Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 62 Mencintai Tanpa Syarat



" Tante, ini tante Jani, dia calon mama Azka! " kembali bocah lelaki itu memperkenalkan Jani sebagian calon mamanya kepada Salma.


Pipi Jani bersemu merah mendengar ucapan Azka. Sedangkan Dewa, garuk - garuk kepala tak tahu harus berkata apa.


Pulang dari supermarket, Dewa meletakkan belanjaan di dapur. Anjani datang dan segera membantu Dewa memasukkan belanjaan mereka ke dalam lemari dan kulkas.


" Jani, aku mohon maaf atas kelakuan Azka tadi saat di supermarket tadi. Azka sungguh keterlaluan. Mulut bocah itu benar-benar... "


"Tidak, aku tidak apa - apa. Sungguh!" potong Jani cepat.


Dewa menatap Jani tak percaya. Wanita ini sedikitpun tidak menunjukkan rasa kesal terhadap sikap Azka tadi saat di supermarket. Apa mungkin Jani....? Tapi.. akh! Dewa mengusap kasar wajahnya.


Jani balik menatap heran ke arah Dewa. 'Ada apa dengan lelaki di hadapannya ini. Mengapa dia menatap aneh ke arahku. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak apa - apa! ' pikirnya.


" Kak, Kak Dewa! kakak kenapa? " tanya Jani sambil memegang tangan Dewa. Dia mengguncang tangan Dewa agar lelaki itu tersadar dari lamunan.


" Hah, apa? ehh... iya. Aku... " Dewa gelagapan sendiri.


Tanpa sadar tangannya menggenggam erat tangan Jani. Menyadari hal itu Jani jadi salah tingkah.


Jani menarik tangannya perlahan. Pipinya sudah berubah warna menjadi merah.


" Kak Dewa!" panggil Jani pelan.


" Iya, ada apa Jani? " jawab Dewa cepat.


" Apakah kakak hari ini ke kantor? "


" Hmm, sepertinya tidak. Hari ini aku mau menghabiskan waktu bersama Azka seharian. Karena sudah lama aku tak meluangkan waktu bersamanya." kata Dewa.


" Oh, begitu! Kalau gitu aku akan masak buat kita. Kak Dewa mau makan apa?" tanya Jani.


" Apa tidak merepotkanmu? Sudah, biar kita pesan rantangan saja seperti biasa!" kata Dewa.


" Tidak, aku tidak merasa repot, kak. Sebentar, Jani siapkan dulu bahan - bahannya! " kata Jani.


Dewa membantu Jani menyiapkan bahan - bahan yang akan mereka masak. Dia juga membantu Jani memotong sayuran. Nasi sudah siap di rice cooker. Tak lama kemudian, makanan sederhana sudah siap tersaji.


Ada ayam dan sosis goreng kesukaan Azka , ada ikan goreng yang di siram sambal matah, dan sebagai pelengkap tumis kangkung lengkap dengan sambel terasi. Dewa menelan liur saat melihat makanan itu tersaji di meja makan.


Segera setelah berdoa, ketiganya makan dengan lahap. Dewa sampai berkeringat karena lelaki itu makan dengan lahap. Baru kali ini dia makan dengan begitu nikmat. Masakan Jani benar-benar pas dengan seleranya.


Selesai makan, Dewa membantu Jani membersihkan piring dan gelas kotor. Lelaki itu bahkan mencuci semua piring dan perabotan yang kotor bekas memasak tadi.


" Kak, kenapa kakak yang cuci piring? Itu kan tugas Jani! " Jani merasa tak enak hati karena Dewa sudah mencuci semua piring kotor bekas makan mereka tadi.


" Tidak apa - apa, Jani. Kau tenang saja. Aku tak akan memotong gajimu!" candanya.


Jani terpana. Tumben sekali Dewa bisa bercanda. Biasanya lelaki itu bawaannya serius terus. Senyum Dewa manis sekali. Jani rasanya kena diabetes dan serangan jantung sekarang.


Duh... Tuhan, tolonglah hambamu ini. Hamba tak ingin mati muda karena serangan jantung dan diabetes setiap hari, doanya dalam hati.


Sedang Dewa, lelaki itu masih sibuk menyusun piring di rak piring. Tangannya sibuk mengatur piring dan gelas di tempat yang tersedia.


Tak berapa lama, pekerjaan itu pun selesai. Kini dapur sudah kembali bersih. Dewa menghampiri Jani yang masih asyik melamun.


" Jani..! Jani! Dewa memanggil Jani yang masih asyik duduk melamun. Karena tak di respon, Dewa akhirnya mencubit pipi Jani sehingga membuat yang empunya meringis menahan sakit.


Jani meraba pipinya yang kini sudah memerah.


" Aih, kak Dewa! sakit tahu? "


Jani tersipu malu. Dia ketahuan melamun.


Dewa menjentik dagu Jani kemudian melangkah ke ruang tamu. Di sana ada Azka yang sedang bermain. Lelaki itu segera bermain bersama dengan bocah itu.


Jani segera mandi dan membersihkan diri. Setelah itu ia bergabung bersama Azka dan Dewa. Bertiga, mereka bermain bersama menghabiskan waktu.


Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia meluangkan waktu bersama. Dewa berasa lengkap. Seperti memiliki seorang istri dan anak saja rasanya.


Azka sampai tertidur karena kelelahan. Dewa menggendong dan meletakkan bocah itu di kamarnya yang juga merupakan kamar Jani.


" Terima kasih karena hari ini sudah membuat aku dan Azka bisa merasakan kebahagiaan." kata Dewa dengan tulus.


" Aku juga senang melakukannya. Aku suka sama Azka. Dia lucu dan menggemaskan. " kata Jani.


Keduanya saling pandang. Dewa tak dapat lagi menahan dirinya. Disentuhnya bibir ranum milik Jani yang begitu menggoda.


" Bolehkah..? " tanya Dewa. Matanya berkabut penuh gairah. Jani tertunduk diam. Dewa mengangkat wajah Jani dan mencium bibir wanita itu dengan lembut.


Tubuh Jani bergetar. Seumur hidupnya dia tak pernah bersentuhan dengan orang lain. Apalagi sampai dicium di bibir.


Dewa juga dapat merasakan bahwa tubuh Jani bergetar. Perlahan di angkatnya tubuh Jani hingga kini Jani berada dalam gendongannya.


Jani hanya pasrah ketika kembali Dewa mencium bibirnya. Kali ini ciuman itu lebih dalam dan lama. Jani terbuai oleh ciuman Dewa yang memabukkan hingga tanpa sadar kemeja bagian atas Jani sudah terbuka lebar.


Suara igauan Azka menyadarkan keduanya. Serentak keduanya menghentikan kegiatan panas mereka. Jani yang merasa malu segera merapikan bajunya kembali dan buru - buru pergi keluar dari kamar Azka.


Dewa melangkah keluar menyusul Jani yang kini sudah berada di dapur. Wanita itu terlihat sedang mengambil air untuk minum.


" Jani! " panggilnya pelan.


" Eh, iya kak. Ada apa? "


" Maafkan aku. Tadi aku khilaf. Aku mohon kamu jangan marah. Aku janji tidak akan melakukannya lagi!'


" Tidak apa- apa, kak. Jani juga salah. Kenapa tak menolak ketika kakak mencium Jani." jawab Jani


Wanita itu menunduk karena malu. Bodohnya dia karena bukannya menolak ciuman Dewa, tapi dia malah menikmatinya.


" Apa kamu marah? " Jani menggeleng- gelengkan kepalanya.


" Jani, bolehkah aku bertanya sesuatu? " tanya Dewa.


" Boleh. Kakak mau tanya apa ke Jani? "


" Apakah kamu masih memiliki orang tua?" tanya Dewa.


" Ada, tapi hanya Ibuku seorang. Ayahmu sudah tidak ada. Ibu kemudian menikah lagi dengan seorang duda tanpa anak yang gemar sekali berjudi dan minum minuman keras. Aku lari dari kejaran orang suruhan lintah darat yang ingin menjadikan aku sebagai istri ketiganya."


" Mengapa mereka mengejarmu? " tanya Dewa heran.


" Karena ayahku tiriku telah berhutang banyak pada Bandot tua itu. Ayah tiriku menjadikan aku sebagai alat penggadai hutangnya." kata Jani mengakhiri ceritanya.


Dewa menghela nafas panjang. Dia sebenarnya sudah mengantongi informasi tentang wanita ini. Karena itu, dia merasa iba terhadap Jani. Dia hanya menunggu wanita itu untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Dewa.


" Jani, bagaimana kalau kita menikah saja? " tanya Dewa sambil menggengam tangan Jani.


" Menikah??!! " tanya wanita itu dengan heran. Apa dia tak salah dengar? tanya Jani dalam hati.