
" nggak apa apa. cuma mau salim.! " Dewa tertegun sejenak mendapat perlakuan seperti itu dari Jani. Namun kemudian, senyumnya merekah lebar dan bahunya terangkat ke atas.
" eh, ya. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum.! " Dewa kemudian masuk ke mobil dan berangkat ke kantor. Sepanjang jalan hatinya berbunga-bunga. Perlakuan Jani yang mencium punggung tangannya sebelum dia berangkat membuat dia senang. Berasa Jani sudah seperti istrinya saja, pikirnya. Dewa bahagia.......
Beberapa hari ini Rayden terlihat sangat sibuk. Kadang-kadang Rayden sampai di rumah saat hari sudah larut malam. Hingga tak jarang, Salma yang ketiduran di depan pintu karena menanti kedatangannya.
Sebenarnya Rayden tak sampai hati untuk membangunkan sang Istri. Dia meminta Salma untuk tidur lebih dahulu, tak usah menunggu nya, namun istrinya itu tak mau mendengar. Dia selalu menunggu Rayden pulang walau harus begadang di depan pintu.
" Bee, bangun !! kenapa tidur di sini?adek Raisa sama siapa? " tanya Rayden ketika kembali mendapati Salma istrinya tidur di sofa ruang tamu. Apalagi kalau bukan untuk menunggu kedatangan Rayden.
" Akh. aaku ketiduran lagi, ya. Maafin aku, Hon. Aku nggak dengar suara mobil kamu. " kata Salma sambil buru -buru memperbaiki jilbabnya yang melorot turun.
Rayden menatap iba pada Sang istri. Akhirnya - akhir ini dia memang terkesan menjauh dan dingin terhadap Salma. Perubahan ini bukannya tak di sadari Oleh Salma. Hingga Salma bertanya - tanya apa salahnya pada sang suami, hingga suaminya sekarang terkesan cuek dan dingin. Apakah suaminya itu sudah bosan dengannya, atau barangkali ada wanita lain. Bermacam-macam pikiran buruk bermain di otaknya.
" kamu sudah makan, hon? " tanya Salma pada Rayden yang sedang membuka pakaiannya. Dia membantu Rayden melepas baju kerjanya lalu membawa tas kerja suaminya ke ruang kerjanya.
" Sudah tadi bareng klien." jawabnya acuh tak acuh dan dingin.
Salma memandang Rayden sekilas, kemudian menunduk membuang pandangan. Ada Sebersit kekecewaan di dadanya. Padahal tadinya dia berharap bisa makan malam bareng suaminya.. Susah payah dia masak masakan enak buat suaminya tapi ternyata suaminya suaminya sudah makan di luar.
Rayden melirik Salma yang sedang meletakkan pakaian kerjanya yang kotor ke dalam mesin cuci.
" Kamu sudah makan? " tanya Rayden kemudian.
Salma tak menjawab. Dia hanya diam sambil menghela nafas dalam.
" Sudah nggak lapar. Aku mau tidur saja" katanya.
" Kok gitu? kalo mau makan, makan saja. Atau aku temanin, mau? " tanya Rayden. Salma menggeleng pelan.
" tidak, terima kasih. Tapi aku tidak lagi merasa lapar. Aku mengantuk jadi aku mau tidur saja! " kata Salma pada Rayden.
Namun baru saja Salma hendak beranjak naik ke kasur, tangis Raisa mendadak terdengar. Hingga dia urung untuk tidur dan memilih pergi mendatangi anaknya.
"Cup, cup, cup! sayang. Kenapa terbangun? kamu mimpi buruk, ya? " tanya Salma.
Dia mengeluarkan ****** susu agar Raisa dapat menghisap asinya yang mulai deras. Raisa menyusu dengan lahapnya.
" Pelan - pelan, Raisa. Nanti keselek asi! " Namun bayi mungil itu terus saja menyusu dengan lahapnya sampai dia kenyang lalu tertidur. Demikian juga Salma yang ikut tertidur di sisi Raisa yang masih saja menyusu.
Rayden masuk ke dalam kamar putrinya dan mendapati Raisa tertidur pulas di tempat tidur Raisa.
Dia memandang wajah cantik Salma yang terlihat lelah. Ada rasa menyesal di dalam hati lelaki itu karena telah mengabaikan istrinya. Namun, dia memiliki alasan untuk itu.
" Maafkan sikapku selama ini, bee. Aku tahu mungkin kamu bertanya - tanya mengapa sikapku berubah seperti ini. Tapi aku punya alasan. Please, jangan berpikir aku menduakanmu. Percayalah, ... aku melakukan semua ini demi dirimu." kata Rayden lirih nyaris tak terdengar. Lalu mengecup sekilas pipi istrinya.
Rayden menghela nafas panjang, lalu kembali ke kamar kerjanya tanpa membangunkan Salma.
Sepeninggal Rayden, Salma membuka matanya. Sebenarnya tadi, dia belum sepenuhnya tertidur. Dia mendengar semua yang di ucapkan oleh Rayden. Ada setetes cairan bening yang mengambang di sudut matanya.
" Hon, apa salahku. Mengapa kamu berubah menjadi dingin padaku. Apa maksud dari perkataanmu tadi. Benarkah kamu berubah karena ada wanita lain?"
Salma kembali memejamkan matanya. Hatinya sakit karena memikirkan sikap Rayden dan juga kata - kata yang barusan di ucapkan oleh suaminya beberapa saat yang lalu."
...----...
Hari ini cuaca agak sedikit mendung. Salma melangkah turun dari mobil. Hari ini dia datang ke kantor Rayden bersama Raisa tanpa memberitahu suaminya itu terlebih dahulu.
Dia sengaja melakukan hal itu karena ingin memberi kejutan pada suaminya sebab hari ini adalah hari ulang tahun Rayden.
Salma masuk ke dalam ruangan Rayden setelah memberi isyarat pada Bisma untuk tidak memberitahu suaminya saat Bisma tampak ingin membuka mulut untuk berbicara.
Saat pintu terbuka, Salma terpaku tak bergerak. Keinginannya untuk masuk dan memberi kejutan pada suaminya hilang sudah berganti dengan rasa terkejut yang sangat pada dirinya.
Tubuh Salma gemetar dan hampir saja terjatuh jika saja Bisma tak segera menahannya.
Dia yang awalnya ingin memberi kejutan untuk suaminya ternyata kini berbalik menjadi dia yang menerima kejutan dari Rayden. Dan jujur saja, dia tak sanggup menerima kejutan istimewa dari Rayden.
Di dalam ruangan itu, Salma memergoki Rayden yang sedang memeluk Anastasia dari belakang. Posisi yang sangat romantis sekali. Terlihat kemeja wanita itu sedikit terbuka di bagian atasnya sehingga menampakkan sebagian gunung kembar miliknya yang menyembul keluar.
" Honey! " ucapnya lirih memanggil Rayden.
Rayden menoleh dengan wajah pucat pasi. Bibir lelaki itu bergetar ingin berucap sesuatu namun tak bisa terucapkan karena perkataannya tertahan di tenggorokan.
Anastasia menoleh sekilas ke arah Salma, lalu setelah itu dia memperbaiki penampilannya dan melangkah keluar dari ruangan Rayden tanpa ada rasa sungkan dan malu. Sedangkan Rayden sudah bangun dan beranjak mendekati Salma dan Raisa.
" Mengapa ? Mengapa tak mengatakannya padaku sejak awal? Jadi ini alasannya atas perubahan sikap kamu padaku? " kata Salma dengan wajah terluka.
" Please, bee. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan semuanya. Sekarang sebaiknya kamu pulanglah dahulu... aku akan menyusulmu nanti.!'
" Kamu mengusir aku? kamu mengusir kami?" Air mata Salma sudah mengalir keluar tanpa bisa ditahan.
" Bee, bukan seperti itu! aku hanya ingin kamu pulang ke rumah. Kita bicarakan hal ini di rumah baik - baik. Kamu salah faham denganku, bee."
" Aku salah faham ? Katakan dimana letak salah fahamnya aku, ketika melihat suamiku sedang memeluk wanita lain?"
Salma menepis lengan Bisma ketika lelaki yang merupakan sekertaris suaminya itu mengajaknya untuk keluar dari ruangan Rayden.
" Jangan sentuh aku. Aku bisa pulang sendiri! " Setelah berkata demikian, Salma melangkah keluar tanpa mengucap sepatah kata pun lagi.
Bisma hanya bisa melongo bengong, tak tahu harus berbuat apa. Dia memang tak faham tentang seluk belum kehidupan berumah tangga, karena dia masih lajang.
Rayden meremas rambutnya kasar. Dia lalu menelpon pak amat, menyuruh sopir keluarga itu agar mengantar istri dan anaknya pulang.
Saat ini pikirannya sedang kacau. Mengapa Anastasia datang lagi dalam kehidupannya. Semuanya menjadi kacau sekarang. Salma menjadi salah faham dengan tindakannya tadi terhadap Anastasia.
Rayden menyugar kasar rambutnya. Dia tak pernah menduga akan terjadi hal seperti ini. Pertemuannya kembali dengan Anastasia bukanlah kehendaknya dan sama sekali hanya kebetulan semata.
Anastasia adalah sekretaris pribadi dari Mr. Jie yang saat ini sedang menjalin kerja sama dengan Rayden.
Karena ada beberapa hal, Mr. Jie memilih bekerja di Indonesia untuk sementara waktu. Dan Rayden mau tak mau harus bekerja sama dengan Anastasia, karena wanita itulah yang diserahi wewenang untuk mengurus pekerjaan jika Mr. Jie sedang tidak ada di Indonesia.
Seperti saat ini, dia harus mengadakan meeting untuk membahas pekerjaan, namun mendadak Anastasia sesak nafas. Luka bekas tembakan Revan saat itu menembus dadanya hingga mengenai paru - paru Anastasia, sehingga wanita itu sering merasa kesakitan saat bernafas, terutama jika wanita itu merasa lelah dan stress.
Dan terpaksa Rayden harus menahan tubuh wanita itu dari belakang dengan cara memeluknya untuk memberi ketenangan pada wanita itu hingga terjadilah insiden tadi. Salma memergoki dirinya yang sedang memeluk Anastasia.
Sementara itu, Salma yang masih marah menolak untuk di antar Bisma dan memilih keluar sendiri dari kantor Rayden. Namun, wanita berhijab itu memilih berjalan melewati tangga darurat dan menyelinap lewat jalan belakang hingga sampai di pinggir jalan di belakang kantor Rayden.
Tak ada yang memperhatikan wanita itu karena penampilannya yang biasa saja. Hingga dengan mudahnya dia kemudian menyetop taksi yang kebetulan lewat di tempat itu dan berlalu pergi tanpa ada yang melihat kepergiannya.
" Kemana bu?" tanya Supir taksi itu pada Salma.
" Jalan aja terus, pak. Ke arah terminal bus luar kota!"
Sopir itu menganggukkan kepalanya dan segera memutar arah menuju ke arah terminal.
Sesampainya di terminal, Salma turun dan membayar ongkos meteran kepada sopir taksi tersebut seraya berterima kasih, lalu berjalan ke arah terminal.
" Pak, jurusan Surabaya kapan berangkat?"
" Setengah jam lagi mbak. Mbaknya mau ke Surabaya? " tanya petugas loket.
" Iya, pak."
" Kalau begitu, sebentar lagi, busnya akan berangkat."
" Baik, pak. Saya beli satu tiket."
Setelah membayar ongkos tiket, Salma lalu duduk di ruang tunggu sambil menyusui Raisa. Lalu setelah itu masuk ke dalam bis saat ada pemberitahuan bahwa bis akan segera berangkat.
Tak lama kemudian bis itu bergerak perlahan - lahan meninggalkan terminal yang penuh sesak oleh manusia yang datang dan pergi silih berganti.
Salma menangis sambil memeluk erat Raisa. Rasa sakit dihatinya rupanya membuat wanita itu tanpa pikir panjang memilih pergi meninggalkan suaminya yang dia kira sudah berselingkuh dan mengkhianatinya.
Sementara itu di kantor, Rayden mendapat telepon dari pak amat, supir pribadi keluarga mereka
" Ya, halo pak amat. Ada apa? "
" Ini, tuan. apakah Nyonya Salma masih di atas bersama tuan. Soalnya dari tadi saya belum melihat keberadaan Nyonya."
Deg! jantung Rayden berdetak tak karuan. Bukannya tadi Salma sudah keluar bersama Raisa ketika Rayden memintanya untuk pulang ke rumah.
" Jangan becanda, pak. Bukannya tadi Nyonya sudah pulang duluan sama Bapak. Tadi saya sudah meminta Nyonya untuk pulang ke rumah duluan karena saya juga sekarang ini sudah siap - siap mau pulang."
" Ya ampun, tuan becanda. Dari tadi saya di sini di depan meja resepsionis menunggu Nyonya."
" Pak amat nggak nelpon ke hape Nyonya? "
" Hapenya nggak aktif , tuan!"
Rayden kemudian memutuskan telepon dari pak Amat. Lalu menghubungi istrinya. Benar saja, handphone istrinya sudah tidak aktif lagi dan tak bisa di hubungi.
Seketika Rayden menjadi panik. Dia berlari keluar ruangan diikuti oleh Bisma yang terkejut dengan ulah sang Bos.
" Pak amat!" panggilnya dengan tergopoh-gopoh.
Lelaki itu berlari menghampiri Rayden.
" Beneran dari tadi pak Amat tidak ketemu Nyonya? " tanya Rayden dengan nafas yang masih terengah-engah.
" Benar, tuan. Saya hubungi hapenya juga nggak aktif - aktif." jawab Pak Amat.
Kaki Rayden mendadak lemas. Pikirannya mendadak buntu dan cemas. Ketakutan kini mulai merayapi hatinya. Apakah Salma akan berbuat hal yang sama seperti dulu. Istrinya itu adalah wanita yang nekat. Dia takut Salma akan pergi bersama anaknya karena marah dan kecewa atas sikap Rayden tadi.
Rayden tahu jika Salma saat ini sedang marah padanya. Namun dia tak menyangka jika istrinya akan berpikiran nekat dan pergi bersama Raisa anaknya meninggalkan dirinya, tanpa mau mendengarkan lebih dahulu penjelasan darinya.
" Salma, sayang. Di mana kamu, bee. Mengapa kamu pergi, sayang. Mengapa kamu tak mau mendengarkan aku. Aku hanya minta kamu untuk pulang karena aku akan menjelaskan semuanya di rumah." sesal Rayden dengan perasaan tak menentu.