Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 27 Under Threatened.....



Anastasia menarik nafas panjang sambil memijit kepalanya perlahan-lahan yang terasa sakit. Pikirannya sedang kalut. Bayangan Rayden menari di benaknya. Ada sekelumit sesal dan sesak yang kini mengganjal di dadanya.


Dia sesungguhnya tak ingin melakukan semua ini, dengan menjebak Rayden dalam peristiwa beberapa hari yang lalu, sehingga lelaki itu harus bertanggung jawab untuk menikahinya.


Walaupun sejujurnya dia sakit hati dengan Rayden, karena sahabatnya itu lebih memilih Salma dari pada dirinya yang dengan terang - terangan menyatakan mencintainya. Namun sungguh dia tak ingin menyakitinya.


Tetapi, seseorang telah datang kepadanya dan mengancamnya dengan jaminan nyawa kedua orang tuanya agar ia bersedia untuk menjebak Rayden dan menjauhkannya dari Salma, mau tak mau Anastasia harus melakukannya.


"Maafkan aku Rayden" bisiknya lirih.


Sesi pemotretan terakhirnya sudah selesai dari tadi. Kini dia sedang beristirahat sambil menunggu mobil jemputannya yang akan mengantarkannya kembali ke hotel. Tiba-tiba Handphonenya berbunyi menandakan ada panggilan masuk melalui whatsapp.


"Helo"


"... .... "


" Aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan" suara Anastasia dingin kepada si penelpon.


" . ..... "


" Tapi aku sudah melakukan sesuai dengan yang kau perintahkan! Sekarang lepaskan orangtuaku!" suara Anastasia agak tinggi dengan lawan bicaranya di telpon.


"..... "


" Aku tak peduli kamu sudah berjanji padaku, LEPASKAN MEREKA!!! Anastasia mulai kehilangan kesabarannya kepada si penelpon. Dia sudah melakukan apa yang penelpon itu perintahkan, namun kedua orangtuanya masih berada di tangan mereka.


Penelpon itu memutuskan pembicaraan. Anastasia merasa gusar. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Dia tak punya siapa-siapa. Kepada siapa dia harus mengadu dan minta pertolongan.


...***...


Beberapa minggu yang lalu....


Sudah sejak beberapa hari yang lalu Anastasia memutuskan kembali ke Singapura. Dia tak ingin lama-lama berada di Indonesia karena tak ingin kecewa lebih lama lagi. Hatinya sakit saat mengetahui bahwa Rayden sudah memiliki seorang kekasih dan lebih menyakitkan lagi saat harus menyaksikan kemesraan Rayden dan Salma.


Sore itu udara terasa cerah. Anastasia memutuskan untuk berjalan-jalan ke pusat kota dengan mengendarai mobil pribadinya. Dia berniat mau belanja atau sekedar nongkrong bersama teman-temannya di cafe.


Anastasia akhirnya memutuskan untuk nongkrong di sebuah cafe bersama teman-temannya. Sedikit banyak kegembiraan berkumpul bersama teman-temannya dapat mengobati kekecewaannya terhadap Rayden. Mereka berkumpul di cafe itu sampai malam hari. Pukul 11.00 malam Anastasia memutuskan untuk pulang karena dia merasa lelah dan mengantuk.


Saat dia baru tiba di depan rumahnya, beberapa orang tak di kenal menghampirinya dan menariknya paksa.


Anastasia mencoba melawan. Wanita itu berteriak dan berontak ketika tubuhnya di tarik paksa dan di seret masuk ke dalam mobil. Namun karena tenaganya kalah dengan mereka, akhirnya mereka berhasil menyeret Anastasia masuk ke mobil. Mereka kemudian membius Anastasia dan membawanya ke suatu tempat.


Anastasia menjerit histeris melihat keadaan kedua orang tuanya. Dia tak tega melihat keadaan keduanya yang lemah tak berdaya. Tampak beberapa luka memar di wajah Sang Daddy dan lebam bekas tamparan di wajah Sang Mommy.


Anastasia di sekap selama dua hari bersama mommy dan daddy. Walaupun disekap, tetapi mereka tidak lagi di ikat. Mereka juga dilayani dengan baik dan mendapatkan jatah makan tiga kali sehari.


Hari ketiga, beberapa orang lelaki berbadan besar kembali membawa mereka ke suatu tempat. Di sana Anastasia di tempatkan di kamar yang terpisah dengan mommy dan daddy-nya.


Anastasia mengamati kamar tempat dia di sekap. Kamar itu tidak terlalu besar. Ada dua CCTV yang di tempatkan di kamar itu, salah satunya dekat tempat tidur.


Tak berapa lama kemudian, seseorang lelaki berwajah Indo-Latin bersama beberapa orang pengawal yang berbadan kekar terlihat memasuki kamar tempat Anastasia di Sekap. Lelaki berwajah campuran itu kemudian duduk di hadapan Anastasia yang kini sudah di paksa duduk di hadapan lelaki itu.


Lelaki itu memandang Anastasia dengan tatapan sedingin es membuat bulu kuduk Anastasia bergidik ngeri.


" Maafkan penyambutan saya yang kurang menyenangkan untuk anda nona Anastasia. Kami tidak bermaksud membuat Anda dan orang tua anda takut. Namun saya ada sedikit masalah dan sayangnya masalah saya membutuhkan bantuan anda. " Lelaki yang rupanya fasih berbahasa Indonesia itu menatap lekat wajah Anastasia. Sorot matanya tajam menusuk jantung Anastasia membuat gadis itu tanpa sadar menelan ludah. Hatinya mendadak ciut.


" Apa yang anda mau, tuan. Saya rasa saya tidak mengenal anda! " Anastasia memberanikan diri untuk bertanya. Dia merasa heran karena orang di depannya ini mengenal dirinya, sedangkan dia tidak mengenal sama sekali siapa lelaki dihadapannya ini.


"Nona Anastasia, perkenalkan namaku Carlos. Beberapa waktu yang lalu Luiz saudaraku di bunuh oleh Rayden sahabat anda. " Anastasia terkejut dengan wajah pucat. Dia tak menyangka Rayden, sahabatnya itu berurusan dengan bos mafia seperti Carlos.


" Menurut informasi dari orang - orangku, Rayden memiliki seorang kekasih bernama Salma." Carlos memegang dagu Anastasia dan memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Apakah anda tidak tertarik untuk memisahkan keduanya? " Tanya Carlos pada Anastasia.


Anastasia menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak mau. Anda salah orang, Tuan! " kata Anastasia.


Lelaki itu terkekeh pelan melihat ekspresi Anastasia yang masih terlihat menyimpan luka.


" Matamu tak bisa membohongiku, Nona! " Dia berjalan mendekati Anastasia.


" Aku tahu, kamu mencintai Rayden. Aku hanya menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Aku ingin melihat Rayden menderita dengan kehilangan orang yang di cintainya sebelum aku menghabisinya dengan tanganku sendiri." Carlos berkata dengan mata yang memancarkan dendam dan kemarahan.


Anastasia menggelengkan kepalanya. Dia tak sanggup menyakiti Rayden. " Tidak Tuan, saya tidak sanggup melakukannya! " Anastasia menangis. Dia merasa lemah.


Carlos mencengkram lengan Anastasia dengan kuat dan menarik wajah gadis itu agar menatapnya. " Jika anda tidak mau, saya punya cara agar anda mau melakukannya! " bisiknya lirih, dingin dan terdengar mengancam.


Anastasia mendongak memandang Carlos. " Anda tidak bisa mengancam saya. Saya akan katakan hal ini pada Rayden dan dia akan menghabisi Anda seperti dia menghabisi Luiz adik Anda, Tuan! " Carlos tersenyum dingin mendengar gertakan Anastasia.


Dengan isyarat gerakan tangan Carlos memerintahkan kepada orangnya untuk membawa ke dua orang tua Anastasia ke ruangan itu.


Anastasia menangis tak berdaya. Tubuhnya gemetar saat melihat kedua orangtuanya. Ternyata Carlos tidak main-main dengan ucapannya. Carlos membawa kedua orang tuanya dan menjadikan mereka sandera agar Anastasia bersedia melakukan apa yang dia perintahkan.


" Bagaimana nona Anastasia? " tanya Carlos dengan ekspresi penuh kemenangan.