
Rayden menggelengkan kepalanya. Mendadak ia merasakan rasa pusing yang teramat sangat di kepalanya dan pandangannya berkunang-kunang. Ditambah tubuhnya juga terasa sangat lemas.
Sejak meeting tadi Rayden merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Mr. Brian rekan bisnisnya sempat bertanya apakah dia baik-baik saja, karena melihat wajah Rayden yang pucat.
Dia menawarkan agar Rayden sebaiknya menunda meeting ini, dan beristirahat saja di kamar. Bahkan rekannya itu menawarkan 'layanan lebih' kepadanya sebagai service dari kerja samanya dengan PT. SCR yang langsung ditolaknya. Dia tak ingin mengkhianati dan melukai hati wanitanya. Mr. Brian hanya tersenyum penuh arti dengan penolakan Rayden.
Namun Rayden bersikeras ingin melanjutkan meeting tersebut hingga selesai, meskipun panas ditubuh Rayden semakin tinggi .
Akhirnya meeting pun selesai, dengan langkah lesu Rayden menyeret tubuhnya keluar dari ruang meeting dan berjalan menuju kamarnya.
Namun baru saja sampai di depan pintu kamar, tubuhnya sudah keburu limbung. Rayden hampir jatuh karena tak sadarkan diri, namun sebuah tangan menangkap tubuh Rayden dan membawa laki-laki itu ke dalam kamar.
Rayden mengeryitkan keningnya. Kepalanya masih merasa pusing, namun kesadarannya sudah berangsur-angsur pulih.
Rayden tersentak bangun saat merasakan ada seseorang tidur di sebelahnya. Betapa terkejutnya dia saat menyadari orang yang tidur di sebelahnya adalah Anastasia. Dan dia lebih terkejut lagi saat menyadari keadaan dirinya dan Anastasia yang tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mereka berdua. Hanya sehelai selimut saja yang menutupi tubuh keduanya.
" Bagaimana bisa Anastasia bisa tidur dengaku? " Rayden berpikir dalam hati.
" Apa yang terjadi dengan mereka semalam? apakah dia dan Anastasia sudah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan?"
Berbagai pikiran buruk berkelebat di kepalanya yang membuat Rayden menarik rambutnya gusar.
" Ahh.... Sial-! " geramnya.
Gadis itu menggeliat terbangun ketika mendengar geraman Rayden. Dia tersenyum manis dan memeluk Rayden manja.
" Aku tak menyangka, kamu bakalan sehebat itu semalam!" bisiknya malu-malu sambil membenamkan wajahnya di punggung Rayden.
" Tunggu, Ana! memangnya semalam kita berdua ngapain? " Rayden tak mengerti. Seingatnya dia merasa tidak melakukan apa-apa. Dia hanya merasa kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sedikit demam. Lalu dia mencoba kembali ke kamarnya namun dia tak ingat apapun lagi setelah itu.
" Huhuhu....masa kamu tidak ingat apa yang sudah kita lakukan semalam. Kamu bahkan meminta kita untuk melakukannya berkali-kali! " Mata Anastasia berkaca-kaca. Dia menangis sesugukan seolah -olah merasa sedih karena Rayden tidak ingat apa yang telah mereka lakukan.
"APA? Kamu yakin kita sudah melakukan hal itu, Ana? " Rayden masih tidak percaya, karena dia yakin dia tidak melakukan itu. Dia hanya ingat bahwa dia tertidur saja.
" Apa kamu mau menuduhku berbohong! Kalian kaum lelaki sama saja, sudah merasakan enaknya, tidak mau bertanggung jawab, huhuhu! " Tangis Anastasia semakin kencang.
Rayden merasa serba salah. Akal logikanya berfikir keras untuk menolak, namun dia tidak tega melihat Anastasia yang terus menangis. Akhirnya
Rayden memeluk Anastasia dengan perasaan tak menentu.
" Sudahlah, jangan menangis. Aku akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu setelah ini! kamu jangan bersedih! " Rayden menenangkan Anastasia yang masih menangis di pelukannya.
Sebaris lengkungan sinis terbentuknya di sudut bibir Anastasia. Dia tersenyum penuh kemenangan di balik pelukan Rayden.
" Kena, kau sekarang Rayden! sebentar lagi aku bisa menyingkirkan gadis berengsek itu dan memilikimu seutuhnya!" Bisiknya hati Anastasia senang.
Rayden menghela nafas kasar. Pikirannya kalut bercampur gusar. Ya Tuhan! Apakah benar semua ini. Jika hal itu benar, apa yang akan terjadi dengan gadisnya? Seketika bayangan wajah Salma hadir di depannya. Rasa bersalah dan penyesalan mendadak muncul dalam hati Rayden membuatnya tanpa sadar menitikkan airmata.
" Maafkan aku Salma" lirih Rayden dalam hati.
...****...
Rayden merasa gelisah. Sudah berulang kali Rayden melirik ke arloji di tangan kirinya. Pikiran nya gagal fokus pada apa yang di bicarakan pada meeting kali ini. Revan, yang duduk di sebelahnya sesekali melirik ke Rayden. Dia heran, mengapa hari ini bosnya seperti tidak bersemangat.
Hati Rayden resah. Dia dibuat uring-uringan sendiri karena sudah hampir seminggu ini dia mencoba menghubungi Salma, namun gadis itu tidak pernah membalas semua chat darinya, bahkan telpon juga nggak di angkat. " Salma, ada apa dengan kamu, sayang? " pikirannya melayang-layang. Mengapa Salma tidak mau mengangkat telepon dan juga membalas chat darinya? Apa telah terjadi sesuatu dengan gadisnya? atau Apakah Salma sedang marah padanya?
Dan yang lebih buruk Rayden bahkan berpikir apakah Salma sudah mengetahui yang terjadi antara dia dan Anastasia?
Hatinya mencelos memikirkan pertanyaan yang terakhir. Rasa bersalah kembali menghantui pikiran Rayden. Bagaimana jika memang Salma sudah mengetahui tentang apa yang telah Rayden dan Anastasia lakukan? Apakah Salma mau memaafkannya dan masih mau menjadi kekasihnya? Berbagai pertanyaan dan pikiran negatif berputar-putar di benaknya.
Rayden memijit keningnya yang mendadak pusing. Rayden
kembali melirik arlojinya lalu mengambil handphone miliknya, mencoba menghubungi Salma, namun sama seperti kemarin, gadis itu tidak mengangkat telponnya.
Sementara itu di Indonesia, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Salma sibuk membolak balik hape di tangannya. Sudah berkali - kali panggilan masuk dari penelpon yang bertuliskan Calon suami' itu berbunyi, namun tak ada sedikitpun niatannya untuk mengangkat.
Ada titik air yang terlihat di sudut matanya. Sudah hampir seminggu ini dia tidak menghubungi Rayden atau mengangkat telpon dari kekasih nya itu. Bahkan dia juga tidak ingin membalas chat dari Rayden karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja
Hatinya sakit bukan kepalang. Semua itu bukannya tak beralasan. Kurang lebih seminggu yang lalu dia menerima sebuah pesan masuk melalui Whatsapp dari seseorang yang tidak di ketahui namanya. Dan isi pesannya sungguh membuat Salma syok.
Pesan itu berisi beberapa foto Rayden dan Anastasia sedang tidur di dalam kamar sebuah hotel dengan berbagai posisi . Keadaan mereka sungguh membuat Salma merasa muak dan jijik. Rayden dan Anastasia tidur berdua dengan tubuh telanjang yang hanya ditutupi selembar selimut sebatas dada.
Dada Salma sesak oleh rasa kecewa. Hatinya sungguh sakit. Dia tak menyangka jika Rayden tega mengkhianatinya. Salma merasa di bohongi karena saat itu Rayden mengatakan bahwa Dia dan Anastasia hanya teman biasa. Nyatanya mereka bersama saat Rayden di Australia dan tidur berdua.
"Teman apa yang bisa tidur satu ranjang berdua dengan tubuh bugil? " Salma menangis terisak dalam diam.
" Aku tahu aku memang tak pantas bersamamu, Pak Rayden! Kak Ana lebih segala-galanya dari aku-!" Hati Salma nelangsa.
"Ternyata semua laki-laki sama saja-!" desisnya. Tangannya bergerak mematikan ponselnya lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dia menangis diam-diam di balik selimut sampai akhirnya dia lelah dan tertidur.