Salma And Rayden

Salma And Rayden
Babe. 19 I miss you....



𝓙𝓲𝓴𝓪 𝓳𝓪𝓻𝓪𝓴 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓴𝓲𝓽𝓪 𝓳𝓪𝓾𝓱..


𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓹𝓾𝓽𝓾𝓼 𝓫𝓮𝓻𝓽𝓪𝓷𝔂𝓪


𝓽𝓮𝓷𝓽𝓪𝓷𝓰𝓴𝓾.


𝓙𝓲𝓴𝓪 𝓳𝓪𝓻𝓪𝓴 𝓪𝓴𝓾 𝓭𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓶𝓾 𝓫𝓮𝓰𝓲𝓽𝓾


𝓭𝓮𝓴𝓪𝓽


𝓙𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓹𝓾𝓽𝓾𝓼 𝓲𝓴𝓪𝓽𝓪𝓷 𝓭𝓲𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪


𝓴𝓪𝓶𝓾 𝓭𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓾 ....


Waktu berlalu, tak terasa sudah hampir tiga bulan Salma dan Rayden berpisah. Keduanya tak lagi menjalin komunikasi.


Salma lebih banyak menghabiskan waktunya mendampingi Pak Indra. Sedangkan Rayden kembali ke kantor pusat karena ada urusan yang lebih penting.


Pagi ini Salma dan Pak Indra sudah berada di site. Mereka sedang mengadakan inspeksi lapangan dan pencocokan laporan operasional untuk alokasi dana kas kecil.


Salma sedang mendampingi Pak Indra yang sedang melakukan pengecekan presentasi pekerjaan real di lapangan.


drett! drett! drett!


Handphone Pak Indra berbunyi.


Pak Indra mengangkat telpon dan menerima panggilan.


" Hello! "


".......! "


" Iya, Rayden. ! Om akan segera ke sana! "


"...... "


" Sama-sama, Selamat siang! "


Jawab Pak Indra sambil menutup telepon.


"Salma, Temani saya ke Restauran Queen. Pak Riko minta bertemu di sana untuk membahas kerjasama selanjutnya."


" Baik, Pak! kata Salma. Dia lalu mengambil tasnya di meja kantor di ruangan site dan berjalan mengikuti Pak Indra.


" Kenapa kita harus ke sana, Pak ! bukankah ini adalah tanggung jawab dan wewenang Pak Rayden?" protes Salma yang malas jika harus bertemu lagi dengan Riko.


" Pak Rayden sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Kita di minta datang duluan sama Pak Rayden." kata Pak Indra.


Salma dan Pak Indra segera meluncur ke Restauran Queen untuk menemui Riko.


Sesampainya di sana, mereka rupanya sudah di tunggu oleh Riko dan juga beberapa orang stafnya.


Pak Indra dan Salma segera bergabung dalam jamuan itu.


Semenjak memasuki ruangan pandangan mata Riko tak lepas dari Salma. Ada binar kerinduan yang terpancar jelas di matanya.


Salma menunduk saat menyadari tatapan Riko ke arahnya. Pak Indra berdehem kecil membuka pembicaraan.


"Mohon maaf kalau kedatangan kami sedikit terlambat, Pak Riko" ucap Pa Indra mencairkan suasana yang agak sedikit canggung.


" Oh,.. tidak apa-apa, Pak Indra. Saya yang terlambat mengabari anda akan maksud kedatangan saya.! " kata Riko sambil melirik ke arah Salma. Hatinya berdesir hangat ketika tak sengaja pandangan mereka beradu.


" Kalau begitu, bagaimana kalau sebaiknya kita mulai saja, sambil menanti Pak Rayden yang sedang menuju kemari. " kata Pak Indra.


Tok! Tok! Tok!


Semua mata tertuju ke arah pintu. Seseorang Kemudian membukakan pintu. Tampak sosok Rayden hadir di balik pintu dengan di kawal dua orang pengawalnya.


Rayden masuk dan kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Salma, disisi Pak Indra. Sehingga posisi Rayden kini di apit oleh Salma dan Pak Indra. Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan pembicaraan mengenai kerja sama antara mereka.


Salma diam - diam melirik ke arah Rayden. Dia memandangi Rayden yang kini tengah serius berbicara tentang kelanjutan kerja sama dengan Riko dan orang - orang dari PT. RSC.Tak dapat di pungkiri, dia merindukan wajah tampan itu. Ada getaran aneh di hatinya ketika menatap wajah tampan itu.


Wajah tampan yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu - bulu halus yang menutupi rahang kokohnya.


Rambut coklat kemerahan miliknya agak gondrong dan di ikat setengah ke belakang. Dengan setelan jas biru navy yang sengaja dibuka, kadar ketampanan Rayden semakin berlipat-lipat saja. Memabukkan mata bagi setiap wanita yang memandangnya.


Salma menghela nafas. Mendadak dadanya terasa sesak. Sesak oleh rindu yang menghimpit dada namun terbalur oleh gengsi.


Setelah beberapa saat akhirnya pembicaraan itu pun selesai. Beberapa orang pelayan restoran masuk dan menyajikan beberapa hidangan.


Riko yang duduk berhadapan dengan Salma mencoba menawarkan gadis itu makanan yang sudah tersedia di depannya.


" Salma, kamu mau makan yang mana? " tanya Riko sambil tersenyum manis.


Yang di tanya hanya menjawab dengan gelengan saja.


" Loh.. kenapa? ini sudah siang. Waktunya jam makan siang. Entar kamu sakit kalau nggak makan-!" Kata Riko penuh perhatian.


Rahang Rayden mengeras melihat Riko yang bersikap manis dan penuh perhatian pada Salma. Hatinya panas terbakar cemburu hingga tanpa sadar tangan kirinya meraih tangan Salma yang berada di bawah meja dan menggenggamnya erat.


" Aku ingat, kamu kan ada riwayat sakit maag. Ayo Salma, makanlah walau sedikit saja, ya.? " Riko masih berusaha membujuk Salma.Kini tempat duduknya sudah bergeser ke sebelah Salma.


" Saya tidak mau makan, Pak Riko. Saya masih kenyang-!" jawab Salma dengan males.


"Sial, Riko kayaknya ngebet banget buat ngedeketin Salma! ini kayaknya nggak boleh di biarin. " Rayden mengumpat dalam hati.


Rayden bergerak mengambil beberapa makanan yang sudah terhidang di meja kemudian tanpa banyak bicara dia lalu memerintahkan Salma untuk membuka mulutnya.


" Bukalah mulutmu! " Perintah Rayden.


Salma yang tak menyangka dengan perintah Rayden tak dapat membantah lagi. Dia terpaksa membuka mulutnya. Pak Indra tersenyum melihat hal itu. Lalu kembali melanjutkan makan


Rayden menyuapi Salma beberapa suapan. Setelah itu dia juga makan dengan sendok yang sama yang di pakai menyuapi Salma tanpa rasa jijik.


Bola mata Salma membelalak tak percaya. Rayden makan sepiring berdua dengannya dengan sendok yang sama. OMG!!! Pipi Salma bersemu merah.


Riko yang menyaksikan itu semua hanya tersenyum kecut. Dia juga mengambil makanan dan kemudian turut makan di sebelah Salma.


Rayden semakin kesal dengan sikap Riko. Namun dia berusaha bersikap tenang. Dia tetap menyuapi Salma dan makan sampai selesai.


Selesai makan dia menuangkan air buat Salma untuk minum, setelah selesai dia juga minum dari gelas bekas Salma tadi dan di bekas bibir Salma.


'Oh.. Tuhan, Rayden!. Itu sama saja dengan kita berciuman secara tak langsung! " pikir Salma. Pipinya jangan di tanya bagaimana warnanya.


Rayden tersenyum melihat Salma akhirnya makan. Kembali tangannya menggenggam tangan Salma dengan erat tanpa mau melepaskan.


Setelah acara jamuan makan selesai. Mereka kemudian saling berpamitan untuk kembali ke tempat kerja masing-masing.


Riko berjalan keluar dengan terburu-buru untuk mengejar Salma yang sudah duluan berjalan ke area parkir.


" Salma-! "


Salma menoleh saat mendengar namanya di panggil.


" Iya, ada apa, Pak Riko! "


" Eh.. itu, anu.. boleh kah saya minta nomor WA mu? " tanya Riko sambil menggaruk- garuk kepalanya yang tak gatal.


" Hhmmm..! " kening Salma berkerut.


" Untuk apa ya, Pak? " tanya Salma yang tak mengerti.


" Eh.. itu, saya perlu menghubungi kamu jika sewaktu- waktu saya membutuhkan kamu untuk membantu saya sehubungan dengan pekerjaan ini-! " kata Riko sambil menyodorkan handphone miliknya ke Salma.


" ohh... iya, baiklah! " kata Salma akhirnya.


Salma kemudian menuliskan nomor WAnya pada HP Riko dan kemudian menyerahkan kembali pada Riko.-


Riko menarik nafas lega dan tersenyum penuh kemenangan.


" Oke, makasih ya, Salma-! " kata Riko.


Salma mengangguk kecil.


" Oh, ya! kamu pulang sama siapa? Bagaimana kalau aku yang anterin? " Riko menawarkan untuk mengantarkan Salma pulang.


Belum juga Salma menjawab Rayden sudah berdiri di sebelahnya dan menggamit pinggang Salma dengan lembut.


" Terima kasih, sudah berbaik hati menawarkan tumpangan pada Salma , tapi sayangnya Salma pulang dengan saya. Kami masih ada urusan sedikit-! " kata Rayden sambil menepuk bahu Riko.


" Oke, nggak papa, Bro-! santai saja. Kalau begitu aku duluan, ya-! Ayo Salma, sampai jumpa-! pamit Riko pada Rayden dan Salma.


Rayden lalu membimbing Salma masuk ke dalam mobilnya.


" Om Indra, pulang duluan ke kantor. Saya ada perlu dengan Salma sebentar-! "


" Ok, Rayden-! Om duluan, ya! Dah, Salma-! kata Pak Indra. Mobilnya kemudian melesat pergi meninggalkan halaman parkir restauran Queen.


Rayden membawa mobilnya menuju ke sebuah cafe yang letaknya di pinggir pantai.


Cafe itu posisinya menghadap langsung ke laut. Sehingga pengunjung cafe dapat bersantai sambil menatap keindahan laut.


Salma melangkah turun ketika Rayden membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan gadis itu melangkah masuk ke dalam cafe.


Mereka mencari tempat duduk yang menghadap langsung ke laut dan memesan dua buah es kelapa muda.


Salma terpesona dengan pemandangan di tempat itu. Hatinya senang dan berbunga-bunga.


Rayden yang melihat itu tak dapat menahan gemas. Di raihnya bahu gadis itu kepelukannya.


Tubuh Salma bersandar di dada bidang Rayden. Dapat didengarnya debaran jantun Rayden yang berdebar kencang.


" Aku merindukanmu, Bee?! " bisik Rayden mesra dikuping Salma.


Salma merinding mendengar bisikan Rayden. Hatinya makin berbunga - bunga.


" Aku juga, merindukanmu honey-! " kata Salma malu-malu.