
𝓣𝓪𝓴 𝓹𝓮𝓻𝓷𝓪𝓱 𝓼𝓮𝓭𝓲𝓴𝓲𝓽𝓹𝓾𝓷 𝓴𝓾
𝓶𝓮𝓷𝔂𝓪𝓶𝓰𝓴𝓪 ....
𝓘𝓷𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓬𝓮𝓻𝓲𝓽𝓪.....
𝓐𝔀𝓪𝓵𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓽𝓪𝓷𝓹𝓪 𝓼𝓮𝓷𝓰𝓪𝓳𝓪
𝓭𝓲 𝓼𝓪𝓷𝓪, 𝓴𝓲𝓽𝓪 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓶𝓹𝓪....
𝓣𝓮𝓻𝓳𝓪𝓵𝓲𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓴𝓲𝓽𝓪
𝓫𝓮𝓻𝓭𝓾𝓪 𝓴𝓲𝓽𝓪 𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪. ...
𝓼𝓮𝓵𝓪𝓶𝓪𝓷𝔂𝓪...
Salma memeriksa pesan yang masuk melalui Whatsapp pribadinya. Berharap ada chat masuk dari seseorang yang dirindukannya.
Ya-! iyalah...dia rindu sama siapa lagi kalau bukan babang Rayden tersayang.
Pasalnya sudah tiga hari ini si babang gantengnya pergi ke Australia. Kerja sama dengan PT. RSC mengharuskan Rayden terbang ke negera Kiwi itu untuk penandatanganan perjanjian kontrak kerja sana.
Sebuah nomor baru masuk dengan sebuah pesan.
...//Nomor baru:...
...Malem, Salma-! sedang apa?...
Salma mengerutkan keningnya, Dia merasa tidak mengenal nomor itu
...// Me:...
...Malem, juga! ini siapa, ya?...
...//Nomor baru:...
...Eh maaf, aku nggak sopan. aku Riko-!...
...// Me:...
...Ohh.. iya! ada apa Pak Riko?...
...// Nomor baru:...
...Kok Pak, sih! please, Riko aja Salma-!...
Salma mendengus kesal. Males dia meladeni chat dari Riko.
...// Me:...
...Iya, Ada apa , Riko?...
...//Nomor baru:...
...Aku pengen ngajak kamu jalan. Mumpung di Indonesia. Kamu ada waktu, nggak?...
...// :Me...
...Kayak nya nggak bisa, aku lagi banyak kerjaan....
...// Nomor baru:...
...Jadi bisanya kapan?...
...// Me:...
...Nggak tahu. Liat aja ntar!...
...//Nomor baru:...
...Oke deh.. Aku tunggu ya kapan kapannya. Maaf dah.. ganggu. Malam Salma sayang!...
Salma menghela nafas Malas. Dia tak berniat untuk membalas chat Riko yang terakhir.
Embel-embel kata ' Sayang' yang di ucapkan Riko cukup mengganggu hatinya.
Apa sih, maunya Riko. Hubungan mereka jelas sudah berakhir ketika lelaki itu memutuskan meninggalkannya tanpa pesan. ( kau pergi tanpa pesan. Ceile... mirip lagu aje, neng)
Drett! drett! drett!
Handphonenya berdering. Sebuah panggilan video call masuk melalui WAnya.
Dengan malas Salma melirik mencoba mengintip siapa yang ingin video call dengan nya
Begitu di layar Hapenya muncul tulisan ' Calon suami', Salma tersenyum lantas menggeser ikon biru ke atas untuk menerima panggilan video call itu.
Wajah tampan Rayden muncul di layar hapenya.
Salma menutup mulutnya. Tak percaya dia karena Rayden melakukan video call dengan hanya berbalut handuk di pinggang. Sedangkan tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka.
" Malem, Bee-! " sapa Rayden sambil mengibas - ngibaskan rambutnya. Kayaknya dia baru saja selesai mandi.
Anjirr-! seksi banget. Salma memejamkan matanya.
" Hon, pake baju dulu, gih-! teriak Salma yang malu melihat Rayden yang setengah bugil.
" Kenapa, Bee. Nanti juga kamu bakalan sentuh atau malah ngerasain 'bagian' yang lain" kata Rayden tersenyum nakal.
" HONEY-!! Aku tutup ya-! " ancam Salma yang jengkel dengan tingkah absurd sang kekasih.
" Iya, iya-! ini juga lagi mau pake-! "
Rayden kemudian memakai kaos yang dia ambil dari lemari pakaian.
" Bee, I miss you ! " Rayden mendekatkan wajahnya ke kamera dengan mode mencium.
Salma tersenyum dan ikut juga mendekatkan wajahnya ke arah kamera. Seolah-olah mereka sedang berciuman melalui hape.
" I miss you more-!" balas Salma.
" Baru pulang, hon-? " tanya Salma pada Rayden yang di jawab dengan anggukan kepala.
Keduanya lalu terlibat obrolan seru, hingga tak terasa waktu sudah menjelang tengah malam.
" Bee, sudah malam. Kamu tidur ya, sayang-! "
Salma menguap sambil menutup mulutnya. Dia menganggukkan kepalanya.
" Ok. Kamu juga, hon. Tidur yang nyenyak. Have a nice dream-! "
Salma mendekatkan wajahnya ke kamera dan menempelkan bibir mungilnya.
Rayden gemas balas juga menempelkan bibirnya ke kamera.
" Muah-! " Salma mengecup hapenya.
" Ah.. manisnya! Muah! Muah-! " balas Rayden tersenyum manis. Hatinya berbunga-bunga bahagia. Hingga saat tidur pun dia masih tersenyum.
...*****...
Matahari yang terik membakar
jantung kota di tengah padatnya arus lalu lintas membuat sebagian penggunaan jalan mengutuk hari.
Salma menghentikan motornya ketika lampu lalu lintas di persimpangan menyala merah.
" Huh... panas banget-!" keluhnya.
" Tau gini mending minta di antar sama Pak Arif-! "
Sesaat kemudian lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Salma segera melajukan motor kesayangannya menuju ke site.
Dia mau mengambil laporan kas kecil minggu ini agar bisa menutup dan membuat laporan kas bulanan.
Sampai nya di site, Salma langsung masuk menemui pengawas lapangan yang memang sudah menunggu dirinya.
" Salma, sedang apa kamu di sini-? "
Salma menoleh kaget. Dia mendapati sosok Riko yang sudah berdiri di depan pintu masuk kantor.
" Eh.. Pak Riko! Saya mau mengambil laporan kas kecil-! " jawab Salma sekenanya.
Riko berjalan mendekat ke arah Salma.
" Sudah selesai-? " tanya Riko lagi.
" Eh, Iya.. -! sudah!! "
" Pak Riko sedang apa disini-? " tanya Salma balik.
" Ehmm.. saya sedang ngecek aja kondisi proyek. Biasa.. buat laporan presentasi -! " jawab Riko.
" Ohhh, gitu-! "
Salma merasa gugup, karena jarak dia dan Riko sangat dekat sekali. Ada hawa panas yang tiba-tiba menjalar di sekitarnya, membuat Salma merasa gerah ingin cepat keluar.
" Kalau begitu , saya permisi, Pak Riko! Selamat siang-! " pamit Salma.
Dia melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
Berulang kali Salma berusaha menyalakan mesin motornya, tapi tetap tak mau hidup.
" Heran, perasaan tadi nih motor baek - baek aja! kenapa sekarang jadi rewel, sih-!"
gerutu Salma kesal.
" Motor mu kenapa, Salma? "
Riko datang menghampiri dan bertanya.
" Tau nih, Pak Riko-! Motor Salma mogok. Nggak mau jalan. Padahal tadi baik- baik aja-! " kata Salma dengan kesal.
Riko memeriksa motor Salma dan mencoba menyamakan mesinnya kembali. Tapi tetap saja motornya kekeuh nggak hidup- hidup.
" Kayaknya businya bermasalah atau karburatornya kotor. Kamu harus membawanya ke bengkel. " kata Riko.
" Yahhh.... motor aku gimana dong-!? " Salma yang bingung menghela nafas. Dia lalu mengeluarkan hapenya dan menelpon seorang teman yang kebetulan bekerja di bengkel.
" Assalamu'alaikum. Sony-! motor aku mogok-! bisa nggak kamu ke sini. -! " Kata Salma pada orang yang bernama Sony itu di telepon.
" ....... "
" Iya, aku di sitelah_!!"
" ...... "
Terus gimana dong-!? "
" .... .. "
" Iya, deh. -! makasih ya-! Assalammulaikum. " kata Salma sambil menutup telpon.
" Gimana?? " tanya Riko.
" Bentar lagi teman aku akan ke sini . Dia yang akan memperbaiki motor aku dan membawanya pulang-! Kata Salma.
" Oh, ya udah kalo gitu-! Terus kamu mau pulang ke mana? "
" Ya, ke kantor lah-! " jawab Salma singkat
'Kaga ngarti apa, kalau orang lagi banyak kerjaan-! ' pikirnya.
..._______________...
Salma baru saja selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe dan handuk di kepalanya ketika Alin adiknya masuk ke kamarnya.
" Kak, Alin bentar lagi uda mau ujian Nasional. Terus sekolah Alin màu ngadain perpisahan. Rencananya sih kita mau ke Museum Mulawarman Tenggarong dan ke Tanah Merah, kak. Nah ...buat perpisahan itu bayar, kak. Boleh nggak Alin minta uang buat bayar uang perpisahan kak-? " Alin bertanya dengan wajah memelas.
Salma tahu, adiknya ini pasti berharap banget bisa ikut acara perpisahan tersebut. Dia dulu juga pernah mengalaminya.
Betapa inginnya dulu Salma mengikuti acara perpisahan yang di adakan oleh pihak sekolah. Mereka mengadakan study tour ke Museum Mulawarman Tenggarong. Namun karena ketiadaan biaya, akhirnya dia hanya bisa gigit jari saja menyaksikan teman- temannya pergi. Sedangkan dia tak bisa ikut.
Salma mengelus lembut rambut adiknya. Di tatapnya Alin adiknya dengan haru. Adik kecilnya itu kini sudah dewasa dan menjelma menjadi gadis yang cantik.
" Iya, nanti kakak kasih. Emang kapan sih acaranya-? "
" Acaranya sih nanti, kak. Kalau selesai ujian. Cuma pemberitahuannya sekarang. Biar bisa siap-siap aja-!"
" Oh, Ya udah. Entar Gajian ini kakak kasih uangnya-! "
" Horreee.. Asik, asik, asik! aku pergi! Yes!!!! " Alin jingkrak- jingkrak kesenangan. Wajahnya berbinar bahagia.
" Makasih, ya Kak! Emang kakak is the best, lah-! "
" Iya, tapi ingat ya-!. Kalau pergi ke sana jangan macam- macam. Kakak pesan jaga diri dan nama baik keluarga-! "
Alin menganggukkan kepalanya lalu menghilang melesat ke luar kamar. Kemana lagi kalau bukan menemui ibunya. Dia mau berbagi kabar gembira itu dengan Sang ibu. Senyuman bahagia merekah di bibirnya yang rada tebal dan sensual itu.
Salma menghela nafas. Ingatannya kembali ke masa SMA dulu. Saat itu dia yang anak orang miskin sudah merasa beruntung bisa bersekolah di SMA itu, walaupun dengan beasiswa.
Namun dalam kesehariannya di sekolah, hanya beberapa orang saja temannya. Bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan mereka semuanya menjauh.
Hanya Kak Riko saja yang dekat dengannya, walaupun pada akhirnya dia juga pergi dengan meninggalkan goresan luka di hatinya.
Hati Salma nyeri tak kala mengingat Riko. Laki-laki itu yang tadi siang mengantarkannya kembali ke kantor.
Salma hanya membisu di sepanjang jalan. Dia terlalu canggung untuk berdekatan dengan Riko.
" Gimana kabar ibu dan adik-adikmu, Salma-? " tanya Riko memecah kesunyian diantara mereka.
" Mereka semua sehat-! " jawab Salma singkat dan canggung.
Suasana kembali hening.
" Salma, aku minta maaf atas
sikapku dulu. Aku terlalu pengecut untuk jujur tentang semua hal padamu-! " Riko berucap dengan lirih.
" Sudahlah, Pak Riko-! Salma sudah memaafkan apapun yang terjadi diantara kita dulu-! " Kata Salma.
Dia mendongakkan wajah ke atas mencoba menahan air mata yang mencoba melesak melewati matanya.
Jujur saja, hatinya masih terasa sakit dan kecewa atas perlakuan Riko dulu padanya.
Riko menepikan mobilnya di sisi jalan lalu mendekat ke arah Salma dan meraih tubuh gadis itu ke pelukannya.
Tangis Salma pecah, hatinya luruh. Lepas sudah benteng pertahanan yang dia bangun selama ini.
" Menangislah, Salma-! Keluarkan semua yang mengganjal di hatimu-! Kalau kau mau, kau boleh memukulku sepuasnya-! " Kata Riko sambil mendekap erat tubuh Salma.
Rasa bersalah yang teramat besar menghantam hati lelaki itu. Gadisnya yang lugu harus merawat luka sendiri selama bertahun-tahun.
Salma menarik tubuhnya saat menyadari bahwa dia berada dalam dekapan Riko.
Pipinya bersemu merah karena menahan malu dan juga marah.
Dia menyadari jika saat ini dia adalah kekasih Rayden.
Rasa bersalah mendera hatinya. Seharusnya dia tidak boleh menerima ajakan Riko yang mau mengantarnya. Kini malah dia yang berakhir di pelukan Riko. Dasar Salma plin-plan-!
" Maaf, Salma-! Saya terbawa suasana-! " Riko menyadari arti dari sikap Salma.
" Sudahlah, Pak Riko-! kita tidak bisa kembali bersama. Aku sudah mencintai orang lain-! " Salma menundukkan wajahnya. Dia tak mampu menatap wajah sedih Riko.
" Apakah Rayden-? " tanya Riko.
Salma membisu dan kebisuan itu cukup untuk memberikan jawaban pada Riko.
Riko terhenyak. Dia begitu terpukul mengetahui kenyataan bahwa sahabatnya itulah yang kini menjadi kekasih Salma.