Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 55 Seperti Sebuah Keluarga Kecil Yang Bahagia



" apakah ibumu masih ada? tanya Dewa.


" iya , ibuku masih hidup, tapi aku tak bisa menemuinya saat ini." kata Anjani sedih.


Dewa menggenggam tangan Anjani erat mencoba memberi kekuatan pada gadis itu.


Dada Anjani berdebar - debar. Sentuhan tangan Dewa yang hangat dan lembut membuat sesuatu di hatinya berdesir lembut.


Anjani tak tahu perasaan apa itu. Buru - buru di lepasnya tangannya dari genggaman Dewa.


" Ah, aku lupa. Aku bisa masak jika kamu mau. Jadi jika.... "


" Tak usah, tugasmu hanya menjaga dan mengasuh Azka. Untuk masak aku sudah memesannya melalui jasa katering langgananku." kata Dewa. Dia lalu beranjak mengambil kunci mobilnya.


" Jani, aku mau menjemput Azka. Apa kamu ingin makan sesuatu. Sekalian nanti, aku akan singgah membeli makanan." tawar Dewa pada Anjani.


" Terserah kak Dewa saja, aku ikut saja." kata Anjani yang kini merubah panggilan masnya menjadi kakak. Kening Dewa berkerut, tetapi kemudian dia tersenyum lalu melangkah keluar dengan senyum yang kini semakin lebar tersungging di bibirnya.


Tak berapa lama, Dewa sudah sampai di rumah kediaman Sang Ibu. Azka yang melihat kedatangan Dewa, berlari menyambut kedatangan lelaki tampan dengan rambut cepak berdiri itu.


" Papaaaa!! " serunya dengan wajah gembira. Dewa menyongsong kedatangan anaknya dengan merentangkan kedua tangannya. Azka berhamburan ke pelukan Dewa.


" Papa kok lama sekali sih, jemput Azka?" tanyanya.


" hmm, maafkan papa, ya. Papa lagi banyak urusan di kantor. Azka sudah makan? " tanya Dewa kemudian.


" Sudah, Azka sudah makan di suapin sama eyang." kata Azka.


" Kamu sudah datang, Dewa." ibunya keluar menemui Dewa. Dewa meraih tangan wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia dan menciumnya takjim.


" Azka langsung pamit, ya bun!" kata Dewa.


" Loh, kenapa? kamu nggak makan dulu? ibu sudah masak masakan kesukaanmu." kata Ibunya.


" Dewa buru - buru, nih bun. Bisa nggak di bungkus saja."


Ibu menghela nafas dalam, lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian wanita itu sudah kembali lagi dengan menenteng rantang yang sudah pasti berisi makanan kesukaan Dewa.


" Ini sudah ibu masukan bekal buat kamu dan Azka. Hati-hati di jalan.! " kata ibu.


" Iya, bun. Makasih, ya bun. Dewa pamit dulu." Dewa mencium tangan ibunya. Lalu berbalik memanggil putranya.


" Azka!! ayo pamit pada, Eyang putri! " bocah lelaki itu berlari dengan gembira ke arah wanita yang dia panggil eyang putri.


" Eyang, Azka pulang dulu, ya! " katanya seraya mencium tangan eyang putrinya.


" Iya, sayang. Azka jangan nakal sama papa, ya! "


" Oke, eyang. Assalamu'alaikum! "


" Wa alaikum salam!.


Mobil Dewa kemudian meluncur meninggalkan rumah besar dan mewah orangtuanya menuju ke rumah kontrakan miliknya.


Sebelum sampai di kontrakan, dia singgah dulu membeli nasi padang untuk Anjani dan juga dirinya.


" papa beli nasi buat siapa? " tanya Azka.


" Buat tante Jani!"


" Tante Jani itu siapa? "


" Dia teman papa, dia nanti yang akan mengasuh dan menjaga Azka." kata Dewa.


" Benaran, pah? " tanya Azka. Wajahnya berubah girang dan tampak senang sekali.


"benar, papa nggak bohong sama Azka. Tante Jani sekarang ada di rumah kita. Dia bakalan tinggal dan mengasuh Azka. Jadi sekarang Azka ada teman dan tidak kesepian lagi. " kata Dewa.


" Horeee! sekarang Azka tidak kesepian lagi.!"


Setibanya di rumah, Dewa segera memarkirkan mobilnya dan membawa Azka turun. Bocah kecil itu begitu bersemangat ingin bertemu dengan calon pengasuhnya.


" Assalamu'alaikum!" sapa keduanya.


" Waalaikum salam! " sebuah sahutan terdengar saat keduanya memberi salam.


Azka berdiri di belakang papanya saat masuk ke rumah.


" Jani, ini Azka anak aku. Azka ayo salim sama tante Jani! " dengan malu-malu bocah lelaki itu mendekati Jani dan mencium tangannya. Jani yang gemas dengan tingkah bocah itu segera menariknya ke dalam dekapannya. Dia kemudian memberi hadiah kecupan di kedua belah pipi Azka, membuat bocah lelaki itu berlari mendatangi Sang papa dengan pipi yang bersemu merah.


Dewa tertawa melihat ekspresi wajah Azka yang malu - malu kucing. Kemudian dia menyodorkan bungkusan plastik dan rantang ke arah Jani.


" Ini ada titipan rendang dari ibu aku. Dan ada juga nasi padang buat kamu. Tapi kalau kamu nggak suka, kamu boleh bilang mau makan apa, akan saya belikan lagi."


" Ini sudah lebih dari cukup, kak. Ayo kita makan sama-sama! Sebentar ya, Jani ambilkan piring dan sendok dulu." Jani lalu beranjak ke dapur untuk mengambil piring dan sendok. Kemudian mereka bertiga makan bersama.


Jani menuangkan nasi ke piring Dewa dan Azka. Tak lupa juga dia mengambil beberapa potong rendang lalu meletakkannya di piring Dewa.


" Azka suka makan apa, sayang ? "


Jani pun mengambil sepotong ayam besar untuk Azka.


" Kamu nggak makan, Jani?"


" Iya kak, ini Jani sedang mengambil nasi padang untuk Jani.!" setelah berkata demikian, dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Lalu duduk di sebelah Dewa.


Hati Dewa berbunga-bunga. Entahlah... dia suka saja dengan suasana seperti sekarang ini. Dia berasa seperti memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia dan damai.


Dering telepon menyadarkan Dewa dari lamunan. Segera di raihnya benda pipih dan hitam mengkilap yang sejak tadi menjerit mengeluarkan bunyi.


" Hallo! " suara Dewa menyambut panggilan penelepon nya.


" Bos, kami sudah memperoleh informasi yang bos inginkan!"


" oke, besok saja temui aku di kantor." kata Dewa sembari memutuskan telepon secara sepihak. Lalu kembali melanjutkan makannya. Sesekali mereka tertawa riang oleh celotehan lucu Azka yang kadang tidak masuk di akal.


" Papa, boleh tidak kalo tante Jani tidur sama Azka dan papa? " tanya bocah itu. Jani menutup mulut nya dengan kedua tangan, dia sangat kaget dan malu.


Cepat- cepat Dewa menutup mulut Azka agar tidak berucap hal - hal yang membuat malu dirinya. Namun dia pun berucap bijak.


" tentu saja belum boleh sayang.! tapi kamu boleh kok tidur sama tante Jani, asal tante Janinya ngizinin kamu."


Bocah itu menatap Jani penuh harap.


" Baiklah.. tapi hanya kali ini saja. Azka kan sudah besar. Harus berani tidur sendiri, ya! " Azka bersorak senang.


" Horeee, aku tidur sama tante Jani!" serunya riang. Dewa tersenyum bahagia menyaksikan Azka tersenyum gembira. Baginya kebahagiaan Azka adalah yang utama.


Pagi - pagi sekali, seperti biasa Dewa sudah bangun untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan Azka. Namun hari ini, ada sesuatu yang baru.


Dewa melihat Anjani sedang sibuk di dapur untuk membuat sarapan.


" Hai, pagi. Maaf aku bangunnya agak kesiangan, jadi telat buatin sarapan." kata Dewa. Dia merasa tidak enak karena Jani sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.


" Sudah, nggak papa, kak. Jani sudah biasa bangun pagi dan membuat sarapan. Di sini masih untung semua tersedia, kalau di tempat aku, kami harus bekerja keras dulu, agar bisa makan." mata Jani menerawang jauh. Dia sedih karena teringat nasib ibunya.


Entah bagaimana sekarang nasib ibunya semenjak dia kabur dari rumah. Andai saja bapaknya tidak berhutang pada juragan Somad, pastilah sekarang Jani masih bersama ibunya.


" Jani, Jani... kamu nggak papa, kan.? tanya Dewa. " Jani... Jani! " Jani tersentak dari lamunan.


" Iya, kak. Kakak panggil Jani? "


" itu, masakan kamu gosong!" Jani melihat ke wajan, astaga..... telur yang dia goreng sudah gosong dan berwarna hitam. Cepat cepat dia mematikan kompor.


" Aduhhh, bagaimana ini. Maaf kak. Jani tadi melamun." Jani merasa bersalah karena dia, keadaan menjadi kacau.


" sudah, nggak usah sedih. Sini... biar aku yang goreng telurnya.! " kata Dewa.


Dia kemudian mengambil alih spatula yang ada di tangan Jani dan mulai menggoreng telur dengan cekatan.


Beberapa saat kemudian sarapan sudah jadi dan bertepatan dengan Azka yang juga sudah bangun.


" Azka mandi dulu, baru sarapan. Nanti papa antar ke rumah eyang."


" Nggak mau, Azka di rumah aja. Kan sudah ada tante Jani." Dewa menepuk jidatnya.


" Iya, ya. papa lupa! " kata Dewa. " ok, sekarang Azka mandi dulu, baru kita sarapan bareng. Papa juga mau siap - siap mandi."


" Mandi bareng aja, pah! " katanya.


" Oke, jagoan. Siapa takut! " lalu keduanya pun mandi bersama Setelah itu kedua orang itu sudah duduk di meja makan bersama Jani yang sudah menunggu dari tadi.


Setelah sarapan, Dewa bersiap - siap hendak berangkat ke kantor.


" aku titip Azka. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal hubungi aku saja. Nomor aku ada di hapenya Azka. Nggak usah repot buat masak karena aku sudah pesankan nasi katering. Jam 11.30 biasanya sudah diantar. Dan satu lagi, tolong buatkan susu untuk Azka. " Anjani mengangguk faham.


Dewa melangkah keluar rumah di iringi Anjani dan Azka.


" Azka salim papa! " Bocah kecil itu mencium tangan Sang papa. Dewa mencium kepala anaknya dengan sayang.


" Jangan nakal, ya. Baik - baik di rumah! "


" iya, pah! "


" Jani, aku pergi dulu, titip Azka, ya! " pamit Dewa seraya melangkah membuka pintu mobil.


" Kak...! " panggil Jani.


" hmm, ya ada apa?" jawab Dewa.


Anjani mengambil tangan Dewa dan menciumnya.


" nggak apa apa. cuma mau salim.! " Dewa tertegun sejenak mendapat perlakuan seperti itu dari Jani. Namun kemudian, senyumnya merekah lebar dan bahunya terangkat ke atas.


" eh, ya. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum.! " Dewa kemudian masuk ke mobil dan berangkat ke kantor. Sepanjang jalan hatinya berbunga-bunga. Perlakuan Jani yang mencium punggung tangannya sebelum dia berangkat membuat dia senang. Berasa Jani sudah seperti istrinya saja, pikirnya. Dewa bahagia... ....