Salma And Rayden

Salma And Rayden
Bab. 50 Raisa Almaira Chandler



"Hon, aku malu! " Rayden terkekeh melihat Salma yang meringis dengan wajah yang bersemu merah.


" Terima kasih ya sayang, karena sudah memberikan aku seorang putri yang sangat cantik." bisiknya, ditelinga Salma.


Keluarga Rayden menyambut bahagia kelahiran anggota baru keluarga Chandler. Rayden sedang sibuk membantu Salma memperbaiki posisinya. Dia baru saja di pindahkan ke ruang perawatan VIP karena kondisinya sudah berangsur-angsur pulih.


Rayden sangat bersyukur, istri dan anaknya bisa lahir dengan selamat. Ini semua benar-benar suatu anugrah dari Yang Maha Kuasa untuk dirinya. Rayden merasa makin mantap dalam menerima ajaran baru yang mereka anut.


Sebelumnya, dia dan keluarganya belum mengenal agama dengan baik. Walaupun mereka dulunya masih percaya akan adanya Tuhan, namun belum memiliki keyakinan dalam menjalankan perintah agama.


" bee, kamu mau makan sesuatu?" tanya Rayden pada Salma. Salma menggeleng lemah. Perutnya masih terasa sakit dan lemas.


" cobalah untuk makan sesuatu, dek. biar ada isi perut. Soalnya ibu menyusui harus banyak makan, Biar asinya banyak buat bayimu!" kata Prily. Dia datang bersama baby Adel dan suaminya.


Mommy Elise dan ibu Ayuni, ibunda Salma sedang asyik mengobrol dengan di temani daddy Dave di ruang depan.


Ifa, adik bungsu Salma segera mengajak Baby Adel bermain. Dia memang sangat suka dengan anak kecil.


" ayoo, Adel.. Sini kita lihat dedek bayi! " ajak Ifa sambil menyodorkan tangannya. Baby Adel segera menyodorkan tubuhnya agar bisa di gendong Ifa. Mereka lalu bersama - sama mendekati box bayi tempat bayi Salma di letakkan.


" Tuh, lihat! sekarang adel sudah punya dede bayi. Tuh..tuh..lucu, kan? tunjuk Ifa pada bayi kakaknya. Adik bungsu Salma itu sedang menggoda baby Adel yang sejak tadi merengek minta di dekatkan pada bayi Salma.


" Adet... adet baciy..! katanya sambil melorotkan tubuhnya agar bisa mendekati bayi Salma.


Prily yang melihat tingkah laku anaknya yang mulai cerewet dan nakal segera bertindak.


Kak Prily meraih tubuh baby Adel ke dalam gendongannya. Namun baby mungil itu malah membalikan tubuhnya ke arah Ifa. Tangannya menggapai - gapai ke arah Ifa.


" Adet bacy.. Adel mau adet bacy...!" rengeknya.


" Iya, Adel... sabar. Jangan berisik, nanti adek bayinya nangis.! kak Prily nampak kerepotan dengan bayi Adel yang terus saja merengek minta di turunkan.


" Ih, ini anak rewel banget... tau tadi mending di rumah saja, sama bi sum!" kata kak prily jengkel.


Riko segera mengambil bayi Adel dari gendongan kak Prily.


" Adel, sini sama om. Kita lihat adek bayi!" ajak Riko. Sontak bayi adel menyodorkan tubuhnya minta di gendong sama Riko.


Bersama Riko, mereka berdua melihat bayi Salma yang masih merah.


" Anak lo cantik banget, bro. Seandainya boleh.. gue mau besanan sama lo!" kepala Riko langsung di timpuk bantal tidur sama Rayden.


" Sembarangan aja, lo bro. Salma dan Alin kan sodaraan, masak iya anaknya boleh dinikahi sama anak lo? " wajah Riko cengar cengir seraya menggaruk kepalanya yang habis kena timpuk..


" Becanda, bro. Nah Habisnya lo dari tadi bawaannya bengong aja.!" Riko melirik ke arah Rayden.


" suka - suka gue, lah.. Yang bengong gue ini!" jawab Rayden pasang tampang cuek.


" Gue, bingung bro. Baru sadar gue ternyata belom siapin nama buat bakal anak gue!" Riko menepuk jidatnya.


" ampun deh, sahabat gue yang satu ini, orang tuh ye, di mana-mana pada sibuk nyiapin nama buat bakal calon anaknya dari jauh - jauh hari. Nah.. ini sudah lahiran aja, masih belum ada nama.. Payah lo, bro!" Rayden terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Dia merasa tolol dan bodoh sekali. Nama buat calon anak sendiri saja dia sampai lupa buat nyiapin.


" Sudah, sudah. Bagaimana kalau kita bantuin buat cariin nama untuk baby nya Salma?" tanya mommy Elise. Rupanya ketiga manusia yang sudah melewati tiga generasi itu sudah kembali masuk dan bergabung bersama anak dan cucu mereka.


" Makasih, mom. Tapi kata Salma dia udah nyiapin nama buat babynya." kata Rayden . Lelaki itu tampak sibuk membantu Salma memasangkan hijabnya karena ada beberapa tamu dan karyawan dari kantor yang datang menjenguk sekedar untuk menyampaikan ucapan selamat.


" Selamat ya, sudah lahiran. Wah, cantik sekali putrinya Pak Rayden. Jadi iri liatnya!" kata seorang karyawan kantor yang datang membesuk.


Semua yang hadir di ruangan itu tertawa.


" Kalau iri, cari aja yang seperti istri saya. Di jamin anaknya ganteng dan cantik dan insya Allah juga pasti saleh dan salehah." canda Rayden .


Sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya jika lagi di kantor Rayden selalu pasang wajah dingin dan datar. Kesannya selalu serius dan disiplin. Jadi jika sekarang bisa bercanda, maka bisa dipastikan bahwa dia sedang bahagia sekali saat ini.


" Ngomong - ngomong, siapa nama putri pak Rayden? " tanya seorang karyawan.


" oh, untuk itu saya serahkan sama istri saya saja. Dia sudah punya nama sendiri yang sudah dia persiapan untuk bakal putri kami. " kata Rayden seraya melirik ke arah Salma.


Salma yang dari tadi hanya diam saja, kini mengangkat wajahnya. Kini semua mata tertuju padanya. Maklum, dari tadi dia tak pernah berkomentar. Hanya diam saja layaknya penonton setia.


" eh, itu. Saya sudah menyiapkan nama untuk putri saya, tapi saya tak tahu apakah suami saya suka.? "


" Bee, apapun yang kamu suka, aku juga suka!" kata Rayden.


" Iya, Salma. Apapun itu, Pastilah bagus. Siapa nama putri kamu itu. Katakan saja, agar kami tak penasaran!" kata kak Prily tak sabar. Dia dari tadi sudah gemas pengen tahu siapa nama keponakan barunya.


" Namanya Raisa Almaira Chandler! " Aku sengaja memilih nama ini karena nama Raisa adalah singkatan dari nama Rayden dan Salma. Sedangkan Almaira yang berarti kecantikan yang agung. Karena aku ingin putriku bukan hanya cantik wajahnya saja, tapi juga akhlak dan imannya. Dan nama Chandler itu memang nama suamiku. "


" hm, nama yang bagus. Daddy setuju dengan nama itu, mom? gimana? "


" Kalau mommy sih, suka juga. Memang kayaknya nama Raisa cocok sekali dengan cucu kita, ya dad? "


" Gimana, bun. Apakah bunda setuju? tanya Rayden pada sang ibu mertua.


" ibu setuju - setuju aja. Apapun itu, toh ibu tetap di panggil eyang putri.! " kata ibu.


Semua tertawa mendengar candaan ibu.


" Yun, aku nggak mau di panggil eyang. aku mau di panggil granny saja! " kata mommy Elise sambil cemberut.


" Iya, mommy itu cocoknya emang di panggil granny saja. Biar nggak tabrakan. Kalau di panggil eyang semua entar jadi membingungkan." kata Alin menimpali. Sedari tadi dia diam karena sedang menyusui bayi Attar.