Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 66 Orang Pertama Yang Menjamahmu



" Kak, Bagaimana caranya aku melunasi hutang - hutangku pada kakak. Aku berhutang budi begitu banyak pada kakak." kata Jani yang merasa tak enak hati pada lelaki itu yang telah rela membayar semua hutang - hutan yang pada juragan Sudin.


" Jadilah istriku dan ibu bagi anak - anakku. Dampingi hidupku selamanya! " kata Dewa.


Akhirnya Jani mantap menerima lamaran Dewa untuk menjadi istri dari lelaki tersebut. Dia merasa bahwa Dewa sungguh - sungguh menginginkan Jani sebagai istri dan ibu dari Azka. Wanita itu merasa bahagia sekaligus bersyukur karena menemukan lelaki yang bertanggung jawab dan penyayang seperti Dewa


Matahari pagi bersinar cerah hari ini. Setelah dua hari menginap di rumah Jani, Dewa dan Jani memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ibu Jani, Mak Pessa merestui hubungan Jani dan Dewa.


Kepulangan Jani kali ini ke kota dengan memboyong serta ibu dan kedua orang adiknya.


Semua itu atas permintaan Dewa yang menginginkan agar mereka dapat ikut serta ke kota untuk dapat menghadiri serta menyaksikan pernikahan antara dirinya dan Jani.


Pernikahan Dewa dan Jani digelar secara sederhana saja. Semua karena permintaan Jani yang tak ingin Dewa menghambur - hamburkan uang lebih banyak lagi.


Baginya sudah cukup Dewa memfoya - foyakan uang untuk dirinya beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu mengeluarkan uang yang begitu besar untuk melunasi hutang - hutang keluarga Jani pada Juragan Sudin.


Sebenarnya, Dewa keberatan dengan permintaan Jani. Baginya uang yang dia keluarkan itu belum seberapa. Dia bisa membuat pesta pernikahan yang mewah dan meriah untuk dirinya dan Jani. Tapi, karena perempuan itu bersikukuh menolak pesta yang meriah, jadilah pesta pernikahan Dewa dan Jani digelar secara sederhana saja.


" Jani, perias pengantinnya sudah datang, apa kamu sudah selesai mandi, nak?" tanya Mak Pessa, ibu Jani.


" Iya, mak. Sudah. Jani mau pake baju dulu! " seru Jani dari dalam kamar.


Tak beberapa lama kemudian, perias pengantin itu sudah mulai mengerjakan tugasnya. Mereka merias Jani secantik mungkin agar bisa tampil cantik dan anggun pada acara pesta pernikahannya hari ini.


Tepat pukul 10.00 pagi, Jani sudah selesai dirias. Jani cantik sekali dengan balutan kebaya modern berwarna putih tulang yang menempel anggun ditubuhnya yang tinggi semampai.


Ibu dan adik - adiknya sampai tertegun menatap Jani. Mata mereka tak berkedip memandang kecantikan Jani yang paripurna.


" Kamu cantik sekali, nak! " kata Mak Pessa sambil mengusap air matanya yang jatuh di sudut matanya. Hatinya merasa terharu sekali menyaksikan putri Sulungnya akhirnya bisa menikah dengan lelaki yang baik dan menyayanginya.


Acara pernikahan digelar di rumah kediaman orang tua Dewa. Jani dan ibunya beberapa hari ini menginap di rumah Dewa. Sedangkan Azka diasuh oleh ibunya Dewa. Mak Pessa menolak menginap di rumah keluarga besar Dewa dengan alasan malu.


Wajar saja jika wanita tua itu merasa malu. Dia menyadari keadaan dirinya yang jauh berbeda dengan keluarga Sang besan.


Padahal, bagi keluarga Dewa, semua itu tak masalah. Karena mereka tak pernah memandang orang lain melalui status sosialnya. Mereka sekeluarga tak pernah meremehkan dan memandang enteng orang lain.


Itulah sebabnya mengapa Dewa memilih bekerja di kantor ayah Rayden dulunya, walaupun ayahnya memiliki perusahaan sendiri. Karena dia ingin belajar mandiri dan berusaha membangun semuanya dari nol.


Dan nyatanya dia berhasil. Dia memiliki perusahaannya sendiri plus beberapa kafe untuk modal masa depan.


Keluarga Dewa duduk bersebelahan dengan ibu dan adik - adiknya Jani. Mereka bersama - sama menyaksikan acara ijab qabul yang sebentar lagi akan di gelar.


Dewa duduk di hadapan pak penghulu di dampingi oleh sang ayah. Tak berapa lama, Jani keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah Dewa.


" Sayang, cantik banget sih. Kakak rasanya sudah tidak tahan pengen cepet - cepet masuk kamar." bisik Dewa pada Jani, setelah acara ijab qabul selesai dan kini keduanya sedang menerima ucapan dari para tamu undangan.


Jani tersipu malu sambil mencubit perut sis packnya Dewa. Lelaki itu hanya bisa meringis mendapat cubitan mesra dari istri cantiknya.


" Sudah berani ya, cubit kakak. Hmm... kayaknya kakak harus memberimu pelajaran. Tunggu saja nanti malam, sayang. Kakak akan memberimu pelajaran sampai kamu nggak bisa jalan." kata Dewa dengan berbisik pelan.


Jani menarik nafas panjang. Ada rasa cemas dan penasaran yang menjadi satu dalam hatinya.


Jani bergegas masuk ke kamar pengantin begitu acara telah selesai. Dia sedari tadi sudah tak tahan untuk pipis. Karena banyaknya tamu undangan yang hadir, terpaksa dia harus menahan diri untuk buang air kecil.


'Ahh, leganya! ' pikir Jani. Setelah Selesai buang air kecil, Jani bermaksud ingin kembali ke ruang keluarga untuk berkumpul bersama keluarga Dewa.


Bug!! tubuh Jani menabrak tubuh seseorang. Ternyata itu adalah suaminya.


" Mau kemana, sayang? " Dewa bertanya seraya menangkap lengan Jani agar gadis itu tak pergi menjauh dari dirinya.


" Mau kumpul bersama ayah ibu kakak dan juga ibuku." kata Jani dengan polosnya.


" Ganti baju dan mandi dulu, Jani. Apa kamu nggak merasa gerah dengan pakaian itu? " tanya Dewa pada Jani yang masih memakai pakaian pengantinnya.


" Iya, aku mau ganti baju, tapi susah banget kak, buat ngelepasin resleting belakangnya! " kata Jani sambil memperlihatkan bagian punggungnya yang sedikit terbuka.


Glek!!! Dewa menelan ludah ketika matanya tak sengaja melihat kulit leher Jani yang halus dan putih.


" Sini aku tolongin buat ngebukanya!" kata Dewa.


Tangannya bergerak menarik resleting baju Jani sampai ke bawah hingga pakaian pengantin Jani terlepas dan melorot ke lantai. Yang tersisa hanya tubuh Jani yang hampir polos karena hanya Pakaian dalam saja yang melekat ditubuh gadis itu.


Mata Dewa tak berkedip memandang keindahan ciptaan Tuhan atas tubuh istrinya. Dia sudah tak sanggup lagi menahan gejolak gairah dari 'adik kecilnya' di bawah sana yang minta untuk segera di puaskan.


Tak berapa lama kemudian, kamar pengantin itu sudah dipenuhi oleh pekikan Jani yang merintih sakit bercampur nikmat karena Dewa berhasil menjebol gawang emas miliknya.


Dewa tersenyum puas sambil menggendong tubuh telanjang Jani menuju kamar mandi. Jani menunduk malu sambil mengalungkan tangannya ke leher Dewa.


Di kamar mandi, kembali keduanya mengulang lagi adegan dua puluh satu tahun ke atas dengan penuh semangat. Dewa sudah beberapa kali melakukan penyatuan dengan Jani dan beberapa kali keduanya terpekik bersama kala mencapai pelepasannya.


Namun, Dewa masih saja belum puas - puasnya. Rasanya dia ingin dan ingin lagi. Andai tak kasihan melihat Jani yang sudah kelelahan, rasanya dia ingin memakan Jani sampai dia puas.


Dewa menggendong tubuh Jani yang sudah lemas ke tempat tidur dan menyelimuti tubuh polos gadis itu dengan selimut.


" Tidurlah istriku, sayang. Terima kasih karena sudah menjadikan aku orang pertama yang menjamahmu."