Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 45 Godaan Pelakor.



Alin baru saja mendapat telpon dari ibunya yang mengabarkan bahwa tentang keadaan Salma. Menurut ibunya yang baru mendapat kabar dari sang Besan, kakaknya itu kini sedang hamil.


" Beneran, Bu? terus keadaan mbak Salma sekarang, gimana? "tanya Alin yang penasaran dengan kelanjutan cerita Sang bunda.


" Ya, itu dia. kata besan sih, keadaan mbakmu sangat lemah. Biasalah, trimester pertama biasanya ibu hamil akan mengalami morning sickness yang lumayan merepotkan. Mbakmu muntah-muntah setiap pagi atau jika mencium bau parfum atau masakan." kata ibu.


Alin tersenyum mendengar cerita ibunya. 'Kasihan, mbak Salma', pikirnya. Masih untung dengan keadaan dia, walaupun dia juga sempat mengalami morning sickness tapi nggak parah-parah amat macam mbak Salma.


Kedua ibu dan anak itu masih asyik melanjutkan perbincangan mereka. Topik perbincangan pun beranekaragam. Hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba. Alin pamit pada ibunya dan menutup telpon.


Salma membuka matanya dengan malas, dari pagi hingga siang hari ini kerjanya hanya tidur saja. Tadi pagi setelah suaminya berangkat kerja dia kembali melanjutkan tidurnya karena badannya masih terasa lemas.


Bayi dalam perutnya itu seperti jam beker saja. Setiap pukul 06.00 pagi, mulai lah dia beraksi minta perhatian sang Daddy. Membuat rasa pusing dan mual berasa hendak muntah selalu dia alami. Dan rasa itu hanya berhenti jika sudah mendapatkan belaian dan usapan lembut dari daddy-nya.


Salma beranjak bangun dari tempat tidurnya. Mendadak dia ingin sekali datang ke kantor suaminya. Mungkin karena pengaruh bayi dalam kandungan yang pengen bertemu sang Daddy.


"sabar ya, sayang. Mommy siapkan dulu bekal makan siang buat Daddy kamu." bisiknya lembut pada sang bayi.


Salma sampai di kantor suaminya dengan diantar Pak Amat,supir pribadi di keluarga Chandler.


Sementara itu, Rayden baru saja selesai melakukan pertemuan dengan seorang klien.


" Anita, batalkan semua janji saya dengan klien hari ini! Saya tak mau di ganggu hari ini." perintahnya pada Anita, sekertarisnya.


Anita adalah sekretaris Rayden yang baru. Dia masuk menggantikan Yuni yang mengundurkan diri karena akan menikah. Calon suaminya juga merupakan salah satu staf di kantor Rayden. Karena kebijakan perusahaan yang tidak memperbolehkan hubungan dalam satu kantor, maka Yuni memilih mengalah demi membiarkan calon suaminya bisa terus bekerja.


Sebenarnya Rayden kurang suka dengan sekertarisnya yang baru ini. Gadis itu agak berani dan suka sekali memakai busana yang ketat dan kurang bahan. Hingga kadang Rayden merasa risi dan kerap kali menegurnya.


Namun sepertinya gadis itu tak peduli dan tetap saja tampil seksi dan menggoda.


Seperti hari ini, gadis itu kembali mengenakan busana kurang bahan itu lagi. Rayden yang kesal segera menutup pintu ruangannya setelah memberitahu gadis itu untuk membatalkan seluruh janji.


Gadis cantik dengan busana yang sedikit ketat itu melongo heran. Tumben - tumbenan bosnya yang ganteng itu membatalkan janji pada klien. Biasanya bos dinginnya itu paling getol kalo bekerja.


Anita berjalan ke arah pintu ruangan kamar Rayden. Mengetuk pintu ruangan itu dengan hati-hati.


" Pak, boleh saya masuk?" tanya gadis itu.


" Ada apa, saya sudah bilang saya tak mau di ganggu hari ini!" bentak Rayden dari dalam.


" Saya hanya mau mengantar berkas laporan meeting tadi, Pak. Sekalian minta tanda tangan bapak." ujar Anita pelan.


" Oh, masuklah!" kata Rayden.


Anita tampak kegirangan. Yess, dia berhasil masuk. Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dengan kecantikanku, Pak Rayden. Bisiknya dalam hati sambil berlalu masuk menenteng map - map yang berisi laporan agenda rapat tadi pagi.


Dia berjalan dengan langkah menggoda ke arah Rayden. Rayden mengeryitkan alisnya melihat gelagat sekertarisnya.


" Ada apa denganmu. Mengapa tingkahmu jadi aneh begitu?" tanya Rayden.


" Pak, nggak usah malu-malu. Saya tahu kalau bapak diam diam memperhatikan saya. Saya rela kok pak walaupun cuma jadi simpanan Pak Rayden." kata Anita sambil membungkuk di hadapan Rayden. Dia sengaja berbuat demikian agar Rayden bisa melihat tonjolan buah dadanya yang montok yang menyembul dari balik kemejanya yang berleher rendah.


" Tapi wanita seperti istri bapak, mana bisa memuaskan tipe laki-laki seperti bapak!" katanya dengan berani.


" lalu menurutmu, wanita seperti apa yang bisa memuaskan laki-laki seperti saya?" tanya Rayden.


" hmm, bapak sudah tahu. maksud saya. Saya bisa memuaskan bapak seperti yang bapak harapkan! " jawab gadis itu dengan berani.


Rayden menghela nafas kasar.


Gila, gadis di hadapannya ini sungguh nekat sekali. Apa yang ada di dalam pikirannya, guman Rayden dalam hati.


Merasa tak ada penolakan dari Rayden, Anita semakin berani. Dia memeluk Rayden dan menempelkan buah dadanya di dada Rayden.


Rayden menjadi marah dan mendorong kasar tubuh Anita. Anita terkejut atas sikap Rayden yang tak sesuai dengan ekspektasi. Dia tak percaya bahwa laki-laki itu menolaknya. Baru kali ini ada seorang laki-laki yang menolak pesona kecantikannya.


"Cih, saya tak percaya anda menolak saya, apakah anda tahu ada begitu banyak kaum lelaki di luar sana yang antri hanya untuk mendapatkan saya. Saya suka rela menyerahkan diri pada anda, tapi mengapa anda masih saja menolak?" kata Anita kesal sambil menangis. Ada sebersih kekecewaan di hatinya dengan penolakan laki-laki itu.


" Siapa yang menyuruhmu untuk menyerahkan diri padaku. Cih, aku tak tertarik padamu. Aku sudah memiliki istri yang begitu aku cintai." jawab Rayden.


" Saya bisa menjadi istri kedua atau simpanan bapak. Saya rela jika harus berbagi cinta dengan istri bapak."ucapnya lirih. Dia masih berusaha untuk membujuk Rayden untuk mau berselingkuh dengannya.


" Tapi istriku tidak akan rela jika harus berbagi cinta denganmu. Dan aku juga tak mau membagi cintaku dengan siapapun juga." kata Rayden dengan nada yang sedikit tinggi. Dia kesal karena gadis di depannya ini begitu ngotot ingin mendapatkannya.


" Tapi, pak....!"


" Keluar, dan segera kemasi barang - barangmu.! Kamu aku pecat! " bentak Rayden.


Anita shock dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tepat pada saat itu Salma masuk ke ruangan Rayden. Istrinya itu hanya melongo tak mengerti apa yang telah terjadi.


" kenapa bapak memecat saya, apa salah saya?"


" Masih bertanya, Keluar!"bentaknya emosi. Anita mengusap air matanya dengan kasar. Dia keluar sambil menghentakkan kaki.


" Bapak akan menyesal karena telah memecat saya!"


q. q" Sayang, sabar... kamu kok marah - marah sama sekertaris kamu!' Salma beranjak mendekati suaminya yang sudah tampil dengan mode 'macan'.


Rayden menyugar rambutnya dengan kasar. Salma memeluk sang suami


"maaf, sayang. Aku sangat kesal karena dia mencoba menggodaku!" Salma membelalakan mata tak percaya. Lalu kemudian tersenyum menggoda.


" Mengapa marah? .. marah karena kesal aku keburu datang atau... "


" Bee! kamu kok ngomong begitu.? Rayden melotot marah.


" Dengar ya, Bee. Jangan sekali-kali kamu punya pikiran kalo aku akan membagi cinta ku pada yang lain. Bagi aku, cukup hanya cintamu yang aku inginkan. Aku tak ingin yang lain.!" kata Rayden dengan kesal.


" Iya, aku tahu. Aku hanya becanda. Habisnya.. kamu ngegemasin banget kalo lagi marah, hon!"kata Salma. Dia lalu memeluk Rayden dengan erat." Terima kasih karena mencintaiku dengan tulus. Terimakasih karena telah memilih aku, dan Terima kasih karena membela kehormatan aku di hadapan pelakor itu." Rayden terkekeh mendengar ucapan Salma yang terakhir. Dia mengecup dahi istrinya dengan rasa sayang yang tak dapat terungkapkan oleh ribuan kata cinta.