
Revan segera mengirimkan video yang dia terima dari anak buahnya. Tangan Rayden gemetar saat melihat isi video kiriman Revan.
" Salma!!" desisnya dengan segenap rasa kerinduan yang membuncah hebat di dada.
Siang hari yang terik di terminal membuat beberapa sopir bus dan juga angkot memilih untuk beristirahat sambil minum kopi atau makan siang untuk melepas penat.
Salma sedang duduk memangku Raisa. Dia baru saja selesai membantu bu Emi memasak untuk menu makan siang di warung nasi milik bu Emi.
Seorang pengunjung warung masuk dan memesan makanan pada wanita itu.
" Neng, nasi satu! pake ayam dan sayur lengkap sama sambel, ya! " kata orang itu. Salma mengangguk lalu meletakkan Raisa di dalam keretanya. Dia beranjak untuk melayani pesanan pengunjung tersebut.
' ini, mas. Nasi pesanannya! masnya mau minum apa? tanya Salma ramah.
" Teh es manis saja, neng! " jawab pengunjung warung itu sambil tersenyum menatap Salma. Cantik.. pikirnya.
Salma segera membuatkan pesanan pengunjung dan kembali mengantarkan ke mejanya.
" Assalamu'alaikum! "
" Waalaikum... " Salma tak melanjutkan menjawab salamnya. Dia mengenal baik suara itu, tidak..... tidak mungkin salah. Seketika dia menoleh ke asal suara itu.
Dia ingin memastikan pendengarannya. Oh... My... God.!!! No.. no.. no. Ini tidak mungkin.. Ini pasti salah, pikirnya.
Kaki Salma terpaku di tempatnya tak bisa digerakkan.. Matanya membulat tak percaya. Mengapa.... mengapa lelaki itu ada di sini. Bagaimana bisa lelaki yang sangat ingin dia hindari itu menemukan dirinya. Tidak... ini tidak boleh terjadi. Dia tak ingin bertemu dengan lelaki itu. Tidak sekarang.... Luka hatinya masih belum sembuh, dan dia tak ingin terluka lagi. Dia tak ingin tersakiti lagi.
Sesak rasanya di dada ketika Salma mencoba mengambil nafas.
Lelaki itu berlari masuk untuk memeluknya. Namun Salma yang melihat hal itu berteriak menyuruhnya berhenti.
" Stop, berhenti di sana. Jangan mencoba mendekat. D.i.a.m di tempat anda, tuan. Saya tidak ingin terjadi keributan di tempat ini. Jadi silahkan pergi jika anda tak berniat membeli di sini." katanya dingin.
Rayden meradang sedih. suaranya terasa tercekat di tenggorokannya.
" Bee, aku kesini untuk menjemput kamu dan Raisa. Ayo kita pulang. Mama dan ibu sangat merindukan kalian. Kami sudah mencarimu ke sana kemari. Aku hampir gila karena tak menemukan dirimu dan anak kita. Mengapa kamu pergi meninggalkanku? Mengapa kamu pergi tanpa mendengarkan dulu penjelasanku, Bee?" kata Rayden. Ada cairan bening yang menggenang di sudut matanya.
Hatinya miris melihat kehidupan anak dan istrinya yang menderita hidup di tempat seperti ini. Pasti istrinya selama hampir lima bulan ini sudah sangat menderita. Dia bertekad akan membawa pulang istri dan anaknya kembali.
" Apa aku memintamu menjemputku, tuan? " tanya Salma ketus dan dingin.
Rayden menghela nafas berat. Istrinya ini masih menyimpan rapi amarah dan kekecewaannya. Salma... memang pandai sekali menyimpan hati dan perasaannya.
" Kamu memang tidak meminta, bee. Tapi itu memang kemauanku sendiri. Karena memang sudah seharusnya seperti itu. Kamu adalah istriku dan aku masih sangat sangat mencintaimu. please bee. Back to me, I can't live without you. Believe me! " kata Rayden pada Salma dengan penuh perasaan cinta dan rindu yang tak bisa dia sembunyikan.
Salma menggeleng cepat.
" Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak tertarik untuk kembali pulang. Aku ingin sendiri saja bersama Raisa. Silahkan anda kembali. Lagi pula, disana anda sudah memiliki seseorang yang sangat pantas untuk mendampingi anda, bukan saya.!" ucapnya dengan luka yang tak bisa dia sembunyikan. Tampak jelas sekali terlihat dimatanya, kecewa dan rasa sakitnya.
Dia tak bisa lupa bagaimana sakit rasa hatinya saat melihat suaminya sedang memeluk wanita lain dan kemudian dengan gampangnya memintanya untuk pulang alih-alih mengusirnya dari pada membela dan menenangkannya.
" Bee, percayalah, semua tidak seperti yang kau lihat dan kau pikirkan. Pulanglah... akan kujelaskan semuanya seperti janjiku padamu. Sampai detik ini aku masih suamimu, .. aku masih setia pada pernikahan kita. Please bee, ayo kita pulang.! "
" Mimpi saja, anda tuan. Saya lebih memilih mati dari pada harus kembali pada anda! Sudah berkhianat tapi tak mau mengakui, masih berani berkata bahwa kamu tidak berkhianat, masih berani mengatakan bahwa kau masih mencintaiku. Cih, anda pikir saya akan percaya. Jangan mimpi tuan, kembali saja. Saya sudah mengikhlaskan anda untuk wanita itu. Dia masih tak bisa melupakan rasa cintanya pada anda. Dan anda juga sepertinya tak bisa menolaknya. Jadi kita berpisah saja. Saya ingin kita bercerai saja. "
" BEE!! jaga ucapanmu. Aku tidak ada hubungan dengan wanita itu. Apa yang kamu lihat itu bukan seperti yang kau pikirkan. Demi Tuhan, Bee. Aku tidak pernah berselingkuh dengannya. Aku hanya membantunya saja saat itu."
" hmm, membantunya menghangatkan ranjangnya itu maksud anda tuan? " entah mengapa mulut Salma kini bisa mengeluarkan bisa seperti ini. Seperti bukan Salma saja.
" Bee, sekali lagi jaga ucapanmu! Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak pernah berselingkuh dengan wanita lain seperti yang kau tuduhkan. Kau salah faham dengan semuanya." kata Rayden dengan emosi. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Sang istri agar mau kembali.
Salma menangis karena kesal dan malu. Semua orang yang ada di sana menonton drama rumah tangganya.
Dengan air mata yang terus mengalir di raihnya Raisa dari kereta dan membawa bayi mungil itu keluar dari warung.
" Bee, tunggu. Bee.... please baby.. Jangan pergi lagi. Pulanglah bersamaku. I love you Mrs. Chandler. Just stay with me. Only you... please believe me.. I never cheat on you. I will explain everything to you. I am promise." kata Rayden sambil meraih tangan wanita itu dan memeluknya. Dia memeluk Anak dan istrinya bersamaan.
Salma menangis sesegukan di dada lelaki yang sebenarnya masih sangat dia rindukan. Namun rasa kecewa dan sakit hati karena sikap suaminya membuat dia memendam habis semua rasanya terhadap lelaki berwajah bak dewa Yunani itu, sampai tak bersisa.
" Pulanglah, bee. I miss you so crazy. I am died without you. Aku janji akan menjadi lebih baik lagi. aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang akan selalu berusaha membahagiakan istri dan anak-anaknya."
Salma tak bisa menjawab. Hanya tangisnya saja yang kian sedih hingga membuat tubuhnya terguncang-guncang. Sampai akhirnya, wanita itu diam tak bergeming dalam pelukan Rayden. Tubuhnya luruh lunglai ke bawah. Beruntung Rayden sigap menangkap tubuh istri dan anaknya.
Revan yang kebetulan juga ikut dengan sigap membantu bosnya. Dia mengambil alih Raisa dari gendongan Rayden. Sementara Rayden membopong tubuh Sang istri ke mobil dan melarikan ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang jalan Rayden terus berdoa berharap tidak terjadi sesuatu pada Salma. Dia takut Salma akan pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya. Dia tak sanggup jika hal itu sampai terjadi.
Sesampainya di rumah sakit Salma segera mendapat pertolongan dari dokter. Rayden bisa bernafas lega setelah mendengar keterangan dokter yang mengatakan bahwa Salma akan baik- baik saja. Dia hanya sedikit terguncang dan butuh ketenangan serta istirahat yang cukup. Karena selain jiwanya yang terguncang wanita itu juga mengalami kelelahan pisik.
Rupanya, selama hampir lima bulan ini, Salma sudah bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak mereka. Padahal Rayden selalu mentransfer uang ke dalam rekening Salma.
Rayden masih berharap bahwa dimana pun Salma berada dia tidak merasa kekurangan. Namun, jangankan mengambil uangnya, menyentuhpun saja tidak. Salma benar-benar tak ingin apa bpun dari Rayden lagi. Dia sudah mengubur mati hati dan cintanya pada Rayden.
" Bee, kamu sudah sadar? Bee.. maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu tertekan. Aku hanya tak ingin lagi kehilangan dirimu. Please, bee. Pulang lah.. kasihan Raisa." pinta Rayden sambil berlinang air mata.
Salma terdiam dengan pandangan nanar ke atas. Hatinya bingung dan kalut. Di satu sisi dia tak ingin kembali. Dia tak mau terluka lagi. Sudah terlalu sering dia terluka oleh Rayden. Namun, dia tak bisa egois. Dia juga memikirkan nasib anaknya Raisa kelak yang harus ikut menderita karena keegoisannya. Dia tak boleh egois. Raisa berhak hidup bahagia bersama ayahnya.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Bu Emi, pemilik warung nasi yang telah mau menerima dan menampung Salma dan anaknya, Rayden membawa Salma dan Raisa pulang. Tak lupa Rayden memberikan sedikit balas jasa untuk bu emi, walaupun wanita berhati mulia itu sudah mati-matian menolaknya.
Baginya, Salma sudah dia anggap seperti anak gadisnya sendiri. Jadi dia merasa keberatan dengan uang yang diberikan oleh Rayden.
" Tolong ambilah uang ini, bu. Saya ikhlas memberikannya. Ibu bisa menggunakan uang ini untuk memperbesar usaha warung nasi ibu. Sehingga istri saya tidak terus kepikiran tentang ibu. Karena dia sudah menganggap Ibu seperti ibu kandungnya sendiri."
Akhirnya bu Emi menerima uang pemberian Rayden setelah Rayden mengatakan bahwa Salma akan sangat berterima kasih jika wanita itu mau menerima uang pemberian Rayden untuk memperbesar usaha warung nasinya.
Wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Rayden dan Salma. Dia berpesan agar Salma dan Rayden sesekali datang dan mampir ke warung nasi miliknya jika sedang berlibur ke Surabaya.