Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 11. Rejecting..



𝓢𝓪𝓪𝓽 𝓳𝓪𝓾𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓼𝓲𝓼𝓲𝓷𝓾


𝓪𝓭𝓪 𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾 𝓭𝓲 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓴𝓾...


𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓭𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓰𝓪𝓷𝓷𝓰𝓾


𝓶𝓮𝓷𝓰𝓰𝓪𝓷𝓰𝓰𝓾 𝓵𝓪𝓶𝓾𝓷𝓪𝓷𝓴𝓾


𝓱𝓲𝓷𝓰𝓰𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓱𝓪𝓭𝓲𝓻𝓴𝓪𝓷 𝓱𝓪𝓼𝓻𝓪𝓽


𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓳𝓾𝓶𝓹𝓪 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷𝓶𝓾..


Hari sudah semakin beranjak malam. Udara dingin perlahan hadir menyusupi tiap bagian dari kehidupan malam di Kuta.


Para turis masih banyak yang lalu lalang berkeliling sekedar jalan- jalan atau duduk santai menikmati keindahan panorama pantai pada malam hari.


Salma terbangun dan mendapati dirinya tertidur di sofa. Dia tidak melihat keberadaan mbak Yuni di kamar. 'Mungkin mbak Yuni dan teman-temannya masih bersenang-senang diluar menikmati liburan.' pikir Salma.


Salma memutuskan pergi keluar setelah mengganti pakaiannya dengan Jean dan sweater.


Salma baru menapakan kakinya di lobi hotel ketika tak sengaja ekor matanya menangkap sosok bayangan yang dikenalnya sedang duduk di bar yang letaknya di tak jauh dari lobi.


" itu kan Pak Rayden" gimana Salma dalam hati. Dia lalu memutuskan menghampiri Rayden yang sedang duduk membelakangi pintu.


"Pak Rayden-! "


Rayden berdiri menoleh mencari asal sumber suara. Dia mendapati Salma yang berdiri di belakangnya. Menatap ke arahnya dengan pandangan cemas.


" Salma, sedang apa kamu di sini-? "


Rayden bertanya pada Salma dengan tatapan aneh.


" Justru saya yang harusnya bertanya, sedang apa Bapak di sini ? Saya menunggu Bapak dari tadi sampe ketiduran... " kata Salma dengan kesal karena merasa di permainankan oleh Rayden.


Rayden menepuk jidatnya. Ya ampun.. karena kesal dan marah sama Salma dia jadi melupakan janjinya menjemput gadis itu. Padahal dia sendiri yang membuat janji.


"Maaf, aku tadi kesal dan marah sama kamu. Jadi aku pergi ke tempat ini. Aku tadi minum sedikit.. tapi.... "


Belum sempat Rayden melanjutkan ucapannya. Tubuhnya mendadak limbung. Untung saja Salma buru buru menahannya sehingga tubuh Rayden bertumpu pada tubuh Salma yang mungil.


Beberapa sekuriti di sana mencoba menolong Salma. Namun dengan isyarat Salma mengatakan bahwa dia bisa menangani Rayden.


Salma kemudian menghubungi Pak Indra karena setahu Salma Pak Indra juga ikut dalam rombongan itu.


Beberapa saat kemudian Pak Indra datang bersama supir pribadinya.


Dia lalu memerintahkan supirnya untuk memapah tubuh Rayden kembali ke kamarnya.


Rayden yang mabuk dan tak sadarkan diri di baringkan di atas tempat tidur. Salma membuka sepatu dan jas yang melekat di tubuh Rayden dan menyelimutinya dengan selimut.


Dia meminta pada room boy agar menyediakan ember untuk berjaga jaga siapa tahu Rayden mendadak muntah.


"Terima kasih, Pak-! " kata Salma.


" It' s ok, Salma. Semuanya sudah terkontrol"


"Emang Rayden ada masalah apa-?" tanya Pak Indra yang tak habis pikir mengapa Rayden sampai bisa minum minuman keras dan mabuk.


" Saya tidak tahu, Pak-! Dari tadi saya di kamar. Saat keluar barusan, saya melihat Pak Rayden di bar. Lalu saya samperin. Ternyata beliau sudah begini keadaannya-!" jelas Salma panjang lebar.


Pak Indra manggut-manggut.


"Baiklah, kalau begitu saya kembali dulu ke kamar. Kalau ada masalah, kamu hubungi saya, ya-! "


Pak Indra lalu kembali bersama supirnya. Tinggallah Salma seorang diri menunggu Rayden yang tidak sadarkan diri karena mabok, di kamar itu.


Salma memilih duduk di sofa. Pikirannya kembali mengingat ucapan Rayden yang mengatakan dia sedang kesal dan marah padanya.


"Apa salahku-? "


"kenapa Pak Rayden jadi marah padaku-? "


"Salma-! ....Salma-!! "


Rayden mengigau memanggil namanya.


"Pak, Pak Rayden-! Bangun, Pak! "


"Salma, Jangan tinggalin aku-! "


" Bapak mimpi buruk, ya-!? "


"Salma, Salma-! "


"Pak, bangun Pak-! "


Salma mengguncang pelan tubuh Rayden membuat Rayden terjaga dari mimpi nya.


Peluh membanjiri tubuhnya, padahal AC di ruangan itu di setel penuh.


Matanya nanar menatap Salma.


" Salma, kamu di sini-! "


Rayden memeluk erat tubuh Salma. Bahunya berguncang. Sepertinya Rayden menangis.


"Salma, jangan tinggalkan aku lagi. Maafkan aku yang terlalu egois. Aku mencintaimu, Salma! "


Salma yang tak mengerti hanya terpaku. Namun tangannya terulur mengelus kepala Rayden. Entah mengapa hatinya ikut pilu melihat Rayden yang menangis memeluknya.


"Pak Rayden, saya di sini. Saya tak akan ninggalin, Bapak-! "


" Please, berjanjilah padaku, apapun yang terjadi kamu takkan tinggalin aku, Salma-! "


"Iya, Pak Rayden. Saya janji-! " kata Salma.


Pelukan Rayden semakin erat. Seakan takut Salma akan menghilang meninggalkan dirinya.


"Ini masih tengah malam, baru juga pukul 03.00.Lebih baik Bapak tidur kembali-! "


Salma menyuruh Rayden kembali berbaring. Namun yang disuruh menolak. Rayden menarik tangan Salma.


" Temani aku tidur, jangan jauh - jauh dariku-! "


" Saya di sini, Pak! saya tidur di sofa itu. Dekat kan, dengan Bapak ?"


Rayden menggeleng. "Tidurlah di sini, Salma-! " Rayden menepuk kasur di sebelahnya.


Salma akhirnya mengalah. Dia lalu membaringkan tubuhnya di sisi Rayden. " berbaliklah-! "


Salma berbalik dengan posisi membelakangi Rayden.


Rayden tidur dengan memeluk Salma dari belakang. Salma terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ada kehangatan dan rasa damai saat berada dalam pelukan Rayden.


Tak lama kemudian mata Salma sudah terpejam. Dia tertidur dalam pelukan Rayden.


^^^***^^^


Cahaya matahari menerobos melalui celah - celah tirai kamar yang sedikit terbuka.


Salma membuka matanya perlahan dan menyadari bahwa ini bukan kamar dia dan mbak Yuni.


Salma lalu ingat bahwa tadi malam dia menemani Rayden yang sedang mabuk. Tengah malam, Rayden terjaga dan memintanya untuk tidur di sebelahnya.


Dia tidur seranjang dengan Rayden. Aduh ibu-! Maafkan anakmu, ya-!


Salma terlonjak kaget.


" Astaghfirullah, Saya kelewatan sholat subuh-!" peliknya kaget.


" Tenanglah, aku sudah menyiapkan baju sholat buat kamu-! kata Rayden dingin.


Salma segera bangun dan membersihkan diri kemudian mengambil wudhu. Dia sholat subuh di kamar Rayden.


" Ini ada baju ganti untukmu dan peralatan mandi baru. mandilah, lalu kita sarapan bareng-! "


" Terima kasih, Pak"


Salma lalu mengambil baju dan juga peralatan mandi yang Rayden berikan, lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai, Salma keluar dengan memakai baju yang Rayden berikan.


Rayden tertegun melihat kecantikan Salma yang polos tanpa hiasan make up yang justru membuat kecantikannya semakin menonjol.


"Kamu cantik sekali. " Salma tersipu malu ketika Rayden memujinya.


" makasih, pak. Sekarang bolehkah saya kembali ke kamar saya-?"


Rayden mengernyitkan keningnya.


" Makanlah dulu sarapanmu ,


aku akan memgajakmu keluar setelah ini-! "


" Kemana -? "


" Kita jalan jalan ke Ubud-! kata Rayden.


Bola mata Salma membulat. Apa dia tak salah dengar. Rayden mau mengajak Salma ke ubud.


Salma mengangguk senang lalu memakan sarapannya dengan bersemangat. Walaupun Rayden sudah memperingatkan agar dia makan dengan pelan - pelan.


Setelah selesai sarapan, Salma dan Rayden memutuskan untuk berangkat pagi ini juga ke ubud. Mereka mengendarai mobil dengan Rayden sendiri yang menyetir mobilnya.


Mobil melaju pelan membelah jalanan menyusuri jalan raya menuju desa ubud.


" Pak, boleh tidak saya bertanya? " sebuah pertanyaan terlontar dari bibir mungil Salma memecah keheningan di dalam mobil.


" mau nanya apa-? "


" Tapi janji jangan marah, ya! "


Rayden terkekeh melihat mimik wajah Salma. " Iya, deh. Emang kamu mau nanya apa? "


" Bapak marah ya sama Salma kemarin-? "


" Nggak-!! Siapa yang bilang? "


" bapak yang bilang-! sebelum bapak tidak sadarkan diri, bapak berkata bahwa bapak sedang marah dan kesal pada Salma-! "


" Benarkah? kok saya nggak ingat-! "


" Tapi benar kan bapak itu marah sama Salma-!. emang kalau boleh tahu Salma salah apa -?"


Rayden diam sejenak. Dia sedang mencoba mencari kata yang tepat untuk menjelaskan alasan mengapa dia marah.


" Salma, kamu kemarin janji mau kasih jawaban atas pertanyaan ku-! "


" Pertanyaan yang mana, Pak? "


" Itu, yang di ruang rapat-! "


" Oh yang itu..! "


" Ok, saya akan kasih jawaban! "


Dada Rayden berdebar kencang menunggu jawaban dari Salma.


" Tapi Salma mau nanya dulu, boleh nggak? "


" Emang Salma mau nanya apa, sayang? "


" Apa Pak Rayden nggak salah menetapkan pilihan pada Salma?" Rayden diam dan menunggu Salma melanjutkan ucapan nya.


" Salma hanyalah seorang gadis yatim , tidak punya kelebihan apa - apa. Salma takut pada akhirnya nanti Bapak akan kecewa dan berakhir pula dengan Salma yang terluka untuk kedua kalinya."


Rayden menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Salma mau mendengar sebuah cerita? "


" Mau-! Salma suka cerita mendengar cerita-! "


" Ok, aku akan bercerita tentang sebuah kisah "


" Ini adalah kisah seorang gadis cantik. Dia gadis yatim yang di tinggal mati oleh ayahnya dan menjalani hidup sederhana bersama ibu dan adik adik nya.


Pada suatu hari gadis itu telah menolong dan menyelamatkan nyawa seorang pemuda yang mengalami kecelakaan dan juga mendonorkan darahnya sehingga nyawa pemuda itu bisa selamat. Namun sayangnya pemuda itu tak sempat mengucapkan terima kasih kepada gadis penolongnya karena gadis itu sudah keburu pergi.


Setelah sembuh dia kembali mencari gadis itu. Namun sayangnya dia tak menemukannya. Dia terus mencari hingga akhirnya Tuhan mengabulkan doanya. Dia menemukannya. Dan dia berjanji bahwa dia tak akan melepaskannya lagi untuk yang kedua kalinya. Ternyata pemuda itu telah jatuh cinta pada Sang Gadis penolongnya tersebut "


Mata Salma mengerjab mendengar cerita Rayden. Sungguh dia merasa ada keterkaitan antara dirinya dan gadis dalam dongeng Rayden.


" Salma, tahukah kamu siapa pemuda itu? "


Salma hanya menggeleng tak tahu.


" Salma, pemuda itu aku. dan gadis itu adalah kamu-! " Salma terlonjak kaget.


"jadi maksud ,bapak??"


"Salma, coba kau ingat kembali. pernahkah kamu menolong seorang anak sekolah yang kecelakaan.? "


Salma mencoba memutar kembali ingatannya.


Lalu dia teringat pada suatu peristiwa. Ya.. dia pernah menolong seorang anak dari sekolahnya yang mengalami kecelakaan. Keadaan anak itu luka parah di kepala, tangan dan kakinya juga mengalami patah tulang.


Dia yang berteriak minta tolong agar di carikan taksi dan orang-orang juga ikut menolong nya menggotong anak laki-laki itu ke dalam taksi dan membawanya segera ke rumah sakit.


Dia juga yang menghubungi pihak sekolah yang lalu menghubungi orang tuanya, dan sekaligus mendonorkan darahnya karena kebetulan stok darah yang cocok untuk anak itu habis.


" Jadi, Pak Rayden adalah anak lelaki yang saya tolong itu-? "


Salma rasanya tak percaya, bahwa dunia begitu sempit. Dia bertemu kembali orang yang pernah dia tolong.


" Iya, Akulah anak laki-laki itu. Dan aku telah jatuh cinta pada dewi penolongku-! "


" Jadi Salma, maukah kamu jadi pacarku, kekasih ku, dan pendamping hidup ku selamanya-! "


Salma menangis tersedu. Sungguh dia tak menyangkal bahwa dia juga mencintai Rayden. Namun dia tak menduga Rayden adalah anak laki-laki yang pernah dia tolong.


Akankah cinta Rayden padanya tulus dari hati atau cuma untuk balas budi saja. Apakah pantas dia menerima cinta lelaki itu jika dia tahu kalau ternyata laki-laki itu merasa berhutang budi padanya.


Jadi Kalau memang demikian adanya, bukankah akan terasa lebih menyakitkan lagi


Jadi Rayden mencintainya karena merasa telah berhutang nyawa padanya.


" Maafkan saya Pak Rayden, Sejujurnya Saya juga mencintai Bapak. Tetapi dengan berat Saya katakan Saya tak bisa menerima tawaran Bapak kemarin."


" Saya tak bisa menerima cinta bapak karena saya yakin itu hanya perasaan Bapak saja yang merasa begitu berhutang budi dan berniat membalas kebaikan saya. "


"Sungguh, demi Tuhan saya ikhlas melakukan semuanya. Dan mulai sekarang Bapak tidak perlu merasa berhutang budi lagi pada saya." Kata Salma dengan ketus. Dia menangis terisak- isak.


Hatinya benar benar terluka. Di saat dia mulai membuka hati dan cintanya. Justru terluka itu kembali terbuka.


Salma meminta agar mereka kembali saja ke hotel. Karena dia tak lagi bersemangat untuk pergi ke ubud.


Rayden menuruti semua perintah Salma dengan berat hati. Hatinya gundah dan kalut


Rayden merasa lemas. Dia tak menyangka bahwa Salma akan menolaknya. Air matanya jatuh menetes di kelopak matanya. Hatinya begitu terluka melihat Salma menangis dan juga menolak cintanya. Salma kembali terluka oleh cinta. Sedangkan Rayden terluka karena cintanya pada Salma belum berbalas.