
Alin tersadar dari pingsan beberapa jam kemudian. Kepalanya masih terasa pusing. Dia ingat terakhir kali sebelum pingsan dia dipeluk oleh Kak Riko lalu dia merasa badannya terasa lemas dan kemudian dia tidak ingat apa-apa..
Jadi jika tadi dia pingsan ?! Terus yang bawa dia ke tempat tidur, siapa? Apa Kak Riko? OMG! Alin langsung bangun dari tidurnya namun sebuah tangan yang kokoh menahan tubuhnya agar berbaring kembali.
" Berbaringlah, kau butuh istirahat! kasihan anak kita di dalam sana. Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak bergerak. " Riko berkata pada Alin. Namun Alin sepertinya belum faham dengan arti dari perkataan Riko.
"Anak? maksud Kak Riko apa?" tanya Alin yang masih bingung apa maksud dari perkataan Riko barusan.
" Maksud aku, kamu harus banyak istirahat karena kamu sedang hamil anak kita. Benih aku, sayang. Darah daging kita! " Riko berkata sambil mengusap perut Alin yang masih rata dengan lembut. Matanya berkaca kaca. Ada binar bahagia yang terpancar jelas di sana.
Tadi saat Alin pingsan, Riko menjadi sangat panik dan tanpa banyak bicara dia langsung saja membawa Alin ke rumah sakit.
Riko akhirnya dapat bernafas dengan lega saat dokter yang memeriksa Alin mengatakan bahwa kekasih hatinya itu hanya sedikit tertekan dan kelelahan.
Dokter itu juga mengatakan bahwa kekasihnya itu harus banyak beristirahat karena dikhawatirkan kandungannya masih lemah karena baru memasuki usia delapan minggu.
Mendengar hal itu tentu saja Riko menjadi sangat gembira. Dia seakan mendapat kejutan yang sangat sangat luar biasa. Alin sedang hamil anaknya.
Di dalam tubuh Alin tengah bersemayam benihnya. Tak terbayangkan betapa bangganya Riko karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang calon ayah.
" Wait. tunggu dulu. Alin nggak salah dengar, kan? nggak mungkin! Alin nggak mungkin hamil ! " Alin menggeleng tak percaya. Pantas saja akhir akhir ini dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia sering pusing dan gampang sekali marah. Dia tadinya berpikir mungkin karena efek dari kelelahan saja. Tapi ternyata Alin hamil.
" Itu benar, sayang.. Kamu sedang hamil anak aku. Mulai sekarang aku pastikan, aku akan selalu menjagamu." Riko mengusap kedua pipi Alin dengan sayang, memeluk gadis itu erat dalam dekapannya lalu mengecup perlahan bibir Alin dengan mesra.
Alin memejamkan matanya menikmati perlakuan manis Riko terhadapnya. Ada rasa cemas dan takut di hatinya mengetahui kenyataan kalau dia tengah berbadan dua hingga membuat dia mulai menangis.
Riko terkejut saat mendapati Alin yang terisak dalam pelukannya. Dia lalu melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Alin.
" Kamu menangis? Mengapa, sayang? Apa aku membuatmu bersedih?" Riko bingung tak mengerti mengapa Alin menangis.
Alin menggeleng kepala. " Alin takut kalau Kak Riko akan tinggalin Alin karena Kak Riko tidak mencintai Alin. Kak Riko kan hanya mencintai Kak Salma, " Isak Alin makin keras. Dia benar-benar tak dapat lagi menyimpan perasaannya. Dia lelah memendam semuanya.
Hati Riko sakit mendengar kata kata Alin. Dia sungguh menyesal telah menyakiti hati gadis itu. Dia bertekad akan menebus semua rasa sakit dan penderitaan gadis itu.
Riko kembali memeluk gadis itu. "Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, sayang. Percayalah tak ada lagi Salma di dalam hatiku. Yang ada hanya Alina Kartika Putri, hanya kamu , sayang, " Riko semakin mempererat pelukannya.
Alin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher kokoh Riko. Entah mengapa sekarang dia sangat menyukai aroma maskulin dari tubuh laki-laki yang tengah memeluk erat dirinya saat ini.
"Dengar ya, sayang! mulai saat ini jangan pernah lagi kamu menyimpan semua masalah kamu sendiri. Ada aku di sini. Aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan berusaha untuk memenuhi segala keinginan kamu! " Riko menatap wajah Alin penuh cinta.
Kini dia menyadari bahwa perasaan cintanya pada gadis berbibir seksi itu sangatlah besar. Melebihi rasa cintanya kepada Salma. Dan Alin dapat melihat itu di mata Riko sekarang. Ada cinta pada tatapan Riko padanya membuat hati gadis itu yang tadinya kering merana kini di penuhi bunga bunga indah yang bermekaran.
" Tapi bagaimana dengan kandungan Alin, Kak? " tanya gadis itu kembali dengan ekspresi sedih.
" Jangan khawatir, sayang. Kita akan segera menikah secepatnya. Sepulang dari sini. Aku akan segera melamar kamu pada ibumu. Aku akan minta pada orang-orang ku untuk mengurus semua masalah pernikahan kita secepatnya. " Riko berusaha menyakinkan hati gadis itu dan membuatnya tenang. Dia tak ingin hati gadisnya kembali cemas. Bisa berbahaya buat calon bayinya.
" Tapi, Kak... " belum sempat Alin melanjutkan ucapannya, Riko sudah membungkam mulut gadis itu dengan ciuman yang panas dan bergairah. Alin pun hanya bisa pasrah dan balas memeluk dan mencium Riko.
...***...
Sementara itu di tempat lain, Salma yang penasaran siapa teman yang di maksud segera beranjak ke luar dari kamar. Dia heran, masih juga ada orang yang mau bertamu malam hari begini.
Sesampainya di ruang tamu, Salma di buat terperanjat tak percaya begitu melihat siapa teman yang di maksud.
" Kau!! " Wajah Salma langsung pucat. Kakinya tak mampu bergerak, hingga dia hanya bisa diam membeku di tempatnya.
Belum hilang rasa terkejutnya, seseorang memukul tengkuknya dari arah belakang. " BUGH!!! "
" Salma!! " Dimas yang melihat Salma di pukul seseorang dari belakang beranjak ingin memberi pertolongan pada gadis itu, namun sebuah pukulan tiba-tiba menghantam bagian belakang kepala laki-laki itu membuatnya langsung jatuh tersungkur tak berdaya.
" Bawa wanita itu cepat!...dan segera tinggalkan tempat ini sebelum orang orang melihat kita !" perintah orang yang tadi mengaku sebagai teman Salma kepada beberapa orang suruhannya yang tadi sudah memukul Salma dan Dimas.
Beberapa orang yang tak dikenal itu buru buru membopong tubuh Salma ke dalam mobil dan bergegas pergi dari tempat itu sebelum orang - orang melihat aksi mereka.
Rayden masih belum beranjak dari ruang kerjanya ketika sebuah panggilan masuk muncul dari layar handphone miliknya. Dia segera menerima telpon itu dan tak lama kemudian wajahnya menegang.
" Ya, halo! "
" ........ "
" Apa?!! bagaimana mungkin??" wajah Rayden memerah sesaat setelah orang di telpon itu berbicara. Kedua tangannya terkepal erat karena menahan amarah yang sudah mulai membakar emosinya.
" .......... "
" Oke, kumpulkan dan siapkan orang - orangmu segera. Bersikaplah wajar dan biasa saja seolah-olah kita tidak tahu. Jangan memancing kecurigaan mereka !" Rayden memberi instruksi kepada orang yang ada di telpon.
" ......... "
" Oke, tunggu aku! sebentar lagi aku akan sampai! "
Rayden segera menutup panggilan itu dan menghubungi Revan agar segera menyiapkan pesawat pribadinya. Dia harus berangkat malam ini juga ke Tarakan.
Salah satu orang suruhannya yang bertugas mengawasi Salma baru saja menelpon dan mengabari bahwa beberapa orang yang tak di kenal baru saja menculik dan membawa Salma ke. suatu tempat.
Orang suruhannya itu kini bersama beberapa orang lainnya sedang membuntuti mobil yang di tumpangi para penculik Salma dari jauh. Mereka memang sengaja melakukannya agar tidak mengundang kecurigaan dari para penculik.
Sementara itu mobil yang membawa Salma sudah sampai di depan sebuah gedung tua yang tak terpakai. Mereka lalu membawa tubuh Salma yang masih pingsan ke dalam gedung.
Mobil orang suruhannya Rayden berhenti tak jauh dari tempat itu. Mereka lalu memutuskan untuk berjalan kaki saja untuk mengintai keadaan. Mereka terus saja mengawasi tempat itu tanpa melakukan apapun karena masih menunggu perintah dari Rayden.
Tak lama kemudian dari dalam gedung keluarlah seorang wanita cantik yang berjalan dengan langkah tergesa-gesa.
Orang suruhannya Rayden langsung mengambil gambar wanita itu dan mengirimkannya ke Rayden . Rahang Rayden mengeras saat mengenali wajah wanita yang ada di foto itu. Bibirnya berdesis marah.
" Anastasia! !! "