
Hari ini Salma sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dokter menyarankan agar Salma sering - sering memeriksakan kondisi kesehatannya karena di khawatirkan kesehatannya belum sepenuhnya pulih.
Mobil Rayden memasuki halaman rumah kediaman keluarga Chandler. Rayden membukakan pintu mobil dan membantu istrinya turun dari mobil. Keluarga kecil itu berjalan memasuki rumah besar dan mewah milik keluarga Chandler.
" Hati - hati, Bee.!" sebelah tangan Rayden menuntun Salma agar tidak terjatuh seraya sebelah tangannya menggendong baby Raisa.
Mommy Elise dan dady Dave berdiri di pintu menyambut kedatangan keluarga kecil itu dengan perasaan bahagia.
" Sini, sama granny, sayang! " mommy Elise meraih baby Raisa ke dalam gendongannya. Mommy Elise langsung menciumi wajah sang cucu dengan gemas. Daddy Dave yang melihat hal itu geleng-geleng kepala.
" Elise, sayang. Cucu kita dan Salma pasti lelah. Biarkan dulu mereka beristirahat!" Mommy Elise merengut tak rela ketika suaminya menyuruhnya untuk memberikan pada sang mantu.
" tidak apa - apa, dad. Biar Raisa sama. mommy, dulu. Rayden mau antar Salma untuk beristirahat di kamar. Kondisinya masih lemah." Wajah mommy Elise berbinar bahagia.
" Iya, Ray. Biar istri kamu istirahat saja dulu. Soal Raisa biar mommy saja yang urus.!"
Rayden memapah Salma menaiki tangga menuju lantai dua. Kamar mereka terletak di lantai dua.
" Hati-hati, bee. .! " kata Rayden pada Salma saat ujung kaki istrinya terantuk ujung tangga sehingga hampir membuat Salma jatuh, untung dengan sigap
Rayden menahan tubuh sang istri sebelum jatuh.
" Sepertinya kita harus tidur di lantai bawah saja, deh. Biar kamu nggak susah buat turun naiknya , bee!" akan tetapi Salma menggeleng.
" Biar, nggak usah repot - repot. Aku bisa kok, walau masih pelan, sih." kata Salma dengan lirih.
" Masih kuat, nggak...?"Rayden merasa kasihan melihat Sang istri yang kesulitan saat menaiki tangga, lalu di gendongnya tubuh mungil sang istri menuju ke kamar mereka.
" Hon, turunkan aku, aku malu sama mommy dan daddy! " protes Salma.
" Kenapa mesti malu, bee. Mereka juga seperti kita. Daddy aku itu selalu bersikap romantis dan selalu manjain mommy aku. Itulah sebabnya, aku selalu bersikap seperti daddy. Aku mau kamu bahagia sama seperti mommy aku yang selalu bahagia sama daddy aku! " kata Rayden. Mereka kini sudah berada di dalam kamar . Rayden menurunkan tubuh Salma dari gendongannya.
" Kamu mau makan apa, bee. Biar sekalian nanti aku suruh bi Rumi yang buatin.!"
" perut aku masih kenyang. Tadi pagi sudah terisi sama bubur ayam yang kamu belikan.! " Rayden mendekati
istri kecilnya itu, menarik pelan hidung banget Salma.
" Kamu tuh, harus banyak makan, bee. Lihat, tubuh kamu kurus banget.! " Salma terkekeh geli memegang hidungnya yang memerah karena tarikan Rayden.
Rayden membawa tubuh Salma ke depan cermin. Sebuah bayangan wanita cantik yang memakai gamis warna Hazel nut terlihat di sana. Benar saja... Salma melihat sesosok wanita, cantik namun sayangnya tubuhnya agak sedikit kurus. Wajah cantik itu juga sedikit pucat.
" Tuh kan, bee. Kurus, kan...? " kata Rayden sambil mencium bahu Salma .
" hmm, jadi jelek banget, ya.? " kata Salma. Dia merasa sedikit rendah diri. Takut jika Rayden nanti nggak suka lagi padanya, dan mencari wanita lain yang lebih cantik dan seksi.
" Nggak, juga.. Tapi aku lebih suka kalau tubuh kamu gemuk berisi. Tapi apa pun itu, yang penting kamu sehat selalu. Aku bahagia, jika melihat kamu sehat dan bahagia berada di sisi aku. Jangan bersedih lagi, istirahatlah!" kata Rayden seraya mengecup dahi sang istri. Lalu menggendong tubuh Salma dan membaringkan wanita itu di ranjang king size mereka.
Salma memejamkan matanya. Rayden menarik selimut ke tubuh Salma lalu mencium lembut bibir Salma.
" Tidurlah, jika kamu ingin istirahat. Biar aku yang jaga Raisa." kata Rayden. Salma mengangguk dan kemudian memejamkan matanya. Tak lama kemudian dia sudah benar-benar terlelap dengan wajah damai.
Rayden memandang wajah istri tercintanya dengan perasaan bahagia yang sulit terlukiskan.
...---...
Sementara itu, Alin dan Riko sedang duduk berdua di ruang tengah. Alin duduk di pangkuan Riko. Tangan Riko memeluk pinggang Alin yang kini sedikit agak lebar. Kemudian tangan itu sudah bergerak ke sana ke mari. Meremas gemas bokong montok sang istri yang makin padat dan kenyal.
" hmm, seksi sekali. Aku suka tubuh kamu, sayang. Makin padat dan berisi!" bisiknya seraya menggigit daun telinga Alin dengan lembut. Buku kuduk Alin meremang. Sentuhan Riko di titik tersebut membuat dia bergairah.
" Sayang, !"
" hhm..! " Riko menghentikan kegiatan nakalnya. Dia membalikkan tubuh Alin hingga kini tubuh keduanya saling berhadapan tetapi masih dalam posisi Alin di pangkuannya.
" Bagaimana kalau kita pindah ke Australia, kamu keberatan , tidak?" tanyanya pada Sang istri.
" Hmm, kalo aku sih, nggak keberatan.. Tapi bagaimana dengan mama kamu. Kasihan kalo di tinggal sendiri.. Aku yakin mama kamu pasti keberatan jika di tinggal sendiri." jawab Alin.
Riko terdiam mendengar Jawaban Alin. Dia memang ada rencana mau tinggal di negeri kangguru itu untuk sementara waktu. Ada beberapa proyek besar di sana yang harus dia tangani sehubungan dengan perusahaan yang di pimpinnya.
" Aku akan bicara dengan mama." kata Riko.
" Bagaimana jika mama kamu ikut saja bersama kita ke Australia? " kata Alin.
Riko mangut - mangut mendengar usul Alin.
" Boleh juga. Jadi mama nggak akan kesepian. Tapi apa kamu nggak l akaloharus tinggal sama mertua. Jika kamu keberatan, biar mama tinggal di apartemen aku." Riko mendekatkan dahi mereka hingga hidungnya menempel rapat di hidung Alin yang bangir.
" Ya, Nggaklah, sayang. Justru aku malah senang, biar ada teman di rumah. Karena pastinya aku akan bakalan sering di tinggal sendiri jika kamu sibuk."
" Hmm, benar juga sih. Tapi aku janji, nggak akan ninggalin kamu, kamu dan Attar itu prioritas aku." Riko mengecup pipi Alin. Tangannya kembali bermain nakal di seputar gundukan kenyal milik Alin yang kini semakin besar saja karena menyusui.
Sementara Alin juga tak mau kalah. Jemarinya juga sudah mengikuti permainan nakal sang Suami. Bermain nakal di dada Riko yang berbulu lalu turun mengusap paha Riko karena pria tampan itu hanya mengenakan celana Cargo pendek.
Mata Riko merem melek menerima sentuhan Alin. Makin erat dia meremas payud**a montok sang istri.
" hmm, sayang. Masa nifasmu sudah selesai?" tanya Riko setengah berbisik. Napasnya sudah mulai memburu menahan gairah. Maklum saja, Riko sudah lama puasa. Semenjak Alin melahirkan, dia otomatis tidak mendapat jatah selama hampir tiga bulan ini.
Kadang-kadang dia hanya bermain solo saja karena sudah kebelet. Mau minta sama Alin, tapi takut Alin akan menolaknya.
" hm, ... " Alin tak menjawab. Dia hanya mengangguk.
" Aku mau.... buka puasa, ya?" bisik Riko di telinga Alin. Alin hanya diam sambil tangannya masih saja mengusap - usap paha Riko.
Karena merasa tak ada penolakan, Riko berdiri kemudian mengangkat tubuh Alin dan membopong tubuh sang istri ke kamar mereka. Mereka melanjutkan aktivitas panas mereka di dalam sana. Mumpung suasana rumah lagi sepi dan baby Attar sedang tidur.
Riko benar-benar seperti musafir yang kehausan. Menerkam dan melahap habis tubuh sang istri hingga Alin sampai tergolek lemas kehabisan tenaga.
Napas keduanya terengah-engah setelah Riko dengan nikmat melepaskan cairan putih dan hangat calon benih anaknya ke rahim Alin.
Riko mengecup lembut ujung kepala Alin, saat wanita itu protes mengapa harus melepaskan benihnya di dalam.
" Bikin adek lagi buat Attar, sayang." katanya. Alin terkekeh mendengar ocehan mesum suaminya.