
"Dedek Cantika, .. cantik !" katanya sambil mencubit gemas pipi balita cantik yang cubby itu.
" Hmm, iya. Ayo sekarang kita ke ruang tengah. Kita makan kue ulang tahun, yuk!" ajak Salma.
Semua bocah - bocah itu mengangguk lalu masuk ke ruang keluarga bergabung dengan anak-anak lainnya yang masih asyik menikmati makanannya. Setelah selesai, semua anak-anak itu mengantri dengan rapi untuk menerima bingkisan dari Salma. Kemudian pulang dengan tertib.
Setelah beberapa lama, Jani dan Dewa mohon diri karena hari sudah sore. Demikian juga dengan kedua orang tua Rayden dan ibunda Salma.
Hanya Alin dan Riko saja yang masih tinggal bersama Ifa. Mereka memang sengaja menginap di rumah Salma karena Aldaberan dan Raisa masih ingin bermain bersama.
Salma tersenyum mendapati kedua buah hatinya kini tersenyum bahagia. Raisa yang penyayang, terlihat sangat menyayangi sang adik, Aldaberan.
Ada guratan lelah di wajahnya yang cantik, putih bening bak pualam.
Rayden mendekati sang istri yang tampak lelah sehabis mengurus kedua anak mereka.
" Bee, istirahatlah. Sini berbaring di paha aku! " ajaknya. Salma menurut, berjalan mendekati sang suami dan berbaring di pahanya. Tubuhnya memang terasa sangat lelah sekali. Dia merasa aneh, tubuhnya berkeringat namun terasa dingin.
Salma memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut suaminya di kepala dan kedua pipinya. Dia merasa lelah tapi dia bahagia.
" Bee,..!"
" Hmm, ya. Ada apa, hon? "
" Apakah kamu merasa bahagia? " tanya Rayden sambil menunduk, menatap penuh arti pada Salma yang terbaring di pahanya.
" Mengapa bertanya seperti itu? " Salma membuka matanya dan bertanya dengan heran.
" Karena aku takut kamu tak bahagia. Aku takut kamu akan pergi dan meninggalkan aku karena merasa tak bahagia hidup bersamaku." kata lelaki itu.
Salma bangkit lalu duduk di hadapan Rayden. Rayden bisa melihat tatapan teduh wanita yang sudah hampir lima tahun ini mendampingi hidupnya. Bermacam-macam masalah yang menerpa kehidupan mereka, mulai dari masalah kecil hingga masalah yang besar. Bahkan, nyaris saja dia kehilangan sang istri cantiknya itu.
" Apa aku terlihat tak bahagia, tuan Chandler? " tanya Salma.
" Aku melihat senyum bahagia, di wajah istriku yang cantik." kata Rayden. Diraihnya jemari halus nanti lentik milik Salma dan menggenggamnya.
" Nyonya Chandler, apakah kamu bersedia untuk mendampingi laki-laki yang ada di hadapanmu ini dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan? " ucap Rayden dengan mimik serius.
Salma menatap lelaki berwajah tampan bak Dewa yunani itu dengan terharu. Lelaki ini, lelaki ini telah membuktikan ucapannya. Dia menunjukkan pada dirinya betapa besar cinta untuk dirinya.
" Iya, aku mau. Aku bersedia tuan Chandler! " Salma menganggukkan kepala sambil menjatuhkan dirinya ke dada bidang suaminya.
Rayden memeluk erat wanita yang telah mengisi habis seluruh ruang dihatinya itu dengan segenap rasa cinta. Mencium pucuk kepala wanita itu dengan lembut dan mengecup bibir merahnya sekilas.
" Mommy....! Daddy ngangan ambing mommy Al..! " bocah itu datang dengan tiba-tiba dan langsung menjatuhkan diri di sela-sela tubuh Rayden dan Salma.
Rayden geleng-geleng kepala akan sikap posesif Al pada sang Mommy.
" Daddy nggak boyeh cium mommy, ini mommy Al..!" katanya sambil merajuk saat melihat Rayden kembali mencium Salma di pipi.
Bocah itu bahkan menarik sang mommy agar terlepas dari pelukan daddy-nya.
" Dedek, sini ayo kita main bersama Attar! " Raisa datang dan mengajak Al bermain bersamanya dan Attar, sepupu mereka. Namun bocah itu menggeleng sambil memeluk mommynya.
" Al mau bobok .. mommy, Al mau bobok... nantuk! " kata bocah itu sambil menguap beberapa kali.
" Dede Al ngantuk? ok.. sini mommy gendong dan boboin di kamar, ya!" ajak Salma. Aldaberan mengangguk sambil bergayut manja di gendongan mommynya.
Tak berapa lama kemudian, bocah itu sudah tertidur dalam pelukan Salma.
" Bee, Al sudah tidur? " Salma menoleh ke belakang. Rayden, suaminya itu tiba-tiba sudah berada di belakang tubuhnya. Entah sejak kapan.
" Hmm, iya. Sayang, kamu mau apa? " Salma bertanya ketika matanya bertatapan dengan mata hijau toska milik Rayden yang menatapnya dengan sorot mata yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah. Dia kemudian melepas pelukan sang putra dan berbalik kearah Rayden.
Rayden menjadi gemas mendengar pertanyaan lugu sang istri. Sudah lima tahun lebih mereka berumah tangga, Salma masih saja lugu. Istrinya itu masih saja seperti gadis perawan yang baru saja menikah. Masih malu-malu bila disentuh.
Rayden yang tidak tahan, langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke sofa yang terletak di depan ranjang mereka. Dia mendudukkan Salma di pangkuannya sehingga bokong Salma berada persis di atas tonjolan otot yang sudah berdiri keras sejak tadi.
Dia menggeram takkala Salma tak sengaja menggerakkan pinggulnya.
" Bee, masukkin, ya? " pintanya dengan gairah yang sudah memuncak.
Salma mengangguk lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Rayden yang kokoh.
Tanpa ragu lagi, Rayden segera memasukkan miliknya ke inti surgawi Salma yang terasa sempit.
Salma menjerit saat Rayden mulai memaju mundurkan miliknya di goa Salma yang basah.
Semakin lama semakin cepat sampai akhirnya pekikan keduanya mengakhiri permainan kuda-kudaan yang panas di sore hari itu.
Bagi Rayden, hanya Salma satu - satunya wanita yang bisa membuat dia bergairah dan selalu tersenyum. Tercapai sudah segala impian dan cita-citanya. Menjadikan Salma sebagai istrinya dan ibu dari anak - anaknya. Dia merasa bahagia, rasanya hidupnya terasa lengkap. Ada Salma, juga Raisa dan Aldaberan. Dan yang terpenting, ada cinta Salma untuk dirinya yang begitu besar, sebesar cintanya pada wanita itu.
Dua puluh tahun kemudian,
Seorang gadis cantik sedang serius memeriksa laporan penerimaan dan pengeluaran kas yang dia terima melalui sekertarisnya tadi pagi.
" Amanda, kirimkan aku bukti - bukti transaksi dua bulan terakhir. Rasanya ada yang kurang atau terlewatkan, deh? " kata gadis itu.
" Baik,mbak Raisa! Segera saya antarkan!" kata sekertarisnya dengan patuh.
Yah, gadis itu adalah Raisa. Putri sulung dari pasangan Salma dan Rayden. Kini dia sudah dewasa dan menggantikan posisi sang ayah memimpin perusahaan milik keluarga Chandler.
Sementara itu di tempat yang berlainan, seorang pemuda tampan sedang duduk dengan menopang kakinya pada meja kerja dihadapannya.
" Paman Bisma, apa jadwalnya hari ini?"
" Hari ini anda memiliki janji pertemuan dengan investor dari Jerman, tuan muda!" jawab Bisma. Yah... Bisma masih bertahan menjadi sekretaris dari Aldaberan. Dia sekarang bukan lagi mendampingi Tuan Rayden, tetapi mendampingi Tuan Muda Aldaberan.
Rayden membagi dua perusahaan untuk kedua orang anaknya. Aldaberan tetap memimpin perusahaan konstruksi milik keluarga. Sedang Raisa, wanita itu lebih tertarik pada dunia kuliner dan Garment.
Gadis itu membuka sebuah pabrik garmen dan juga restoran - restoran yang menjual masakan Khas Nusantara dan restoran yang menjual makanan cepat saji.
Dia tumbuh menjadi wanita pengusaha yang super sibuk dengan segudang kegiatan yang begitu banyak hingga menyita hampir seluruh waktunya.
Sedangkan sang Adik, Aldaberan melanjutkan bisnis utama sang Ayah dan bisnis lainnya yaitu bisnis otomotif yang memang sangat dia gandrungi.
Aldaberan memiliki ketertarikan pada dunia otomotif dan juga mesin. Karena itu dia kemudian membuka bisnis jual beli mobil mewah dan juga onderdil mobil. Usahanya berkembang pesat.
Sekarang, nama Aldaberan Chandler menjadi nama salah satu pengusaha muda yang sukses di Asia.
Suatu sore, sepasang suami-istri sedang duduk berdua di balkon rumah mereka.
" Bee, sepi sekali. Raisa dan Al kemana, sayang?"
" Biasa sayang, kau tahu dengan pasti berada dimana dia saat ini! " jawab sang istri. Lelaki itu tersenyum kecut saat mendengar jawaban sang istri.
Dia tahu dengan pasti, jawaban atas pertanyaannya barusan. Putrinya itu memang gila kerja, persis seperti dirinya dulu. Sedangkan putranya Al, lebih parah lagi, bersenang-senang dengan mobil dan wanita.
" Hmm, aku berharap Al bisa berubah dan menemukan wanita baik - baik yang bisa merubah sifat dan kelakuannya, ya Bee!"
Yang langsung diamini oleh sang istri.
Sementara itu, Aldaberan sedang duduk bersama Bisma di sebuah restoran yang mewah. Mereka berdua sedang menanti sebuah janji pertemuan dengan seorang investor dari Jerman.
" Permisi, tuan! " seorang pelayanan restoran datang kepadanya sambil membungkuk hormat.
" Ada apa? "
" diluar ada seorang gadis yang ingin bertemu langsung dengan tuan! " Kening Aldaberan terangkat. Rasanya dia tak ada janji pertemuan lagi siapapun selain investor dari Jerman itu.
" Suruh dia masuk! " pintar Rayden.
Pelayan itu mengangguk seraya berlalu dari hadapan Rayden. Tak lama kemudian pelayan itu sudah kembali bersama seorang gadis cantik yang berhijab dan anggun. Aldaberan dan Bisma saling pandang. Bisma mengendikkan bahu tanda tak mengenal gadis itu.
Mata Aldaberan memandang takjub kearah gadis itu. Seumur hidupnya, dia selalu dikelilingi oleh gadis-gadis yang cantik dan seksi. Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya, bahwa hari ini ada seorang gadis cantik dan berhijab yang datang menemuinya.
" Apakah anda Tuan Aldaberan Chandler?" tanya gadis itu.
" Ya, itu benar, nona! " jawabnya sambil tersenyum menggoda.
Gadis itu mendengus saat melihat senyum menggoda Al. Sebel, pikirnya.
" Kalau begitu, saya mau mengembalikan ini. Saya menemukan dompet anda terjatuh di parkiran, tadi!" Gadis berhijab itu meletakkan sebuah benda hitam dan mengkilap. Sebuah dompet yang sudah pasti mahal dan berisi kartu - kartu serta dokumen pribadi yang penting. Dan tentu saja uang.
Alis Aldaberan terangkat, lalu berkata.
" Bagaimana saya bisa memastikan bahwa isinya masih lengkap tanpa kurang sesenpun! "
Mata gadis itu membelalak tak percaya. Astaga...Lelaki ini sudah berani menuduhnya mencuri. Dia merasa marah dan tak terima.
" Hei, Tuan. Dengar, ya. Walaupun kami miskin. Tapi kami tak pernah berniat mau mencuri! kami selalu bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan untuk kami. Silahkan anda periksa dompet anda kembali, dan saya berani bersumpah demi Allah, saya tak pernah mengambil apapun yang bukan milik saya. Permisi tuan, selamat siang! " kata gadis itu sambil berlalu dari hadapan Aldaberan dengan wajah merah padam karena menahan amarah.
Seulas senyum licik terlukis disudut bibirnya yang terlihat menggoda.
" Bisma, sepertinya aku jatuh cinta! "