Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 58 Menemukan Salma



"Mbak ini akan tinggal di sini? loh, suaminya mana, bu. Masa istrinya dibiarkan tinggal di tempat ini." kata Iqbal. Semula dia berpikiran, bahwa yang mau menempati tempat ini adalah seorang laki-laki . Eh.. Ternyata malah di tempati perempuan. Cantik pula, tapi sayangnya sudah bersuami, pikir mereka.


Salma pun akhirnya menempati salah satu lapak bu Emi yang tidak di gunakan lagi yang letaknya tidak jauh dari warung nasi milik ibu Emi.


Untuk menyambung hidup, sehari-hari dia berjualan aneka makanan dan minuman ringan untuk penumpang di terminal itu.


Hari demi hari berlalu, Salma berusaha bekerja keras membanting tulang demi untuk membesarkan Raisa seorang. Dia mengubur dalam dalam perasaan cinta dan rindunya pada Rayden. Di hatinya hanya ada tekad untuk merawat dan membesarkan Raisa saja seorang diri.


Sementara itu, Rayden berusaha mati-matian untuk menemukan kembali istri dan anaknya yang pergi entah kemana meninggalkan semua persoalan dan kesalahan fahaman di antara mereka.


" Salma, di mana kamu, bee. Mengapa kamu pergi sebelum mendengar penjelasanku? " Rayden mengusap air matanya yang jatuh. Ya.... lelaki berwajah tampan bakal dewa yunani itu menangis menyesali kepergian sang istri.


" Bodoh... kamu memang bodoh, Rayden. Kamu yang salah, mengapa tidak berterus terang dari awal.. !!" bathin Rayden menyalahkan dirinya yang tidak jujur tetapi malah menghindar dan bersikap dingin pada istrinya.


Rayden menyesali sikapnya yang akhir akhir ini terlalu dingin pada Salma. Rayden bukannya tak faham, jika istrinya kadang menangis diam - diam dalam kamar mereka saat mendapati sikap acuh dan cueknya pada sang istri.


Padahal istrinya itu sudah berusaha berbuat baik dan menjalankan semua kewajibannya dengan benar.


Kadang dia merasa iba melihat Salma yang dengan setia menanti kepulangan Rayden dan berharap untuk dapat Makan bersama sang suami. Namun dengan tega Rayden mengatakan dia sudah makan diluar dengan klien.


Sebenarnya dia tidak ingin berbuat demikian. Dia hanya ingin agar Salma- tidak usah menunggu kepulangannya hanya untuk makan. Dia ingin agar Salma makan saja apa yang dia mau. Karena dia takut penyakit maag Salma akan kembali kambuh jika sering terlambat makan.


Sikap dinginnya pada Salma hanya untuk menjaga agar dia tidak menerkam istrinya itu, karena sebenarnya dia ingin sekali melakukan hal itu, tapi dia takut Salma akan marah.


Rayden sudah lama berpuasa semenjak kelahiran anak mereka. Namun untuk meminta jatah pada sang istri dia masih belum berani. Untuk itu, dia menyibukkan diri dengan fokus bekerja agar lupa akan keinginannya.


Namun kesalahan yang paling fatal adalah dia tak berterus terang tentang Anastasia. Kemunculan wanita itu kembali cukup mengejutkan Rayden dan dia tak berani mengambil resiko dengan mengatakan hal itu pada Salma tidak akan berdampak baik padanya dan juga perusahaan.


Rayden sedikit egois memang. Tak pernah terpikirkan olehnya bagaimana perasaan Salma. Terlebih setelah kejadian di kantor Rayden beberapa waktu yang lalu.


Kini, dia harus membayar semua keegoisannya dengan kehilangan. Kepergian Salma dan anaknya merupakan pukulan yang berat baginya.


Baru di sadari olehnya, betapa dia merasa sangat kehilangan dan tersiksa oleh rasa rindu yang semakin hari semakin membuncah dada.


tok! tok! tok!


ketukan di pintu membuyarkan lamunan Rayden tentang Salma dan anaknya.


" masuk! "


Pintu ruangan terbuka dan masuk melenggang seorang wanita dengan langkah anggun.


" kamu masih di sini? Mr. Jie sudah dari tadi di ruang rapat. Dia menunggumu." kata - kata wanita itu mengingatkan Rayden bahwa dia sudah melupakan janji pertemuan dengan Mr. Jie dan juga rapat pemegang saham lainnya.


" Oh, ya. aku segera ke sana! " katanya lantas berdiri sambil membawa notebook di tangannya.


" istrimu belum di temukan? " tanya wanita itu lagi yang tak lain adalah anastasia.


" Belum. Belum ada titik terang dimana keberadaan dia dan putri kami saat ini." jawab Rayden dengan sedih.


" Aku mohon maaf. Karena aku kalian terpisah kembali! " kata Ana.


" Sudahlah, mungkin harus begini jalan hidup kami. Semua karena kesalahanku yang tidak mau jujur dan berterus terang pada istri. Akhirnya istriku jadi salah faham dan pergi."


" Iya, namun sedikit banyak aku juga turut andil.. kesalahan di masa lalu mungkin masih membekas di hati Salma sehingga wajar jika dia menaruh curiga padaku. " kata Ana sambil mendongak mencoba menahan setitik air yang hendak lolos melewati matanya.


" Sudahlah, ayo.. kita ke ruang meeting sekarang. Kekasihmu yang ganteng itu sudah menunggu! " kata Rayden.


Anastasia tersipu malu mendengar candaan Rayden. Dia memang menjalin hubungan dengan bosnya itu setelah berkenalan dengan Mr. Jie di sebuah rumah sakit di Singapura beberapa bulan yang lalu.


...-----...


Panasnya matahari membakar kulit. Membuat siang hari di terminal bus Surabaya - Jakarta itu terasa membara.


Salma sedang sibuk di warung bu Emi membantu wanita itu melayani pembeli yang datang di warung nasinya.


Sesekali, beberapa pengunjung terutama kaum adam menggoda wanita cantik berhijab yang berkulit putih bersih.


Mereka mengira jika Salma adalah seorang janda beranak satu hingga mereka saling berlomba untuk menarik perhatian wanita cantik itu.


" Neng Salma, nasi campur satu! " kata salah seorang pengunjung warung.


" Iya, bang.. Lauknya apa bang?"


" pake ayam goreng aja neng. Kalo bisa di tambah hati neng Salma juga nggak apa pa. Abang rela.... neng bayar lebih! " goda pengunjung warung tadi.


Salma hanya tersenyum kecil saja menanggapi godaan tersebut. Baginya godaan itu sudah biasa dia terima dari para pengunjung yang datang ke warung nasi bu Emi semenjak dia membantu di sana.


" Ini bang, nasi dan ayam goreng. Oh, yah.. kalau mau sambal itu ada di meja.! " katanya ramah.


Pengunjung warung yang lain melirik ke arah Salma.


" Cantik banget hari ini, neng! mau ya jadi bini abang! " kata seorang lelaki pengunjung warung yang di sambut riuh tawa pengunjung yang lain.


" ngaca lo, mana mau neng Salma sama lo, bini lo aja sudah tiga! " lelaki itu meringis memegang kepalanya yang nyaris botak.


" Tapi kan aku ngikut sunah Rasulullah, lagian beristri lebih dari satu nggak di larang bro, asal mampu dan adil! "


" adil... adil.! adil pale lo, peyang.!! " kata pengunjung yang lain. Pengunjung warung yang lain kembali tertawa riuh menanggapi ocehan lelaki tersebut.


Begitulah suasana di warung nasi bu Emi semenjak kehadiran Salma, selalu ramai oleh pengunjung.


" Mbak Salma, di panggil ibu. Raisa nangis, mbak!" kata Desi. Desi adalah anak bu Emi yang lebih tiga.


" Biar Desi saja, mbak yang menjaga warung." kata Desi lagi.


" oh, iya. Mbak Salma akan segera ke sana." kata Salma. Wanita itu segera mencuci tangan dengan sabun dan kemudian beranjak ke belakang.


Tanpa Salma sadari, seseorang merekam seluruh kejadian di warung makan tersebut dan mengirimnya kepada seseorang yang merupakan bosnya.


" Bos, saya sudah menemukan wanita yang bos maksud. Ciri-cirinya sesuai dengan yang bos sebutkan. Ini saya kirimkan videonya.! " kata orang itu sambil menutup telpon.


Seseorang di sana membuka video yang dikirimkan padanya. Saat matanya melihat isi video itu, sebuah senyuman terukir di sudut bibirnya. Segera dia menelpon seseorang yang dia tahu saat ini pasti akan merasa senang dengan kabar dan video tersebut.


" Halo! "


" Halo! Revan. Gimana hasil perkembangan penyelidikanmu?" tanya lelaki di telpon itu. Dia adalah Rayden dan lelaki yang barusan menelponnya adalah Revan. Orang kepercayaan Rayden yang bekerja secara sembunyi - sembunyi di balik layar.


" Halo bos, Sepertinya ada kabar gembira mengenai istri bos.!" jawab Revan.


Lelaki itu memang yang di tugasi oleh Rayden untuk mencari dan melacak keberadaan istri dan anaknya.


" Cepat kirimkan datanya padaku! " kata Rayden dengan tak sabar.


Revan segera mengirimkan video yang dia terima dari anak buahnya. Tangan Rayden gemetar saat melihat isi video kiriman Revan.


" Salma!!" desisnya dengan segenap rasa kerinduan yang membuncah hebat di dada.