpelukan layaknya seperti sahabat karib.
-
-
-
Setahun kemudian....
Seorang gadis belia yang cantik sedang berjongkok memungut balon - balon yang berserakan di lantai.
Satu persatu dipungutinya lalu di ikat menjadi satu kemudian menggantungnya di atas langit - langit ruang tamu.
" Ifa..., ada yang nyari!! " seru Salma, kakaknya dari arah ruang tamu.
Gadis itu adalah ifa, adik bungsu salma. Hari ini dia sengaja datang ke rumah Salma untuk membantu mendekorasi rumah Sang kakak.
Kakaknya itu akan merayakan pesta ulang tahun yang pertama Aldaberan, putra kedua mereka yang hari ini genap berusia satu tahun.
" Onty ifa, kakak Laisa mau balon! " kata Raisa yang tiba-tiba datang dan merengek minta di ambilkan balon.
" Raisa, balon itu untuk ulang tahun adek Al. Raisa ambil yang ini saja, ya! " kata Ifa seraya menyerahkan sebuah balon berwarna merah muda kepada balita tiga tahun itu.
Raisanya menerima balon dari tangan Ifa dan segera berlari menghampiri Attar. Rupanya balita itu ingin bermain balon bersama Attar.
" Fa.. itu temanmu dari tadi udah nungguin! " kakaknya masuk dan mengingatkan gadis itu bahwa temannya sudah menunggu dari tadi.
" Siapa sih, kalau si Amel, suruh aja langsung ke sini, Mbak! " kata Ifa yang kesal karena pekerjaannya mendekor ruangan menjadi terganggu.
Kakaknya diam tak menyahut. Ifa melanjutkan kembali pekerjaannya karena malas untuk turun lagi. Biar saja si Amel saja yang kemari. Biar sekalian gue suruh bantuin gue.
Ifa melihat seseorang melintas di bawah tangga tempat dia berpijak. Tidak terlalu jelas itu siapa karena terhalang oleh tumpukan balon di tangannya.
Dia sudah bersiap - siap untuk memasang balon yang terakhir di tengah-tengah langit- langit.
" Mel, geser sedikit tangganya ke kiri, biar pas! " seru Ifa pada orang yang di bawah sana yang dia anggap sebagai Amel.
Tangga itu bergeser sedikit ke kiri.
" Oke, sudah pas! " Ifa segera memasang balon - balon yang sudah dirangkai ke tempatnya.
Tak berapa lama, pekerjaan itu selesai. Ifa bergerak turun ke bawah.
" Udah selesai, makasih ya... me..! " Ucapan Ifa terhenti ketika menyadari bahwa yang di hadapannya bukan Amel sahabatnya, tapi Ryan, kakak Amel.
" Eh, kak Ryan. Ifa pikir tadi Amel. Maaf ya, kak! " kata Ifa tersipu malu karena sudah salah mengira orang.
" Iya, nggak apa - apa, Ga. Aku kesini mau antar pesanan kue atas nama kamu. " kata Ryan sambil menyerahkan sebuah kotak besar yang isinya kue ulang tahun untuk Aldaberan.
" Makasih, ya kak. Eh... ngomong - ngomong kakak kerja di Ryuto Cake' and Bakery? " tanya Ifa pada Ryan.
" Hmm, itu toko kue milik aku! " jawab Ryan. Mulut Ifa menganga tak percaya. Hari gini ada cowok ganteng memilih usaha membuka toko kue dan roti.
" Iya, pasti kamu juga berpikiran sama seperti yang lainnya. Heran, mengapa aku yang cowok tulen milih usahanya mengelola toko kue dan bakery! " kata Ryan.
" Iya sih, kak. Soalnya Amel juga nggak pernah cerita kalau kakaknya punya toko kue dan bakery." kata Ifa.
" Iya, Amel memang nggak pernah tahu kalau aku punya usaha ini. Aku membuka usaha toko kue ini untuk anak - anak panti asuhan yang aku kelola. Bersama dengan ibu panti, aku menjalankan usaha ini. Hasilnya lumayan buat nambah uang belanja dapur! " kata Ryan sambil tersenyum manisss banget. Sampai Ifa rasanya hampir mati karena serangan jantung dan diabetes.
" Ok, Ifa. Kalau gitu aku mau pamit dulu. Aku mau nganterin pesanan kue yang lain lagi." kata Ryan.
" Iya, kak. Sekali lagi makasih karena sudah nganterin kue dan bantuin Ifa mindahin tangganya." kata gadis itu.
Ryan akhirnya pulang setelah pamit juga kepada Salma yang sedang bermain bersama Raisa dan Al.
" Hm, kayaknya kue Al kali ini pake resep cinta dan hiasan tali sayang!" kata Salma seraya melirik Sang adik yang salah tingkah.
" Iiiihh kak Salma, apaan sih! " gerutunya sambil buru - buru kembali masuk ke dalam.
Salma tertawa terbahak-bahak sambil mengguncang bahu bayi Aldaberan dengan gemas. Raisa yang melihat hal itu tampak bingung sendiri melihat ulah sang bunda.
-
-
-
Alin dan Riko yang hadir di pesta itu tampak sangat senang sekali. Riko dan Alin beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk tinggal di Australia berikut juga mama Riko. Saat ini, Alin sedang mengandung anak yang kedua. Attar, Anak mereka yang pertama sekarang sudah berusia kurang Lebih seumuran Raisa. Hanya terpaut tiga bulan saja selisihnya dengan Raisa.
Karena Alin sedang hamil, maka Riko memutuskan untuk pulang ke Indonesia supaya Alin tidak merasa Stress akibat terlalu lama berpisah dengan ibu dan saudara - saudaranya yang lain.
Rayden hadir tepat waktu, lima menit sebelum acara dimulai. Di tangan lelaki itu terdapat mainan mobil- mobilan yang besarnya hampir seukuran bom - bom car. Mobil itu dijalankan dengan tenaga battery yang dihubungkan ke aki.
" Selamat ulang tahun, Al. Jagoan daddy" kata Rayden. Dia memeluk Baby Al dan menciumi bocah yang baru saja bisa berjalan itu dengan gemas.
" Daddy.. bobing.. Al mau bobing! " kata bocah itu seraya mendekati mobil - mobilan yang dibawakan oleh sang ayah.
" Dedek Al, awal hati - hati! " kata Salma seraya memegangi bocah laki-laki yang tampak bersemangat sekali untuk menaikkan mobil - mobilan besar itu.
Rayden membantu Al untuk naik ke dalam mobil - mobilan itu dan menjalankannya menggunakn remote control yang ada di tangannya.
Wajah balita itu terlihat gembira sekali. Matanya berbinar senang. Sesekali dia menepuk tangannya sambil tertawa.
Tiba-tiba, Raisa Sang kakak datang dari arah dalam. Balita tiga tahun itu menangis sambil menghentakkan kakinya kesal ke lantai karena tidak di ajak oleh sang adik main mobil- mobilan.
Semua yang melihat peristiwa itu tak dapat menahan tawa. Rayden geleng-geleng kepala melihat Sang ibu yang harus bersusah payah membujuk putri kecilnya agar mau berhenti menangis.
Sungguh sebuah pemandangan yang rutin dia saksikan. Dia amat menyukai pemandangan seperti itu. Baginya amat menggemaskan melihat Salma dengan sabarnya membujuk Sang putri kecilnya agar berhenti ngambek atau nangis.
Terlihat sekali betapa keibuannya istrinya itu. Salma sangat cantik. Kecantikannya tidak luntur sedikitpun meski kini sudah memiliki dua orang anak. Malahan semakin cantik dan seksi saja istrinya itu dimatanya.
Acara pesta ulang tahun pun segera dimulai. Acara tersebut berlangsung meriah. Ada acara berdoa bersama. Acara tiup lilin dan diiringi oleh lagu selamat ulang tahun. Dan terakhir adalah acara makan - makan dan bernyanyi bersama. Semuanya merasa senang dan gembira.
" Assalamu'alaikum! "
Rayden dan Salma menoleh bersamaan. Ada tamu yang datang.
" Wah, Dewa! Jani! Hohoho.... apa kabar, bro? " serunya gembira seraya memeluk lelaki muda yang kini sudah menjadi sahabatnya itu.
Salma berdiri dan memeluk Jani yang hari ini terlihat cantik dengan longdress coklat muda dipadu dengan jilbab warna senada. Jani kini memang memutuskan untuk berhijab setelah menikah dengan Dewa.
" Apa kabar, Jani? Wah.... Cantika sudah besar, ya sekarang! " katanya sambil menahan gemas karena ingin sekali mencubit dan mengulek - ulek tubuh montok anak itu.
Cantika putri Dewa dan Anjani itu memang sangat cantik sekali. Wajahnya kecantikan Sang ibu. Wajahnya bulat sama dengan matanya. dengan bulu mata yang lentik dan panjang. Bibirnya bulat dan penuh. Benar - benar menggemaskan.
" Ayo semua pada masuk, sini Cantika! " ajak Salma.
" Oh.. iya Cantika. Selamat ulang tahun. Kan hari ulang tahun Cantika sama denganhari ulang tahunnya Aldaberan." kata Salma lagi.
" Makasih tante Salma, makasih Al.. " kata Jani mewakili Cantika. Tiba-tiba Azka anak Dewa masuk dan menarik baju Salma.
" Tante, tante. Dedek Raisa mana? Dedek cantik mana, tante? " tanya Azka. Anak itu memang selalu memanggil Raisa dengan sebutan 'dedek cantik'.
" Oh, dedek cantik ada di dalam. Sedang main balon sama Attar. Makanya ayo semuanya masuk ke dalam!" ajak Salma.
Azka masuk lebih dahulu dengan wajah kesal. Jani dan Dewa menyusul di belakangnya.
" Azka, jangan lari! " seru Jani mengingatkan Azka yang berlari masuk ke ruang tengah mencari Raisa.
Saat bocah itu menjumpai Raisa yang sedang bermain balon bersama Attar, wajahnya menampakkan ketidak sukaannya. Dia segera menarik Raisa agar menjauh dari Attar. Tentu saja Attar menjadi marah. Dia merasa tidak terima jika sepupunya itu bermain sama orang lain. Tarik - menarik pun terjadi. Alin dan Jani datang dan melerai keduanya.
" Azka, mengapa bertengkar dengan dedek Attar? " tanya Jani.
" Habisnya dedek Raisa mainnya sama Attar, Azka juga mau main sama dedek Raisa!" jawab bocah itu dengan lugu.
" Nggak, nggak boleh. Raisa itu dedeknya Attar. Raisa nggak boleh main sama Azka!" jawab Attar dengan mata melotot ke arah Azka. Alin dan Jani sama bingung.
" Nggak boleh gitu, Attar. Kan Azka juga mau main sama-sama dedek Raisa. Main sama-sama, ya nak! " kata Alin membujuk Attar.
" Nggak mau, mommy. Nanti Azka ambil dedek Raisa!" tolaknya hampir menangis.
Hadeuh,... kalau sudah begini repot jadinya. Masing-masing nggak ada yang mau mengalah.
Salma datang menengahi sambil menggendong Cantika.
" Attar, nggak boleh gitu. Azka nggak akan ambil dedek Raisa. Karena Azka juga punya dedek bayi yang cantik, namanya Cantika. Ini... dia dedek Cantikanya, cantik kan, dedeknya?" tanya Salma pada Attar .
Attar berjalan mendekati Cantika yang berada dalam gendongan Salma.
" Dedek Cantika, .. cantik !" katanya sambil mencubit gemas pipi balita cantik yang cubby itu.
" Hmm, iya. Ayo sekarang kita ke ruang tengah. Kita makan kue ulang tahun, yuk!" ajak Salma.
Semua bocah - bocah itu mengangguk lalu masuk ke ruang keluarga bergabung dengan anak-anak lainnya yang masih asyik menikmati makanannya. Setelah selesai, semua anak-anak itu mengantri dengan rapi untuk menerima bingkisan dari Salma. Kemudian pulang dengan tertib.